
''Coba katakan, kamu panggil saya dengan sebutan apa...'' pak Anwar sudah penasaran ingin mendengar panggilan baru dari seorang Mika.
''Emmm ... saya panggil ...'' Mika berfikir sejenak dan menghentikan langkahnya.
''Em.. o'om boleh??'' jawab Mika dengan nada bercanda.
''Hahah, kamu ada-ada saja'' Anwar terkekeh mendengar jawaban dari Mika.
''Panggil mas aja ya, dan jangan formal lagi, pake kamu aku aja'' pinta Anwar.
''Loh! kenapa pak? eh, maksudnya, mm mas!'' sahut Mika setengah ragu saat membuat panggilan baru untuk mantan bosnya.
''Enggak ada apa-apa, biar lebih santai aja, aku-kamu, siapa tau nanti menjadi KITA'' canda Anwar. Namun, dalam lubuk hatinya yang paling dalam mengucapkan amin.
''Bisa aja,''
''Oh ya, bagaimana kabar suami mu, Mi?'' tanya Anwar dengan tiba-tiba.
''Eh, itu...'' Mika langsung menunduk. Ia sedang tidak ingin membahas soak mantan suaminya. Anwar yang melihat perubahan pada ekspresi Mika langsung meminta maaf.
''Maaf, apa aku salah bicara?'' ucap Anwar. Ia merasa bersalah dengan pertanyaannya tadi. Anwar yang belum mendengar kabar bahwa Mika telah berpisah dari Aji spontan saja menanyakan hal itu. Karena ia baru pulang dari luar negeri dan belum menanyakan apapun pada orang suruhannya.
''Saya permisi dulu ya, selamat malam" pamit Mika dan meninggalkan Anwar yang masih penasaran.
''Mika, tunggu!'' Anwar mengejar langkah Mika, ''Mi, maaf ya...'' ucap Anwar mensejajari langkah Mika. Mika hanya membalas dengan senyum yang terpaksa lalu segera masuk ke dalam mobilnya.
Anwar akhirnya menjauh dari Mika dan menuju di mana mobilnya terparkir, lalu menghubungi seseorang yang ia beri kepercayaan untuk mencari informasi tentang apa saja yang terjadi selama ia pergi kemarin.
Mika duduk di balik kemudinya dan belum juga menyalakan mesinnya. Ia masih heran dengan dirinya sendiri. Padahal tadi ia sudah sangat senang bisa melupakan masalalunya. Tetapi, entah mengapa malah teringat kembali saat Anwar menanyakannya. "Come on Mika, Move On!!" ia memberi peringatan pada dirinya sendiri. Setelahnya, ia meninggalkan area danau untuk pulang ke rumahnya.
Anwar yang baru saja mendapatkan informasi terbaru soal Mika menjadi senang. Ia tidak menyangka kalau adik sepupunya itu benar-benar nekad merebut Aji dari tangan Mika. Tetapi, ia menjadi kasihan saat mengetahui bahwa Vivi sudah tidak lagi memiliki apa-apa. Bahkan terkena gangguan jiwa. Ia berniat untuk membantu sepupunya itu agar bisa normal kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
Biarlah ia berkorban harta, asal jalannya untuk mendekati Mika sudah tidak ada lagi penghalang. Ia akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa mengisi kekosongan hati seorang Mika Biola yang sudah menyandang status single.
"Aku akan terus berusaha dengan baik agar bisa memilikimu Mika, terima kasih Tuhan. Kau telah memberikan jalan untukku" ucap Anwar dengan semangat. Senyumnya mengembang sempurna dan ia memutuskan untuk pulang.
Dalam perjalanan menuju rumahnya, Anwar terus bersenandung lirih. Sesekali ia menggoyang-goyangkan kepalanya mengikuti irama musik. Hingga ia sampai di rumahnya dan adiknya yang paling cantik keluar rumah menyambut kepulangan sang kakak.
"Hey, kak. Kau lama sekali pulangnya!" sapa Anggi dengan suara manjanya.
"Loh, kau kapan sampai Nggi. Kok enggak ngabarin kakak?" Anwar terkejut melihat Anggi mengejarnya. Mereka berpelukan sekilas dan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Sudah siang tadi, kau kenapa enggak pulang-pulang. Aku kan merindukanmu kak" ujar Anggi.
"Huhh, mulai dah manjanya kumat" ucap Anwar lalu memencet hidung sang adik.
''Kakak habis dari mana, mencari kakak ipar untukku ya?'' goda Anggi.
''Jangan banyak tanya, bagaimana kuliahmu apa sudah selesai. Terakhir kau pulang beberapa bulan lalu aku lupa menanyakannya'' jawab Anwar sambil duduk di ruang tv.
''Hmm, lain kali saja kau main kesananya, ya. Kakak sedang sibuk'' tolak Anwar. Ia tidak ingin adiknya itu nanti malah shock melihat keadaan sepupunya yang sedang tidak baik-baik saja.
''Ya, baiklah. Aku akan menurut apa katamu kak'' jawab Anggi dengan pasrah.
''Good, kau memang adikku yang paling cantik dan paling baik, selalu menurut apa kataku'' lagi-lagi Anwar memencet hidung adiknya.
''Uuhh, lama-lama hidungku ini bisa lepas dari tempatnya kalau kakak tarik terus!'' gerutu Anggi.
''Kakak hanya memencet, tidak menariknya!''
''Sama aja kakak, uuhh!!'' Anggi melemparkan bantal kursi ke arah kakaknya, lalu ia pergi menuju ke kamarnya. Selalu saja begitu jika sudah dekat dengan sang kakak. Tidak pernah kalem, dan selalu bercanda yang berujung bikin sebel.
**
__ADS_1
Malam telah berganti siang.
Siang hari, di kafe moon.
Anwar dan Mika kembali bertemu. Mereka berpas-pasan saat akan masuk ke dalam kafe untuk makan siang.
''Loh, kamu makan disi juga, Mi?'' tanya Anwar sambil terus melangkah masuk ke dalam dengan posisi ia mengekori langkah Mika.
''Iya, kebetulan saya ada jadwal bertemu dengan klien di sini'' jawab Mika setelah ia sampai di meja kosong yang sudah di pesan.
''Oh, begitu ya. Maaf, apa kamu hanya sendirian?'' Anwar duduk di bangku sebelah Mika.
''Sama asisten saya pak, sebentar lagi ia menyusul kemari''
''Aku temani kamu sampai asisten kamu tiba ya, Mi, boleh kan?'' pinta Anwar.
''Baiklah, tidak masalah'' Mika melirik jam di pergelangan tangannya '' masih ada waktu satu jam lagi menjelang kliennya datang. Bapak silahkan pesan makanan, kita makan bareng saja'' tawar Mika.
''Benarkah? tapi, aku kan sudah bilang. Jangan formal begitu Mika. Santai aja, kita kan sudah sepakat semalam'' Anwar mengingatkan kembali untuk Mika agar tidak seperti atasan dan bawahan.
''Oh... iya maaf, mas. Aku lupa'' Mika terkekeh pelan. Terlihat di wajah Mika senyum ceria, tidak seperti semalam. Dan hal itu, membuat Anwar menjadi tenang.
''Oh ya, bagaimana reztoran Sederhana yang waktu itu, mas?'' Mika dan Anwar baru selesai memesan makanan.
''Oh, itu baru akan aku resmikan pembukaan besok lusa'' Anwar masih berharap agar Mika mau mengelolanya. ''Apakah kamu mau hadir nanti saat acara peresmiannya?'' tanya Anwar dengan penuh harap.
''Of course!'' jawab Mika dengan mantap.
''Thankyou verry much, Mika'' Anwar melebarkan senyumnya. Ternyata Mika mau menghadiri acaranya nanti. Itu menjadi kesan tersendiri untuknya. Bisa makan berdua begini saja, sudah membuat taman di hati Anwar bermekaran. Jika terlihat, banyak sekali kupu-kupu berterbangan menghinggapi hatinya saat ini.
Maaf kalau otor lebay mendeskripsikan isi hati Anwar ya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, menu pesanan mereka pun datang. Setelah waithers tersebut selesai menghidangkan menu, mereka segera makan dengan khidmat hingga selesai.