
Tatap mataku, jika rasa cinta padanya sudah tidak ada lagi di hatimu, Mi!'' pinta Anwar. Tatapan matanya meneliti setiap lirikan bola mata Mika yang bergerak ke sana kemari karena ia gugup.
''A-aku, ... ''
Mika tengah bingung, hatinya mengatakan bahwa ia sudah tidak memiliki perasaan apapun pada sang mantan. Tapi, bibirnya terasa terkunci untuk mengatakan tidak pada kenyataan.
''Aku sudah tahu, jawabannya. Jika kamu ingin kembali padanya, menikahlah denganku. Setelah itu, kamu bisa hidup bersama kembali dengannya!'' Tutur Anwar. Ia memberi kesimpulan sendiri atas sikap yang Mika tunjukkan padanya saat ini.
''Mas! aku nggak punya perasaan apa-apa lagi sama Aji. Kenapa, Mas, membuat kesimpulan sendiri, lalu apa maksudnya kamu bilang begitu, hah?'' berang Mika. Ia menatap nanar ke arah Anwar yang berkata sembarangan menurutnya.
''Kamu pikir menikah itu hanya untuk main-main?!'' lanjut Mika.
''Aku hanya ingin kamu bahagia, itu saja.'' Lirih Anwar. Sejenak, Anwar merasa bersalah karena sudah menuduh Mika masalah perasaannya.
''Bukan seperti itu caranya, aku masih butuh waktu buat berfikir.'' Terang Mika.
''Baiklah, maafkan atas sikapku.'' Ucap Anwar.
''Hmm,'' Mika menganggukkan kepala, setelah itu ia turun dari mobilnya di ikuti oleh Anwar.
''Bagaimana kamu pulangnya, Mas?''
''Gampang! sekarang masuklah, salam buat ayah dan ibu, ya.'' Ujar Anwar.
''Makasih,'' ucap Mika.
Anwar berjalan keluar dan memanggil tukang ojek yang kebetulan sedang mangkal di bawah pohon mangga di seberang jalan.
__ADS_1
**
Lelah pada tubuh dan pikiran membuat Mika ingin berlama-lama dalam bak mandi. Ia menenggelamkan badannya ke dalam air dan menyandarkan kepala di sisi bathup. Aroma terapi yang menyeruak di indra penciuman membuat tubuh dan pikirannya menjadi rileks.
Satu jam waktu yang di butuhkan Mika untuk menjernihkan pikiran. Kini, ia tengah duduk bersantai bersama kedua orang tuanya. Mulai dari mengobrol ringan hingga ke masalah pembahasan tentang lelaki yang cocok untuknya. Mika berusaha menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah perasaan.
Baru juga pengen tenangin pikiran malah udah di kasih pertanyaan yang bikin kepalaku pusing. Pikir Mika dalam benaknya.
''Gimana menurut kamu, sayang?'' tanya bu Dina. Ia sangat ingin melihat Mika bahagia bersama Anwar dengan cara menikah. Karena dari pengamatan serta penyelidikan yang di lakukan oleh suaminya membuktikan bahwa lelaki yang mereka inginkan sebagai pendamping sang anak adalah orang yang tulus. Lagi-lagi Mika harus merasakan pening di kepalanya mendengar pertanyaan sang ibu.
''Bu, aku bukannya tidak ingin membuka hati untuk orang lain. Tapi, aku hanya butuh waktu untuk bisa melupakan masa lalu. Ibu benar, mas Anwar lelaki yang baik.'' Terang Mika. Ia memijit pangkal hidungnya sekilas.
''Bukannya selama ini kamu sudah bisa melupakan masa lalumu bersama lelaki itu?'' tanya bu Dina dengan tatapan menyipit. Ia tidak ingin Mika masih mengingat kisah kelamnya bersama Aji.
Deggh
Ia tersadar saat pertanyaan ibunya mengingatkan tentang ucapan yang ia keluarkan barusan. Dalam hati yang paling dalam, Mika sudah berusaha menyimpan rapat-rapat cintanya pada Aji. Ia melakukan apa saja agar bisa lupa. Bahkan, kebersamaannya dengan Anwar pun cukup mengalihkan pikiran. Namun, yang namanya cinta pertama memang sulit untuk di lupakan atau pun di hapus dari ingatan.
Jiwa dan raga boleh berbohong, tetapi dari dasar hati yang paling dalam jika di gali pasti akan terpancar seberkas rasa di masa lalu. Meski luka pernah tertoreh, jika banyaknya kebahagiaan di putar kembali dalam ingatan. Rasa memaafkan kesalahan masa lalu bisa mengembalikan cinta yang tertanam.
Cinta yang di jalani tanpa ada konflik yang melukai hati dan juga kepercayaan yang tertanam dalam hati bisa membuat hidup dalam menjalani sebuah rumah tangga dengan damai. Rasa khawatir dan curiga selalu di kalahkan oleh rasa percaya. Sama halnya dengan yang Mika alami saat ini. Ia sudah berusaha menghapus kisah di masa lalu. Akan tetapi, rasa itu masih membekas di dasar hatinya.
''Mi, kok malah melamun!'' tegur bu Dina. Tangannya mengusap lembut bahu sang putri.
''Enggak, kok. Aku tiba-tiba teringat pekerjaan kantor.'' Kilah Mika.
''Sudahlah, Bu. Biarkan dulu anak kita ini keluar dari belenggu cintanya. Ayah yakin, apa yang akan Mika lakukan itu adalah pilihan yang terbaik,'' tutur pak Rizal.
__ADS_1
''Hah!'' bu Dina melongo mendengar ucapan suaminya. Ia jadi bingung dengan sikap pak Rizal yang tiba-tiba berubah dan membiarkan anaknya begitu saja masih memikirkan masa lalu.
''Kamu sepertinya butuh liburan, sayang. Apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat?'' tawar pak Rizal. Sebagai seorang ayah yang begitu mencintai putrinya. Ia tidak ingin memaksakan kehendak agar sang anak selalu menuruti perkataan orang tua. Meski setiap ucapan orang tua lebih banyak benarnya, ia tidak ingin mengekang karena kedewasaan berfikir itu butuh proses.
''Enggak, Yah. Aku baik-baik aja. Ayah tidak perlu khawatir,'' jawab Mika dengan senyum manis. Senyum yang selalu menyejukkan hati ayah dan ibunya. Ia berusaha menampilkan ketenangan di hadapan mereka agar tak berfikir bahwa ia tidak bisa menyelesaikan urusan perasaan.
**
Malam ini, Aji menjemput putri kecilnya yang sudah boleh di bawa pulang ke rumah, dengan di temani bik Rumi, Aji pergi ke rumah sakit dimana bayinya di rawat. Urusan Vivi masih di urus oleh orang suruhan Anwar. Ia membiarkan Vivi untuk pulih sempurna baru nanti akan di temui.
Aji dan bik Rumi telah sampai di ruang khusus bayi. Perawat yang selalu mengurus dan memantau kondisi anaknya bahwa si kecil berkembang dengan cukup baik. Ia sangat bersyukur dengan itu semua. Meski buah hatinya terlahir karena sebuah insiden, ia menjadi menemukan sebuah bukti kebenaran.
''Bibik yang gendong, ya, saya masih belum berani gendong. Takut kenapa-napa,'' pinta Aji.
''Baik, tuan. Biar bibik yang gendong,'' ujar bik Rumi. Ia meraih bayi yang ada di gendongan perawat dengan hati-hati dan memindahkan ke dekapannya.
Bik Rumi tersenyum melihat bayi yang ia gendong tertidur dengan lelap. Pipi lembutnya ia usap dengan hati-hati. Aji memperhatikan paras sang putri yang sangat mirip dengan Vivi.
''Bayinya cantik banget, Tuan.'' tutur bik Rumi. Mereka tengah berjalan keluar dari rumah sakit.
''Iya,'' Aji tersenyum tipis. Ia membantu bik Rumi membukakan pintu taksi. Setelah itu, ia menyusul masuk ke dalam dan mereka kembali menuju ke rumah. Aji terus menatap ke arah bayi yang di gendong bik Rumi begitu anteng. Sama halnya dengan bik Rumi, ia juga memperhatikan bayi mungil yang ada dalam dekapannya. Terlintas sebuah fikiran mengenai paras sang bayi.
-
-
Maafkan jika lama upnya. Maaf juga jika menemukan kata-kata yang kurang pas. Lope you All.
__ADS_1