
Di sudut sebuah taman, seorang gadis sedang menitihkan air mata mendengar ucapan suaminya terhadap wanita lain yang mengatakan bahwa ia begitu mencintainya.
Ia sadar bahwa pernikahannya dengan suaminya hanya di jodohkan. Suaminya juga terus mengatakan bahwa tidak pernah mencintainya.
Namun suaminya juga sudah merenggut kesuciannya. Kini ia harus menerima nasibnya yang tak pernah bisa di cintai oleh suaminya.
Ia pun mulai meninggalkan tempat itu dan kembali ke sebuah villa yang tak jauh dari sana dengan sejuta luka di hatinya.
Sementara itu, Adrian masih menatap tajam ke arah Dimas. Tangannya masih setia memeluk pinggang sang istri dengan posesifnya.
"Jika Kau seorang laki-laki, seharusnya Kau tidak akan pernah memaksa seorang wanita. Kau hanya masalalu istri ku, dan sekarang Kau juga sudah memiliki seorang istri. Jadi sebaiknya Kau urus saja rumah tangga mu sendiri. Jangan pernah menggangu rumah tangga orang lain!" tegas Adrian.
Lisa merasa lega karena suaminya itu datang di saat yang tepat.
"Tapi Aku yang lebih dulu mencintai Lisa,dan Aku yakin sebenarnya Lisa juga masih mencintai ku!," kekeh Dimas. Ia masih mengira bahwa cinta Lisa hanya untuknya. Dimas tidak tahu bahwa cinta itu telah pudar seiring berjalannya waktu.
Perlahan Lisa melepaskan pelukan suaminya sehingga membuat Adrian menatapnya.
Lisa menganggukkan kepalanya pertanda suaminya harus yakin kepadanya.
"Dimas, maafkan Aku, tapi Aku mencintai suamiku. Dan ku mohon Kau mengertilah, cinta tidak bisa di paksakan. Kita pernah punya cerita, tapi itu dulu. Dan sekarang kita sudah memiliki pasangan masing-masing. Dan Aku mohon Kau mengertilah bahwa Aku sangat mencintai suamiku. Kau juga harus berusaha mencintai istri mu Dimas." Lisa berusaha untuk membuat Dimas mengerti.
Dimas mengingat hubungan antara dirinya dan Lisa. Rasanya ia begitu sulit untuk melepaskan wanita yang telah dimiliki oleh pria lain itu.
Ia juga tahu bahwa dirinya juga memiliki seorang istri, namun apakah nanti ia akan mampu untuk melupakan Lisa?.
Matanya menatap wanita yang masih begitu ia cintai. Dimas berusaha mencari tatapan cinta Lisa Kepadanya seperti saat dahulu, namun ia sama sekali tak menemukannya.
Ia pun mulai menyadari bahwa cinta Lisa untuknya sudah pergi. Dan di saat itu pula Dimas tanpa sengaja melihat selulit tubuh istrinya yang berjalan menjauh dari sana.
Hingga iapun tersadar bahwa ia sudah begitu menyakiti hati istri yang selalu sabar menanti dirinya.
Lalu Dimas kembali menatap kedua pasangan suami istri tersebut. Ia akan berusaha untuk mengikhlaskan Lisa.
"Baiklah, Aku akan mempercayakan Lisa kepadamu. Jangan pernah sekalipun Kau menyakitinya,' ucap Dimas menatap tajam Adrian.
"Tidak akan pernah!." Adrian berucap dengan mantap.
"Lisa, maafkan Aku karena sudah mengusik kehidupan kalian. Aku akan mendoakan kebahagiaan mu," ucap Dimas tulus.
Ia memutuskan untuk menyerah, mulai sekarang ia akan mulai menerima istrinya.
"Aku juga mendoakan kebahagiaan mu Dimas," ucap Lisa tersenyum. Ia lega Dimas dapat mengerti semuanya.
__ADS_1
Dimas pun pergi dari sana dan hendak menemui istrinya yang sempat ia lihat di sana tadi. Dimas yakin bahwa istrinya tadi mengikutinya.
Sedangkan Adrian kini menatap tajam Lisa.
"Kenapa Kau menatapku?," tanya Lisa heran.
"Kenapa Kau tidak membangunkan ku hum. Apa Kau sengaja untuk bertemu dengannya tadi?," tanya Adrian dengan menatap istrinya penuh selidik.
"Aduh Abang ku sayang, Aku sampai lelah membangunkan mu. Dan untuk Dimas, Aku tidak tahu kalau dia juga ada di sini." Lisa menjelaskan dengan memutar bola matanya.
"Kau tidak bohong?."
Lisa kembali memutar bola matanya, lalu iapun kembali berlari untuk meneruskan joging paginya.
"Sayang, Aku bertanya lho, kenapa malah Aku yang di tinggal sendiri di sini?." Adrian mulai protes, namun iapun langsung berlari menyusul istrinya.
***
Seorang wanita bernama Tina sedang mengepak baju-bajunya. Ia memutuskan untuk pergi dari villa tersebut.
Hatinya tak mampu lagi untuk mendengarkan bahkan melihat suaminya yang terus menerus mengejar orang yang dicintainya.
Ia memutuskan untuk berpisah dari suaminya.
Dimas memanggil nama istrinya. Iapun berjalan menuju kamar tempat dimana ia dan istrinya tidur.
Dimas membuka pintu kamarnya, ia melihat istrinya yang tengah mengemasi pakaiannya.
Dimas berjalan mendekat.
"Kau sedang apa?," tanya Dimas mengerutkan keningnya.
"Aku memutuskan untuk pulang Dimas, dan Aku juga akan mengurus surat perceraian kita," ucap Tina dengan air mata.
Dimas terkejut. "Apa maksudmu?!, Kenapa Kau memutuskan tanpa bertanya kepada ku?!." Dimas rasanya begitu marah mendengar ucapan istrinya itu.
"Bukankah Kau sudah menemukan perempuan yang Kau cintai?, Aku sudah lelah Dimas. Aku akan membiarkan mu untuk meraih kebahagiaan mu. Jadi sebaiknya kita berpisah saja, karena Aku tidak ingin menghalangi cinta mu lagi."
Dimas langsung mencekal tangan Tina dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk pergi. Kau adalah istri ku. Aku sudah memutuskan untuk memulai kembali lembaran baru bersamamu. Jadi Aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk pergi dariku," ucap Dimas.
Tina terperanjat, ia berpikir Dimas akan menceraikannya. Namun kini suaminya malah memintanya untuk tetap bersamanya dan membuka lembaran baru.
__ADS_1
"Apa Kau serius Dimas?," ucap Tina tak percaya.
"Tentu saja, Kau mau kan?."
Tina begitu bahagia mendengar ucapan suaminya. Rasanya ia tidak percaya bahwa suaminya itu telah memilihnya.
"Apa Kau tidak ingin kembali dengannya Dimas?," tanya Tina memastikan.
"Aku memutuskan untuk bersamamu, Dan dia juga sudah bahagia saat ini. Jadi mulai sekarang Kau tidak perlu khawatir, karena Aku akan berusaha untuk mencintai mu Tina," ucap Dimas memeluk erat tubuh istrinya.
Sungguh Lisa begitu bahagia, iapun membalas pelukan suaminya.
***
Hari ini Aya telah memasak makanan kesukaan suaminya. Aya berniat untuk ke kantor suaminya membawakan bekal makan siang Bryan.
Sebelum berangkat, Aya telah menelpon seseorang. "Bagus, Kau lakukanlah dengan baik, Aku akan segera kesana," ucap Aya, kemudian iapun menutup panggilan telepon tersebut.
Dengan membawa makan siang suaminya, iapun segera berangkat di antarkan oleh sang supir.
Aya terus saja tersenyum memikirkan sesuatu.
Hingga mobilnya sampai di parkiran kantor suaminya.
Lisa segera melangkah dan membawa bekal makan siang suaminya.
Sementara di ruangan Bryan, ada koleganya yang sedang membicarakan tentang sebuah kerjasama kerja yang wanita itu ajukan kepada Bryan.
Ya, koleganya kali ini adalah seorang wanita yang sangat cantik. Namun Bryan bagi Bryan istrinya lah yang tercantik.
Tapi kali ini Bryan merasa begitu aneh dengan wanita tersebut. Karena sedari tadi wanita itu berusaha untuk mendekatinya. Entah itu itu benar ataukah hanya perasaannya.
Bryan merasa lega karena mereka telah menandatangani kontrak kerjasama. Dan itu berarti wanita itu akan cepat pergi dari ruangannya.
"Senang bisa bekerjasama dengan perusahaan Anda Tuan Bryan," ucap wanita itu mengulurkan tangannya berniat menjabat tangan Bryan.
Bryan pun menjabat tangan wanita tersebut. Namun saat akan melepaskannya, tiba-tiba wanita tersebut memeluknya. Dan itu membuatnya terkejut.
Bertepatan dengan itu, pintu ruangan Bryan terbuka.
"Ada apa ini?!," ucap Aya terlihat begitu marah.
***
__ADS_1