Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 119


__ADS_3

Bab 119


Penasaran


''Kak, kenalin aku dong sama teman-teman cowokmu, biar aku mggak kesepian dan merana saat melihat kalian bermesraan di hadapnku,'' rengek Anggi pada Mika.


''Emm, kakak nggak pernah kontakan lagi sama teman lama, sama sahabat kakak aja los kontak,'' ucap Mika merasa sedih. Dia tiba-tiba rindu pada sosok Meisya yang entah apa kabarnya. Dia hanya ingat saat Meisya kembali dekat dengan Bagas dan tidak tahu lagi kabarnya sekarang bagaimana.


''Oh iya, bagaimana kabar anaknya Vivi ya, kok aku jadi ingat mereka,'' gumam Mika.


''Kak, isshh. Kok melamun,'' sungut Anggi kesal. Wajahnya cemberut membuat Mika tersenyum tipis.


Mika berfikir siapa pria yang pantas untuk di kernalkan pada adik iparnya ini. Sebab dia tidak punya banyak teman pria. Dia juga orangnya tidak mudah bergaul dan lingkup temannya hanyaa itu itu saja.


''Nanti kalau kakak ingat kakak kenalkan ya, sekarang kamu sedang apa?'' tanya Mika pada Anggi yang melihat tangan gadis itu menari nari di atas kebyboard.


''Biasa kak, lagi ngedit. Beberapa foto yang mau aku kasih tulisan, agak melow sedkit,'' papar Anggi. Mika mengangguk paham, dan membiarkan adik iparnya itu bekerja.


''Kakak ke kamar dulu ya. Ngantuk nih,'' pamit Mika mengusap lengan Anggi sejenak.


''Iya kak,'' ucap Anggi.


Mika pun pergi menuju ke kamar miliknya.


Melihat sang suami berbaring sambil main ponsel di atas tempat tidur, membuat Mika langsung nempel kayak perangko. Ngedusel di bawah ketiak lalu berbantalkan bahu Anwar.


''Kamu ngantuk?'' tanya Anwar dengan lembut. Di usapnya puncak kepala Mika dengan sayang.


''Heemm,'' jawab Mika manja.


''Mas,'' ujar Mika.

__ADS_1


''Iya sayang,'' balas Anwar yang sudah menyimpan ponselnya di atas meja nakas. Dia akan fokus pada istrinya yang manja ini.


Jemari Mika mulai naik merambat ke rahang tegas Anwar dan mendarat dengan sempurna di bawah dagu yang di tumbuhi jambang tipis. Mika memainkan jambang tersebut dengan lembut. Tak lupa pula meniti da da bidang Anwar yang di balut kaos putih tipis. Jemari lentiknya melukis bentuk abstrak di sana.


Tubuh Anwar terasa mulai sedikit memanas karena sentuan dari sang istri yang sepertinya ingin mengajaknya bermain.


''Mas...'' panggil Mika dengan suara sedikit serak, dia menggigit bibirr bawahnya membuat Anwar tahu arah yang Mika inginkan.


Anwar membalas perlakuan Mika dengan lembut dan mereka kini saling beradu bibirr. Suara decapan mulai menghiasi kamar mereka yang luas dan terang. Tangan Anwar mulai bergerak mengubah lampu terang menjadi lampu tidur.


Olahraga malam pun mulai di mainkan dengan pemanasan terlebih dahulu.


Author auto langsung alih chanel saja


***


Sejak pertemuannya dengan Viona kala itu, Aji jadi ingin selalu dekat dengan gadis mungil itu. Karena teman-teman bu Minah pada ikut-ikutan beli tas yang sama dengan bu Minah membuat Aji sering bertemu Vivi maupun Viona.


Tanpa memberi kabar sama sekali, Aji langsung saja datang ke rumah Vivi. Kebetulan sekali pintu rumah wanita itu terbuka lebar dengan tertutup teralis. Tampak wanita itu hanya mengenakan daster pendek tanpa lengan. Menampakkan lekuk indah wanita itu.


Meski Aji pernah melihat keseluruhan anggota tubuh Vivi, tapi untuk kali ini dia menatapnya dengan berbeda. Ada rasa rindu yang terselip di sana.


''Assalamulaikum,'' sapa Aji di depan pintu. Viona yang sudah bisa berjalan sendiri melangkah pelan mendekat ke arah pintu. Menyambut kedatangan Aji dengan suara lucunya.


''Pa pa pa pa,'' panggilnya dengan senyum lebarnya.


''Kok kamu nggak ngasih tahu dulu kalau mau datang, Ji?'' ujar Vivi membukakan pintu teralis tersebut.


''Mau kasih kejutan buat Viona.'' Aji langsung menggendong Viona dan memberikan mainan yang dia beli tadi di depan tempat kerjanya.


''Ayo masuk,'' ajak Vivi dan Aji langsung membuka sepatunya tanpa melepas Viona dari pelukannya.

__ADS_1


''Kamu pakai apa ke sininya, kok aku nggak denger suara motor yang biasa kamu bawa,'' tanya Vivi sambil menyeduh teh hangat ke dalam cangkir. Dia pun menuang gula ke dalam seduhan teh tersebut.


''Aku naik ojek tadi, motor itu kan milik bu Minah, tempat kerja aku juga nggak terlalu jauh jadi pulang dan pergi aku jalan kaki sekitar sepuluh menit,'' papar Aji lalu menyeruput teh yang sudah Vivi siapkan untuknya.


Ohh,


Aji mengajak Viona mengobrol sambil bermain mainan yang Aji beli. Dia membeli permainan lego. Mereka menyusun bersama dengan serasi. Viona seolah paham dia turut membantu Aji memasang setiap susunannya.


Vivi menatap haru keakraban antara anak dan ayah itu. Dia pun berandai-andai seraya mengingat masa lalu.


Dia ingat dengan jelas dulu dia selalu melakukan apa saja agar bisa dekat dengan Aji. Hingga pernikahan siri pun terjadi. Namun, karena satu kesalahan membuatnya harus telak berpisah.


Tanpa terasa air matanya menetes jatuh ke lantai dan dia buru-buru menghapusnya agar tidak di lihat oleh Aji yang sesekali melirik ke arahnya.


Vivi pun memilih pergi ke kamar dan dia memutuskan untuk mandi saja. Mumpung Viona ada yang menjaganya dia akan melakukan pekerjaan mandinya dengan leluasa tanpa tergesa-gesa.


Lelah bermain, Viona mulai merengek minta di buatkan minuman khusus miliknya. Aji yang sudah hapal di mana letak perlengkapan milik Viona pun membuatkan si kecil air putih yang manis pendamping Asi.


''Vio mau bobok ya sayang, yuk kita bobok sambil minum botol,'' ujar Aji kembali duduk di karpet lembug khusus Viona.


Tapi Viona malah tidak mau di ajak tidur di karpet tersebut. Dia menunjuk ruang kamar miliknya.


Aji ragu untuk masuk ke dalam karena Vivi ada di dalam sana. Dia pun mengetuk pintunya terlebih dahulu untuk mengabil alih Viona agar tidur bersama ibunya.


Namun, saat Vivi muncul sudah dengan pakaian ganti, Viona tidak mau di ambil alih ke pelukannya. Dia ingin tidur di temani oleh Aji.


Dengan terpaksa, Aji masuk ke dalam kamar itu dan menemani Viona untuk tidur. Viona tidak mau lepas dari pangkuan Aji. Dia tidak mau tidur langsung di atas tempat tidur. Al hasil dia berada di pangkuan Aji hingga terlelap.


''Maaf ya, Jim Vio merepotkan kamu. Sini, biar aku pindahin dia ke tempat tidur,'' ujar Vivi merasa tidak enak.


''Nggak apa apa, Vi. Aku senang kok bisa melakukan ini pada Viona. Kasihan dia kurang kasih sayang dari ayahnya.'' Aji mengusap lembut ubun-ubun Viona. Lalu secara perlahan dia memindahkan ke tempat tidur yang sudah di siapkan oleh Vivi.

__ADS_1


__ADS_2