Suami Rasa Musuh

Suami Rasa Musuh
Part 55


__ADS_3

Cklekk!


Pintu ruangan ICU terbuka, dokter yang menangani korban keluar dan menghampiri keluarga pasien.


''Keluarga pasien Vivi dan Aji,'' ucap dokter lelaki berkaca mata.


''Saya, Dok!'' Anwar langsung menjawab.


''Bagaimana keadaannya, Dok?'' timpal Mika.


''Pasien belum sadar karena kehilangan banyak darah. Pihak rumah sakit sudah mendapatkan stok darah yang cocok. Namun, untuk kondisi pasien wanita, kami perlu membicarakan hal penting ini pada pihak keluarga.'' Jelas sang dokter.


''Mari, ikut saya keruangan.'' Sambungnya. Dokter mengajak Anwar untuk mengikuti langkah sang dokter.


Anwar mengikuti langkah dokter tersebut ke ruangan khusus untuk berbicara serius. Sementara Mika sedang di berondong pertanyaan oleh Anggi.


''Kak, apa yang sebenarnya terjadi sama kak Vivi?!'' tanya Anggi. Ia terlihat begitu khawatir dengan kondisi Vivi. Sebab ia belum melihat kondisi yang sebenarnya.


''Mereka kecelakaan, Nggi, Kakak juga nggak tau penyebabnya. Karena kami menemukan mobil mereka sudah rusak menabrak pembatas jalan. Dan mereka mengeluarkan banyak darah dan tak sadarkan diri lagi,'' Mika menerangkan dengan suara tertahan. Ia tidak kuat menyebutkan posisi tubuh mereka yang nyungsep di dalam mobil.


Anggi sangat terkejut mendengar penuturan Mika. Sementara bu Dina dan pak Rizal mengajak Mika agar pulang ke rumah. Karen Keluarga pasien sudah datang dan bisa menjaga mereka.


''Mi, sebaiknya kita pulang dulu istirahat di rumah. Kamu jangan khawatir, pasti mereka baik-baik saja,'' tutur pak Rizal.


''Iya, sayang. Ayo! kita pulang. Biar keluarganya yang menjaganya disini. Kamu bisa menjenguknya keesokan hari.'' Titah bu Dina. Ia tidak ingin Mika kelelahan ditempat ini. Akhirnya, dengan berat hati, Mika menuruti ajakan orang tuanya.


''Iya, Bu,'' jawab Mika.


''Kakak pulang dulu, ya. Kamu kasih kabar kalau ada apa-apa.'' Tukas Mika.


''Iya, Kak, terimakasih banyak ya, Kak. Hati-hati,'' sahut Anggi.


Mika dan kedua orang tuanya pun melangkah keluar dari rumah sakit. Mereka langsung menuju parkiran dan masuk ke mobil. Pak Rizal mengemudikan mobilnya menuju alamat rumah mereka.


Sementara di dalam ruangan khusus, dokter sedang menjelaskan masalah Vivi beserta kandungannya. Tim dokter membutuhkan persetujuan dari pihak keluarga untuk proses operasi yang harus dilakukan untuk Vivi agar bayi di dalam kandungannya selamat.


''Tubuh bu Vivi mengalami benturan keras dan mengakibatkan trauma pada perutnya, bayi di dalam kandungannya harus segera di operasi,'' ucap sang dokter.

__ADS_1


''Lakukan yang terbaik, Dok, untuk masalah biaya, saya akan mengurus semuanya!'' jawab Anwar. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan janin yang dikandung sepupunya. Bagaimana pun, bayi itu adalah harapan hidup Vivi.


''Baiklah, silahkan Bapak tanda tangani berkas ini.'' Dokter memberikan berkas persetujuan untuk Anwar bubuhkan tanda tangan. Setelah selesai, ia menyerahkan kembali berkas tersebut.


''Terimakasih, Pak!'' ucap dokter yang bername tag R. Panggayuh beserta titlenya.


''Saya permisi, Dok.'' Anwar pamit dan keluar dari ruang dokter tersebut untuk kembali menemui Mika yang belum sempat ia tanyai tentang kejadian yang menimpa sepupunya.


Sesampainya disana, ia tidak mendapati Mika dan juga kedua orang tuanya. Hanya ada Anggi yang sedang duduk menanti kehadirannya.


''Apa kata dokter, Kak?'' tanya Anggi.


''Mika mana, Nggi?'' Anwar balik bertanya.


''Sudah pulang, Kak. Kak Mika pesan, kalau ada apa-apa nanti langsung kasih kabar.'' Terang Anggi.


''Oh, ya sudah. Vivi harus segera di operasi Caesar agar bayinya selamat.'' Jawab Anwar.


''Apa?, ya ampun! kasian kak Vivi,'' Anggi menjadi bersedih.


***


Mika sedang duduk di kursi kebesarannya sambil mengetukkan pena di atas meja. Ia masih terpikir dengan kejadian semalam. Sampai saat ini, ia belum mendapat kabar dari orang yang menjaga Vivi dan juga Aji di rumah sakit.


''Mi, kita ada rapat jam sepuluh.'' Ujar Bagas. Ia mengingatkan kembali jadwal yang akan mereka kerjakan hari ini.


''Oh, iya.'' Mika melirik jam tangannya. Masih ada waktu dua puluh lima menit lagi.


''Ada apa, Mi? kamu nggak kayak biasanya. Hari ini tumben si Aji nggak masuk, di telepon juga nggak nyambung. Padahal ada rapat penting!'' tukas Bagas.


''Aji kecelakaan, Gas.'' Lirih Mika.


''Apa, Mi?!'' Bagas terkejut.


''Iya, dia masih belum sadarkan diri. Dan aku juga belum dapat kabar apa-apa.'' Tandas Mika. Ia ingin sekali menghubungi Anwar atau pun Anggi. Tapi, itu tidak mungkin ia lakukan.


''Di rumah sakit mana, Mi? Nanti, habis jam istirahat gw mau jengukin dia.'' Ujar Bagas. Ia ingin melihat kondisi sahabatnya.

__ADS_1


''Di Mitra Medika. Ayo, kita langsung ke ruang rapat,'' ajak Mika. Mereka membawa bahan materi yang akan mereka bahas pada rapat pagi ini.


Setelah masuk ke ruang rapat yang di set up membentuk huruf U, semua staff yang bersangkutan telah berkumpul di ruangan tersebut. Mika tersenyum dan menyapa semua yang ada disana. Bagas mempersilahkan Mika untuk duduk.


''Selamat pagi semuanya,'' ucap Mika. Ia menatap ke arah sekeliling anggota yang memperhatikan dirinya.


''Pagi,'' balas dari mereka dengan kompak.


Mika memulai sesi rapatnya dengan serius. Materi yang dibahas pagi ini adalah tentang membuka pabrik baru khusus pembuatan kopi putih. Mika menerangkan inti-inti pokoknya. Dan Bagas yang menjelaskan secara detilnya. Pabrik baru yang akan Mika dirikan di negara Kota B di setujui oleh semua staff yang hadir. Karena tempat tersebut sangat pas dan cocok.


Dua jam telah berlalu, rapat pun di tutup. Semua membereskan berkas masing-masing dan mulai kembali ke ruangan mereka.


Bagas dan Mika keluar dari ruang rapat secara bersamaan. Mereka kembali ke ruang kerja untuk menyimpan berkas-berkas pentingnya. Setelah itu, mereka keluar dengan berbarengan. Mereka akan pergi menuju rumah sakit menggunakan mobil Bagas. Biar hemat waktu dan tenaga.


''Satu mobil aja, Mi!'' seru Bagas.


Mika pun menoleh hendak menanyakan maksudnya.


''Biar hemat waktu, kita bareng aja!'' terang Bagas.


''Oh, oke!'' sahut Mika.


Mika masuk ke dalam mobil milik Bagas. Setelag itu, mereka melaju menuju rumah sakit. Jalanan siang hari cukup ramai, Bagas mencari jalan pintas yang lumayan sepi agar tidak ikut macet-macetan di jalan.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di tempat tujuan. Dengan langkah lebar, keduanya menuju tempat dimana Aji dan Vivi berada.


Sesampainya di depan ruang ICU, Mika dan Bagas tidak melihat Anggi dan juga Anwar. Mika pun memutuskan untuk bertanya pada suster yang berjaga disana. Setelah mendapat informasi, Mika terlihat lega. Karena pasien telah di pindah ke ruang perawatan.


''Jadi, Vivi juga ikut di rawat disini, Mi?'' tanya Bagas.


-


-


Haloo, tak bosan-bosannya aku menyapa kalian. Mohon maaf jika menemukan kata-kata typo ya, atau bab ini kurang ngena di hati. Aku usdah berusaha semampunya. Terimakasih buat yang selalu setia membaca karya recehku.


Oh, iya, sambil menunggu author up bab selanjutnya, aku mau rekomendasikan novel temenku yang seru dan menarik. Jangan lupa mampir, ya. Kiss.

__ADS_1



__ADS_2