
Mika menutup pintu kamarnya dengan kasar dan langsung menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur. Ia masih sangat kesal dengan suaminya. Tapi, mau di apakan lagi kalau semua sudah terjadi. Ia tidak mungkin menolak apa yang sudah tuhan berikan padanya jika yang di khawatirkan terjadi.
''Arrrggghh! kesel gue sama lu Ajiiii!'' umpat Mika yang wajahnya ia benamkan di bantal dan membuat suaranya mendep di bantal. Sudah di pastikan tidak bisa di dengar oleh suaminya.
Tak lama setelahnya, Aji menyusul ke dalam kamar. Ia mengganti pakaian tidur lalu mendekat ke arah Mika.
''Mi, nanti sesak nafas kalo kamu tidur tengkurep begitu'' ucap Aji dengan lembut. Mika tak mengindahkan suara suaminya. Ia tetap pada posisinya. Aji menjulurkan tangannya mengusap rambut Mika. Namun, Mika langsung menepisnya.
''Jangan pegang-pegang!!'' sergah Mika.
''Iya, tapi tidurnya di ubah dulu posisinya. Masak melintang gini, aku gimana mau rebahan, Mi'' tutur Aji dengan lembut.
''Tidur aja di tempat lain!'' Mika menelentangkan tubuhnya, dan masih tetap melintang di tengah-tengah kasur. Bibirnya cemberut menyerupai mulut Entok serta kakinya ia pentangkan lebar-lebar, begitu juga dengan kedua tangannya.
__ADS_1
''Jadi, kamu ngelarang aku tidur disini?'' Aji masih bersabar dengan lontaran Mika yang ketus.
Mika memejamkan mata dan tak berniat menjawab pertanyaan sang suami. Sementara Aji masih setia duduk di sudut ranjang. Ia tak lagi melanjutkan pertanyaan berikutnya, dan memilih meringkuk di ujung kasur yang asih tersisa ruang.
Keduanya telah lelah berdebat dan akhirnya terbuai dengan rasa kantuk yang mendera. Mika yang tak mau mengalah, masih mempertahankan posisi di tengah dan Aji berada di ujung kasur yang pas dengan lebar tubuhnya. Jika ia mengubah posisi, sudah di pastikan ia akan jatuh mencium lantai.
Keduanya terlelap dan suasana kemar menjadi hening. Sementara ponsel Aji yang ia letakkan di meja nakas berkedip-kedip pertanda ada pesan yang masuk. Beberapa saat kemudian, ponsel Aji kembali berkedip dan lama. Seperti ada panggilan yang masuk. Suara getaran ponsel membuat Aji terusik dari tidurnya yang baru beberapa menit. Mimpinya saja belum sempat datang.
Aji menghembuskan nafas lelahnya dan menyimpan kembali ponselnya setelah membalas dengan singkat pesan si pengirim.
Perlahan, Aji meraih tubuh Mika dan ia angkat agar posisi tidurnya selaras dengan kepala ranjang. Setelahnya, barulah ia bisa tidur dengan nyaman.
---
__ADS_1
Mika terbangun dari tidurnya, dan ia merasakan sesuatu yang berat menimpa di atas perutnya. Mika menyingkirkan lutut Aji yang menjadikan perutnya sebagai guling. Setelah itu, Mika mencari alat yang ia beli semalam di ruang depan.
Setelah Mika menemukan alat tesnya, ia langsung ke kamar mandi dan menampung urinnya ke dalam wadah. Mika mulai membuka perlahan kemasannya dan perlahan ia mencelupkan benda tersebut dan menunggu hasilnya. Ia mondar mandir didalam kamar mandi dan ada perasaan berdebar di jantungnya.
Setelah beberapa saat menunggu, Mika mendekat ke meja washtafell dan meraih tes packnya. Dengan perlahan Mika mengangkat benda kecil itu dari dalam wadah. Ia belum siap untuk melihat hasilnya. Ia memejamkan matanya sejenak dan membuang nafas. Baru setelahnya ia membalik posisinya dan terlihatlah disana garis yang berwarna merah.
-
-
-
Bikin hamil atau nggak nih si Mika nya man teman.... kasih saran dong.
__ADS_1