
Bagas langsung mendudukkan bokongnya dengan kasar saat sampai di dalam ruang kerjanya. Ia tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya sendiri. Ia melihat Aji sedang melakukan sebuah perselingkuhan menurutnya. Dan berani bermesraan di dalam ruangan kantor.
"Apa gue kasih tahu Mika soal ini ya?" gumam Bagas sambil menimang-nimang ponsel yang sedang ia pegang.
"Tapi, lebih baik gue cari tahu dulu kebenarannya. Kalau memang benar-benar itu terjadi. Gue nggak akan maafin lu, Ji!" ucap Bagas dengan geram.
Setelah itu, Bagas kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena memikirkan tentang kejadian yang baru saja ia lihat.
Saat sudah berselancar dengan komputernya, tiba-tiba cacing di dalam perut Bagas berdemo meminta haknya agar segera di berikan.
"Kruuucuuk, kruucuukk"
Bagas meraba perutnya yang berbunyi. "Astaga, gue sampe lupa ngisi perut gue." Lagi-pagi Bagas menggerutu. Bagas merapikan mejanya dan pergi meninggalkan ruang kerja menuju kantin kantor.
Lagi-lagi jalan yang ia lalui adalah jalan menuju ruangan bosnya dimana terdapat dua pasang orang yang sedang malas untuk ia temui. Namun, saat ia melintasi ruangan itu, ia tak melihat mereka.
Rasa penasaran datang menghampiri benaknya, dan Bagas memutuskan untuk mengintip isi dari ruangan tersebut. Tak di sangka dan tak di nyana. Matanya terbelalak saat melihat Aji sedang mengusap perut Vivi dengan begitu lembut.
Bagas langsung meninggalkan ruangan tersebut dan segera ke kantin. Ia ingin segera makan orang rasanya melihat pengkhianatan sahabatnya sendiri. 'Kasihan lu Mi, di permainkan oleh suami lu sendiri' ucap Bagas dalam hatinya.
Sementara di dalam ruang kerja Vivi.
"Ji, makasih ya. Kamu sudah mau nemenin aku makan siang. Tapi, malah perutku tiba-tiba mules. Mungkin, enggak cocok sama sambal yang aku buat." Ucap Vivi sambil membereskan bekas makannya.
"Ya sudah, aku balik lagi ke ruanganku. Sebaiknya kamu istirahat dulu" ucap Aji seraya bangkit dari duduknya. Lalu ia melangkah keluar ruangan. Dengan gerakan cepat, Vivi memeluk tubuh Aji. Hanya sepersekian detik. Setelahnya ia lepaskan. Aji hanya melotot di belakang punggung Vivi. Ia tidak merespon gerakan dari Vivi. Setelahnya, Aji langsung berlalu begitu saja.
Vivi merasa senang, karena keinginannya bisa terwujud. Ia akan terus berusaha agar bisa mendapat perhatian penuh dari Aji. Apapun caranya, dia akan melakukannya. Asalkan hatinya bisa senang dan bahagia, walaupun secara tidak langsung. Ia menyakiti hati wanita lain.
"Aku akan terus berusaha agar kamu bisa menjadi milikku seutuhnya, Aji Pamestu!" ucap Vivi dengan yakin, dan kini ia sudah duduk di kursi kebesarannya. Vivi menggoyangkan ke kanan dan ke kiri kursi tersebut dengan santai, tubuhnya ia sandarkan sambil merilekskan diri. Ia akan kembali membuat rencana.
**
Di ruang kerja Aji. Aji sedang menghubungi istrinya.
__ADS_1
"Halo, Mi. Apa kamu sudah lebih baik dari yang pagi tadi?" tanya Aji sambil menepelkan ponselnya di telinganya. Ia begitu khawatir dengan keadaan istrinya di rumah.
"Aku sudah baik-baik aja kok Pa, kamu sudah makan siang?" tanya Mika dengan penuh perhatian.
"Oh, aku sudah makan. Kamu mau makan apa Mi, biar aku pesankan dari sini"
"Aku udah makan kok, kamu nggak perlu repot. Kalo aku mau, aku bisa pesan dari rumah" ucap Mika.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kamu istirahat saja. Aku akan kembali bekerja, love you" ucap Aji.
Mika di seberang telponnya mengerutkan kening. Tak biasanya Aji berlaku romantis di telepon. Tetapi ia tak ingin ambil pusing dan membalas ucapan sang suami "love you too"
Aji menutup telponnya dan menyimpan ponselnya. Ia kembali berkutat dengan beberapa dokumen yang belum terselesaikan.
Bunyi pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang dari luar ruangan, dan Aji langsung mempersilahkan masuk.
Tokk
Tokk
Bagas masuk dengan membawa laporan untuk Aji koreksi. "Duduk Gas, gue kira lu lupa nganter laporannya" ucap Aji sambil menerima laporan tersebut. Bagas ingin langsung menanyakan sebuah kebenaran dari penglihatannya tadi.
"Ji, gue mau nanya serius sama lu!" ucap Bagas dengan raut serius menatap Aji.
"Soal apa? Kok tumben, muka lu begitu bentuknya. Nggak biasanya" ucap Aji.
"Ada apa lu sama Vivi?" tanya Bagas.
Aji malah balik bertanya, karena bingung.
"Memangnya kenapa? Aku tidak ada apa-apa sama Vivi" jawab Aji dengan santai.
Bagas hanya mendesis pelan dan rasa tidak percaya. Namun, ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau tidak mau cerita. Gue permisi" pamitnya dan langsung berlalu dari ruangan Aji.
Aji hanya menatap kepergian Bagas dengan tatapan bingung. Tetapi, ia tak ingin ambil pusing. Karena masalah hidupnya kini sedang membuatnya pusing.
Aji kembali menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Ia ingin segera pulang untuk menemui istrinya. Ia akan membawa Mika untuk berobat. Agar fikirannya tenang.
Sorenya, Aji langsung tancap gas menuju arah rumahnya. Tak lupa saat melewati toko buah, Aji berhenti sejenak untuk membeli beberapa buah. Aji memilih buah apel, pir, dan anggur. Setelahnya ia membayar semua belanjaannya dan kembali melajukan kendaraannya ke arah rumah. Pas tiba di gang dekat rumah. Aji melihat ada pedagang es dawet, ia kembali berhenti dan membeli es dawet tersebut.
Sesampainya di rumah, Aji mendapati ada sebuah motor yang ia kenal. Dan langsung saja ia masuk ke dalam ke rumah.
"Sayang...." panggil Aji dari depan pintu.
"Loh, kamu udah pulang Pa?" sahut Mika tanpa beranjak dari duduk manianya. Aji berjalan menghampiri Mika dan Meisya yang sedang mengobrol, lalu menyerahkan bungkusan yang tadi ia beli.
"Ini di sajiin Mi, biar kita bisa nikmati sama-sama" ucap Aji.
"Sebentar ya, Mei. Aku kebelakang dulu" pamit Mika pada Meisya.
Setelah sampai di dapur, Mika menyajikan buah dan es dawet yang di beli oleh Aji. Dalam benaknya masih terheran dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Karena tidak seperti biasanya. Pulang hanya melenggang, tapi kali ini. ia membawa buah tangan.
"Ini, di minum dulu" ucap Mika sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja.
Mika duduk di sisi Aji, dan langsung saja. Hidungnya mencium bau sesuatu dari tubuh Aji. Mika sedikit mengendus-endus ke sekitar tubuh Aji.
"Bau parfum siapa? Kenapa lekat di baju mu Pa??" tanya Mika dengan spontan.
Aji terkejut mendapat pertanyaan dari Mika, Meisya pun jadi ikut kaget karena ucapan Mika.
Langsung saja, Aji membaui tubuhnya sendiri. Ia hanya mencium bau parfum Vivi. Namun terasa samar-samar, tetapi beda dengan penciuman Mika. Ia merasa bau parfum itu begitu sangat jelas.
"Jawab Pa! Parfum yang kamu pakai, bukan aroma itu?"
Aji terdiam sejenak untuk merangkai sebuah jawaban yang akan ia sampaikan kepada istrinya. Lalu, ia langsung terpikirkan sebuah ide.
__ADS_1
Ting!