Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 117


__ADS_3

Bab 117


''Kakak bingung, Nggi. Mau cerita dari mana,'' ujar Mika.


''Oh, ya sambil cerita aku punya oleh-oleh buat kakak, nih.'' Anggi beranjak memanggil bi Nunung untuk mengambil oleh-oleh yang tadi di bawanya.


''Kamu memangnya habis berpetuang ke mana?'' tanya Mika.


''Keliling luar negeri aja, buat konten yutub. Aku juga dapet penghasilan dari sana kak, seneng deh.'' cerita Anggi dengan semangat.


''Oh, ya? Hebat kamu,'' puji Mika. Dia senang mendengarnya.


''Nggak juga kak, karena aku suka aja sih, menjelajahi tempat-tempat yang bagus menurut aku, cari tempat yang asyik biar nggak itu-itu aja yang di lihat.'' terang Anggi panjang lebar.


Mika dengan saksama menyimak setiap cerita yang Anggi paparkan. Dia tersenyum dan senang dengan apa yang di alami oleh Anggi saat di luar negeri.


''Jadi gitu deh, oh ya, aku penasaran. Kakak kapan datang ke sininya? Apa ada kabar lain yang aku nggak tahu dari kalian,'' tuding Anggi.


Mika mengulas senyum malu-malu. Ada rasa kesal tapi juga geli begitu ingat kejadian yang sudah di alaminya.


''Kak, kok malah bengong. Kakak jadian sama kak Anwar?'' tanya Anggi tak sabaran.


Anwar yang mendengar adiknya mencecar Mika dengan banyak pertanyaan pun langsung datang menghampiri.


''Dek, mana bagian kakak. Kamu bawa oleh-oleh banyak kan,'' timpal Anwar mengganggu keseriusan mereka berdua.


''Apaan sih kak, itu lagi di bongkar sama bi Nunung.'' Anggi menatap tajam pada sang kakak yang datang langsung menempel pada Mika.


''Yes, mana sini bawa kesini, Bik. Kita bongkar sama sama aja yuk,'' pinta Anwar. Bi Nunung pun keluar membawa beberapa barang yang sudah berhasil do buka kemasannya.


Mereka pun sibuk memilih barang yang sesuai dengan keinginan mereka. Bi Nunung dan asisten lain pun mendapat bagiannya.


Mika mendapat bagian baju dan juga tas yang sangat cantik. Sementara Anwar mendapat oleh-oleh jam tangan dan juga sepatu dengan warna kesukaannya.

__ADS_1


Semua berterima kasih pada Anggi karena mendapat bagian yang adil.


''Aku masih belum dapat jawaban. Kak, tolong kakak jelasin, apa kalian...'' Anggi menjeda pertanyaaannya saat Anwar mengangkat tangan Mika bersama tangannya menunjukkan cincin yang tersemat di jari-jari mereka.


Anggi yang tidak menyadari sejak tadi di buat melongo oleh kakaknya sendiri.


''Jahat banget sih kau kak, kamu menikah tapi nggak ngasih tahu aku. Kakak durjanaaa!! Sungut Anggi kesal.


Anwar terkekeh melihat reaksi Anggi. Adiknya itu memukulinya dengan bantal karena di hari bahagia sang kakak dia tak di beri tahu.


''Kakak menikah juga tidak membuat pesta kok, yang penting halal.'' Anwar berucap.


''Tega sekali kalian, tapi kak Mika, aku seneng deh. Kakak jadi kakak iparku,'' ucap Anggi.


Panjang lebar mereka bercerita bersama dan juga bersenda gurau. Saling bertukar cerita dan sesekali Anggi mencebik kesal karena Anwar selalu bermesraan dengan Mika membuat jiwanya yang jomblo meronta-ronta.


***


"Mas, sudah malam. Kamu harus istirahat," sapa Mika menghampiri suaminya di ruang kerja membawa teh hangat.


"Sedikit lagi, sayaang. Apa kamu belum mengantuk, tidurlah duluan, sebentar lagi mas akan menyusul." Anwar mengusap lebut pipi Mika yang bertumpu si bahunya. Manja sekali sikap istrinya sekarang.


"Aku pengen tidur di temenin kamu, Mas," rengek Mika dengan manja membuat Anwar menyunggingkan senyum dan segera menyelesaikan pekerjaannya.


"Baiklah, sedikit lagi, kamu tunggu di kamar ya," pinta Anwar.


"Nggak mau," Mika memeluluk pinggan sang suami dengan erat dan menungguinya.


Dengan terpaksa, Anwar langsung menutup laptopnya begitu pekerjaan terakhirnya berhasil di simpan. Dia tidak ingin melihat istrinya kelelelahan karenanya.


Akhirnya Mika bernapas lega karena sang suami selesai mengurus pekerjaan. Dia ingin tidur di temani dan ingin selalu menghidu aroma tubuh sang suami. Entah kenapa hal itu ingin dia lakukan setiap akan tidur. Jika tidak begitu dia akan sulit untuk tidur malam.


Begitu berbaring di kasur, Mika langsung menelusup masuk ke dalam dekapan Anwar dan mengirup aroma itu dalam-dalam.

__ADS_1


"Kamu sudah sangat mengantuk, ya. Tidurlah," ucap Anwar sembari mengusap rambut Mika. Dia begitu gemas karena tingkah manja sang istri.


Mereka akhirnya tidur lelap menjelajahi mimpi.


Keesokannya Mika sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Dia usia kehamilannya yang sudah masuk empat bulan ini, dia tidak lagi mual di pagi hari. Hanya saja, malas mandi. Kerjaannya ingin selalu tidur dan malas ke mana-mana jika badmood.


Tidak untuk hari ini, dia bersemangat dan sudah mandi dengan harum. Pasalnya, dia akan pergi ke salon bersama Anggi adik iparnya. Entah karena bawaan atau apa yang jelas dia sangat semangat.


Usai sarapan Mika berpamitan pada Anwar untuk memanjakan diri.


"Mas, aku pergi dulu ya sama Anggi," pamit Mika seraya menyalami suaminya. Tak lupa memberikan kis di pipi. Anwar membalas memberi kis di kening Mika dan menarik hidung mancung sang istri mesra.


"Yakin nggak mau mas antar sayang?" tanya Anwar.


"Nggak usah, Kak. Aku yang akan menjadi sopir sekaligus patner kak Mika," sambar Anggi yang sudah rapi menuruni undakan tangga lalu menghampiri dua kakaknya.


"Baiklah, Kakak percayakan padamu, jika terjadi apa-apa, kamu yang akan kakak cari untuk pertama kalinya!" ancamm Anwar sembari terkekeh kecil. Karena dia sangat yakin adiknya itu akan berhati-hati.


Mereka pun pamit dan pergi menuju alamat yang sudah mereka lihat di gugel. Rekomndasi salon dan spa ternyaman yang ada di kota tersebut untuk memanjakan diri.


Anwar yang merasa sepi berada di rumah pun memilih bersiap untuk pergi ke kantor saja. Memang tidak banyak tapi ada beberapa berkas penting yang harus di urus di toko pusat miliknya.


Anwar melajukan mobilnya menuju toko glamour miliknya. Di sana Rina tampak mentambutnya seperti biasa tapi ada yang berbeda dari penampilan gadis itu. Anwar hanya mengerutkan alis karena tidak biasa Rina berdandan mencolok seperti itu.


Dia terus melangkah menuju ruang kerjanya diikuti oleh Rina di belakangnya.


"Rin, tolong serahkan semua buku data-data barang untuk di kirim ke luar kota, sama sekalian laporan penjualan," titah Anwar dan angguki oleh Rina.


"Baik pak, saya ambilkan." Rina langsung pergi mengambil buku yang di pinta oleh sang bos dan di antar ke ruangan.


Rina mengetuk pintu sebentar lalu masuk ke dalam.


"Ini, pak berkasnya," ucap Rina menyerahkan buku itu.

__ADS_1


__ADS_2