Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 124


__ADS_3

Bab 124


''Ya amplop! Ternyata gue beneran mimpiin si abang ganteng. Tapi jahat bener sih, gue malah di jatohin dari tempat tidur!'' maki Anggi pada dirinya sendiri. Dia pun kembali naik ke tempat tidur dan menempatkan posisi tubuhnya di tengah-tengah. Lalu memagari tubuhnya dengan guling di kanan dan kiri.


Setelah pagi hari, Anggi bangun dari tidur dengan pagar guling yang telah luluh lantah ke lantai terkena terjangan maut kaki jenjangnya.


Planing hari ini, Anggi akan pergi ke sebuah tempat di mana ia harus mengunjungi tempat yang ada di dalam mimpinya semalam. Gadis itu dengan semngat yang membara bernyanyi kecil sambil mengguyur tubuhnya dengan air.


Usai bersiap, Anggi pun turun untuk pergi sarapan. Di meja makan sudah terlihat Anwar dan Mika yang semakin hari semakin mesra membuat jiwa jomblo Anggi meronta-ronta.


''Pagi, semua!'' sapa Anggi yang langsung bergabung dan duduk di kursi miliknya.


''Pagi,'' jawab Anwar dan Mika hampir bersamaan.


''Udah rapi aja, mau ke mana Nggi?'' tanya Mika.


''Mau pergi Kak, biasa...'' ujar Anggi. Gadis itu meraih sarapannya dan kemudian melahapnya. Tak lupa pula segelas su su hangat ia teguk hingga tandas tak bersisa.


''Ya sudah, hati-hati aja kalau pergi,'' saran Mika.


''Sayang, Mas berangkat dulu, ya. Nanti pulangnya mau di bawain apa?'' tanya Anwar tengah beranjak diikuti Mika. Anwar akan pergi ngantor seperti biasa. Meski dia sudah mengurangi jam kerjanya. Tapi kondisi tak memungkinkan ia untuk tidak hadir di sana.


''Aku pengen nanas goreng, Mas. Bawain ya,'' pinta Mika manja.


''Apa, Sayang? Nanas goreng? Memangnya ada yang jual?'' Anwar mengulang permintaan sang istri yang terdengar aneh di telinganya.

__ADS_1


''Pokoknya kamu cariin, aku siang nanti mau makan itu,'' ucap Mika dengan bibir yang di majukan seperti bebek.


''Iya-iya, Mas akan cariin demi kamu.'' Anwar mengusap perut Mika lalu mengecupnya. Adegan kemesraan mereka rak luput dari pandangan Anggi yang hanya bisa memutar bola matanya karena jengah. Sejujurnya dia sangat iri tapi apalaj daya. Meski dalam hatinya terselip rasa bahagia karena kakak dan juga kakak iparnya bisa semesra ini.


Mika pun mengantar Anwar higga pintu depan. Setelah melambaikan tangan Mika pun kembali ke dalam dan mendapati Anggi juga selesai dengan sarapannya. Gadis itu juga akan pergi ke lokasi.


''Loh, udah selesai kamu sarapannya, Nggi!'' tanya Mika.


''Udah kak, aku berangkat dulu ya, hati-hati di rumah,'' ucap Anggi seraya mendaratkan bibirnya ke pipi kiri dan kanan Mika. Lalu pergi dan tinggal lah Mika seorang diri. Karena asisten rumah tangganya tengah pergi ke pasar untuk belanja keperluan dapur dan isi kulkas yang sudah kosong.


''Hari ini jadwalku untuk pergi ke perkumpulan ibu-ibu hamil di sanggar. Lebih baik aku juga bersiap, di rumah udah sepi begini,'' gumam Mika. Dia pun memilih untuk bersiap dan juga pergi. Saat dia akan pergi, bi Atik muncul dengan seorang tukang ojek yang membawa banyak belanjaan tercantol di kendaraan tuanya.


''Loh, non Mika mau ke mana?'' tanya bi Atik.


''Iya, Non. Bibik bereskan belanjaan terus nanti nyusul ke sana,'' ujar bi Atik.


''Oke,'' sahut Mika. Lalu dia pun berlalu dan bi Atik masuk membawa belanjaannya yang sebarek abrek. Wanita itu mulai memilah dan memilih barang mana saja yang harus di simpan di kulkas dan mana yang di simpan di dalam lemari dapur.


***


''Selamat pagi, Pak,'' sapa Silvi ketika melihat Anwar tiba di kantornya. Pria itu hanya melirik sekilas dan tetap berjalan lurus masuk ke dalam ruangan pribadinya. Di sana sudah ada Rina yang baru saja meletakkan air putih yang biasa dia ganti setiap harinya.


Tak lupa pula, Rina selalu menyediakan kue kecil yang dia buat sendiri untuk Anwar meski tak pernah di makan oleh pria itu. Namun, pagi ini kue yang tersaji di piring kecil itu nampak berbeda dari biasanya. Dengan warna kuning lembut dan beraroma segar membuat Anwar penasaran dengan makanan tersebut.


''Apa ini, Rin?'' tanya Anwar pada Rina yang hampir keluar daei ruangan.

__ADS_1


''Itu kue Nanas Pak, yang lagi viral di tok-tok, saya pagi tadi mencoba membuatnya,'' ujar Rina dengan senyum mengembang. Setelah sekian purnama dia berjuang untuk bisa membuat Anwar melirik makanannya akhirnya bisa tercapai.


''Oh, ya sudah. Sana pergi,'' usir Anwar begitu mendapat jawaban dari rasa penasarannya. Dia pun duduk di kursi kebesarannya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.


Lagi-lagi, aroma kue itu selalu menusuk hindungnya membuat jiwa keponya meronta. Anwar yang merasa tertarik akhirnya mencoba menarik piring itu ke kedekatnya.


Anwar meraih garpu kecil dan mengambil sepotong kue itu. Dia mulai mencicip dan matanya langsung berbinar begitu mencoba rasa daei kue itu. Entah kenapa tak ada keraguan saat dia mencobanya. Padahal setiap kali Rina menyediakan kue untuknya tak pernah di lirik sama sekali karena kalau tidak berwarna coklat, kue itu berlumur dengan keju. Tapi kali ini dengan design yang sederhana dan warnanya yang soft membuat Anwar penasaran karena aromanya.


''Ternyata kue nanasnya enak,'' puji Anwar karena telah melahap habis kue yang ada di piring tersebut.


Di saat itu juga, Anwar pun teringat akan permintaan istrinya yang ingin makan nanas goreng. Dia pun memiliki ide dan dia pun memanggil Rina untuk masuk ke ruang kerjanya.


''Rin, keruangan saya sekarang!'' perintah Anwar melalui sambungan telponnya. Tak butuh waktu lama, Rina sudah datang dan masuk ke ruangannya setelah mengetuk pintu.


''Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu,'' ucap Rina. Dia tak sengaja menatap ke arah piring kosong di meja membuat bibirnya tersenyum puas.


Anwar mengetuk-ngetuk dagunya dengan pena. Dia bingung dan juga ragu untuk minta tolong pada Rina soal permintaan aneh sang istri yang sedang mengidam nanas goreng.


''Katakanlah, Bapak perlu bantuan apa, pasti akan saya penuhi,'' ucap Rina dengan lembut seraya mendekat ke arah Anwar dan sedikit genit.


''Buatkan saya nanas goreng!'' pinta Anwar.


Rina mengerutkan kening karena heran, bagaimana bisa nanas di goreng. Buah yang mengandung banyak air itu akan di goreng dan menghasilkan seperti apa. Gumam Rina yang mulai berpikir.


''Bisa tidak?'' tanya Anwar membuyarkan pikiran Rina. Dia tengah memikirkan sebuah cara untuk mencari ide cara membuat nanas goreng yang pinta oleh atasannya ini. Ini adalah kesempatan emas untuk Rina untuk bisa masuk dan mengambil hati bosnya agar tertarik pada masakannya dan juga tertarik pada dirinya yang selalu perhatian.

__ADS_1


__ADS_2