
Part ini ada anunya, ya guys, jika tidak ingin membaca silahkan di lewatkan. Tetapi, kalau penasaran boleh dilanjut. Author hanya mengingatkan.
**
Sebagai lelaki yang normal, Aji sudah beberapa bulan tidak mendapat jatah untuk merumput di ladang istrinya sejak Vivi di rawat di rumah sakit. Tiang benderanya sudah siap tegak untuk di tancapkan di ladang berumput hitam tersebut.
Gunung kidul milik Vivi yang terlihat padat berisi karena ia sedang mengandung, semakin menantang untuk segera di kemut.
''Ji, aku sangat rindu akan sentuhanmu...'' tangan Vivi membelai rahang hingga ke dada bidang sang suami. Sementara tangan Aji juga tak tinggal diam, ia melepas kain penutup pada tubuh Vivi. Setelah itu, tangannya langsung menelusup menjelajah area ladang rerumputan yang rimbun. Si empunya tak pernah memangkasnya hingga rumput tersebut terasa kasar saat si rabaa.
Vivi melenguh saat tangan Aji membelai-belai area terlarangnya yang sudah mulai basah. Area itu terus di usap-usap dengan jari tengahnya dan menekan *-****nya.
''Uhh,...'' lenguh Vivi di sisi telinga Aji. Tubuhnya di dorong pelan ke arah ranjang yang bertabur kelopak bunga mawar. Aji merebahkan tubuh Vivi dengan hati-hati agar perutnya tidak tergencet di bawah kungkungan Aji.
Aji menyapu bagian-bagian yang membangkitkan gairrah seorang Vivi. Bibirnya ia sapukan ke cuping telinga dan menggigitnya dengan lembut, lalu menjilati leher jenjang Vivi dan menghisapnya, membuat tanda merah mirip dengan hasil kerokan, alias cap stempel ala Aji. Lenguhan pun meluncur bebas dari bibir Vivi. Tangan Aji pun tak tinggal diam, ia menggerayangi gunung montook itu dan meremass. Kemudian, memencetnya hingga keluar cairan berwarna putih dari ujung pentilan coklat milik Vivi membuat Vivi menggelinjang merasakan sengatan birahii.
''Ahh...'' Vivi kembali meloloskan suara desaahannya. Aji terus memberikan sengatan-sengatan di bagian inti yang membuat Vivi ingin segera mencapai puncaknya.
Tak perlu menunggu lama, ladang yang sudah basah itu segera di tancap dengan tiang bendera milik Aji. Ia mengurut sejenak si panjul sebelum di tanam ke ladang rumput hitam. Dengan posisi miring ke kanan dan posisi Aji berada di belakang Vivi. Ia memaju mundurkan pinggulnya dan menghujamkan tiang benderanya ke dalam lubang itu. Tangannya terus meremass gundukan kenyal dan padat hingga mengeluarkan isinya. Karena sebuah rangsangan yang memacu untuk air Asi Vivi menjadi keluar dari sarangnya.
Aji sangat merindukan lubang berumput hitam itu. Sekian bulan ia tidak pernah mencoblos dan mengeluarkan tinta putih nan lengket ke dalam sana.
Permainan masih terus berlanjut dengan berbagai posisi. Saat Vivi menelentangkan tubuhnya, Aji kembali memasuki lubanganya dan kembali menghujamnya dengan ritme lebih cepat. Hingga sampailah pada pelepasan pertamanya. Keduanya meloloskan suara misteri secara bersamaan.
''Aaahhhh...'' seruan panjang dari keduanya lolos dari bibir masing-masing.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Vivi tiba-tiba memegangi perutnya yang terasa mengeras dan tidak nyaman. Serta kulit perutnya menyembulkan tonjolan dan bergerak-gerak.
''Aww! Aduh,...'' Vivi memegangi permukaan perutnya dan meringis menahan rasa sakit.
''Kamu kenapa, Vi?! apakah aku terlalu kasar?'' tanya Aji dengan panik. Ia ikut merabaa perut Vivi, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.
''Aku nggak tau, ini kayak keram gitu rasanya!'' ucap Vivi. Ia memperbaiki posisi tubuhnya agar menjadi nyaman.
"Coba kamu tarik nafas," perintah Aji sambil mencontohkan tarikan nafas yang dimaksud.
"Hufft..."Vivi membuang nafas, menarik dan membuangnya lagi.
Hal yang samapun dilakukan oleh Vivi. Ia juga mengusap perutnya sambil mengatur nafasnya. Hingga beberapa menit, akhirnya perutnya kembali nyaman.
Vivi pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Makasih, sayang." Ucap Vivi dengan tatapan lemah.
Kemungkinan, bayi di dalam perutnya terganggu karena si bapaknya jengukin dia dengan bringas. Kalau kata bu bidan, kalau sudah mendekati waktu untuk lahiran, harus sering-sering melakukan ritual suami istri agar nanti bisa melahirkan dengan cara normal tanpa harus operasi.
Setelah perut Vivi kembali normal, maksudnya sudah enakan. Mereka melanjutkan kembali ritual panas hingga puas. Keduanya terkapar di tempat tidur hingga larut malam.
Maaf kalau penyusunan kalimatnya kurang rapi ya.
***
Tepat pukul sepuluh malam, Aji mengerjapkan kedua matanya. Tubuhnya terasa berat seperti ada yang menindihnya. Ia pun menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah tubuhnya. Ternyata, Vivi tidur dengan berbantalkan perutnya. Ia sendukul seperti membentuk huruf T pada tumpuan tubuh Aji.
__ADS_1
Aji membelai rambut Vivi dengan lembut. Ia pun bertanya pada hatinya sendiri. Selama ini, apa yang sebenarnya di rasakan pada Vivi. Rasa cinta, atau rasa tanggung jawab karena kesalahan. Ia memutar memori kepalanya dari awal hingga akhir untuk mencari jawabannya.
Saat ia sedang merenungkan masalalunya, terlintaslah kenangan saat ia pulang dari meeting di kafe Moon saat itu. Dimana dirinya tengah kehausan, dan meminta Vivi untuk berhenti disebuah warung pinggir jalan. Namun, Vivi langsung memberikannya minuman yang ada di dalam mobilnya.
Sejak ia menenggak air di botol tersebut, ada perasaan aneh yang menyerang tubuhnya. Aji mulai mengkaji rasa aneh tersebut. Seperti reaksi seseorang yang mengkonsumsi obat perangsang. Pasalnya, ia merasakan gerah di tubuhnya dan juga gejolak libido yang menggebu.
Setelah Aji menyadari hal itu, ia menghentikan aksi mengelus rambut Vivi. Kenangan tersebut berputar dengan begitu jelas di ingatannya. Saat ia digiring oleh Vivi untuk mandi di dalam kamar pribadinya. Tetapi, bukan malah mandi yang ia lakukan. Melainkan melakukan hubungan yang tidak seharusnya dilakukan.
Aji langsung mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Vivi yang tengah tertidur lelap. Ia sangat kecewa pada wanita yang kini menjadi istrinya. Dirinya telah dijebak sedemikian rupa, dan bodohnya malah menikahinya.
Aji mengingat dengan keras kejadian saat ia melakukan hubungan tersebut. Ia tidak merasakan ada sesuatu yang koyak seperti ia melakukan hubungan dengan Mika waktu pertama kali.
''Arrgghh!"
Aji meremas rambutnya dengan kasar untuk meluapkan kekesalan dan kebodohan yang sudah ia lakukan. Beberapa saat kemudian, Aji meredakan emosinya. Ia akan membicarakan dengan pelan-pelan nantinya pada Vivi atas jebakan yang sudah dilakukan padanya.
"Emmhh," lenguh Vivi. Ia menggeliatkan tubuhnya lalu membuka kedua matanya. Netranya bertemu dengan netra suaminya yang sedang menatapnya.
"Sudah bangun?" tanya Aji dengan lembut. Ia harus menyimpan terlebih dahulu rasa penasarannya.
"Laper, haus juga," ucap Vivi dengan suara serak dan manja.
Aji meraih cangkir teh yang isinya sudah dingin di nakas, lalu ia berikan pada Vivi. Setelah isinya habis diteguk, Aji kembali meletakkan cangkirnya pada tempat semula.
"Kita cari makan, sekarang bersihkan dulu tubuhmu." Titah Aji.
__ADS_1