Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 81


__ADS_3

Bab 81


Curiga


Anwar mengendarai mobilnya meninggalkan mantion mewahnya yang di jaga ketat dari luar. jalanan yang ia lalui terasa sangat sepi karena kanan dan kirinya adalah hutan.


Setengah jam perjalanan ia tiba di pusat kota yang ramai. Anwar membeli sesuatu di sana. Langkahnya nampak santai dan wajahnya tenang. Ia memasuki toko pakaian wanita yang super lengkap.


Saat Anwar memasuki toko pakaian khusus wanita, ada sepasang mata yang tak sengaja melihatnya. Kebetulan orang itu tidak terlalu kenal, maka ia hanya menatap saja dari kejauhan.


Namun, seseorang itu ternyata tengah di hubungi oleh sang sahabat yang tiba-tiba membuatnya mengernyitkan dahi.


''Tolong apa?'' tanya Bagas dengan heran. Ponselnya ia tempelkan di telinga dan di apit oleh bahu. Bagas baru saja bertemu dengan clien hingga tengah malam. Tanpa sengaja melihat Anwar yang pernah di lihatnya saat bertemu dengan Vivi.


''Bantu cari Mika, Mika di culik.'' Suara Aji terdengar panik.

__ADS_1


''Lu serius? Kapan?'' Bagas sangat terkejut mendengar kabar dari Aji.


''Udah lapor ke polisi?'' tanya Bagas.


''Gue nggak kepikiran, Gas.'' Aji menepuk jidatnya karena tidak kepikiran untuk meminta bantuan pada pihak polisi.


Mereka pun mengakhiri panggilan teleponnya, mata Bagas kembali mengamati toko pakaian yang tadi di masuki oleh Anwar. Lalu Bagas kembali masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumahnya.


Aji yang kini terduduk lesu di atas sofa depan tv menjambak rambut dan mengusap wajah frustasi. Atas saran dari Bagas, ia pun menghubungi kantor polisi dan meminta bantuan. Hal itu akan di proses setelah 2x24 jam.


''Kamu di mana, sayang... Pulanglah, aku khawatir sama kamu...'' lirih Aji. Semua anggota tubuhnya lemas, separuh jiwanya hilang.


Aji merebahkan tubuhnya di sofa tersebut. Kemarin, ia bersama dengan Mika duduk sembari menonton di sofa tersebut. Di ra ba nya dengan pelan kursi tersebut.


Untuk saat ini, Aji hanya bisa berharap atas bantuan orang yang sudah ia hubungi. Semoga saja, ia bisa mendapatkan kabar baik.

__ADS_1


Pagi menyapa penduduk di muka bumi ini dengan sinar mentari yang cerah. Namun, wajah seseorang di pagi ini keluar dengan ekspresi redupnya. Cahaya matahari yang bersinar, tidak memicu kecerahan wajahnya.


Ia akan kembali mengelilingi setiap sudut kota yang belum sempat ia jelajahi untuk mencari keberadaan Mika.


Aji pun teringat akan Meisya sahabat Mika. Dia pun mencoba menghubungi gadis itu untuk meminta bantuan.


Sudah berjam-jam Aji berkeliling mencari keberadaan sang pujaan hati, namun hingga sampai detik ini ia belum juga mendapatkan hasil. Kabar pun ia terima dengan pasrah. Pihak polisi juga belum mendapatkan kabar tentang keberadaan Mika.


Harapan satu-satunya kini ada pada Bagas yang sudah menyewa detektif untuk membantu masalahnya. Aji selalu berdoa pada yang maha kuasa agar bisa segera di pertemukan kembali dengan Mika.


Aji menghentikan mobilnya tepat di pinggir jalanan yang sepi. Siang itu cuaca sangat terik. Aji meraih botol air mineral yang ada si dasboard mobilnya dan meneguknya dengan rakus. Seolah-olah ia tidak minum selama seminggu.


Dari kejahuan, ada sebuah mobil yang melaju menuju arah berlawanan dengannya, Aji seperti mengenal mobil tersebut. Tapi, ia mendadak lupa itu mobil milik siapa. Plat mobil tersebut sepertinya tidak asing lagi di matanya.


Aji mencoba mengingat ingat tentang mobil yang baru saja melewatinya. Aji mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari untuk berusaha keras menemukan siapa pemilik mobil tersebut.

__ADS_1


''Oh, apa tadi itu mobilnya si lelaki yang itu?'' tebak Aji. Ia pun tiba-tiba teringat akan sosok Anwar yang selalu mengejar-ngejar Mika dulu.


''Jangan-jangan, dia tahu tentang keberadaan Mika.'' gumam Aji. Ia pun segera putar arah dan berniat mengejar mobil tadi.


__ADS_2