
Bab 101
Inilah akhirnya
Mika sempat tertegun mendengar penuturan dari Anwar yang cukup tegar dan nampak pasrah serta mengalah. pria yang terkenal baik, penyabar dan pengertian itu nampak penuh kecewa meski pria itu memiliki segalanya. Harta yang berlimpah tapi dia tidak bisa mendapatkan cinta sejati yang dia inginkan dari seorang Mika Biola.
Mika tersenyum lega karena akhirnya dia bisa terbebas dan tidak lagi Terbelenggu oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan itu. Mikala memang tidak mencintai pria yang ada di hadapannya saat ini, karena cintanya hanya ia labuhkan pada seorang Aji Pamestu.
Saat senyum manis yang memikat itu terukir indah di sudut bibirnya, tiba-tiba Mika merasakan sesuatu yang aneh. Rasa yang belum pernah dia rasakan sama sekali dalam seumur hidupnya.
Tiba-tiba saja tubuh Mika terasa seperti panas dingin. Dia merasakan demam yang tidak ada tanda-tandanya. Tubuhnya terasa meriang. Matanya berubah sendu membuat Anwar menatap aneh padanya.
Mika memegangi tengkuknya dan mengusapnya beberapa kali karena rasa tidk nyaman di kondisi tubuhnya.
''Kamu kenapa, Mi?'' tanya Anwar seraya mendekat.
__ADS_1
Hueekkk!
Mika tiba-tiba merasakan mual, membuat hati seorang Anwar bertanya-tanya. Mika berlari ke arah kamar mandi dan berusaha mengeluarkan isi perutnya akan tetapi hanya angin yang keluar serta cairan bening setelah memuntahkan beberapa kali bebka pun Kembali keluar dari kamar mandi.
''Ayo kita ke dokter aja, kamu sepertinya demam.'' Anwar menempelkan punggung tangannya di kening serta leher Mika yang terasa sedikit menghangat.
''Nggak usah, Mas. Aku cuma lupa belum makan aja, karena nggak selera dari tadi pagi,'' tolak Mika yang merasa dirinya baik-baik saja.
'' Ya sudah kalau begitu, biar Mas ambilkan air hangat ya,'' usul Anwar dan menuntun Mika kembali ke ranjang. Dirinya pun pergi ke dapur untuk mengambilkan air hangat.
Mika merebahkan tubuhnya dan malah memikirkan yang tidak penting soal makanan yang dia masak.
Tak berapa lama, Anwar datang dengan segelas air hangat di tangannya. Dia pun memberikannya pada Mika. Dia membantu Mika untuk duduk dan minum airnya.
''Kamu masuk angin kali, Mi. Karna belum makan kan? Aku ambilkan makanan ya,'' ucap Anwar dan dia akan kembali ke dapur untuk mengambil makanan. Mika berusaha menolak, tapi Anwar sudah keburu menuju ke dapur.
__ADS_1
Sepiring nasi dengan lauknya pun kini sudah berada di hadapannya. Anwar membawakannya langsung dan ingin menyuapi, tapi saat Mika mencium bau makanan itu dia kembali mual dan langsung melipir lagi ke kamar mandi.
Huek
Huek
Huek
''Ada apa ya sama, Mika?'' gumam Anwar yang kini menyusul Mika ke dalam kamar mandi.
Dia membantu memijit leher Mika dan berusaha untuk mengurangi proses muntah yang Mika alami. Meski tidak ada yang keluar selain air, Mika kini nampak lebih pucat.
''Kita ke dokter saja ya, kamu pasti bukan cuma masuk angin biasa,'' ujar Anwar dan kembali membawa Mika ke kamar.
''Nggak usah, ini udah malam. Besok ajalah,'' tolak Mika kemudian.
__ADS_1
''Baiklah kalau kamu tidak mau, biar dokternya saja yang ke sini.'' Anwar langsung menelepon dokter pribadinya untuk segera datang ke mantion miliknya.