Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 91


__ADS_3

Bab 91


Tak bisa menolak


Aji mencoba untuk lepas dari cekalan polisi itu karena ia merasa tidak melakukan apa pun. Namun pak polisi itu tidak ingin mendengar alasan apa pun.


''Anda bisa jelaskan semuanya nanti di kantor,'' ujar sang polisi.


''Tapi, saya ingin bertemu dulu dengan istri saya, Pak. Kalau seperti ini kesannya bapak menculik saya.'' Ucap Aji yang langsung membuat dua polisi itu terdiam sejenak karena mendengar ucapannya. Dua polisi suruhan Anwar itu pun jadi teringat akam tujuan utamanya. Yaitu menemukan wanita yang di bawa oleh Aji.


Salah satu dari mereka pun langsung menelpon Anwar yang memang sudah siap siaga di luar tempat itu.


Saat Aji di masukkan dengan paksa ke dalam mobil, sebuah mobil yang di kendarai oleh Anwar memasuki pekarangan rumah yang nampak suram tersebut.


Aji pun menatap tajam ke arah mobil yang baru saja masuk dan parkir tepat disebelah mobil miliknya. Tangannya mengepal kuat saat sang pengemudi itu keluar dari dalam kendaranan. Nampak Anwar berjalan dengan pongah ke arahnya dan tersenyum sinis.


''Mau apa Anda datang ke sini?'' tanya Aji dengan tatapan tajam.


Anwar mendengus meremehkan dan memasukkan tangannya ke saku celana. Lalu dengan santainya ia menjawab pertanyaan itu hingga membuat Aji hampir limbung.


''Saya ingin menjemput istri saya yang sudah kau curi.'' Anwar menjawab dengan dingin membuat Aji limbung tapi ia cepat menguasai diri. Karena sejak tadi tangannya masih di cekal oleh dua polisi itu di balik punggungnya.


''Siapa yang anda maksud?'' tanya Aji yang berusaha menepis sebuah kenyataan pahit.


Aji berharap, agar Mika di dalam rumah tersebut bisa mengintip dan segera kabur menjauh agar tidak tertangkap oleh Anwar.


''Wanita yang telah kau bawa ke dalam sana. Apakah kau juga telah menikmati kembali perasaan yang pernah kau sia-siakan?'' sindir Anwar.


''Ah, ini membuang waktuku saja. Silahkan bawa dia pak,'' usir Anwar dan melangkah meninggalkan Aji.


''Breng sekkk,'' Aji berusaha melepaskan tangannya dan ingin mengejar pria kepa rat itu yang sudah siap masuk ke dalam rumah. Namun aksinya selalu di tahan oleh dua pria itu dan dengan paksa Aji di masukkan ke dalam mobil.

__ADS_1


Cklekkk,


''Sudah dapat sendalnya—'' tanya Mika yang mendengar suara pintu terbuka. Namun, bibirnya langsung terkunci saat tatapan matanya tertuju pada sosok pria yang dingin dengan langkah lebar menghampirinya.


Mika memundurkan tubuhnya hendak menjauh dari sosok yang sangat menakutkan menurutnya di alam dunia ini. Akan tetapi, seperti lengket dan kena lem, Mika tidak bisa bergerak sedikit pun. Sunggu sial nasibnya karena Anwar terenyum devil dan mendekat ke arahnya, lalu ia pun berlutut di hadapan Mika yang nampak sangat ketakukan.


''Wanita nakal, berani sekali kamu meninggalkan aku,'' ujar Anwar dengan nada penuh tekanan yang membuat Mika merinding. Tangan Anwar mengusap wajah Mika yang pucat pasi.


''Ke–napa ka–mu bisa ada di sin–i,'' ucap Mika terbata-bata. Jantungnya seperti ingin meledak karena saking tegangnya. Tatapan Anwar seolah menghunus keberaniannya untuk bertanya.


''Kenapa aku ada di sini, hmm?'' Anwar menaikkan dagu Mika dan membuat tatapan di antara keduanya saling mengunci.


''Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di sini. Beraninya kamu lari dariku,'' ucap Anwar dan Mika semakin bergidik mendengar pertanyaan itu.


''Aku hanya ingin hidup dengan pilihanku sendiri. Tidak dengan keterpaksaan.'' ucap Mika dengan bibir bergetar. Anwar pun berdiri dan berkacak pinggang. Lalu ia memencet pangkal hidungnya yang terasa pening.


Dengan cara kabur seperti ini, hmm?'' tanya Anwar yang mencondongkan tubuhnya ke arah Mika.


''Tidak mau, mana Aji. Kau apa kan ia?'' Mika pun beranjak keluar rumah. Namun ia tidak mendapati pria itu di sana.


''Kau tidak perlu mencarinya, sayang. Ada aku di sini.'' Anwar mendekati Mika lagi.


Mika memanggil-manggil nama Aji hingga berkali-kali namun tak kunjung muncul. Pria itu entah kemana karena mobilnya masih terparkir cantik.


Mika pun langsung masuk ke dalam mobil itu dan menyalakan mesinnya. Anwar yang menyadari itu langsung berlari mengejar Mika dan menggedor-gedor pintu mobil tersebut. Tak kehabisan akal Anwar pun langsung segera menyusul Mika dengan mobilnya.


Malam ini, Mika mengemudikan mobil itu entah kemana arahnya, ia tidak tahu jalan karena ini adalah tempat baru dan juga gelapnya malam membuat siapa saja yang jarang lewat sana akan bingung. Dengan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, Mika terus mengawasi mobil Anwar yang mengikutinya dari belakang melalui kaca spion.


''Sialan, kenapa sih lu bisa ketemu lagi sama pria breng sekk itu,'' maki Mika pada dirinya sendiri. Sejak tadi ia terus menatap ke belakang tanpa memperhatikan keadaan jalan di depannya.


Dari arah berlawanan ada sebuah mobil tronton pengangkut barang melintas dan Mika hilang kendali. Ia membanting stirnya ke kiri lalu,

__ADS_1


Brakkk


Mobil itu keluar asap begitu menabrak pohon besar, kening Mika keluar darah karena terbentur stir. Ia pun terhuyung-huyung untuk bisa keluar dari dalam mobil tersebut.


''Mika, Mika...'' pekik Anwar yang langsung menangkap tubuh lemah Mika saat wanita itu berhasil keluar dari dalam mobil.


Anwar segera menjauh membawa Mika karena mobil itu semakin banyak mengeluarkan asap.


Duaarr Dgarrrgh


Mobil itu meledak saat Anwar berhasil menjauh dari tempat itu. Suasana jalan tengah malam kini ramai karena insiden kecelakaan itu. Anwar tidak peduli dan langsung membawa Mika untuk mencari rumah sakit.


Darah semakin banyak yang keluar dari kepala Mika dan wanita itu semakin pucat bak mayat. Anwar sangat cemas dan takut jika ia akan kehilangan wanita itu.


Ternyata, daerah tersebut tidak ada rumah sakit besar. Yang ia temukan hanya sebuah klinik kecil. Dengan terpaksa Anwar membawa Mika ke sana.


''Tolong! Tolong!'' suara Anwar sangat tergesa-gesa. Ia tidak lagi peduli karena tubuhnya sudah basah oleh darah.


Penjaga klinik tersebut langsung memberikan brangkar dan membantu Anwar untuk membaringkan Mika di sana.


Pertolongan pertama pun di lakukan, Anwar sudah mondar mandir sejak tadi di ruang tunggu. Karena sudah menurutnya sudah satu jam Mika di tangani tapi belum ada hasil.


Saat mendengar suara pintu di buka, Anwar pun memberondong dokter itu dengan beberapa pertanyaan.


''Bagaimana kondisi istri saya dok?'' cemas Anwar dan tidak sabar.


''Mohon maaf, Pak. Sebaiknya pasien segera di bawa ke rumah sakit besar yang ada di selatan. Jarak tempuhnya setengah jam lagi dari sini.'' tukas sang dokter berjenggot itu pada Anwar.


Kondisi Mika masih belum sadarkan diri dan ia butuh transfusi darah, maka pihak klinik tersebut merujuk untuk segera membawa Mika ke rumah sakit besar yang ada di selatan.


Dokter tersebut menyiapkan alat bantu untuk Mika agar bisa bertahan hingga sampai ke rumah sakit tujuan.

__ADS_1


__ADS_2