Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 85


__ADS_3

Bab 85


Aji Kecewa, Mika terluka


Usai acara pesta, Mika langsung masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Tubuhnya terasa sangat lelah hingga ia kesusahan untuk membuka resleting baju di bagian belakang.


Tepat saat itu, Anwar yang baru saja datang karena ia habis menemani para kerabat hingga akhir. Ia pun masuk ke dalam kamar. Ia merasa sangat gerah dan ingin segera mandi. Namun, tatapannya langsung tertuju pada sosok Mika yang kini telah sah menjadi istrinya sedang kesusahan untuk membuka pakaiannya.


Anwar tersenyum nakal menatap Mika dan langsung menghampirinya. Jemarinya menyentuh tangan Mika dari balik punggungnya membuat wanitq itu tersentak kaget dan menatapnya dengan sinis.


''Aku bisa sendiri.'' Mika sedikit menjauh dari Anwar. Ia masih berusaha untuk meraih pengait resleting itu untuk di turunkan namun ada yang mengganjal hingga sulit di tarik.


Anwar menggeleng melihat usaha Mika yang sia-sia, ia pun kembali mendekat dan kembali membantu Mika dengan menahan tangan Mika.


''Biar Mas bantu, kamu kan sudah lelah seharian. Makanya tak ada tenaga untuk sekedar menurunkan resleting.'' bisik Anwar di belakang telinga Mika membuat sang wanita meremang oleh hembusan napas sang pria.


''Minggir, aku mau mandi.'' usir Mika dan ia langsung meninggalkan pakaian itu di atas kursi. Mika ingin segera membersihkan diri lalu tidur dengan nyenyak.


Ia tidak perduli dengan apa pun saat ini. Anwar yang sudah selesai membuka atributnya mencoba menggoda Mika dengan menyusul ke dalam kamar mandi.


''Ngapain masuk? Aku belum selesai, sana keluar!'' ujar Mika sinis. Ia sedang tidak ingin di ganggu.

__ADS_1


''Malam ini adalah malam pertama kita, dan sekarang kamu harus menurut sama, Mas.'' ucap Anwar dengan dingin yang membuat Mika merasa tertampar dengan status barunya.


Ia pun menjadi teringat pesan ibunya saat di bimbing menuju ke pelaminan, ingat ya sayang. Jadilah istri yang penurut dan memahami suami saling pengertian dan terbuka.


Ucapan bu Rizal terngiang di telinga Mika, rasanya perih sekali memikirkan nasib cintanya. Ia tak pernah berharap untuk hal yang satu ini. Padahal, saat perpisahannya dulu dengan Aji ia berfikir untuk bisa hidup sendiri dan membahagiakan dirinya. Tidak ingin mengulang rasa sakit yang sama dan berkubang kembali dengan perasaan cinta.


Namun, seiring berjalannya waktu ternyata ia tak bisa selalu sendiri. jiwanya terasa sepi dan membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita, berbagi masalah dan juga berbagi kisah.


Mika tengah pasrah dengan apa yang saat ini di lakukan oleh Anwar. Ia membiarkan saja pria itu menguasai tubuhnya. Air mata yang telah menyatu dengan guyuran air shower membuat sang pria mengehentikan aksi nakalnya. Di usapnya dengan lembut wajah yang nampak sembab dan memeluknya dengan erat.


''Berilah aku kesempatan untuk membahagiakanmu tanpa bayang-bayang masalalu. Percayalah, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Cinta itu akan datang dengan sendirinya tanpa paksaan saat hatimu telah kau kosongkan.'' tutur Anwar dan ia mendaratkan kecupan hangat di kening Mika. Jemarinya merangkum wajah cantik yang sedang diliputi rasa gundah.


Mereka langsung menyudahi acara bersih-bersih badan dan segera beristirahat. Tak ada lagi kata-kata untuk sekedar pengantar tidur. Mika langsung menuju ke ranjang dan memberikan pembatas dengan guling yang ia letakkan di tengah. Ia sedang tidak ingin ngapa-ngapain seperti pada umumnya malam pertama.


***


Di sebuah hotel, seorang pria yang tengah frustasi dengan jalan hidupnya sedang duduk dan di temani minuman beralkohol. Aji kembali menenggak minuman pahit itu hingga habis beberapa botol.


Pria itu nampak sangat kecewa dengan keadaan. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak mampu menjadi seorang pria yang bisa membuat hati seseorang yang ia harapkan kembali bersatu dengannya.


Tatapan Aji kosong dan pikirannya kacau, ia melangkah keluar menuju ke kamarnya menginap. Ia menekan tombol lift yang angkanya nampak buram. Ia meraba agar tidak salah pencet angka.

__ADS_1


Saat pintu lift terbuka, dengan langkah yang sempoyongan Aji masuk ke dalam kamar miliknya. Ia melihat kamar bernuansa putih itu kosong dan hampa. Suasana itu persis sekali menggambarkan suasana hatinya saat ini.


Sementara kamar di depannya, Bagas menatap keterpurukan Aji. Ia hanya mengawasi saja dan tidak mencegah pria itu. Ia memberikan sebuah peluang untuk meluapkan rasa kecewa sang sahabat dengan menikmati apa yang ingin ia nikmati dan lakukan.


Setelah di lihat Aji tidak melakukan hal yang aneh, Bagas pun menutup pintu dan beristirahat. Jarang ada teman pria yang seperhatian Bagas. Ia type sahabat yang care dan juga bisa di percaya.


Masalalu yang pernah terukir indah, akan sirna dengan satu kesalahan besar. Di mana kesalahan itu selalu terngiang di hati sang pemilik jiwa. Angan-angan yang tinggi dan sebuah janji manis hanya akan membelenggu sebuah rasa. Kalut dalam situasi membuat perasaan menjadi tak tentu arah hingga ia melarikan diri mencari sebuah zat yang menurutnya bisa membuatnya lupa dan melumpuhkan sistem kerja otak agar tidak terus memikirkan rasa kecewa yang sudah tetanam dalam hati.


Aji tidur mendengkur dengan keras dan telungkup seperti orang yang terkapar di atas ranjang. Sepatu yang ia kenakan masih melekat sempurna di kakinya.


Saat mengarungi alam mimpi, Aji meracau tidak jelas san selalu menyebut-nyebut nama Mika. Apa pun keadaan yang ia alami saat ini, tak ada seorang pun yang mampu menenangkan batinnya yang tertekan.


Dalam kesendirian dan hanya di temani oleh dinginnya malam serta di tambah AC yang sangat dingin membuat Aji mengubah posisi tidur menjadi meringkuk


seperti bayi. Sungguh malang nasibmu Aji, maafkan author yang tak bisa memberikanmu sebuah kebahagiaan.


Cinta itu selalu di uji bersama dengan keimanan seseorang. Tuhan tak akan pernah memberikan sebuah batas kesabaran pada sang umat. Namun, manusia yang menjalani dengan rasa syukur, ia akan mampu menahan terjangan dari sebuah ujian. Ia akan menjalaninya dengan sabar dan selalu diiringi doa serta rasa syukurnya.


Saat pagi telah menyapa, burung-burung pun saling bersahutan menemani tetesan embun yang sejuk.


Bagi yang menjalani aktifitas pagi, mereka telah berbaur dengan kendaraan umum lainnya di tengah padatnya jalanan.

__ADS_1


Aji terbangun dengan kepala yang terasa sangat pening hingga ia memencet batang hidungnya menjadi memerah seperti bekas kerokan.


Awali harimu dengan membuka sebuah lembaran baru. Jangan lupa pada sang pencitpa kau harus selalu bersyukur atas nikmat dan barokah kehidupan yang di ulurkan.


__ADS_2