Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 65


__ADS_3

Vivi menggeliat saat tubuhnya terasa ada yang mengganjal. Ada sesuatu yang keras terasaemasuki inti tubuhnya. Namun, karena rasa nyaman pada tempat tidurnya membua dia tak ingin membuka mata. Vivi lebih memilih melanjutkan tidurnya ketimbang membuka matanya.


Vivi sudah lama tidak merasakan kenikmatan dari sang suami. Untuk kali ini, dia bermimpi sedang bermain bersama Aji. Vivi menikmati permainan suaminya yang dia rindukan.


''Aahhh,'' lenguh Vivi.


Aji menggigit putng Vivi hingga membuatnya meliuk-liuk.


''Buka matamu, sayang,'' terdengar suara samar di telinganya.


Vivi terkesiap saat dia membuka matanya. Ternyata dia tidak bermimpi, ''ini nyata, aku kangen kamu, sayang!'' Vivi memanggut bibir Aji dengan lembut. Membalas setiap sentuhhan yang Aji berikan.


Jlebb


Saat siap memacu pinggangnya, mereka berdua mendengar suara ketukan di pintu kamar.


Tokk


Tokk


''Non, Tuan!'' suara bik Rumi terdengar dari luar.


Aji dan Vivi segera berpakaian kembali. Wajahnya tampak kesal karena belum selesai dengan ritualnya.


''Ada apa, Bik?'' Aji membuka pintu kamar.


''Makan malam sudah siap, maaf jika Bibik menggangu,'' wajah bik Rumi tertunduk. Di sebelah tangannya menggendong Viona yang sedang melek sehabis dari bangun tidur.


Mereka pun menuju ruang makan lalu makan bersama sembari bercengkrama saling bertukar cerita.


Sementara di tempat lain, Mika sedang berada di tempat pusat kebugaran. Dia sedang berolahraga untuk menghilangkan pikiran yang menyelimuti batinnya. Di sana Mika hanya sendiri, menyendiri dan juga mematikan ponselnya. Usai membuang keringat, Mika pun bergegas pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Mika sudah di tunggu oleh seseorang. Mika pun menyapa orang tersebut seperti biasa di tempat kerja.


''Gas? Sudah lama nunggu?'' tanya Mika. Dia pun duduk berhadapan dengan Bagas yang sedari tadi hanya membolak balikkan berkas yang di pegang.

__ADS_1


''Lumayaaaan! Ini ada berkas yang harus lu tanda tangani. Nggak bisa di wakilkan karena ini genting.'' Bagas menyodorkan berkas tersebut dan memberikan pena pada Mika.


''Heheh, sorry ya. Gue belum ngantor dulu, jadi ngerepotin lu mulu.'' Mika cengengesan menanggapi gerutuan Bagas.


''Yaaaa, gue paham. Selama seminggu ini gimana? Apa ada perkembangan?'' tanya Bagas serius.


''Ya. Sekarang gue lebih plong. Gue juga terlintas sebuah pikiran buat ngelanjutin hidup biar bisa ngelupain masalalu yang bikin pusing itu,'' curhat Mika.


''Baguslah kalo gitu.'' Bagas menyimpan kembali berkas yang sudah Mika tandatangani dan mereka melanjutkan obrolan.


''Urusan kantor kan udah kelar, jadi ... gue boleh dong mandi bentar, nanti baru lanjut lagi,'' ujar Mika pada Bagas.


''Silahkan tuan putri. Gue akan nunggu karena masih ada yang mau di bahas di luar urusan pekerjaan.'' Tutur Bagas sembari mengerlingkan mata.


''Apaan emangnya?'' Mika kembali duduk dan ingin menyimak apa yang akan Bagas bahas.


''Mandi dulu, gih. Lu bau asem!'' ucap Bagas setengah berbisik di depan wajah Mika.


''Eh! Sadar diri dong lu, kayak lu udah bersih aja. Baju aja masih baju dinas.'' Sungut Mika. Dia pun beranjak dan meninggalkan Bagas di ruang tamu. Bagas hanya terkekeh dan memandang Mika yang berlalu dari hadapannya.


Bagas memainkan ponselnya sembari menunggu Mika selesai dengan ritual mandinya. Cukup lama dia menunggu akhirnya Mika keluar sudah dengan pakaian santai. Celana pendek selutut dan kaos kedodoran bagian depan. Rambut yang terurai dengan tangan memegang baki berisi dua gelas minuman dingin.


''Nih! Minum dulu, sorry kalo lama.'' Mika meletakkan minuman tersebut ke atas meja.


''Dari tadi kek, udah keburu kemarau kerongkongan gue nunggu lu mandi lama amat!'' Bagas meraih satu gelas dan meneguknya seperempat.


''Biasalah! Nabung emas dulu gue,'' jawab Mika santai.


Bagas hanya menjawab dengan dengusan dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Dia memperhatikan setiap gerak tubuh Mika dengan tatapan kosong.


''Ada cerita apaan emangnya? Sampe lu rela nungguin gue segitunya.'' Mika terkekeh kecil sambil menatap Bagas.


''Woi! Lu liatin apaan? Ntar lu terpesona sama kecantikan gue. Dilarang liat-liat!'' Sergah Mika sambil melempar tisu yang dia gumpalkan ke wajah Bagas.


''Eh! Pede amat, lu. Gue mau curhat, bolehkan?'' ucap Bagas dengan raut yang tak bersemangat.

__ADS_1


Mika memperhatikan ekspresi wajah Bagas yang lesu tidak seperti biasanya. Dia pun yakin jika Bagas memang sedang butuh teman untuk bercerita. Mika berdehem untuk memperbaiki tenggorokan yang sedikit kering dan meraih minum bagiannya. Setelah meneguk beberapa tegukan, dia pun meminta Bagas untuk menceritakan apa saja yang sedang mengganjal di hati temannya itu.


''Ada apa?'' tanya Mika serius.


''Meisya,'' jawab Bagas lemah.


''Kenapa? Kalian baik-baik aja, kan?'' Mika mengerutkan dahi mendengar nama sahabatnya disebut.


''Gue end!'' Bagas mengusap lehernya yang terasa pegal.


''Kok bisa?'' Mika menanggapinya masih dengan nada santai. Dalam hatinya dia mulai penasaran ada apa dengan sahabatnya itu.


''Lu sih pakek nonaktifin ponsel segala. Jadi nggak tahu kabar sahabat lu sendiri kan!'' Bagas sedikit kesal karena Mika terlihat santai saja.


''Lu tau sendirilah, apa yang bikin gue ngelakuin itu. Kenapa sebenarnya dengan Meisya?'' Mika ingij pergi ke kamar untuk mengambil ponselnya yang di simpan di dalam brangkas.


''Dia pulang kampung dan langsung mutusin gue gitu aja,'' terang Bagas.


''Terus, lu nggak kejar dia?'' Mika sedikit terbawa emosi mendengar penuturan Bagas.


''Buat apa, gue udah nggak bisa berbuat apa-apa lagi soal hubungan ini.'' Bagas mendongakkan kepala menatap langit-langit ruangan dan memejamkan mata sejenak untuk mengurangi sakit dalam hatinya.


''Lemah banget lu jadi cowok, Gas. Harusnya lu susulin dia dong. Gimana sih, gue jadi penasaran tuh anak kenapa?'' Mika sewot sendiri sambil bersedekap tangan di dada.


''Dia udah merid pagi tadi.'' Bagas mengeluarkan sebuah kata yang membuat Mika melongo dan tak berkedip dalam hitungan detik.


Mika mematung mendengar penjelasan Bagas yang menurutnya tidak mungkin terjadi pada diri Meisya yang dia kenal.


''Lu jangan asal ngomong, Gas. Nggak lucu becanda lu.'' Mika tersenyum miring karena tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Bagas.


''Nih! Lu liat baik-baik wajah wanita yang ada di foto ini dan juga lu liat jam yang tertera di layar foto itu.'' Bagas mengacungkan ponselnya di depan wajah Mika dengan kesal, Mika pun langsung menyambar ponsel itu dan melihat apa yang terpampang di layar ponsel Bagas dengan mata yang melotot dan mulut yang menganga. Mika masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat, malah Mika memencet tombol panggil di nomor tersebut dan langsung tersambung di seberang sana.


-


-

__ADS_1


Maaf jika ada typo, langsung di up tanpa edit apalagi di baca ulang. Selamat menikmati, eh! selamat membaca dears. Lopyu semuaaa


__ADS_2