Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 103 (season 2)


__ADS_3

Eve perlahan membuka kelopak matanya. Sinar matahari yang tembus melewati kaca jendela kamar hotel tersebut membuatnya terusik dari tidurnya.


Namun, saat kelopak mata itu berhasil terbuka sempurna. Pandangan pertamanya terfokuskan pada sosok pria yang kini tengah tersenyum menatapnya.


"Pagi bidadari ku," sapa Ax saat melihat sosok gadisnya yang mulai membuka matanya.


"Pagi kak Ax," sahut Eve dengan suara serak khas bangun tidur.


Eve mulai mendudukkan dirinya dan mulai meregangkan tubuhnya. Namun ia belum menyadari satu hal. Yaitu saat ini tubuhnya yang masih polos tanpa mengenakan pakaian.


Ax menelan ludahnya kasar melihat pemandangan di depannya itu. Sebuah senyum seringai muncul di sudut bibirnya.


Kakinya melangkah mendekati sang istri yang saat ini belum menyadari bahwa dirinya polos tanpa mengenakan sehelai benang pun.


Dengan cepat Ax mengambil selimut dan menutupi tubuh indah Eve.


"Apa Kau berniat menggodaku sayang?" Ax berucap tepat di dekat telinga Eve, dan membuat Eve begitu geli.


Namun seketika Eve pun mulai menyadari bahwa tubuhnya saat ini polos tanpa mengenakan apapun. Sebuah senyum malu-malu terbit di wajahnya.


Membuat sang pemilik hatinya begitu gemas dan ingin kembali mengulangi indahnya cinta yang terjadi di antara mereka semalaman.


Tangan kekar Ax mulai nakal dengan meraba bagian-bagian tubuh istrinya. Dan favoritnya Ax pada bagian bukit kembar Eve yang begitu kenyal dan nampak berisi.


"sayang, sekali lagi ya?." Ax berucap dengan suara parau. Kini pandangannya kembali berkabut.


Sementara Eve hanya tersipu malu. Ia merutuki kebodohannya yang melupakan pakaiannya sendiri. Hingga akhirnya mereka pun kembali merasakan manisnya madu yang kembali mereka rasakan di pagi yang nampak cerah ini.


***


Sementara di sisi lain, seorang gadis cantik tengah menangis terisak entah apa yang ia tangisi.


Tangannya terus mengusap likuid bening yang terus-menerus menetes tanpa henti itu. Ia tengah memikirkan bagaimana keadaannya kedepannya nanti.


"Aku tak tahu bagaimana Aku harus bertahan. Semuanya membuatku begitu lelah Tuhan. Sampai kapan Aku bisa menyembunyikan ini semua dari mereka?" Gadis tersebut tak kuasa membendung lara hatinya.


Hingga entah tetesan keberapa likuid bening itu menetes dari pipinya.


"Tidak, Aku harus kuat!." Gadis itu terus menguatkan hatinya untuk menghadapi kenyataan tentang dirinya.


Ia mulai mengusap air matanya dan memaksakan senyumnya. Ya, ia bertekad untuk terus tersenyum dan menyembunyikan tentang semuanya.


Ia pun mulai bangkit. Ia mulai membasuh mukanya untuk menyegarkan kembali mukanya yang sempat kusut akibat tangisannya.


***


Kini tiba saatnya Bryan dan seluruh keluarga besarnya pulang ke Indonesia.


Eve dan Ax juga ikut pulang ke sana. Sebelumnya Eve sudah mengatakan kepada Sean bahwa ia akan menetap di Indonesia bersama seluruh keluarga yang sudah membesarkannya.


Sean mengizinkannya, walaupun itu begitu berat untuknya. Tapi kebahagiaan sang adik lebih penting baginya.


"Kami berterimakasih kepada Tuan Sean karena sudah menyambut kami di sini. Sekarang kami harus kembali Tuan," ucap Bryan.


"Baiklah Tuan, Aku menitipkan adikku kepada kalian semua. Suatu saat nanti Aku akan kesana untuk berlibur. Jadi kalian harus menyambut ku dengan baik," cetus Sean tersenyum.


Bryan dan semua pun terkejut melihat senyuman Sean. Sejak mereka datang ke sana, Sean sedikitpun tidak pernah tersenyum ataupun tertawa.


"Tentu saja Tuan, kami menantikan Anda berkunjung," balas Bryan dengan senyuman.


Pandangan Sean teralihkan pada sosok gadis yang beberapa hari lalu begitu merepotkan dirinya. Divya nampak terdiam, wajahnya juga terlihat sedikit pucat.

__ADS_1


Lalu Sean menghampiri Eve yang kini berada tak jauh dari Divya.


"Ashy, kuharap Kau menjadi wanita yang patuh dengan suamimu. Kakak pasti akan merindukan mu," ucap Sean dan langsung memeluk Eve. Kini ia harus melepaskan Eve, walaupun begitu berat. Tapi kini Eve sudah memiliki seorang suami.


"Kak Sean bisa berkunjung ke Indonesia jika merindukan ku," ucap Eve dan di angguki oleh kakaknya.


"Oh iya, kak Karl kemana kak, kenapa dia tidak terlihat beberapa hari ini?," tanya Eve karena memang setelah hari pernikahannya memang tak terlihat lagi.


"Kakak menyuruhnya untuk mengambil alih istana. Kakak tidak bisa mengurus banyak sekali tanggung jawab," jawab Sean.


"Kak Karl memang pantas menjadi pemimpin di istana," ucap Eve mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


Melihat Sean yang memeluk istrinya terlalu lama membuat Ax berdehem.


Ehem...ehem...


Mendengar deheman tersebut membuat Sean terkekeh. "Lihatlah suamimu begitu posesif Ashy. Yasudah, kakak selalu mendoakan kebahagiaan mu Ashy," ucap Sean seraya melepaskan pelukannya.


Ax langsung menarik Eve dan melingkarkan tangannya di pinggang Eve.


Melihat hal itu, Sean hanya menggelengkan kepalanya. Begitulah pria yang sudah terlalu bucin, dan dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menjadi pria yang seperti itu.


Sean hendak melangkah menjauh, namun ia mengerutkan keningnya saat melihat Divya yang masih terdiam di sebuah kursi tidak menghiraukan apapun.


"Hei Kau!, kenapa Kau diam saja dan tidak bergabung dengan yang lain?" Sean bertanya.


Divya menatap Sean sekilas, lalu ia kembali terdiam. Sehingga Sean geram karena tidak ada jawaban apapun dari bibir Divya.


"Apa kau tuli!" Sean merasa kesal.


"Namaku bukan hei, tapi nama ku Divya. Jadi Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu karena yang Kau panggil tadi bukan nama ku," ucap Divya membuat Sean semakin kesal.


"Tuan Sean," panggil Divya, membuat Sean menghentikan langkahnya.


"Kenapa Kau memanggil ku?!" Sean berbicara dengan nada ketus.


"Maukah Kau duduk disini dan menemaniku mengobrol?. Lihatlah yang lainnya sibuk berbincang dengan yang lainnya." Divya menunjuk ke arah keluarganya yang kini tengah berbincang satu sama lain.


Sean mengikuti arah tunjuk Divya, lalu iapun kembali menatap Divya.


"Kenapa Kau tidak ikut berbincang dengan keluarga mu, dan malah menyendiri di sini?!."


"Mereka membicarakan tentang pasangan mereka masing-masing. Bahkan kak Bintang yang kupikir jomblo saja ternyata dia memiliki seorang kekasih. Bukankah itu menyebalkan?!" Divya mengadu kepada Sean.


Dan sontak saja membuat Sean terkekeh melihat alasan Divya yang menyendiri di antara yang lainnya.


"Apa mungkin wajahnya yang pucat juga karena hal tersebut," batin Sean.


Melihat Sean yang terkekeh membuat Divya menatap pria yang sebelumnya nampak begitu datar itu menjadi pria yang tampan menurut Divya.


Divya segera menggelengkan kepalanya karena berpikir Sean tampan. Ia pun terkikik geli dengan pemikirannya itu. Bagaimana mungkin Divya sampai berpikir Sean tampan?.


Sean mengerutkan keningnya melihat Divya yang terkikik di depannya.


"Apa Kau gila karena tidak memiliki pasangan?" tanya Sean membuat Divya terdiam dan menatapnya tajam.


"Aku tidak gila!. Aku tidak memiliki kekasih karena Aku tidak menginginkannya. Kau mengerti!" tegas Divya.


Namun Sean tersenyum mengejeknya.


"Sungguh kah?, Bukankah karena Kau tidak laku?. Kau begitu galak dan terlalu bar-bar Nona," ejek Sean tertawa geli melihat ekspresi wajah Divya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba Sean melihat wajah Divya yang berubah menjadi sendu.


"Apa Kau mau menjadi kekasih ku Tuan Sean?" ucap Divya tiba-tiba membuat Sean terkejut.


"Apa Kau benar-benar tidak waras Nona?. Aku tidak mau memiliki seorang kekasih, karena mereka terlalu merepotkan. Cinta hanya membuat seseorang menjadi budak saja, makanya Aku tidak ingin memiliki kekasih. Apalagi itu Kau Nona," ucap Sean kembali terkekeh.


"Maka dari itu, Aku ingin memiliki seorang kekasih yang tidak mencintai ku. Karena Aku tidak ingin bila suatu saat nanti ada perpisahan yang akan memisahkan ku dan kekasih ku, itu tidak terlalu menyakitkan," ucap Divya masih dengan wajah sendunya.


Sean mengerutkan keningnya mendengar ucapan dari Divya. Kalau wanita lain menginginkan seorang kekasih yang mencintainya, tapi gadis di depannya malah menginginkan kekasih yang tidak mencintainya. Bukankah itu aneh?.


Entahlah, Sean tidak mengerti dengan pemikiran gadis di depannya itu.


"Kau memang gadis gila Nona, Aku tidak mengerti dengan apa yang Kau pikirkan itu," ucap Sean menggelengkan kepalanya.


Sean hendak pergi untuk menanyakan kepada temannya apakah pesawat pribadi miliknya sudah siap.


Namun di saat kakinya baru satu langkah, Divya mencekal tangan Sean.


"Ku mohon Tuan, pertimbangkan permintaan ku untuk menjadi kekasih ku. Susah sekali untuk mencari pria yang tidak mencintai ku. Dan Kau lah orang itu. Kumohon Tuan Sean, please!" ucap Divya memohon.


Sean membalikkan badannya dan menatap wajah memohon Divya. Lalu Sean menghembuskan nafasnya panjang.


"Baiklah, tapi lepaskan Aku!."


Divya tersenyum girang dan segera melepaskan pegangan tangannya.


"Yes, akhirnya Aku memiliki seorang kekasih," ucap Divya begitu senang.


"Tapi Aku tidak ingin Kau merepotkan ku. Dan jangan pernah mengaturku. Aku juga tidak perduli dengan semua yang kau lakukan asalkan jangan menggangguku!" tegas Sean.


Divya pun menganggukkan kepalanya senang.


"Baiklah, Aku menyetujuinya. Aku hanya ingin memiliki seorang kekasih saja. Tidak menginginkan hal apapun. Terimakasih pacar," ucap Divya sangat girang.


Sean mengerutkan keningnya mendengar kata pacar. Ia begitu asing dengan kata tersebut.


(Anggap saja sebelumnya mereka berbicara dengan bahasa English 😅)


"Pacar?" ucap Sean.


"Ya, itu adalah nama dari negara kami menyebut seorang kekasih," jelas Divya.


"Terserah," ucap Sean dan langsung pergi mencari temannya.


***


Mereka semua pun segera memasuki pesawat pribadi yang sudah Sean persiapkan untuk mereka.


Sean mengantarkan keluarga besar tersebut menaiki pesawat. Hingga Divya pun yang terakhir menaiki pesawat itu.


"Aku akan merindukan mu pacar, dan Aku menunggumu untuk datang menemui ku di sana nanti," ucap Divya tersenyum.


"Sudah naik sana!, Jangan membuat ku mual," ucap Sean dan malah membuat Divya terkekeh.


Divya segera menaiki pesawat pribadi tersebut, hingga pintu tersebut pun tertutup.


Sean segera menjauh dari sana. Dan melambaikan tangannya. Hingga pesawat tersebut take off meninggalkan tempat tersebut.


Sean menggelengkan kepalanya mengingat ia menyetujui permintaan Divya untuk menjadi kekasihnya. Sungguh itu adalah hal yang konyol menurutnya.


***

__ADS_1


__ADS_2