Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 20


__ADS_3

"Terima kasih pak, saya masuk dulu ke dalam" pamit Mika setelah ia turun dari mobil Anwar.


Anwar menganggukkan kepala lalu kembali melajukan mobilnya. Ia tersenyum penuh arti.


Begitu sampai di kamar, Mika langsung membanting tubuhnya ke kasur. Kepalanya terasa pening. Ia memijatnya sendiri dengan tangan sambil memejamkan matanya.


Tanpa terasa ia jadi terlelap. Mika terbangun saat mendengar suara seseorang masuk ke ruang kamarnya.


"Pa, kamu sudah pulang?" sapa Mika sambil mendudukkan tubuhnya.


"Iya, aku tadi menelpon mu. Dan tidak kamu angkat, jadi aku langsung cepat pulang. Apa kamu sakit Mi?" tanya Aji dengan khawatir.


"Aku hanya pusing, mungkin aku kecapekan"


Mika mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai. Badannya terasa pegal-pegal. Tidak seperti biasanya ia seperti ini.


"Pa, aku lapar. Kita makan yuk" ajak Mika setelah selesai mengganti pakaian.


"Aku akan mandi dulu sebentar, baru kita makan" ucap Aji sambil menuju kamar mandi.


Mika menunggu Aji hingga selesai dengan ritual bersih-bersihnya. Setelah itu, mereka pergi menuju dapur.


"Pa, aku ingin kamu yang memasak" ujar Mika setelah sampai di hadapan pintu kulkas.


Aji mengernyitkan keningnya. Tidak seperti biasanya Mika begini.


"Mau di masakin apa Mi?" Aji menuruti permintaan istrinya.


"Cuma pengen makan telur mata sapi sama ayam goreng paha atas" Mika menyerahkan empat butir telur ke tangan Aji, kemudian ia membuka freezer dan mengambil kotak penyimpanan berisi daging ayam.


"Cepetan ya Pi, udah laper nih!" ucap Mika tak sabaran.

__ADS_1


Aji langsung saja mengeksekusi telur tersebut. Karena ia memang bisa masak, dengan cekatan ia menggoreng telur serta ayam yang sudah di hilangkan es nya.


"Ini telur dan ayamnya, kamu tidak mengambil nasi?" tanya Aji yang menatap piring kosong di hadapan Mika.


"Aku nggak pengen makan nasi" Mika berbinar melihat telur mata sapi yang duli suguhkan oleh suaminya.


Langsung saja Mika mengambil dua porsi telur dan satu potong ayam goreng.


Aji mengambil nasinya sendiri dan juga sambal instan sebagai teman makannya. Mika makan dengan begitu lalap. Aji hanya terheran melihat Mika tidak seperti biasanya.


"Telurnya buat aku semua ya Pa! kamu masak lagi aja kalau mau," Mika langsung mengambil sisa telur yang belum sempat Aji nikmati.


Di dalam piringnya hanya sesendok sambal terasi dan sepotong ayam goreng. Tidak ada embel-embel atau penghijau di sana.


Aji akhirnya menikmati makannya sambil memandangi istrinya yang bertingkah aneh. Usai menghabiskan makannya Mika langsung berlari menuju washtafel. Ia memuntahkan semua makanan yang baru saja ia simpan di dalam lambungnya.


"Huueek! huueekk!"


Mika menunduk dan menyelipkan rambutnya yang menghalangi wajahnya. Dengan segera Aji menghampiri Mika dan membantunya memijat leher sang istri.


"Kamu sakit, Mi? kita berobat ya" ajak Aji dengan khawatir melihat wajah pucat Mika.


"Aku kayaknya masuk angin Pi, Kerokin ya" pinta Mika dengan manja. Kemudian ia kembali ke kamar.


Aji membereskan makannya yang belum selesai dan menyusul Mika ke kamar.


Aji menuruti permintaan Mika untuk mengerok punggung Mika dengan uang coin serta minyak hangat.


Terlihat di punggung Mika lukisan berwarna merah mengikuti alur tulang punggungnya.


"Sudah, Mi. Kamu masuk angin, istirahat dulu ya, aku akan membeli obat" Aji hendak beranjak dari kasurnya.

__ADS_1


"Di sini aja Pi, temenin aku. Aku jadi laper lagi karena udah muntah tadi"


"Kamu ingin makan apa, biar aku belikan"


"Aku, ingin makan roti isi abon ayam" pinta Mika dengan manja.


"Tumbenan kamu manja begini, Mi. Ya udah, aku pergi sebentar untuk membelinya" Aji beranjak untuk keluar. Mika hanya memperhatikan punggung suaminya yang keluar dari balik pintu.


Sekitar setengah jam, Aji kembali kerumah dengan membawa obat serta beberapa rotu yang di inginkan oleh Mika.


Saat Aji masuk kembali ke kamar, ia melihat Mika sudah terlelap. Di tempelkan punggung tangannya ke dahi Mika. Terasa hangat, tetapi tidak terlalu panas.


Aji menyimpan belanjaannya ke atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Hari sudah memasuki malam, dan Aji meraih gawaynya. Ada beberapa pesan masuk dan ia langsung membuka laptopnya untuk mengirim beberapa email yang di minta oleh rekan kantornya yang sedang lembur.


Selang beberapa menit, pesan dari Vivi masuk. Dan Aji langsung membukanya.


[ Ji, aku ingin makan rujak ] Vivi.


[ Kamu beli sendiri saja, aku sedang sibuk ] send Vivi.


[ Tapi, aku ingin kamu yang membelinya, Ji ] Vivi.


Aji sedang tidak ingin keluar dan meninggalkan istrinya yang kondisinya sedang tidak baik. Aji memilih memesan makanan tersebut secara online dan di kirim ke alamat Vivi.


Setelah itu, Aji menutup laptopnya dan menyusul Mika yang masih terlelap. Di kecupnya dengan sayang kening Mika, lalu di usapnya dengan lembut.


Aji mencoba untuk tidur, walaupun jam masih menunjukkan pukul 20.00 wib.


Kembali ponsel Aji menampilkan notifikasi pesan dari Vivi.


[ Aku tidak ingin memakan rujak ini kalau bukan kamu sendiri yang mengantarnya Ji,] Vivi menggerutu di seberang sana.

__ADS_1


[ Aku sedang sibuk. Besok saja ] Aji mengirim peaan balasan tersebut kemudian ia menonaktifkan ponselnya.


- Pendek aja dulu ya, semoga kalian suka.


__ADS_2