
Setelah kejadian malam pengantin, Aji dan Vivi menghabiskan libur mereka di desa itu. Vivi masih tidak percaya dengan ucapan Mika malam kemarin. Ia memilih mengabaikannya dan ingin menikmati waktunya bersama Aji di desanya.
Pagi ini menjelang siang, Vivi dan Aji berjalan kaki menuju area persawahan yang mulai menguning. Suasana kampung halaman yang tidak Vivi rindukan. Tetapi, bersama Aji di sini, ia ingin menikmati suasananya.
Aji dan Vivi berjalan bergandengan tangan dengan begitu mesra. Melupakan masalah yang semalam mereka hadapi. Tak peduli apa kata dunia, yang penting mereka bahagia di atas penderitaan orang lain.
Sepanjang perjalanan menikmati suasana, mereka mengobrol ngalor ngidul menghayal masa depan. Sesekali Vivi mengelus perutnya yang masih datar. Hingga mereka melewati lahan kosong yang ada papan plank bahwa, tanah tersebut akan di jual.
"Wah, ada yang mau jual tanah ini, sayang. Kita beli ya" ucap Vivi sambil mengamati papan tersebut.
"Boleh, aku catat dulu nomornya, nanti kita hubungi" sahut Aji.
"Ini lahan bagus banget, kita bisa bangun ruko di sini" usul Vivi.
"Iya, nanti kita bicarakan lagi. Apa kakimu tidak lelah, kita sudah berjalan sangat jauh sayang."
"Lelah kaki ku tidak terasa karena aku berada di sisimu" gombalan maut ala Vivi di sertai kerlingan mata, "jadi kamu bisa menggendongku nanti jika tiba-tiba pegal"
"Hahah, ada-ada aja kamu, yuk! kita kembali lagi, aku ingin istirahat dan menikmati makan siang'' ajak Aji lalu memutar langkah.
''Gendong...'' pinta Vivi dengan manja.
Aji tersenyum dan kemudian ia berjongkok, menyuruh Vivi naik ke punggungnya. Vivi menurut, dan ia melingkarkan lengannya ke leher Aji. Mereka kembali ke penginapan. Setelah lebih dari sejam menikmati pemandangan sawah-sawah. Mereka kembali melewati jalan setapak.
Baru sampai di pertengahan jalan, Aji sudah mengap-mengap kehabisan nafas.
''Kamu turun duluh yah, nafas ku kembang kempis. Ternyata kamu berat dosa ya sayang!'' ujar Aji menurunkan Vivi dan ia merunduk memegang lututnya. Lalu menggerak-gerakkan badan seolah meregangkan otot-ototnya.
''Kamu kok ngomongnya gitu sih, kayak dirinya enggak punya dosa aja!'' gerutu Vivi dan berjalan mendahului suaminya.
''Jangan senewen dong, aku kan bercanda'' Aji mengejar langkah Vivi.
Hingga sampai di penginapan mereka tak ada yang membuka obrolan. Di sepanjang perjalanan menuju penginapan, ada beberapa pasang mata dari warga kampung yang mengamati langkah mereka.
__ADS_1
Ada yang berbisik-bisik sambil melirik mereka berdua, entah apa yang mereka sangka kan untuk keduanya. Aji dan Vivi tidak memperdulikan.
Setelah sampai di kamar, Vivi langsung menanggalkan pakaiannya. Ia ingin segera mandi untuk menghilangkan keringat yang mengalir di tubuhnya. Aji yang baru saja masuk ke dalam, di suguhi pemandangan indah. Langsung menerkam dan melahap tubuh indah istri keduanya.
Walau mulutnya menolak, tetapi tubuh Vivi meminta lebih saat sentuhan-sentuhan sensual membangkitkan gelora asmara yang di berikan oleh Aji.
Keduanya masuk ke dalam kamar mandi dan bergelut di dalam sana. Suara rintihann serta desaahaan dari kedua insan yang berdosa menggema di dalamnya.
Enggak usah di jabarin ya, takut haredang.
Satu jam kemudian, keduanya keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh masing-masing. Vivi mengeluarkan baju yang akan ia kenakan dan juga baju milik sang suami barunya dari dalam kopernya.
Gerakan Vivi yang terlihat meliuk-liuk di mata Aji, kembali membangkitkan panjulnya di balik handuk. Padahal Vivi hanya ingin berpakaian, dan ia mengibaskan rambut basahnya. Ia menjatuhkan handuknya begitu saja. Dan hendak memasang cawetnya.
Aji memeluk tubuh Vivi dari bekakang, ia menekan panjulnya yang sudah on ke bongkahan bokong Vivi. Tangannya pun bergerilya di area tubuj bagian depan.
Kembali terdengar suara auman Vivi memenuhi isi kamar. Aji benar-benar ingin membuat Vivi pingsan dengan permainannya.
''Sebentar lagi sayaaang,..'' Aji mempercepat pergerakannya. Hingga kemudian keluarlah muntahan si panjul dari mulutnya.
Kedua manusia itu akhirnya terkulai lemah di atas ranjang.
''Mandi lagi dong ...'' suara lemah dan lelah keluar dari bibir sekssi milik Vivi.
Aji langsung merengkuh tubuh Vivi dan membawanya ke pelukannya. Ia memejamkan mata dan ingin tidur dengan posisi seperti itu.
''Nanti aja mandinya, kita tidur dulu'' jawab Aji dengan suara yang juga lirih.
Sementara di luar kamar Vivi, ada orang yang sedang menggunakan kursi roda datang menghampiri kamar tersebut. Dengan bantuan orang lain, orang itu mengetuk-ngetuk pintu tersebut.
Tokk tokk tokk
Tidak ada jawaban dari dalam sana, masih hening. Hingga orang itu kembali mengetuk pintu berkali-kali. Namun, tak kunjung mendapat sahutan.
__ADS_1
''Mungkin mereka tidur pak, kita langsung kembali ke rumah saja ya'' ucap suster Lili yang selama ini merawat pak Kurnia ayah Vivi.
Pak kurnia pun mengedipkan mata tanda ia menyetujui usul sang suster. Mereka akhirnya berbalik meninggalkan tempat Vivi menginap.
Hingga jam satu siang, pasangan pengantin baru itu baru terbangun dari sambung tidurnya. Karena perut yang lapar menyapa mereka, mengharuskan keduanya untuk keluar dari kamar dan mencari makanan di luar penginapan.
Usai makan siang, Aji dan Vivi bersiap untuk kembali ke kota J. Setelah sudah siap semua, mereka langsung menuju bandara menggunakan mobil sewa.
''Ada uang receh nggak, Vi?'' tanya Aji.
''Nggak ada kayaknya, mau buat apa?'' tanya Vivi dengan heran.
''Mau ngasih buat pengemis itu'' tunjuk Aji ke seorang bapak-bapak yang duduk di bawah pohon. Ia merogoh kantongnya dan menemukan uang lembaran bergambar Cut Nyak Dien.
''Oh, ini ada, enggak jadi aku minta sama kamu'' Aji langsung berlari menghampiri bapak-bapak tersebut, lalu ia kembali ke arah Vivi. Setelahnya mereka bersiap untuk menunggu jam keberangkatan.
''Kamu sering ya, memberi ke para pengemis begitu'' tanya Vivi.
''Kalo pas ketemu aja aku kasih, kalo enggak ketemu, ya enggak ngasih!'' jawab Aji santai.
''Ohh'' Vivi membulatkan bibirnya mendengar jawaban dari Aji. Tak berapa lama, akhirnya mereka meninggalkan tempat yang menyatukan mereka dalam sebuah pernikahan. Mereka kembali terbang ke kota asal sekarang.
-
-
-
...Hati seorang istri yang telah terluka karena kebohongan, serta sikap manis yang penuh tipuan, menjadi pelajaran dalam hidupnya. Ia ingin menjadi wanita yang lebih kuat dan tak ingin lagi tersakiti. Menjadi janda pun tak masalah, asal hatinya tenang, ia pasti bisa hidup bahagia....
Motivasi seorang Mika untuk dirinya sendiri.
Tadi aku pakai foto pas mau up. tapi enggak bisa bisa. Muter muter melulu kayak gasing. Jadi aku hapus fotonya.
__ADS_1