
Bab 86
Memulai kehidupan baru yang ke dua
''Duh, anak Ibu sudah bangun. Pasti kamu capek banget, ya.'' Bu Rizal tersenyum pada Mika yang datang menghampiri sang ibu di dapur. Mika nampak lelah dan menggerakkan pinggangnya yang terasa pegal. Bu Rizal yang melihat Mika seperti itu malah tersenyum lebar. Ia menyangka jika putrinya habis bertempur tadi malam.
Mika mulai membantu ibunya untuk menyiapkan sarapan. Ia menata beberapa piring serta makanan yang sudah di masak oleh ibunya.
''Suamimu mana, Mi?'' tanya bu Rizal saat selesai menghidankan menu sarapan.
Serasa ini adalah dunia mimpi, Mika tersentak saat sang ibu menanyakan suaminya. Pagi tadi, saat ia bangun dan melihat Anwar masih tidur meringkuk di sofa sempit. Namun, Mika tak berniat untuk membangunkannya dan memilih mandi lalu turun membantu ibunya.
''Coba aku liat dulu ke kamar ya, Bu. Mungkin sedang bersiap.'' ucap Mika yang hendak menuju ke kamarnya.
Saat hendak melangkah Mika melihat Anwar turun dari tangga menuju ke bawah dan tersenyum manis padanya. Lalu tatapannya tertuju pada ibu mertua yang ada di belakang Mika dan mengangguk sopan.
''Selamat pagi, Bu.'' Sapa Anwar,
''Pagi, Nak. Ayo kita sarapan,'' ajak bu Dina, istri pak Rizal.
Anwar pun beralih menyapa Mika lalu mencium kening Mika dengan mesra di depan sang mertua tanpa rasa malu sedikit pun. Wajah Mika seketika merona di buatnya karena malu.
''Ayah mana, Bu? Tanya Anwar karena tak mendapati pak Rizal berada di ruang tersebut.
''Ada di belakang, biar ibu panggil dulu.'' ujarnya,
''Oh ya, Mi, siapkan dulu untuk suamimu, biar ibu susul ayah dulu.'' titah bu Dina pada putrinya dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Mika hanya menatap langkah ibunya yang menjauh dan mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi. Ia mengisi pirinf miliknya dan mulai makan, Mika tidak menawarkan Anwar barang secuil pun.
''Sayang, buat Mas mana. Kok kamu makan sendiri,'' rengek Anwar seperti anak kecil.
''Kamu kan punya tangan, dan piring juga udah di depan mata.'' jawab Mika dengan ketus. Ia sedang malas berbicara pada suami barunya ini.
__ADS_1
Anwar pun mengambil sendiri makanannya, ini baru permulaan dan ia harus dengan sabar menghadapi istrinya.
sementara di belakang, pak Rizal sedang asik dengan burung yang ada dalam kandangnya sembari bersiul dan menjentikkan jari membuat burungnya terbang naik turun mengikuti ayunan tangannya.
''Yah, yuk sarapan. Anak-anak sudah menunggu,'' ajak bu Dina.
''Sebentar Bu, ini lagi ngasih makan burung.'' ucapnya tanpa menoleh.
Bu Dina hanya berdecak melihat kegiatan suaminya. Sudah menjadi rutinitas paginya bersama burung-burung kesayangannya.
''Yah, ayo cepetan. Ibu tinggal nanti, ayah sarapan sendirian,'' ancam bu Dina.
''Iya-iya, ini hampir selesai.'' pak Rizal menaikkan kembali sarang burungnya ke gantungan dan membenahi kain sarung yang melilit pinggangnya.
Tak lupa, ia mencuci tangan di samping pintu masuk yang tersedia di sana khusus ia buat untuk mengurus burungnya.
Bu Dina melangkah mendahului pak Rizal dan di susul oleh sang suami. Saat tiba di meja makan, mereka melihat anak dan menantunya makan dalam diam. Sepertinya, mereka lupa jika orang tua mereka belum sarapan dan malah menunggu mereka. Tapi malah mereka yang duluan makan.
''Ehrm,'' pak Rizal berdehem dan membuat dua orang yang saling diam di posisi menoleh.
''Ayah mau pakai lauk apa?'' tawar Mika.
Pak Rizal pun tersenyum pada putrinya, ''pakai sayur lodeh sama ikan asin goreng saja,'' tunjuknya.
Mika pun langsung mengambilkan menu pilihan ayahnya.
''Bagian Ayah biar ibu yang siapkan, Mi. Kamu tawarin suami kamu tu, dia mau nambah apa nggak.'' Bu Dina menatap Anwar yang hanya diam saja melihat sikap Mika.
''Nggak, Bu. Saya sudah kenyang kok.'' ucap Anwar sedikit kikuk.
Mika hanya memberinya tatapan yang sulit di artikan, maka dari itu Anwar memilih diam saja.
Mereka menikmati sarapan pagi bersama dengan anggota baru di keluarga Rizal.
__ADS_1
Usai sarapan, Mika bersama sang ibu duduk bersantai di teras rumah. Sedangkan Anwar bersama dengan pak Rizal menikmati permainan yang dulu pernah mereka lakukan bersama.
Dalam kesempatan ini, Mika pun teringat akan ponselnya. Ia ingin mengecek sesuatu di sana. Namun, sejak kemarin ia belum melihat tanda-tanda Anwar mengembalikan ponselnya.
''Bu, boleh aku pinjam hape ibu sebentar.'' tanya Mika.
''Ambil aja di kamar sayang, Ibu mau ke depan dulu. Kalau kamu mau ikut, tinggal nyusul aja ya, Ibu ke rumah uwak Rahma.'' tutur bu Dina pada Mika yang sudah pergi menuju ke kamar sang ibu namun masih di dengar oleh Mika suaranya.
''Iya, nanti aku nyusul aja, bu.'' sahut Mika.
Ia segera bergegas mengambil ponsel ibunya yang ada di atas nakas dan menghubungi nomornya sendiri.
''Semoga, masih aktif.'' gumam Mika sambil menunggu terhubung.
Beberapa detii kemudian, nomornya pun terhubung. Menunggu beberapa saat tapi tidak ada sahutan.
''Kira-kira di mana ya hape ku, apa ada sama Aji ya,'' monolog Mika
Ia pun mengulang kembali hingga mendapatkan jawaban di seberang sana. Terdengar suara berat dan parau dari seberang sana membuat Mika mengernyitkan dahi karena heran.
Halo, Assalamulaikum, Bu. Suara Aji terdengar jelas dan sedikit ragu. Ia mengira jika yang menelpon ponsel Mika adalah orang tua Mika.
Mika masih diam, dadanya terasa sesak mendengar suara itu. Ia merasa sangat bersalah sekali. Mika pun bingung harus berbicara apa. Ingin sekali ia rasanta memberitahu semua tentang hal yang ia alami di malam terakhir pertemuan mereka di sebabkan oleh Anwar.
Bu, apakah di sana ada Mika. Saya ingin bicara padanya boleh ya Bu, suara Aji terdengar memelas. Rasanya Mika tak tega membayangkan betapa sedihnya Aji di seberang sana.
Pa,.. Lirih Mika yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tumpah membasahi pipinya.
Sementara di seberang sana, Aji merasa tidak percaya dengan suara yang ia dengar barusan. Apakah benar itu adalah suara Mika atau ia hanya berhalusinasi. Pasalnya, ia baru mabuk semalam
Beberapa kali Aji mengusap wajah dan mata untuk melihat nama kontak pada ponsel Mika.
Mi, apakah itu kamu. Kamu di mana sayang, aku sangat kengkhawatirkan kamu. Kasih tahu aku, biar aku jemput kamu sekarang juga. Ucap Aji dengan semangat empat lima. Ia sangat yakin jika yang sedang berbicara padanya melalui ponsel adalah Mika.
__ADS_1
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mika tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menangis di balik senyum yang tak dapat Aji lihat.