
"Sayang, Kau pulang nak?," ucap Aya menatap terkejut Eve.
"Iya Ma, Pa. Aku sangat merindukan Mama dan Papa,l." Eve tersenyum menutupi lara hatinya.
Namun Aya mengerutkan keningnya saat melihat raut wajah sendu Eve. Ia tahu bahwa putrinya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Eve, kenapa Kau pulang tanpa memberitahu Mama dan Papa?. Dengan begitu Papa sama Mama bisa menjemputmu," ucap Bryan mengusap lembut rambut Eve.
Eve begitu terharu dengan perhatian Mama dan papanya. Eve teringat akan tes DNA waktu itu yang membuktikan bahwa ia bukanlah putri mereka.
"Benarkah Mama dan Papa bukan orang tua kandung ku?, Mereka adalah orang tua terbaik yang ku miliki Tuhan. Dan Aku sangat beruntung memiliki mereka." Eve berucap dalam hati.
"Maafkan Eve Pa, tapi Eve begitu merindukan Mama dan Papa. Makanya Eve pulang hehehe," ucap Eve tertawa dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yasudah, sekarang lebih baik Kau istirahat Eve. Kau terlihat begitu lelah," ujar Aya dan diangguki dengan senyuman oleh Eve.
Eve pun melangkah menuju kamarnya, rasanya ia sangat lelah. Mungkin menjauh dari Ax akan lebih baik di antara keduanya.
Eve menaruh kopernya dan langsung menjatuhkan diri di atas kasur empuk miliknya. Rasa lelah mulai menderanya, menangis semalaman membuatnya begitu lelah, hingga akhirnya Eve mulai tertidur pulas.
***
Karl mengikuti Eve sampai di Indonesia, ia tidak ingin lagi kehilangan jejak Eve, sementara para musuh terus saja mengincar nyawa Eve.
Hingga akhirnya Karl membeli sebuah rumah mewah di kawasan Eve tinggal bersama keluarganya. Karl terus saja memperhatikan keluarga Bryan. Ia takut Eve tidak bahagia di besarkan keluarga Bryan.
Namun dalam pantauannya beberapa hari membuatnya begitu lega. Karena ternyata keluarga Bryan begitu menyayangi Eve dan membuatnya tenang.
Karl melihat Eve keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya. Melihat hal itu, Karl pun kembali mengikuti kemana Eve pergi
Karl mengerutkan keningnya saat melihat Eve yang kini berhenti di depan club malam.
"Apa yang Eve lakukan di club malam?. " Karl pun mengikuti Eve masuk ke dalam sana. Bau alkohol terasa begitu kentara saat Karl mulai memasuki club malam tersebut.
Matanya terus mencari keberadaan gadis yang ia intai beberapa hari terakhir. Hingga pandangannya terkunci pada satu sosok gadis yang mencuri perhatiannya.
__ADS_1
"Eve!," ucapnya yang terkejut melihat Eve hampir mabuk di meja bartender.
Karl terlihat nampak begitu marah melihat Eve yang terus-menerus meminta alkohol dari bartender itu.
"Eve!," panggil Karl dengan marahnya.
Eve yang kini mulai mabuk pun mulai berkata ngelantur dengan terkekeh merasa semua yang terjadi padanya begitu lucu menurutnya.
Karl pun langsung membawa Eve untuk keluar dari club malam tersebut. Karl membawa Eve kedalam mobilnya dan melajukannya menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan Eve terus saja bergumam,tertawa bahkan menangis mengingat hubungannya dengan Ax.
Sementara Karl pun mulai mengerti dengan ocehan ocehan Eve yang nampak begitu terluka saat ini. Karl merasa begitu sakit melihat keadaan Eve yang seperti ini.
Tidak di pungkiri lagi, Karl telah jatuh cinta pada Eve sejak Eve di lahirkan ke dunia ini.
Karl pun akhirnya tertawa penuh ironi melihat ternyata di hati Eve sudah bertahta nama Galaxy disana. Namun ia tetap tidak akan menyerah untuk membuat Eve tersenyum bahagia walaupun tidak ada namanya di hatinya.
Mungkin bila takdir tidak memisahkan Eve dari keluarganya, mungkin namanya yang akan berada di hati Eve saat ini.
Karl pun menggendong tubuh Eve dan memasuki rumahnya. Dengan perlahan ia mulai membaringkan tubuh Eve di kasur miliknya. Menatap wajah Eve yang kini mulai terlelap.
"Aku akan selalu ada untuk mu Ashy, ya, Kau adalah Ashy. Aku akan selalu melindungi mu dari siapapun yang menyakiti mu," ucap Karl sebelum keluar dari kamarnya.
Eve mulai terjaga dari tidurnya kala merasakan silau dari kaca jendela kamar milik Karl.
Eve memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ya, jelas saja Eve merasakan pusing. Karena Eve baru pertama kali merasakan minuman alkohol seperti tadi malam.
"Kau sudah bangun?," tanya Karl tersenyum menatap Eve yang memegangi kepalanya.
Eve terkejut mendengar suara yang terasa begitu asing di telinganya. Perlahan ia mulai menatap siapa yang tengah berkata itu.
"Kau?!," ucap Eve terkejut saat melihat ternyata Karl lah suara tersebut.
"Ya Ashy, ini Aku Karl," ucapnya tersenyum menatap gadis kecilnya. Karl lantas berjalan dan membawa susu hangat untuk Eve.
"Minumlah,ini akan mengurangi rasa sakit pada kepalamu Ashy." ucapnya dengan menyodorkan satu gelas susu tersebut.
__ADS_1
Eve menerima satu gelas susu tersebut dan perlahan meminumnya. Ia juga ingin meredakan rasa sakit pada kepalanya.
"Terimakasih," ucap Eve.
Kini rasa sakit pada kepalanya pun perlahan mulai reda. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Eve tanyakan kepada Karl mengenai siapa sebenarnya dirinya, dan juga siapa keluarganya yang sesungguhnya.
"Karl" panggil Eve.
"Ya, ada apa Ashy?."
"Kenapa Kau memanggil ku Ashy?, mamaku Eveline, dan orang-orang memanggil ku Eve. Jadi Kau harus memanggil ku Eve!," jelas Eve membuat Karl terkekeh mendengar ucapan Eve.
"Ya, baiklah Eve. Tapi Kau harus tahu bahwa sebenarnya namamu adalah Ashy. Eve adalah nama pemberian dari keluarga Askara untukmu."
"Baiklah terserah Kau mau memanggil ku apa," ucap Eve menyerah.
"Baiklah, Aku akan memanggil mu Ashy saja, karena nama itu sudah menyatu dengan lidah ku. Oh iya Ashy, kenapa Kau memanggil ku tadi?," tanya Karl.
"Emm, bolehkah Aku memanggil mu kakak?," ucap Eve.
"Tentu saja Ashy, Kau boleh memanggil ku dengan nama apa saja." sahut Karl.
Kalau begitu bisakah kakak menceritakan tentang semua yang terjadi tentang keluarga ku yang sebenarnya kepadaku?," pinta Eve begitu ingin tahu.
"Apa Kau sudah benar-benar siap untuk mendengarkan segala kenyataan tentang dirimu Ashy?," tanya Karl memastikan.
Eve menganggukkan kepalanya dengan mantapnya. Kini ia harus mengetahui tentang semuanya.
"Apa Kau tahu tentang kelompok mafia Son of God?," tanya Karl dan mendapat gelengan kepala dari Eve.
"Baiklah Ashy, mungkin Aku akan bercerita sedikit lebih panjang. Son Of God adalah kelompok mafia yang tak ada tandingannya. Karena ketua kelompok tersebut memiliki kekuatan yang tak di miliki oleh semua orang. Dia adalah Damish, pria yang memiliki sebuah kekuatan yang membuatnya tak terkalahkan. Dan Kau tahu siapa dia?."
Eve kembali menggelengkan kepalanya.
"Dia adalah Papa mu Ashy. Namun para musuhnya begitu banyak dan berniat untuk membunuh Papa mu. Setiap manusia memiliki sebuah kelemahan Ashy, dan begitu juga dengan Papa mu. Dan apa Kau tahu kalau dia juga menurunkan kekuatannya kepada anak-anaknya termasuk dirimu." jelas Karl
__ADS_1
Eve masih belum bisa mencerna setiap kata yang Karl ucapkan padanya. "A-apa maksudmu kak??," tanya Eve ingin mengetahui lebih dalam lagi.
***