
Tiba-tiba Aji terpikirkan satu hal, namun segera di tepisnya.
"Ji, kok kamu diem aja," Vivi mendongak menatap Aji.
"Emm, aku cuma lagi mikir sesuatu" ucapnya.
"Apa, aji?" Vivi melepaskan lingkaran tangannya pada tubuh Aji.
"Ap-apa kamu ham.." ucapan Aji terhenti.
"Ha," Vivi langsung menuju kalender duduknya yang ada di kamarnya. Ia memperhatikan tanggalnya di sana.
Seharusnya pada saat itu terjadi. Sehari setelahnya ia datang bulan, tapi sampai saat ini dia belum haid.
Sudah telat datang bulannya selama 13 hari.
"Ji, kamu mau temenin aku kan untuk periksa? aku telat Ji" ucap Vivi sambil menghampiri Aji yang masih setia menunggunya.
"Sekarang??" tanya Aji sambil menatap ke arah perut rata Vivi.
"Setelah kamu ambilin aku buah melinjo di depan sana, kita ke dokter" ucap Vivi sambil menggandeng Aji menuruni tangga.
"Hhhufft, ada-ada aja, yang aneh-aneh pula" ucap Aji dengan lirih.
"Apa, Ji" tanya Vivi yang tak begitu jelas mendengar gumaman Aji.
"Oh, enggak kok. Aku akan ambilkan buah itu untuk kamu. Tunggu aja di sini" Aji meninggalkan Vivi di teras rumahnya.
Vivi mengamati Aji yang sudah sampai di seberang jalam, ia melihat Aji mendatangi pemilik pohon belinjo itu, tak lama kemudian Aji muncul dengan sebuah galah di tangannya. Lalu di juluknya buah melinjo yang merah matang seperti permintaannya.
Tak lama kemudian, Aji sudah kembali kehadapan Vivi dengan sekantong buah melinjo.
Vivi sangat senang melihat buah itu, ia langsung mengambil kantong itu dan mengambil isinya. Segera ia cicip buah itu.
__ADS_1
"Hmm, enak. Manis" ucap Vivi sambil mengunyah kulit merah itu, dan ia mengumpulkan bijinya.
Aji hanya memperhatikannya dengan sangat heran.
"Vi, apa nggak sebaiknya kamu masak dulu menjadi sayur lodeh?" Aji mencoba memberi saran.
Vivi menghentikan kunyahannya mendengar penuturan dari Aji.
"Ah, kamu benar juga, yuk masuk.. Kamu yang masakin ya" ucap Vivi sambil kembali menggandeng tangan Aji dengan manjanya.
Pembantunya yang melihat tingkah aneh nonanya lagi-lagi menggeleng, dan kemudian menyusul ke dapur.
"Mau di masakkan sesuatu non?" tanya si bibik.
"Enggak bik, aku mau Aji yang masak ini. Katanya mau di bikin sayur lodeh" ucap Vivi dengan mata berbinar.
"Tapi, Vi. Aku nggak bisa masak" tolak Aji.
"Biar bibik bantu tuan, sekalian bibik ambilkan bahan tambahannya" bibik Rum langsung menuju kulkas penyimpanan sayuran, mengambil beberapa jenis sayur untuk campuran belinjo.
Setengah jam kemudian, sayur lodeh hasil karya Aji dengan campur rangan bik Rum tersaji di hadapan Vivi.
Vivi sangat bersemangat untuk menikmati masakan tersebut, ia mengambil piring dan menuangkan sayur tersebut.
"Hmm,..." Vivi manggut-manggut.
"Hmm,.." dia nambah lagi sesendok sayur.
Hingga hampir habis isi dari mangkuk sayur lodehnya.
"Enak banget, aku suka" ucap Vivi yang baru saja mengakhiri makannya.
"Istirahat sebentar, lalu kita ke dokter" ucap Aji yang ikut kenyang hanya dengan melihat Vivi makan.
__ADS_1
Bik Rum yang akan melewati meja makan jadi penasaran, "apa nona sedang sakit?" tanyanya sambil menghentikan langkah.
"Emm, cuma nggak enak badan dikit kok bik" sambil memegang lehernya dan sedikit menggerakkan kepalanya.
"Oh, ya udah. Bibik permisi non, tuan" bik Rum berlalu dari area dapur.
Vivi beranjak menuju kamarnya, ia ingin berganti pakaian. Sementara Aji menunggunya di ruang tamu.
Satu jam kemudian, Vivi sudah rapi dan berdandan dengan sangat cantik dan elegan. Ia melangkahkan kakinya menghampiri Aji.
"Yuk!" ajaknya sambil menarik lengan Aji.
Aji segera bangkit dan mereka keluar beriringan. Vivi menyerahkan kunci mobilnya ke tangan Aji.
Setelah itu, mereka menuju klinik terdekat. Mereka langsung masuk karena suasana masih sepi.
"Ada yang bisa di bantu pak, bu" sapa seorang wanita yang duduk di dekat meja administrasi dengan ramah.
"Kami mau periksa bu" ucap Vivi.
Setelah itu, mereka di arahkan ke ruangan khusus pemeriksaan. Beberapa pertanyaan yang mengenai keluhan pasiennya di berikan bu bidan bername tag Rahmawahyu Am. Keb. Setelah Aji dan Vivi duduk menghadap bu bidan.
"Kapan terakhir ibu haid?"
"Tanggal 15 bulan lalu bu," ucap Vivi.
"Sudah melakukan tes pack di rumah?"
"Belum,"
"Mari ikut saya," ucap bu bidan seraya berdiri dan memanggil asisstennya untuk membantu Vivi. Vivi di arahkan untuk menampung urinnya dan di berikan tes kehamilan. Lalu di beri tunjuk cara penggunaannya.
Setelah menunggu beberapa saat, Vivi sangat senang melihat tanda dua garis merah berjajar di tengah-tengah alat tersebut.
__ADS_1
Aji yang melihat Vivi senyum-senyum menatap dirinya yang baru keluar dari tempat itu menjadi heran.