Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 120


__ADS_3

Bab 120


''Makasih ya, kamu sudah mau menuruti permintaan Viona.'' Vivi mengusap pipi mungil Viona yang sudah sangat nyenyak dalam tidurnya.


Aji tersenyum menanggapi ucapan dari Vivi, '' kamu tidak perlu sungkan seperti itu, Vi.'' ucap Aji menenangkan.


''Ji, bolehkah aku bertanya tentang ini,'' ucap Vivi yang ingin menanyakan soal hubungannya dengan Mika. Dia sudah rela meninggalkan Aji agar bisa kembali dengan cinta pertamanya. Tapi malah kini mereka tak bersatu membuat Vivi ingin menguak kisahnya.


''Tanya saja apa yang mau kamu tanyakan aku akan menjawabnya,'' terang Aji.


''Tapi, maaf sebelumnya kamu jangan marah ya. Aku cuma pengen tahu aja.'' Vivi merasa ragu dan tidak enak.


''Tidak apa,'' ucap Aji santai.


''Kenapa kamu tidak berhasil membawa Mika kabur dari tempatnya?'' sangka Vivi.


''Aku sudah berhasil membawanya, tapi takdir kembali memisahkan kami,'' lirih Aji dengan raut sedih. Dia menunduk kala ingat malam di mana dia kehilangan Mika. Gara-gara sendal jepit, Mika di bawa oleh Anwar. Karena bagaimana pun, status Mika memang pasangan resmi dari pria itu. Aji tidak bisa berbuat banyak.


Dia menjelaskan panjang lebar persoalannya kala itu.


''Maaf ya, aku tidak bisa menyatukan kalian, padahal, cintamh padanya begitu besar.'' ucap Vivi sedih. Dia merasa tidak berhasil karena Aji gagal.


''Sudah, lupakan saja. Aku sudah mencoba untuk melupakan itu semua. Aku ingkn menjalani hidupku tanpa bayang-bayang masa lalu.


''Aki harus pamit pulang, hari sudah malam. Kamu perlu istirahat,'' ucap Aji yang beranjak dari duduknya.


''Ji, aku, ingin kamu makan malam bersamaku. Temani aku ya,'' pinta Vivi mengiba. Dia sangat kesepian selama ini. Butuh teman mengobrol di saat-saat seperti ini. Dia juga rindu masa kebersamaan mereka dulu.


''Karena aku lapar, baiklah. Aku temani kamu,'' putus Aji. Vivi sangat senang dan bersemangat hingga dia menarik tangan Aji keluar dari kamar. Membiarkan Viona tidur bersama mimpi indah bayi itu.


''Ji, jujur aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ini. Meski aku sudah berusaha sekuat hati untuk bisa melupakan cintaku padamu, tapi tidak bisa.'' ucap Vivi menggenggam kedua tangan Aji. Dia tidak perduli apa yang akan Aji pikirkan tentangnya saat ini. Dia ingin jujur tentang perasaan yang sudah di kuburnya dalam-dalam tapi kini terkuak kembali seiring perputaran waktu.


Sejak Aji sering datang mengunjunginya dan pria itu tidak pernah mengungkit masalalu yanh berlebihan itu membuatnya semakin cinta malahan.

__ADS_1


Aji melepas genggaman itu perlahan, lalu memberikan senyum tenang. Tidak memberi jawaban apa pun atas apa yang Vivi sampaikan padanya.


''Aku lapar, kamu masak apa?'' alih Aji.


''Aku masak menu sederhana, karena aku kan tidak pandai memasak. Kamu jangan kecewa sama rasanya ya,'' ucap Vivi.


Sayur kangkung tumis cabe giling di campur terasi, lalu ada tempe goreng tepung dan sambal dendeng. Menu simple tapi tampilannya sangat menarik.


Vivi dengan ligat mengambilkan makanan untuk Aji dan juga menyuguhkan kerupuk sebagai lalapannya.


''Enak, sejak kapan kamu pinter masak,'' puji Aji merasakan enaknya masakan yang di buat Vivi. Dia menyuap dengan lahap ke dalam mulutnya.


''Aku belajar sejak memutuskan untuk mandiri dan hidup tanpa harta berlimpah. Aku mencoba gaya hidup di kampung ini, dan akhirnya aku bisa beradap tasi meski aku jarang berkomunikasi layaknya ibu ibu komplek.'' Vivi menerangkan panjang lebar.


Aji mengangguk paham dan menikmatii makanan dalam piringnya. Mereka makan bersama sambil bercerita hingga hari sudah larut malam.


''Makasih ya, atas makan malamnya. Aku pamit pulang,'' ujar Aji.


''Iya, apa kamu nggak pamit sama Viona dulu?'' sanggah Vivi sebelum Aji benar-benar pergi.


''Kamu hati-hati, ya,'' ucap Vivi seraya mengantar hingga ke teras depan.


''Iya, aku pesan ojek online tapi belum juga dapet-dapet pengemudi, nih.'' Aji menunjukkan layarnya yang masih mencari kemudi.


''Ya udah, duduk dulu, aku akan temani.'' Vivi duuduk di teras diikuti oleh Aji.


Sudah mencari hingga berulang kali tapi tak jua menemukan driver. Entah mengapa malam ini begitu sulit, mungkin karena cuaca sedang mendung dan angin bertiup kencang seperti akan segera turun hujan.


''Haduh, mana ni kang ojek,'' omel Aji. Dia sudah mulai resah. Karena rumah Vivi itu jauh dari rumah tetangga lain. Dia juga merasa tidak enak kalau bertamu hingga larut malam begini.


Zrassszzz


Hujan turun langsung dengan derasnya di iringi kilat menyambar. Di dalam, Viona menangis memanggil ibunya. Aji dan Vivi pun kompak masuk ke dalam untuk melihat ke adaan Viona.

__ADS_1


''Ma ma ma...'' Viona menangis kencang dan langsung memeluk Vivi erat.


''Sepertinya dia takut petir, selama tinggal di sini baru dua kali ada hujan lebat yang di sertai petir seperti ini,'' terang Vivi.


Aji pun membantu menenangkan Viona dari tangisnya,


''Ji, aku mau tutup pintu dulu, anginnya kencang banget soalnya,'' Vivi menyerahkan Viona pada Aji.


Bayi kecil itu langsung diam saat berada dalam dekapan hangat Aji. Pria itu menimang-nimang dengan penuh perhatian.


Entah kenapa bersama Viona dia merasa lebih nyaman dan dekat. Apa selama ini dugaannya itu salah. Lalu, bukti yang pernah dia temukan itu apa. Mengapa semua mengarah pada masalah itu. Tapi, kontak batinnya terasa sekali.


Terbesit dalam fikiran Aji untuk melakukan tes DNA untuk memastikan kebenarannya. Dia butuh kepastian agar bisa lebih leluasa. Dia menyayangi Viona.


''Loh, udah tidur lagi?'' heran Vivi saat Aji kembali menyelimuti bayi kecil itu di tempat tidur.


''Iya,'' ucap Aji. Wajah pria itu sudah nampak lelah. Seharian bekerja dan belum sempat pulang. Niatnya hanya ingin main sebentar malah kebablasan jamnya.


Tubuh Aji terasa begitu lengket sekarang. Dia ingin mandi tapi tak ada pakaian ganti.


''Kamu mau mandi?'' tanya Vivi yang seolah bisa membaca pikiran Aji.


''Aku punya kok baju ganti. Kamu bisa memakainya,'' ucap Vivi.


''Baju pria?'' tanya Aji tak percaya.


''Hmm..'' Vivi mengangguk.


''Jangan berfikir macam-macam. Aku ini jualan, jadi apa saja akan aku jual meski hanya online.'' Vivi tersenyum simpul. Dia pergi ke tempat khusus menyimpan barang lalu mengambil sepasang piayama pria.


''Nih! Mandi aja, biar lebih segar. Aku akan siapkan handuknya,'' Vivi menyerahkan baju tadi ke Aji.


Akhirnya, Aji pun memutuskan untuk mandi di rumah Vivi. Meski hari hujan lebat, dia hanya ingin membersihkan tubuhnya yang seharian ini terkena keringat.

__ADS_1


Ai keluar dengan lilitan handuk dan menampilkan perutnya yang kotak-kotak, sontak mata Vivi tercengang dan memandang takjub.


__ADS_2