
''Pa, ini tehnya. Minumlah!'' ucap Mika seraya meletakkan secangkir teh di meja. Aji sedang duduk menonton tv dengan tatapan kosong. Saat ia mendengar suara Mika sedang memberinya teh hangat, ia langsung menoleh dan tersenyum mengembang.
''Mi, aku kangen sama kamu'' Aji meraih pergelangan Mika. Namun, segera di tepis oleh si empunya.
''Maaf tuan, silahkan di minum tehnya. Saya permisi.'' Bik Rumi yang kaget melihat tuannya memegang tangannya dan menyebut nama Mika langsung ngacir permisi. Akhir-akhir ini, tuannya terlihat sering termenung.
Sementara Aji yang baru tersadar dari lamunannya langsung meminta maaf pada asistennya.
''Maaf, bik!'' ucap Aji yang melihat bik Rumi sudah balik lagi ke belakang.
''Arrgh...'' Aji mengusap wajahnya yang kusut merut. Ia telah mencoba untuk melupakan Mika. Namun, sangat sulit. Ia selalu terbayang dengan masa-masa kebersamaannya.
Aji memilih keluar rumah untuk menenangkan pikirannya. Ia memutuskan untuk melihat istrinya yang di kabarkan sudah lebih baik dan tinggal menunggu hari untuk jadwal kepulangannya.
Hari-hari berlalu begitu saja. Tak terasa, kini usia kandungan Vivi sudah menginjak tujuh bulan. Aji baru saja sampai di rumah sakit dan ia melihat Vivi sedang duduk di taman rumah sakit di temani oleh suster.
Vivi yang melihat suaminya datang menemui dirinya langsung menghampiri dan memeluknya dengan erat.
''Sayang...'' Vivi langsung nemplok bak cicak yang jatuh ke lantai.
''Hei, jangan kencang-kencang meluknya. Kasian yang di dalem perut. Nanti penyet Vi!'' Aji merenggangkan lingkaran tangan Vivi.
''Oh iya! aku terlalu kangen sama kamu'' ucap Vivi. Aji menuntun Vivi untuk duduk kembali di kursinya semula. Ia mengelus perut buncitnya dengan lebut.
''Kamu tunggu di sini sebentar ya, nanti kita ngobrolnya'' pinta Aji. Ia hendak menemui dokter untuk menanyakan perkembangan Vivi.
''Jangan lama-lama ya'' Vivi menggelayutkan tangannya pada Aji.
''Iya, cuma sebentar kok.''
Aji pun meninggalkan Vivi dan ia menuju ruangan dokter.
''Kamu kangen sama papa ya, mama juga kangen sayang. Nanti kita akan berkumpul bersama...'' ucap Vivi sambil mengelus perut buncitnya. Ia selalu mengajak baby nya berbicara. Dan yang di dalam perutnya selalu merespon dengan baik.
Tak lama kemudian, Aji sudah kembali lagi ke hadapan Vivi. Aji mengembangkan senyumnya ketika mendapat kabar dari sang dokter bahwa besok istrinya sudah bisa di bawa pulang ke rumah.
''Hei, kamu kangen sama papa?'' Aji menempelkan hidungnya ke perut Vivi dan mengelus sejenak. Perut Vivi pun bergerak seperti ada yang menendang dari dalam.
''Wah, geraknya aktif ya'' ucap Aji.
Mereka pun mengobrol ringan hingga jam besuk berakhir.
__ADS_1
''Papa pulang dulu sayang,'' Aji berpamitan pada calon anaknya. Kemudian ia meninggalkan Vivi yang akan kembali ke tempatnya bersama sang suster.
''Hati-hati pulangnya sayang.'' Pesan Vivi pada suaminya tersebut. Aji menganggukan kepala sebagai jawaban.
Dalam perjalanan pulang, Aji melintasi sebuah taman bunga. Di sana terlihat ramai oleh pengunjung. Dan tak sengaja, matanya menangkap sosok wajah yang ia rindukan sedang berada disana. Dengan segera Aji menepikan mobilnya. Ia ingin menghampiri seseorang itu.
Saat ia melangkah dengan semangat empat lima untuk menghampiri Mika yang tengah duduk di bangku taman. Tiba-tiba datang seseorang memberikan sebotol minuman pada Mika. Aji langsung mengendurkan langkahnya. Ia sangat kenal dengan laki-laki yang baru saja memberikan minuman pada Mika.
Aji duduk di bangku yang tak jauh dari keberadaan Mika dengan seseorang itu. Ia berniat untuk menyaksikan apa saja yang akan dilakukan oleh mantan istrinya tersebut.
Mika terlihat begitu bahagia bersama orang itu. Senyumnya tak pernah pudar dari sudut bibirnya. Sesekali Mika tergelak karena pembahasan lucu yang di lontarkan oleh laki-laki tersebut.
Setelah puas menyaksikan ke akraban dan keromantisan mantan istrinya, Aji pun memilih untuk meninggalkan taman tersebut. Lalu ia kembali ke mobilnya dan mulai melajukam pelan meninggalkan area taman.
''Buat apa aku ingin menemuinya. Dia terlihat sangat bahagia bersamanya'' ucap Aji pada dirinya sendiri. '' Oke, fokuslah pada dirimu sendiri Aji. Sebentar lagi kebahagiaanmu akan lengkap'' tutur Aji menyemangati diri.
Aji terus melajukan mobilnya hingga sampai di pelataran rumahnya. Ia pun langsung menuju kamarnya di lantai atas untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya yang lelah.
**
Makan malam bersama keluarga memang sangat menyenangkan.
Terlihat Mika sedang membantu ibunya untuk menghidangkan menu di meja.
"Semangat banget kamu nak," goda bu Dina pada Mika.
''Eh! enggak kok bu, biasa aja. Bukankah aku selalu melakukan ini kalau kita mau makan bareng'' elak Mika.
''heheh, tapi kenapa wajah kamu berseri seri'' sambung bu Dina lagi.
Wajah Mika menjadi merona karena ulah ibunya. Tangannya terus bekerja hingga semua hidangan selesai. Tak lama kemudian, terdengar ada suara dari luar rumah. Mika langsung segera menghampiri.
''Assalamulaikum'' sapa Anwar saat Mika tengah membukakan pintu untuknya.
''Walaikumsalam. Masuk mas'' Mika menyambutnya dengan senyum. Kemudian mereka menuju meja makan dimana sudah ada kedua orang tua Mika yang menanti kedatangannya.
''Anggi kok nggak ikut, mas'' tanya Mika.
''Katanya lagi sakit perut, siang tadi kebanyakan makan pedas'' sahut Anwar.
''Silahkan duduk nak Anwar'' pak Rizal mempersilahkan tamunya untuk duduk. Anwar menyalami kedua orang tua Mika dengan takzim. Setelahnya, Mika dan Anwar duduk bersebelahan.
__ADS_1
Mereka pun memulai ritual makan bersama. Mika mengambilkan makanan untuk kedua orang tuanya dan kemudian mengambilkan untuk Anwar. Terakhir, ia mengambil untuk dirinya sendiri.
''Makasih, Mi'' Anwar mengucapkan terimakasih atas perlakuan Mika.
Kedua orang tua Mika saling melempar senyum melihat tingkah Mika yang begitu cekatan.
''Mari silahkan nak Anwar.'' Bu Dina mempersilahkan.
Anwar mengangguk dengan senyum tipis. Setelahnya mereka makan bersama. Anwar dan Mika saling lirik melirik. Namun, tak ada yang bersuara. Hingga makanan mereka di piring masing-masing ludes.
''Terimakasih, bapak, ibu, sudah mau mengundang saya untuk makan malam bersama kalian'' ucap Anwar pada kedua orang tua Mika.
''Jangan sungkan begitu nak Anwar. Panggil saja ayah, sama seperti Mika memanggilku'' Tutur pak Rizal.
Mereka mulai mengobrol ringan dari pembahsan awal mula Mika mengenal Anwar hingga kini mereka menjadi dekat.
''Hmm, jadi kamu memang sudah kenal lama sama Mika ya.'' Sanggah ayah Mika.
''Iya, pak...'' jawab Anwar.
''Panggil ayah biar santai'' pak Rizal kembali mengingatkan.
''Eh, iya yah.'' Sahut Anwar.
''Apa kamu bisa main catur?'' tanya pak Rizal.
''Bisa, apa mau main sekarang yah?'' tanya Anwar dengan penuh semangat.
''Hayuukk!!'' pak Rizal pun tak kalah semangat. Merasa mendapat lawan main yang menantang membuat jiwa mudanya bangkit kembali.
Mika dan ibunya hanya menjadi penonton. Melihat ayahnya dan Anwar mudah sekali dekat dan langsung akbrab, membuat ia menjadi tenang.
-
-
Semoga kalian suka sama part ini ya. Author mau cepet tamatin.
Oh ya, author mau merekomendasikan cerita punya teman yang sangat menarik. Jangan lupa mampir ya.
__ADS_1