Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 75


__ADS_3

Bab 75


Kembali merajut mimpi


Tanpa terasa, kedua insan yang kini telah berdamai dari masa lalu tengah berpelukan erat. Rasa nyaman itu kembali hadir seiring berdetiknya waktu. Mika akan berusaha membuka kembali hatinya selebar mungkin karena rasa percaya yang telah ia curahkan pada Aji.


Aji akan berusaha kembali meraih cinta yang pernah ia sia-siakan dalam hidupnya. Ia kan memulai dari hal-hal yang paling kecil yang tentunya akan meratukan sang pujaan hati.


Krucuk...


Aji dan Mika saling tatap saat mendengar sebuah suara. Suara tersebut berasal dari tengah-tengah posisi mereka saat ini.


Perut siapa yang kira-kira berbunyi hingga menyadarkan mereka jika hari saat ini sudah hampir memasuki sore.


''Kamu laper, ya? Kita pergi cari makan yuk.'' ajak Aji pada Mika.


Mika merasa perutnya tidak berbunyi, malah Aji yang nampak sedikit malu. Sudah bisa di tebak jika yang perutnya berbunyi adalah Aji.


''Yang bunyi barusan perut kamu kan? Berarti kamu yang laper. Ya udah, kita cari makan.'' balas Mika seraya melenggang keluar.


Dengan daster kedodoran Mika keluar dan diiringi oleh Aji yang mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Mika sengaja tidak mengganti pakaiannya karena malas. karena keterbatasan juga. Pakaian Mika hanya ada berapa lembar yang sengaja di tinggal di rumah ini.


Selangkah demi selangkah Aji dan Mika menapaki jalan aspal di gang rumah mereka menuju warung yang dulu sering mereka singgahi ketika akan berangkat bekerja.


Aji menatap tangan Mika yang menggantung di sampingnya. Ingin sekali ia menggenggamnya saat ini juga. Aji menarik napas perlahan lalu kemudian ia hembuskan dan mencoba untuk menggenggam jemarinya terlebih dahulu.


Begitu tangan mereka bersentuhan, Mika sedikit tersentak dan menatap ke arah Aji. Namun, Aji malah membuang pandangannya dan memilih menatap pepohonan rindang yang berdiri tegak di depan rumah orang.


Mika pun menerimanya dengan malu-malu, persis sekali seperti awal saat mereka pacaran dulu. Dua insan tersebut saling menautkan jemari menuju warung.


Setibanya di warung yang di tuju, ternyata warung tersebut tutup. Lalu ada seorang tetangga di samping warung itu keluar dan menanyai mereka.

__ADS_1


Mau cari makan siang ya, Mas, Mbak?'' tanya seorang uwak-uwak yang bertetanggaan dengan warung tersebut.


''Iya, Pak. Kok tumben tutup ya,'' balas Aji dengan ramah.


''Iya, Mas. Orangnya pulang kampung.'' lanjut si bapak tua itu.


''Oh... Terimakasih ya pak.'' ujar Aji.


Bapak itu pun mengangguk dan kembali ke aktifitasnya yang tertunda.


''Yahh, udah jalan jauh gini malah tutup.'' sungut Mika sambil putar balik.


''Iya mau di apain lagi. Kita ke warung kecil itu aja. Beli mie instan, masih ada gas kan di rumah kita?'' kata Aji memastikan.


Aji ingat waktu bersama Bagas waktu itu dia masih bisa masak Mie cup.


Mika hanya mengedikkan bahu karena ia sama sekali tidak ingat. Dirinya juga dr semalam tidak mengisi perut dengan makanan.


Setelah membeli beberapa bungkus Mie dan beberapa cemilan lain di sertai dengan minuman botol. Aji dan Mika pun kembali ke rumah diirngi dengan obrolan kecil hingga sampai lagi di dalam rumah.


''Aku bantu ya, Mi.'' Aji menawarkan diri untuk membantu Mika. Mika mengangguk dan menyungginkan senyum tipis.


Aji mengabil piring saji sementara Mika memanaskan air di panci. Hanya butuh waktu lima menit makanan sudah siap di sajikan. Aji membawa dua piring mie instan goreng ke meja akan dan Mika membawa minumannya. Semua yang mereka beli tadi di hidangkan di meja makan.


Duduk bersisian dan mulai menikmati makan siang mereka yang sudah kesorean.


Aji menelungkupkan sendoknya begitu selesai menghabiskan makanan miliknya. Ia pun meraih air minum bagiannya dan meneguknya hingga ludes tak bersisa barang setetes pun.


''Kamu kayaknya laper pake banget. Mau nambah lagi?'' tawar Mika yang baru saja menyudahi bagiannya.


''Hehehe, udah kenyang kok. Kan masih ada cemilan ini,'' Aji meraih sebungkus keripik snack dan langsung membukanya.

__ADS_1


Hufft


Mika hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aji. Dia pun beranjak dan membereskan piring bekas makan mereka, lalu mencucinya di washtafel.


Setelah selesai membereskan dapur, Mika kembali duduk di samping Aji yang sekarang posisinya sudah duduk di sofa depan tivi sembari menonton siaran televisi. Tak lupa pula cemilan yang tadi masih di kunyah sudah habis dua bungkus.


Mika bergabung dan meraih sebotol minuman kesukaannya. Ikut menonton acara yang dia tidak paham. Jika sudah urusan poli tik di berita, hal itu malah membuatnya pusing.


wanita itu meraih remot tivi yang ada di sampingnya lalu menukar chanel ke acara gosip. gosip yang di tampilkan mengenai perceraian artis terkenal.


''Kok di ganti, Mi. Nggak penting ih nonton yang gituan.''Ujar Aji. Ia menghadap ke Mika yang duduk sangai sambil bersandar di sofanya.


''Aku nggak ngerti sama yang kamu tonton, jadi lebih enakan nonton hiburan gini,'' cebik Mika.


''Ya deh, kamu cobain ini deh, enak!'' Aji menyodorkan secuil keripik yang di kunyahnya ke mulut Mika.


Mika pun membuka mulut dan menerima suapan dari Aji. Mengunyahnya pelan dan menikmati rasanya, suapan demi suapan mereka nikmati bersama sambil menonton tivi. Cukup sederhana yang mereka lakukan dan itu sudah lebih dari cukup dari kata bahagia.


Saat malam hari, usai dari mandi. Mika naik ke tempat tidur. Matanya menatap ke langit-langit kamar seolah sedang banyak yang ia bayangkan dan juga pikirkan. Entah apa itu, Aji yang sudah selesai berpakaian pun ikut menyusul Mika dan masuk ke dalam selimut yang sama.


''Kamu lagi mikirin apa, sayang?'' tanya Aji dengan lembut dan melingkarkan tangannya ke perut Mika. Menopang kepalanya dengan tangan sebelahnya sambil memadangi wajah Mika yang nampak bingung.


Tidak ada lagi keraguan dalam diri Aji untuk menyentuh Mika seperti dulu. Selama Mika tidak menolaknya, Aji akamn terus memepet Mika hingga benar-benar kembali mencintai dirinya.


''Aku cuma lagi bingung sama status kita sekarang,'' tutur Mika mengungkapkan keraguan yang mengganjal di dasar hatinya.


''Kan kita udah rujuk, kamu udah setuju. Apa yang kamu ragukan lagi, sayang?'' heran Aji.


''Iya, aku takut aja sama keputusan ini,'' ungkap Mika.


Mika membalik badannya menjadi menghadap ke Aji. Di tatapnya rahang tegas Milik Aji serta jakun yang nampak begitu jelas di depan matanya.

__ADS_1


''Dengerin aku ya, sayang.''Aji membelai pipi mulus Mika dengan mesra penuh kelembutan. Sentuhan lembut itu membuat Mika memejamkan mata untuk menikmati belaian yang Aji berikan.


''Maaf ya sebelumnya, kamu di larang memotong ucapan aku sampai aku selesai ngomong dan kasih penjelasan ke kamu,'' ujar Aji dengan tatapan penuh harap.


__ADS_2