
Pulang dari acara makan malam yang diadakan di hotel Amanah, Bagas sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Dijalan ia melihat seoarang gadis sedang duduk di halte.
Bagas menghentikan kendaraannya untuk menghampiri gadis tersebut.
"Mbak, lagi nunggu apa malam malam begini. Bahaya loh." Ucap Bagas pada gadis tersebut.
"Eh, iya mas. Saya lagi nunggu ojek yang lewat mau pulang ke kost." Jawab gadis tersebut.
"Emang di mana alamatnya?" tanya Bagas.
"Jalan Juanda mas, lorong Asean."
Bagas yang mengetahui alamat tersebut berinisiatif untuk mengantar gadis tersebut karena kasihan.
"Mbak mau nggak ngojek sama saya, dari pada nungguin kang ojek yang lewat. Udah tengah malam begini akan jarang yang lewat." Bagas menawarkan jasanya.
Gadis tersebut nampak berfikir. Ia juga merasa takut, tapi ini cowok juga dia nggak kenal. Takut malah nanti di apa apain.
Bagas menatap gadis tersebut masih berfikir,
"Jan kelamaan mikir mbak, mau apa nggak! kalo nggak ya saya tinggal."
Gadis tersebut memperhatikan kembali jalanan yang memang sudah sangat sepi, akhirnya ia memutuskan untuk pulang bersama cowok tersebut.
"Iya mas, saya ngojek sama mas aja."
"Ya udah yuk naik!"
Gadis tersebut naik ke boncengan, dengan memegang bahu Bagas. Persis kang ojek beneran yang lagi bawa penumpang.
Bagas melajukan kendaraannya menuju jalan yang di maksud. Setelah sekitar Lima belas menit dengan kecepatan 80/KM akhirnya motor Bagas sampai di kostan yang di maksud.
"Makasih ya mas, ini ongkosnya." Gadis tersebut menyerahkan selembar uang warna Hijau.
Bagas menerimanya tanpa melihat nominalnya, dan langsung ia masukkan ke saku celananya.
"Saya permisi." Bagas pamit dan kembali ke arah rumahnya sendiri.
Gadis tersebut masih memperhatikan kepergian Bagas yang sudah hilang dari pandangan matanya.
Setelah itu, ia masuk ke kamar miliknya. Membersihkan diri dan tidur.
……
"Mi, jadi gimana kamu jadi ambil cuti nggak?" tanya Aji saat mereka sudah mengenakan selimut.
"Belom Pa, Aku maunya ke Bali. Kalau pergi ke Bali Aku akan ambil cuti."
"Oke, kita ke Bali." Aji menurunkan egonya demi bisa menikmati liburan bersama istrinya itu.
"Serius Pa!!" Mika berbinar mendengar keputusan yang di ambil oleh sang suami.
__ADS_1
"Iya, yang penting Aku Bisa berdua sama kamu."
"Yes!!" Mika segera memeluk tubuh suami karena merasa senang. Akhirnya keinginannya diturutin.
Aji melihat raut kegembiraan dari wajah istrinya, ia pun menyambut pelukan yang di berikan oleh Mika. Setelahnya mereka tidur.
Paginya mereka bersiap untuk beraktifitas kembali seperti semula.
Aji mengantar Mika ke tempatnya bekerja terlebih dahulu baru ia menuju tempat kerjanya sendiri.
**
Saat makan siang di kantin, Bagas dan Aji duduk bersebelahan. Mereka mengobrol santai, sambil menikmati makan siang.
"Gue udah ambil cuti Gas, jadi nanti pekerjaan gue tolong di bantu bantu ya Gas."
"Emang lu mau kemana" tanya Bagas penasaran.
"Mau Honeymoon!!" ucap Aji.
"Alah, gayaan honeymoon honeymoonan."
"Serius ini gue. Bener bener udah bosen sama urusan kerjaan. Mau refres otak biar seger," jawab Aji dengan serius.
Bagas menatapnya sekilas.
"Ya deh, nanti Aku bantuin. Lu kapan berangkatnya!"
"Oke lah kalok begitu."
Setelah selesai makan siang, mereka kembali lagi bekerja ke ruangan masing masing.
Vivi sebenarnya tidak ingin memberikan izin untu Aji cuti akhir bulan ini. Tapi karena Aji meyakinkannya, akhirnya izin pun diberikan olehnya.
"Gue harus ikutin dia, ini lebih baik daripada gue nggak bisa tenang melihat mereka yang makin mesra. Gue harus bisa bikin liburan mereka menjadi tidak menyenangkan" ucap Vivi pada dirinya sendiri.
Setelah itu, ia kembali ke Laptopnya. Menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda gara gara memikirkan orang lain yang ingin senang senang di atas kegundahannya.
Hari telah berganti sore, Aji dan Bagas keluar bersamaan menuju ke parkiran. Aji akan pergi menjemput istrinya terlebih dahulu. Karena ia yang lebih dulu pulang.
"Yuk cabut" ucap Bagas sambil melajukan motornya di depan Aji, setelah itu mereka berurutan keluar dari area pabrik.
Jalanan menuju tempat Mika bekerja cukup padat, banyak orang yang baru pulang dari bekerja memenuhi jalanan tersebut.
Sementara itu, Mika sedang berada di ruangan bosnya. Ia sedang menunggu bosnya yang sedang menelpon partner kerjanya.
Anwar selesai dengan telponnya dan kembali duduk berhadapan dengan Mika.
"Ada yang ingin kamu sampaikan Mi," ucap Anwar dengan santai.
"Saya ingin mengambil jatah cuti saya pak," pinta Mika dengan hati hati.
__ADS_1
Anwar nampak terkejut, namun ia segera menguasainya agar tak terlihat oleh Mika ekspresi yang ia rasakan.
"Kapan kamu akan mengambil jatah cuti itu," tanyanya kemudian.
"Akhir bulan ini pak, bisa kan?" tanya Mika sambil menatap mata bosnya itu.
"Oh, ya. Ya saya akan berikan, itu sudah menjadi hak kamu agar kamu bisa refreshing. Kalau boleh tahu, kamu ingin kemana?" sebenarnya ini tak perlu di tanyakan. Kan ini urusan pribadi, dasar pak Anwar ini. Suka kepo deh!
"Saya akan ke Bali pak," ucap Mika dengan jujur.
"Baiklah, berarti seminggu lagi kamu berangkatnya. Semoga sebelum kamu pergi, pekerjaan kamu selesai dengan baik." Anwar sedikit tidak rela, namun sudah menjadi hak pegawainya. Jadi ia harus memberikan haknya.
Setelah itu, Mika keluar dari ruangan tersebut. Sesampainya di luar, ia menemukan sang suami telah menunggunya dengan duduk di atas motornya.
Mika yang keluar bersama dengan Meisya akhirnya berpisah dengan kendaraan masing masing.
Mumpung punya waktu untuk berduaan di sore hari begini. Aji mengajak Mika untuk jalan jalan sebentar.
Tujuannya adalah Danau, setelah sampai. Mereka masuk kedalam kafe Hello, memilih posisi duduk yang langsung menghadap ke danau. Mengamati pemandangan air dan orang yang berlalu lalang di bawah sana.
Tak lama kemudian makanan mereka datang.
"Silahkan dinikamati kak," sapa pelayan kafe itu dengan ramah.
Mereka berdua hanya tersenyum sambil menganggukan kepala. Setelah itu, pelayan itu meninggalkan mejanya dan menghampiri meja lain.
Sambil menikmati hidangan yang sudah tersedia, mereka mengobrol.
"Gimana Mi," tanya Aji sambil memasukkan sesuap makanan miliknya.
"Aku udah minta ijin kok," ucap Mika sambil melakukan hal yang sama.
"Bisa kamu cuti?"
"Bisa kok,"
"Baguslah kalau gitu," mereka kembali menikmati makanan itu hingga habis. Setelah selesai dengan makanannya, mereka turun kebawah untuk berjalan jalan menikmati semilir angin sore.
Berjalan berdua sambil bergandengan tangan seperti orang yang sedang berpacaran pada umumnya. Sambil bercengkrama, saling toel toel, saling gelitik ketika membahas yang lucu.
Hal yang sederhana seperti itu saja sudah bisa membuat hati wanitanya senang dan membuat senyumannya selalu terbit dari bibir manisnya.
Tak lupa mereka mengabadikan momen kebersamaan itu. Memang jarang mereka lakukan karena kesibukan masing masing.
Matahari mulai tenggelam, mereka memutuskan untuk pulang. Para pengunjung lain pun melakukan hal yang sama.
-
-
Thankyou. Kiss buat kalian.
__ADS_1