Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 14


__ADS_3

Silahkan skip kalau dirasa nggak nyambung ya. Aku nggak fokus nulisnya.


Kafe Moon


Mona sedang berjalan memasuki kafe, ia segera menempati meja nomor 10 yang posisinya di dekat jendela menghadap ke jalan raya. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang . Setelah itu ia memesan minuman seraya menunggu.


Sebuah mobil berwarna putih memasuki area kafe, setelah mobilnya terparkir sempurna. Seorang gadis berkaca mata hitam keluar dari mobilnya dengan rambut yang tergerai dan sengaja ia kibaskan ke kiri dan kekanan agar terlihat rapi. Gadis tersebut adalah Vivi, ia mulai memasuki kafe dan berjalan menuju meja nomor 10.


"Sudah lama menunggu?" Vivi bertanya sambil menarik kursi untuk ia duduki lalu meletakkan tas mahalnya di atas meja.


"Baru kok kak," jawab Mona.


Waiters datang membawakan minuman yang di pesan oleh Mona dan meletakkan di hadapan masing-masing. Vivi mengaduk-aduk jus alpukatnya terlebih dahulu baru kemudian ia seruput.


"Setelah ini, apa lagi rencana kakak?" tanya Mona.


"Aku ingin ia segera di benci oleh suaminya!, kamu harus bisa membuat ia segera mendapat masalah di tempat itu" ucap Vivi dengan sinis.


"Itu sudah pasti kak, karena besok Senin, pasti laporan itu akan di serahkan ke pak Anwar. Dan data tersebut, pastinya Meisya yang akan menggantikan Mika mengurus laporannya.


"Kerja bagus!" Vivi tersenyum penuh arti, lalu ia mengetik sesuatu di layar ponselnya. "Sudah saya transfer untuk uang mukanya, sisanya nanti setelah semua misinya selesai" ucap Vivi dan kemudian ia menghabiskan minumannya.


Mona membuka notifikasi di ponselnya, dan ia melihat bukti transferan dari Vivi telah masuk.


"Wah, ini banyak banget kak, makasih ya" mata Mona berbinar menatap nominal yang diberikan oleh Vivi. 'Aku bisa membeli obat untuk ibu dengan uang ini,' Mona membatin.


"Saya pergi dulu, saya akan kirim pesan mengenai tugas kamu selanjutnya." Vivi beranjak dari hadapan Mona dan ia kembali ke mobilnya.


Mona masih duduk sambil menghabiskan minuman miliknya terlebih dahulu, kemudian ia pun ikut meninggalkan tempat tersebut, sebelumnya ia membayar minumannya terlebih dahulu.


Di dalam perjalanan pulang, Vivi menyusun rencana untuk membuat Aji mau menemuinya sekarang dirumah. Vivi mengirim pesan ke ponsel Aji.


[ Ji, kamu bisa kerumah aku sekarang? ] send Aji.


[ Ada apa? ini sudah malam, aku mengantuk! ] balasan dari Aji langsung ia baca.

__ADS_1


[ Perutku tiba-tiba sakit, kamu harus tolongin aku ]


Aji yang sedang berbaring di sisi Mika segera bangkit dan kemudian ia meraih kunci motornya. Mika yang melihat Aji akan pergi segera bertanya.


"Mau kemana, kok buru-buru Pa?" tanya Mika dengan penasaran.


"Ee, aku ada perlu sebentar sama Bagas. Aku pergi dulu Mi" Aji langsung keluar dari kamar dan menutup pintunya. Mika hanya terheran, karena jarang-jarang Aji pergi dengan ekspresi yang tak biasa.


Namun, Mika berfikir positif. Dan ia kemudian menjemput mimpinya dengan memejamkan kedua matanya.


***


Setelah Aji tiba di kamar Vivi, ia langsung masuk karena pintunya telah terbuka.


"Ada apa Vi?" tanya Aji menuju ranjang Vivi dan kemudian ia duduk disisi Vivi yang terlihat sedang meringis menahan sakit.


"Aku nggak tau kenapa, aku takut kalau aku hamil Ji" ucap Vivi dengan suara memelasnya.


"Nggak mungkin Vi, itu nggak akan terjadi" Aji kemudian berdiri dari duduknya.


Dengan gerakan cepat, Vivi menarik tangan Aji hingga tubuhnya rebah di tempat tidur menindih tubuh Vivi.


Vivi kemudian menangis, ia terisak. "Aku sudah tidak apa-apa Ji, kamu pulang lah!"


"Aku bingung sama tingkah kamu ini Vi, kamu tiba-tiba menyuruhku datang kesini, lalu mengusirku" ketus Aji.


Vivi duduk dari pembaringannya, lalu ia berdiri menghadap Aji. "Ji, aku tau, kamu ingin memiliki anak kan? tetapi, istri kamu belum mau" Vivi meraih tangan Aji kemudian ia genggam. "Kita udah saling dekat dari dulu Ji, jika nanti aku beneran hamil. Kamu mau menerima nya kan?" Vivi mencari kelemahan Aji. Aji hanya terdiam, fikirannya sedang rumit.


Ia memang menginginkan anak, namun bukan dengan cara yang salah. Vivi kemudian mengajak Aji untuk turun ke bawah.


"Aww, adduh," Vivi mengaduh sambil memegangi perutnya.


"Kamu kenapa? apa harus kerumah sakit?" Aji terlihat cemas. Aji mulai menunjukkan simpatinya, dan Vivi merasa senang. Namun tak ia ungkapkan. Nanti ketahuan kalau ia sedang berbohong.


"Kita duduk dulu, aku akan ambilkan kamu air hangat" Aji menuntuk Vivi ke kursi ruang makan, lalu ia mengambilkan air minum hangat. Vivi langsung meneguknya sedkit.

__ADS_1


"Makasih Ji,"


Aji duduk di sebelah Vivi, ia sedang bingung.


"Kamu mikir apa?" tanya Vivi dengan lembut.


Aji menarik nafasnya, ia tidak tahu harus apa.


"Aku pulang sekarang. Kamu udah baikan kan" Aji langsung meninggalkan Vivi.


"Eeh, makasih atas waktu kamu ya Ji." Ucap Vivi sebelum Aji benar-benar menghilang dari balik pintu.


"Hmm, akhirnya.. Aji mulai simpati sama aku, dan akan aku buat yang lebih dari ini" Vivi tersenyum senang, dan ia kembali ke kamarnya.


Malam semakin larut, suasana jalanan sudah sepi. Aji melajukan motornya menuju rumah Bagas, sebaiknya ia pergi menemui sahabatnya itu. Ia akan menginap di sana saja pikirnya 'aku lebih baik menginap di rumah Bagas, akh!! gara-gara Vivi, aku jadi seperti ini! aku harus menutupi ini semua rapat-rapat!'


Tak lama setelah menempuh perjalanan beberapa menit, Aji tiba di rumah Bagas. Namun ruangannya sudah gelap semua. Aji kemudian menelpon Bagas untuk memastikan keberadaannya.


"Lu dimana, Gas?"


"....."


"Gue dirumah lu sekarang"


"....."


"Gue tunggu! buruan"


Aji memutus sambungan telponnya. Ia kemudian duduk ke kursi depan teras rumah Bagas sambil menunggu sang tuan rumah tiba di rumahnya.


Menunggu sekitar setengah jam, akhirnya Bagas tiba dirumahnya. "Lu ada apa lagi Ji? yuk masuk" Bagas membuka kunci pintu rumahnya kemudian masuk kedalam diikuti oleh Aji di belakangnya.


"Gue lagi pusing, gue numpang tidur aja." Aji langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah milik Bagas.


Bagas yang melihat sahabatnya sedang tidak baik-baik saja hanya memperhatikan, dan dia akan menunggu cerita apa yang akan di suguhkan kepada dirinya nanti ketika Aji sudah bangun dari tidur lelahnya.

__ADS_1


Bagas pergi ke kamarnya, ia mengambil selimut untuk di bawa ke sofa dimana ia akan tidur menemani Aji di sana.


Di perhatikannya dengan saksama, ternyata Aji langsung terlelap begitu merebahkan tubuhnya di sofa tersebut. Diletakkannya selimut di atas perut Aji. Kemudian Bagas menuju sofa yang kosong untuk ia jadikan ranjang tidurnya.


__ADS_2