Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Bab 83


__ADS_3

Bab 83


Berkunjung


Keesokan harinya, masih pukul 04.00 pagi Anwar sudah membangunkan Mika dengan cara menggendong wanita itu dan membawanya ke kamar mandi. Mika tidak tahu lagi harus bagaimana dengan sikap pria tidak tahu diri ini memperlakukan dirinya layaknya seorang istri. Karena ia tidak mau dinikahi oleh Anwar. Ia baru saja akan membuka hatinya untuk Aji kembali padanya, namun nasib sial sedang bekerja sama dengan dirinya.


Mika termenung dalam guyuran air yang Anwar siramkan pada tubuhnya, sunggu pemandangan yang bikin sakit mata untuk pasangan yang halal. Mereka bukan mukhrim dan tanpa penutup sehelai benang pun yang menempel di tubuh keduanya.


Anwar hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah karena menahan gejolak yang ada dalam dirinya saat matanya terus menatap ke arah aset kembar Mika yang sangat menggoda. Namun, ia ingat harus segera gerak cepat karena sudah berjanji dengan kedua orang tua Mika semalam sebelum ia menculik Mika.


Selesai dengan ritual mandinya, Anwar memberikan baju pada Mika yang kemarin ia beli. Baju-baju mahal dan modelnya sangat cantik saat Mika mengenakannya begitu pas dengan bentuk tubuhnya.


''Bagaimana bisa semua ukuran yang aku pakai bisa sesuai?'' gumam Mika setelah selesai memakai semua pakaiannya.


Anwar yang kebetulan muncul di belakang Mika dan mendengar suara Mika pun tersenyum senang. Anwar membawa Mika untuk ke depan cermin. Menatap pantulan dirinya di depan cermin. Sangat cantik dan elegan.


Anwar kemudian mendudukkan tubuh Mika lalu mulai menghias wajah Mika yang masih polos dan sedikit pucat.


Tanpa Mika sangka, ternyata pria tidak tahu adab ini bisa me-make up wajahnya menjadi nampak bersinar. Meski hanya polesan natural tapi wajahnya nampak lebih fresh. Mika sendiri jika berdandan hanya bisa pakai bedak dan lipstik saja.


Mika di buat takjub olehnya, ''kamu suka?'' tanya Anwar saat selesai


Mika mengangguk tanpa sadar ia tersenyum tipis dan sangat manis melihat kecantikan dirinya di depan cermin.


Untuk saat ini, Mika tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa menurut pada Anwar. Ia hanya bisa berharap bisa keluar dari tempat ini secepatnya.


Setelah selesai, Mika mengikuti langkah Anwar menuju ke mobilnya. Ia pun baru sadar jika pintu yang ia cari itu berbentuk seperti lemari. Hanya dengan sekali tekan, lemari itu langsung bergerak menampakkan jalan keluar. Pintu sensor namanya, sungguh canggih sekali mantion milik Anwar ini.

__ADS_1


Anwar bersama Mika masuk ke dalam mobil mewah, mereka duduk di kursi belakang yang sudah di setting seperti tempat tidur. Di depan sudah ada sopir yang siap membawa mereka ke tempat tujuan. Mobil tersebut memiliki pembatas dan menutupi mereka di belakang, sang sopir tidak bisa melihat secara langsung tuan majikannya yang berada di belakang.


***


Aji terbangun dari tidurnya sehabis mimpi buruk. Dalam mimpinya ia melihat Mika menikah dengan seorang pria yang wajahnya tidak bisa ia lihat dengan jelas. Aji semakin tidak tenang memikirkan keberadaan Mika.


Bagaimana pun juga, ia harus berjuang agar bisa menemukan Mika dan membawanya kembali dalam pelukannya.


Pagi-pagi sekali Bagas sudah berada di depan rumah Aji. Menggedor pintu itu dan terdengar begitu berisik. Beruntung bekas rumah kontrakan itu bentuknya tidak seperti bedeng. Kalau bentuknya berjajar seperti bedeng, pasti para tetangga sebelah sudah memaki-maki Bagas yang membuat keributan di pagi hari.


''Rusuh bener nih orang!'' Aji membuka pintunya dengan malas dan menampakkan batang hidung Bagas yang memamerkan senyum pepsodhennya.


''Ji, lu udah cari Mika ke mana aja?'' tanya Bagas yang langsung masuk ke dalam rumah.


''Keliling kota ini, udah gue cari sampe ke kolong-kolongnya juga.'' terang Aji.


''Ah,'' Bagas menjentikkan jarinya dan matanya langsung melek dengan terang. Sepertinya ia mendapatkan sebuah ide yang paling cemerlang.


''Temenin gue ke palembang, Gas. Kita berangkat hari ini juga.'' saran Aji dengan semangat empat lima.


''Katanya udah keliling kota, lah kok rumah mantan mertua nggak lu sambangi sih, gimana bisa lu balikan lagi sama anaknya. Kalau lu sendiri aja lupa.'' sungut Bagas.


Ia menatap ke kamar yang baru saja Aji masuki karena pria itu akan segera bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Mika.


''Ayo kita berangkat sekarang,'' ajak Aji dan meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja.


''Lu nggak niat ngajak gue sarapan dulu gitu? Butuh energi nih gue buat mikir ide buat lu.'' ujar Bagas.

__ADS_1


''Ntarlah, itu kan gampang. Nanti pas di jalan kita beli sarapan.'' tukas Bagas.


''Pakai mobil gue aja, mobil gue habis di check kontrol biar aman.'' usul Bagas yang tidak setengah-setengah membantu sang sahabat.


''Oke, kalau gitu lu yang bawa mobilnya.'' ucap Aji.


Bagas hanya memandang dengan malas sahabatnya itu. Mereka mulai berangkat ke tempat tujuan yang sudah di pastikan dan sangat yakin jika Mika berada di sana.


Sepanjang perjalanan usai sarapan, Aji nampak berbinar dan semangat. Raut kesedihan itu menguap bersama sebuah harapan untuk bisa menemukan Mika di rumah orang tuanya.


Sementara di jalan yang lain, Mika tengah tertidur sehabis meminum minuman segar rasa susu yang Anwar berikan padanya. Anwar sengaja memberinya sedikit obat tidur pada minuman wanita itu.


Ia ingin Mika tidak kelelahan saat nanti tiba di acara yang sudah ia siapkan bersama orang tua Mika.


Anwar sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat sempurna. Mika akan di buatnya sangat terkejut dan di pastikan ini adalah moment yang paling berkesan dalam hidupnya.


Mobil Anwar memasuki sebuah gedung yang sudah ia sewa dan juga orang-orang yang ia bayar. Kebetulan gedung itu berada dekat dengan kediaman orang tua Mika.


Rumah orang tua Mika sudah di hias dengan cantik. Di depan rumah mereka pun berdiri sebuah tenda yang sudah di hias dengan cantik.


Kedatangan Anwar di sambut dengan hangat oleh orang-orang sudah ia persiapkan sebelumnya. Kedua orang tua Mika sudah menanti kedatangan putri semata wayangnya yang sudah lama tidak pernah berkunjung ke sana.


Saat mobil yang Mika tumpangi itu berhenti tepat di depan rumah, Anwar pun membangunkan Mika dari tidurnya yang sangat nyenyak. Rasanya ia tidak ingin bangun karena saking nyamannya tempat yang ia gunakan untuk alas tidur.


Mika mengerjapkan matanya dengan pelan saat sebuah tangan menepuk pipinya dengan lembut diiringi sebuah suara yang sangat ia rindukan. Tangan yang telah merawatnya hingga bisa sampai di titik yang sekarang.


''Mi, bangunlah. Kita sudah sampai,'' ucap seorang wanita yang telah menunggu kedatangannya sejal lama.

__ADS_1


__ADS_2