
Dengan gerakan yang erotis dan sensual, Vivi duduk menggeliatkan tubuhnya. Tubuh yang masih terbuka tanpa busana terpampang mengggoda iman. Aji yang berada di sampingnya, tanpa pamit pada sang empunya langsung saja meremass dua gunung kidul Vivi yang bergelayut manja. Mencium dan menghisap leher yang masih berlogo seperti kerokan karena ulahnya.
Vivi pun melenguh, tangannya melingkar ke punggung kekar yang ada di hadapannya. Ia menikmati sensasi yang diberikan oleh suaminya. Tanpa berfikir panjang, Aji pun kembali menggerayangi tubuh istrinya dan membisikkan sesuatu.
''Aku pengen lagi, sayang,'' bisik Aji.
''Emm, kamu mau lagi? sebentar aja, ya. Aku beneran laper.'' Ujar Vivi dengan nada manjanya. Suara yang selalu bikin Aji tergugah dan membangkitkan tiang benderanya. Sejenak, ia melupakan hal yang harusnya ia ungkap. Godaan didepannya lebih mendominasi daripada pembelaan untuk masalah hatinya.
Dalam hatinya, ia berjanji untuk segera mengungkap hal yang sebenarnya. Untuk saat ini, lahap dulu sajian sedap yang sudah terhidang.
Mereka pun main celup-celupan sejenak, sebelum pergi untuk mencari makan malam. Cukup lima belas menit, mereka telah selesai. Kini, mereka bergantian membersihkan diri dan bersiap.
Setengah jam kemudian, mereka selesai bersiap dan keluar dari kamar. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, lampu ruangan masih terang benderang. Biasanya bik Rumi selalu mematikan lampu jika sudah tengah malam.
''Tumben, bibik nggak matiin lampu.'' Ujar Vivi.
''Mungkin, bibik lupa,'' jawab Aji. Mereka keluar rumah dan mengunci pintu dari luar. Setelahnya mereka naik mobil bersamaan untuk mencari kedai makan terdekat.
''Kamu mau makan apa, Vi?'' tanya Aji. Mereka kini sudah berada di jalanan yang masih terlihat ramai.
''Nasi uduk, pengen makan bebek sama nila bakar!'' jawab Vivi dengan semangat.
''Oke!''
Setelah tolah toleh ke kanan kiri jalan, mereka menemukan tempat makan yang menunya lengkap. Aji pun memarkirkan mobilnya dan kemudian membukakan pintu untuk Vivi.
Warung Ojo Lali
Vivi dan Aji masuk dan memesan menu, setelahnya mereka duduk di bangku paling pojok. Suasana di tempat itu masih lumayan ramai. Hanya tersisa dua buah meja kosong di deretan belakang.
Sembari menunggu, pengunjung bisa menonton acara televisi terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, air minum pesanan Aji dan Vivi di hidangkan, berikut dengan air cuci tangan di dalam mangkuk plastik. Setelah itu, menyusul menu utama yaitu lauk, lalapan, dan juga nasi uduknya.
Bebek goreng tiga porsi, nila bakar tiga porsi, serta ayam goreng kampung dua porsi tersaji dengan keadaan asap panas. Mata Vivi berbinar melihat menu yang baru saja di sajikan. Dengan segera ia mencuci tangannya dan mencomot bebek goreng tersebut. Memakan dengan begitu lahap, sudah mirip orang yang tidak makan selama seminggu.
''Vi, pelan-pelan makannya, enggak akan ada yang minta!'' tegur Aji.
''Aku laper banget, sayang!'' ucap Vivi dengan mulut penuh makanan. Aji hanya bisa menggeleng pasrah. Ia pun mulai menikmati makanan miliknya.
__ADS_1
**
"Sayang, kamu mau kemana malam-malam begini!" tegur Rizal saat melihat Mika melewati ruang tv. Ia mengenakan jaket jeans serta celana panjang.
"Mau beli jus, Yah. Ayah mau nitip?" ujar Mika.
"Sendirian? biar Ayah temani kamu, ya. Ini sudah malam, Ayah khawatir," pak Rizal berdiri dan mematikan layar tv. Kemudian menghampiri Mika.
"Oh, ya udah, ayok!" Mika keluar bersamaan dengan ayahnya.
"Eh! kalian mau kemana? kok nggak ngajak Ibuk!" cegah bu Dina.
"Loh, bukannya tadi ibuk sudah tidur?" tanya pak Rizal. Ia menoleh ke arah sang istri yang menghentikan langkah mereka.
"Ya, udah. Ayo! kita berangkat sekarang." Tandas Mika. Ia ingin segera membeli jus Alpukat kesukaannya di tempat biasa.
Bu Dina kembali masuk ke dalam kamarnya sejenak, kemudian keluar lagi dengan menenteng tas kecilnya. Setelah itu, mereka keluar bersama.
"Tengah malam begini, kok kamu malah cari jus, sih. Kenapa nggak cari yang anget-anget, Mi?'' tanya sang ibu.
Saat sampai di tempat tujuan, ternyata warung penjual jusnya sudah tutup.
''Yahh, sudah tutup!'' tutur Mika. Ia menghentikan mobilnya dan berfikir sejenak.
''Cari tempat lain aja, Mi, coba belok ke arah kanan jalan. Siapa tau ada yang buka,'' saran bu Dina.
''Iya, Buk.''
Mika kembali menjalankan mesinnya menuju jalan yang di tunjuk ibunya. Ia pun teringat tempat makan yang pernah ia singgahi bersama Meisya. Dijalan yang sama saat ini, jalan yang tengah ia lewati. Dan ia sampailah di penjual nasi uduk, Warung Ojo Lali.
Mika turun dari mobilnya, di susul oleh ibu dan juga ayahnya.
''Loh, enggak tunggu di dalam aja, Yah, Buk?'' tanya Mika.
''Ibu tergoda sama bau masakannya, kita makan lagi, yuk!'' jawab bu Dina.
''Iya, Ayah juga jadi laper lagi, nih. Sepertinya di sini enak!'' sahut sang ayah.
__ADS_1
''Hmm, baiklah, aku hanya ingin minum jus. Ibu sama Ayah pesankan sekalian, ya. Biar aku cari tempat duduk,'' tutur Mika.
Ayah dan Ibunya pun membuat pesanan kepada penjual beserta jus kesukaan putri mereka.
Mika meneliti tempat duduk yang kosong dan ia menemukan meja urutan nomor dua dari ujung belakang. Segera ia menuju kesana dan mendudukkan pantatnya di kursi tersebut.
Tepat di belakangnya, ada Aji dan Vivi yang masih asik menikmati menu makan mereka. Mika tidak menyadari bahwa pengunjung yang duduk di belakangnya adalah orang yang sudah membuat hidupnya berubah. Menyakiti hati dan perasaannya.
Mika memainkan ponselnya sembari menunggu pesanan mereka, ibu dan ayahnya pun langsung menyusul dan bergabung di mejanya.
Hanya menunggu beberapa menit, jus pesanan Mika di sajikan. Mika langsung menyeruput jus itu tanpa ba-bi-bu hingga tersisa setengah gelas.
''Kamu mau, Mi?'' tawar sang ibu saat menu mereka di hidangkan di hadapan mereka. Ayah Mika langsung mencuci tangan dan mencomot irisan timun di piring khusus lalapan.
''Enggak, Buk. Aku cuma pengen ini aja,'' jawab Mika.
Ayah dan ibunya pun mulai menyantap hidangan di depannya.
''Hmmm, enak, nih!'' ibu Dina memberi komentar setelah ia mencuil daging ayam goreng serta di cocol ke sambal terasinya.
''Iya, enak. Kamu nggak mau, Mi?'' tawar sang Ayah.
''Enggak,'' Mika melanjutkan meminum jusnya.
Sedangkan di meja belakang, ada seseorang yang memasang telinga kelinci. Beberapa kali ia mendengar orang yang berada di belakangnya menyebutkan nama orang yang mereka kenal.
Aji memutar kepalanya dengan perlahan ke arah samping. Matanya langsung tertuju ke arah orang yang sedari tadi menyebut nama mantan istrinya.
''Ibu!''
-
-
Hay man teman, terima kasih buat kalian yang masih setia menanti cerita ini. Maaf kalau enggak bisa up rutin ya, semoga kalian suka. Oh, iya, sembari menunggu cerita ini up kembali, yukk! intip karya temanku yang satu ini.
__ADS_1