Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 75


__ADS_3

Aya terus saja menceritakan tentang kisahnya dan suaminya dulu kepada Bryan. Berharap Bryan dapat mengingat kembali tentang dirinya dan keluarga kecilnya.


Namun tetap saja Bryan mengatakan tak dapat mengingat semuanya.


Tapi Aya tidak akan pernah menyerahkan. Ia akan terus berusaha untuk membuat suaminya itu mengingat tentang dirinya dan putra-putranya.


sementara Adrian dan Lisa merasa iba melihat Aya yang terus saja menceritakan tentang kejadian dahulu kepada Bryan. Jelas saja, karena mereka berdua tahu bahwa Bryan sebenarnya sudah bisa mengingat semuanya.


Flash back on


Setelah Aya pergi untuk memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Bryan. Adrian menatap ke arah kakak sepupunya itu.


"Apakah Kau sungguh tidak mengingat semuanya Bryan?," tanya Adrian memastikan.


"Ya kak, apa kakak tidak kasihan melihat istri kakak begitu berharap dengan kesembuhan kakak?," timpal Lisa.


Bryan masih nampak terlihat bingung menatap dua orang di depannya yang terasa begitu asing. Lalu iapun menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan keduanya.


"Aku tidak mengenal siapa kalian, terlebih kepada wanita tadi," ucap Bryan menatap kearah dua orang di depannya.


"Jadi Kau sungguh-sungguh tidak mengingat kami?, bahkan kepada istri mu yang siang malam selalu saja menantimu?!. Kau tidak mengingat tentang semua perjuangan mu mendapatkan istri mu Aya?. Bahkan dulu kita pernah memperebutkannya untuk mendapatkan cintanya," ucap Adrian berusaha mengingatkan tentang semua kepada saudaranya itu.


Mendengar penuturan suaminya, Lisa hendak melepaskan pegangan tangannya kepada Adrian. Hatinya terasa mencelos mendengar bahwa suaminya dulu begitu mencintai Aya.


Walaupun saat ini Adrian mengatakan bahwa sangat mencintainya. Saat mendengar penuturan suaminya barusan, tetap saja membuatnya begitu cemburu.


namun dengan cepat, Adrian memegang erat-erat jemari istrinya. Lalu Adrian menatap lekat manik mata istrinya dan menggelengkan kepalanya.


Lisa memaksakan senyumnya, ia tahu bahwa suaminya kini benar-benar mencintainya. Ia akan berusaha untuk mengerti dengan situasi saat ini.


Adrian kembali menatap ke arah kakak sepupunya itu dan kembali berkata.

__ADS_1


"Apakah Kau juga tidak mengingat tentang putra kembar mu bersama Aya?. Mereka begitu menggemaskan, Kau sudah melewatkan melihat pertumbuhan mereka selama berbulan-bulan. Kau tahu?, mereka begitu menggemaskan. Dan apa Kau juga tahu kalau begitu banyak pria yang menyukai istri mu,?. Kau akan kehilangan istri mu kalau Kau melupakannya!," ucap Adrian.


Bryan nampak berpikir keras, kilasan ingatannya berputar-putar dalam benaknya. Hingga iapun memegangi kepalanya karena terasa begitu sakit. Bryan terus saja berpikir keras untuk mengingat semuanya.


"Aahh..!," pekiknya memegangi kepalanya.


Adrian segera mendekati sepupunya itu, rasa bersalah muncul dan takut akan kondisi sepupunya membuatnya panik. Saking inginnya ia melihat Bryan kembali mengingat semuanya, ia lupa akan kondisi Bryan yang baru tersadar dari komanya.


"Bryan, apa Kau tidak apa-apa?, maafkan Aku karena sudah membuat mu berpikir keras. Kau jangan memikirkan dengan yang ku katakan. Maafkan Aku Bryan," ucap Adrian panik.


Kilasan ingatan itu semakin jelas, dan rasa sakit yang menderanya pun berangsur menghilang.


"Bryan Kau tidak apa-apa kan?, maafkan Aku Bryan," ucap Adrian kembali. Sementara Lisa pun juga merasa panik melihat Bryan yang nampak kesakitan.


"Apakah Kau tidak bisa memanggilku kakak?!, Aku ini lebih tua darimu," ucap Bryan membuat Adrian mematung. Sejenak ia terdiam.


"Kau sudah mengingatnya?, sungguh Kau mengingat semuanya?," ucap Adrian nampak begitu kegirangan.


"Adrian, tolong jangan katakan kepada istri ku bahwa Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingin memberikan sebuah kejutan untuknya." ucap Bryan memohon.


"Apa Kau akan mengerjai istrimu?."


"Bukan mengerjai, tapi Aku hanya ingin memberikan sebuah kejutan padanya," kilah Bryan.


Adrian kembali menatap jengah saudaranya itu, lalu iapun menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Bryan.


"Tapi kak, Aku kasihan kepada Aya. Dia sudah dengan setianya menunggu kakak selama ini. Cintanya untuk kakak begitu teguh. Bahkan Paman Bagaskara sudah berkali-kali menyuruh Aya mencari pengganti kakak agar Aya bahagia. Tapi dia selalu saja bersikeras bahwa kakak akan sembuh. Dan sekarang kak Bryan mau membohongi Aya?," ucap Lisa kepada Bryan.


Bryan terkejut mendengar penuturan Lisa. " Apa?!, papa menyuruh Aya untuk mencari pria lain dan melupakan putranya?. Dasar Papa tidak ada akhlak, lihatlah Aku akan mengerjainya nanti," ucap Bryan penuh seringai.


Sementara Adrian dan Lisa menggelengkan kepalanya dengan Bryan yang baru tersadar itu. Dan bertepatan dengan itu, pintu pun kembali terbuka dan menampilkan Aya dan dokter untuk memeriksa kondisi Bryan saat ini.

__ADS_1


Flash back off


Bryan menerbitkan senyumnya di sudut bibirnya tanpa sepengetahuan istrinya. Sungguh ia begitu sangat merindukan wanita yang membuatnya jatuh cinta dengan begitu dalam itu.


Bryan ingin sekali memeluk tubuh istrinya, meluapkan segala kerinduannya. Sungguh memang benar yang dikatakan oleh Dylan bahwa rindu itu berat.


"Apa Kau bisa berhenti berbicara?," ucap Bryan seketika membuat Aya terdiam.


Sebenarnya Bryan ingin sekali menikmati menatap istrinya itu, tapi Aya malah terus saja berbicara sehingga membuatnya tak bisa menikmati memandang wajah cantik istrinya itu.


Melihat Aya yang terus saja berbicara membuatnya ingin sekali mencium bibir manis istrinya itu. Tapi Bryan harus menahannya, ia tidak ingin sandiwaranya terbongkar begitu cepat.


Aya menundukkan kepalanya, ia merasa begitu putus asa membuat suaminya itu agar mengingat semua tentang dirinya dan semuanya. Namun suaminya malah merasa terganggu dengan semua ucapannya.


"Sungguh kah Kau akan melupakan ku sayang?, Aku sangat mencintaimu, apa Kau akan melupakan tentang semua cinta kita?," ucap Aya dalam hati.


"Kenapa dia langsung menunduk, apa Aku keterlaluan menyuruhnya untuk diam?." batin Bryan menatap istrinya.


Namun tiba-tiba saja Adrian dan Lisa kembali masuk ke ruangan itu dengan membawa dua anak kembar yang kini berlari menuju Bryan.


"Papa...!," Teriak Bintang dan Galaxy.


Bryan pun menatap ke arah dua bocah kembar yang ia yakini adalah kedua putranya. Sungguh Bryan ingin sekali memeluk kedua putranya itu. Namun sekali lagi ia harus menahannya.


"Siapa mereka?," tanya Bryan menatap Aya.


Belum sempat menjawabnya, kedua putranya kini sudah memanjat tangga kecil di sana dan naik ke atas ke tempat Bryan. Mereka berdua berebut ingin memeluk Papanya.


Aya yang melihatnya merasa cemas kalau nanti Bryan akan marah dan menolak kedua putranya.


"Papa, tenapa papa tidak angun-angun, Intang dan Aci anen tama Papa," ucap Galaxy memeluk Bryan.

__ADS_1


****


__ADS_2