
Bab 121
Seolah tersihir akan pesonanya, Vivi tak mengedipkan mata. Pemandangan yang sudah lama sekali tidak dia lihat, kini tengah memanjakan kedua bola mata indahnya.
Sampao Aji selesai memakai piyama yang di pinjamkan oleh Vivi. Wanita itu masih saja melamun.
Aji menepuk pundak Vivi dari belakang dan berbicara dengan nada sensua l.
''Apa kamu merindukan roti sobek milikku?'' bisik Aji membuat bu lu roma Vivi merem ang.
Wanita itu langsung berbalik dan beradu pandang. Tatapan keduanya saling mengunci. Aji menatap ke arah dua gunung milik Vivi yang sejak dulu pernah menjadi favoritnya.
Dengan daster lengan pendek dan ngepas di tubuh menampilkan lekukan yang indah bagai gitar spanyol.
Vivi mengalungkan kedua lengannya ke leherr Aji. Tatapannya penuh permohonan. Cuaca hujan yang begitu derasnya di sertai angin yang masih berlomba-lomba meniup pepohonan di bumi semakin membuat dingin itu merasuk ke tulang rusuk.
Tangan kekar Aji yang terasa dingin merangkum kedua wajah Vivi yang hangat. Kedua insan itu kini saling menyatukan dua buah benda kenyal nan hangat sebagai pelepas rindu. Saling memberi kehangatan satu sama lain.
''Aku sangat merindukanmu,'' desis Vivi setelah mereka melepas tautan bibi r nya.
''Kita tidak boleh seperti ini, sama-sama sudah dewasa harusnya bisa memilah dan memilih.'' Aji mengusap sisa saliva yang menempel di sudut bibi r Vivi dengan jari jempolnya begitu lembut membuat mata Vivi terpejam.
''Ya, maafkan aku. Aku yang tidak bisa menghapus rasa ini dalam hatiku. Aku yang tak bisa menghapus has rat ini.'' Vivi menyentu da danya.
''Apakah suatu saat nanti kita boleh bersatu lagi?'' Vivi memeluk tubuh Aji dengan erat. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Hingga dentuman jantung keduanya saling beradu karena penyatuan dua bidang yang berbeda itu.
Rasa hangat menjalar ke aliran darah keduanya. Sebagai pria normal, Aji bisa merasakan ketegangan di sana.
Tapi dia berusaha menepis semua itu karena dia sudah mencoba untuk memperbaiki diri. Dia pun teringat akan tekadnya dan melepaskan pelukan sang wanita.
''Tidurlah, nanti jika hujan sudah reda aku akan pulang,'' ujar Ajo membimbing wanita itu ke tempat tidur.
__ADS_1
Aji memilih berbaring di sofa dengan memeluk tubuhnya sendiri. Matanya mulai tertutup seiring detik jarum jam yang berputar mengganti waktu ke waktu berikutnya.
Vivi beranjak dan mengambil selimut. Menutup tubuh pria yang dia cintai hingga tak bisa berpaling dari hati lainnya itu. Lalu dia memberanikan diri untuk menge cu p kembali bibi r yang selalu meng go da nya.
Dia mulai menempelkan sedikit lama dan me lu mat nya pelan. Namun, tak di sangka, tangan kokoh itu menarik tengkuknya. Dan memperdalam penyatuan bibi r mereka.
Mata Aji masih tertutup rapat namun gerakannya begitu mendambakan. Vivi tak ingin menyia nyiakan kesempatan yang datang. Meski itu hanya mimpi atau beneran nyata dia tidak perduli.
Suara nakal pun lolos dari bibir indahnya. Tangan kokoh itu menelusup masuk ke dalam daster yang Vivi kenakan dan mencari tombol warna cokat lalu di permainkan. Membuat sang empu menggeliat dan mengeluarkan suara-suara indah.
''Aku tidak bisa menahannya,'' lirih Aji menatap sayu pada Vivi. Wanita itu tersenyum dan menuntun lengan Aji untuk mengeksplor dirinya.
''Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, karena aku juga menginginkanmu,'' desis Vivi. mereka kembali bersatu dalam kesatuan dunia persilatan malam.
Tanpa tahu sejak kapan pakaian merek Sudah berserak ke sembarang arah dan tubuh mereka telah menyatu. Meski hanya di lantai beralaskan karpet. Mereka memadu asmara yang lama di pendam.
''Kamu sangat sempit sayang,'' racau Aji di sela sela aktifitasnya membuat Vivi tersenyum bahagia. Tak sia-sia dia menjaga asetnya itu. Akhirnya pria yang dia inginkan tetaplah sama dan dialah satu-satunya yang bisa memiliki tbuhnya secara utuh.
Gunung krmbarnya di mainkan secara bergantian dan di sapu dengan lidah Aji membuat tubuhnya semakin menegang dan mendapat pelepasan pertama.
Suara indah itu kembali lolos membuat Aji semakin bersemangat untuk menelusuri lagi setiap inci tubuh Vivi tanpa terlewat satu jengkal pun.
Hingga dua insan itu mendapat pelepasan secara bersama dan berakhir saling berpelukan lalu terkulai di lantai saling menatap langit ruangan.
Napas keduanya masih membuurru dan tersengal karena olah raga malam mereka di dunia perlisatan.
''Maaf, Ji. Aku tidak bisa mengontrol diriku, salahkan saja aku,'' gumam Vivi. Namun, Aji mengeratkan pinggang wanita itu dwngan lengan kokohnya.
''Maafkan aku juga, aku yang sudah ingkar pada diriku sendiri.''
Mereka tidur dalam dekapan yang saling menghangatkan satu sama lain. Cuaca benar-benar membuat mereia bablas seperti angin.
__ADS_1
Hingga pagi menjelang, ada salah satu ibu-ibu yang ingin melihat barang dagangan Vivi secara langsung. Padahal wanita itu belum pernah order sama sekali.
''Vivi keluarlah, ada yang mengetuk pintu mu di luar,'' bisik Aji.
Viv yang merasa sangat nyaman dalam dekapan Aji enggan untuk membuka mata. Dia mengeratkan lengannya di leher Aji.
''Ayo, bangunlah. Nanti kita di grebek warga bagaimana,'' ujar Aji yang langsung membuat Vivi melek sempurna.
Dia segera memungut pakaiannya dan memasang kembali di tubuhnya. Aji menatap takjub akan kemolekn tubuh wanitanya. Dia kembali mengingkan benda itu karena sudah lama tidak bertani dan bercocok tanam.
Tak lama setelah itu Vivi sudah kembali ke kamar dengan wajah panik, dia bingung harus melakukan apa.
''Kamu kenapa?'' tanya Aji ikut ikutan panik. Pria itu meraih kaca mata dan kumis palsu yang ada di meja rias milik Vivi. Entah sejak kapan benda itu ada di sana.
''Di depan ada banyak orang. Kamu dengar nggak mereka mulai gedor gedor pintu, biar aku jaga Viona. Kamu bantu aku,''
Aji akhirnya keluar dengan gaya culunnya.
''Nah, ini dia orangnya keluar juga!'' teriak salah satu warga.
''Ada apa ini pak,'' ucap Aji gugup.
''Kalian sudah melakukan hal tidak senonoh di kampung kami ini, jangan mengelak kami punya saksi!'' kecam salah satunya lagi.
''Setet mereka ke rumah pak rt pak, kita harus adili perbuatan mereka.'' pekik satunya lagi.
''Ya, bawa langsung pak!''
Suara suara keributan itu terus berlangsung dan Aji kualahan untuk menjelaskan pokok permasalahannya.
''Jangan banyak cingcong! Jelaskan saja di rumah pak Rt nanti!'' tolak salah satu warga lain dan langsung menggelendeng tangan Aji keluar rumah. Tak lupa pula Vivi ikutdl di seret tanpa memperdulikan tangisan anak kecil yang ada dalam gendongan Vivi.
__ADS_1
''Adili mereka bapak-bapak, ibuk-ibuk!'' seru warga kompak.