
Bryan, Aya dan Karl pun kembali menghampiri mereka di ruang tengah.
"Papa dan Mama memutuskan Eve boleh berlibur bersama Karl," ucap Bryan membuat semua yang ada di sana tercengang kecuali Eve.
Ax yang mendengarnya pun menghampiri kedua orang tuanya.
"Kenapa Papa dan Mama mengizinkan Eve untuk pergi dengan orang asing?!, Ax tetap tidak akan setuju Eve pergi bersama dia!," ucap Ax dengan penolakan
"Eve tetap akan pergi Ax, dan itu sudah keputusan Mama dan Papa!." Bryan berkata dengan tegas.
"Beri Ax alasan kenapa Papa dan Mama mengizinkan Eve pergi bersama pria asing," ujar Ax.
" Maaf Ax, tapi untuk saat ini kami belum bisa mengatakan alasan kenapa kami mengizinkan Eve untuk pergi bersama Karl," ucap Bryan datar.
Dan itu semua membuat Ax begitu tidak terima akan keputusan papanya. Ax pun segera mengambil kunci mobilnya dan pergi dari sana.
"Ax, tunggu!," teriak Ayumi dan langsung mengejar Ax.
Sementara Eve menatap sendu Ax yang pergi dari sana. "Kenapa kak Ax begitu tidak ingin Aku pergi bersama kak Karl?, sebenarnya apa yang Kau inginkan kak. Bukankah Kau tidak mencintai ku?," ucap Eve dalam hati.
Bryan menghela nafas panjang. " Eve, kalian bisa berangkat lusa, Papa dan Mama selalu mendoakan kebahagiaan mu nak," ucap Bryan menatap sendu Eve. Lalu ia pun memeluk Eve.
Sementara Aya menitihkan air matanya, ia tidak menyangka putri yang ia besarkan sudah berumur 20 tahun. Kini Eve sudah beranjak dewasa. Rasanya Aya tidak ingin kehilangan Eve, ia ingin Eve tetap menjadi putrinya.
"Kenapa selama 20 tahun ini rasanya begitu sebentar Eve?, papa sangat menyayangi mu. Kau adalah putri Papa nak," ucap Bryan yang juga hampir menitihkan air matanya.
Eve mengerutkan keningnya, ia heran kenapa Mama dan Papanya tiba-tiba menjadi begitu sendu. Ia pun menatap Karl dan menyipitkan matanya. Eve merasa penasaran dengan apa yang Karl katakan kepada Mama dan papanya hingga tiba-tiba mengizinkannya pergi.
"Mama dan Papa kenapa tiba-tiba mengizinkan Eve pergi bersama Karl?," tanya Bintang.
"Maafkan Papa dan Mama, Bintang. Kami belum bisa menceritakannya, tapi suatu saat nanti Mama dan Papa pasti akan menceritakan semuanya kepada kalian," ucap Bryan kepada putranya.
***
Malam harinya
Eve merasa begitu khawatir karena sudah hampir tengah malam Galaxy belum pulang juga.
"Kemana kak Ax pergi?, kenapa dia belum pulang. Apakah kak Ax bersama Ayumi?," ucap Eve begitu cemas.
Memikirkan Ax yang bersama Ayumi, Eve pun menjadi kesal. Ia pun memutuskan untuk tidur.
Sementara Ax, kini ia tengah mabuk di sebuah club malam. Setelah mengantarkan Ayumi ke apartemen yang Ax sewakan, Ax langsung pergi ke club malam. Rasanya Ia ingin sekali marah akan takdir yang membuatnya tidak bisa bersatu dengan gadis yang sangat Ia cintai.
Ax meneguk beberapa gelas minuman beralkohol itu, dengan merutuki semua takdir yang Ia jalani saat ini.
Hingga Ax teringat akan Eve yang akan pergi bersama Karl. Ia segera menghentikan minumnya dan segera beranjak dari sana.
Ax memutuskan untuk pulang ke rumah, walaupun Ax mabuk, tapi Ia masih begitu sadar untuk mengemudikan mobilnya.
Hingga beberapa saat, mobilnya pun sampai di rumah. Ax segera melangkah masuk kedalam rumah. Sepanjang Ia berjalan menyusuri rumahnya, bayangan dirinya dan Eve dulu selalu terputar dalam memorinya.
__ADS_1
Kakinya terus melangkah seiring rasa asa yang terus membuat hatinya begitu resah. Ia begitu takut kehilangan Eve dalam hidupnya.
Hingga akhirnya Ax pun sampai tepat di depan pintu kamar Eve. Ax kembali teringat dirinya dulu sering sekali tidur di kamar Eve. Dulu Eve tak pernah mengunci pintu kamarnya, hingga tangannya pun meraih kenop pintu tersebut dan membukanya.
Dan ternyata gadisnya masih belum berubah, Ia masih Eve nya.
Ax pun kembali menutup pintu tersebut dan dilihatnya Eve yang nampak terlelap di atas kasurnya dengan begitu pulas.
"Kau tidur senyenyak itu, apa Kau benar-benar tega meninggalkan ku bersama pria itu Eve?," gumamnya.
Ax berjalan mendekati Eve, di usapnya pipi gadis yang begitu ia cintai itu. Hingga Ax pun menyusul ke tempat tidur Eve dan membaringkan tubuhnya di samping Eve.
Ax terus memandangi wajah Eve. Ia menarik Eve masuk kedalam pelukannya dan mencium keningnya berkali-kali. "Aku mencintaimu Eve, sangat mencintaimu," ucap Ax sebelum memejamkan matanya menyusul gadis manisnya terlelap.
***
Keesokan harinya, Eve terbangun karena merasa tubuhnya tak dapat di gerakkan. Rasanya begitu sesak, namun Ia terkejut saat melihat tangan kekar yang tengah mendekap tubuhnya.
Namun bau parfum maskulin khas seseorang yang begitu Ia kenali membuatnya mendongak menatap siapa pemilik tangan kekar yang memeluknya itu.
"Kak Ax, sudah kuduga," ucapnya pelan.
Eve pun berusaha melepaskan pelukan Ax dari tubuhnya.
Akhirnya Ax pun terbangun karena merasakan Eve yang terus saja bergerak-gerak berusaha melepaskan pelukan darinya.
"Eve," panggil Ax.
Namun bukannya melepaskan, Ax justru membalikkan tubuh Eve sehingga menghadapnya.
"Apa Kau benar-benar akan meninggalkan ku Eve," tanya Ax menatap kedalam manik mata Eve.
"Apa maksud kak Ax?, bukankah bila Aku pergi itu akan menjadikan kak Ax lebih baik?. Bukankah Eve tidak ada artinya untuk kak Ax?," ucap Eve yang mulai berkaca-kaca.
Ax kembali merengkuh Eve kedalam pelukannya, Ia begitu tidak suka mendengar perkataan Eve.
"Jangan pernah berkata seperti itu Eve, karena Kau begitu sangat berarti untukku."
"Kak Ax, lepaskan Aku. Setidaknya dengan Aku pergi, kakak bisa bahagia bersama kak Ayumi. Benar begitu kan?," ucap Eve yang terdengar begitu sumbang. Rasanya Ia ingin sekali menangis sejadinya. Eve kembali mengingat bagaimana Ax begitu mendalami ciumannya bersama Ayumi waktu itu.
"Aku tidak akan pernah bahagia Eve, tanpamu Aku tidak akan pernah bisa bahagia, Kau harus tahu itu," jelas Ax.
"Kenapa kak Ax seperti ini?, Kau berkata seolah Kau mencintai ku. Tapi pada dasarnya Kau mencintai kekasih mu kan kak?. Aku bisa melihat kak Ax begitu mencintai kekasih kakak saat melihat kak Ax begitu mendalami berciuman dengan kak Ayumi. Jadi sebaiknya lepaskan Aku kak. Aku harus segera mengemasi bajuku, kak Karl pada sudah menunggu ku," sahut Eve menahan tangisnya.
Ax menggelengkan kepalanya, Ia tidak akan membiarkan Eve pergi bersama Karl. Ax pun kembali menatap wajah Eve dengan pandangan sendu.
Dengan cepat Ax membenamkan bibirnya pada bibir Eve dan me..lu..matnya pelan.
Awalnya Eve memberontak, namun Ia juga tidak munafik karena dia begitu mencintai pria yang sudah dua kali menciumnya itu, menurut Eve.
Mereka terus saja tenggelam akan indahnya cinta yang mereka rasakan saat ini. Hingga tanpa sadar tangan Ax berhasil membuat tubuh Eve polos seketika.
__ADS_1
Dan terjadilah
skip
skip
skip
(bulan puasa 😆)
"Aku mencintaimu Eve," ucap Ax sebelum Ia kembali tertidur pulas setelah melewati pergulatan panas di antara mereka.
Pergulatan yang awalnya terasa begitu sakit untuk Eve namun lama-lama membuatnya seakan terbang melayang seiring permainan yang Ax ciptakan untuknya.
Eve yang melihat Ax terlelap pun mulai beranjak dari sana. Ia merutuki dirinya yang terhanyut dalam cinta yang masih begitu ambigu menurutnya. Namun Ia teringat akan ucapan terakhir Ax sebelum memejamkan matanya dan mengatakan bahwa Ax mencintainya.
"Benarkah yang kak Ax katakan tadi?, ah sudahlah, Aku harus segera mengemasi pakaianku. Kak Karl pasti sudah menunggu ku," ucap Eve. Ia pun mulai melangkahkan kakinya, namun Ia mendesis merasakan sakit di bawah sana. Rasanya benar-benar sakit.
Tapi Eve harus cepat, Ia pun akhirnya memaksakan berjalan menuju bathroom untuk membersihkan dirinya.
***
Eve Memeluk Aya, Bryan, Bintang dan Divya sebelum memasuki mobil Karl. Sementara Eve melihat Divya yang nampak cemberut menatapnya.
"Kak Di kenapa?, tanya Eve menatap Divya.
"Kau berjanji akan menceritakan semuanya pada ku, semalam Aku menunggu mu Eve, tapi Kau tidak datang ke kamar ku,' ucap Divya cemberut.
Eve menepuk keningnya menyadari hal itu. "Maaf kak Di, nanti setelah Aku kembali, Aku akan menceritakan semuanya kepada kakak," ucap Eve merasa bersalah.
"Kau harus janji," ucap Divya.
"Siap kak."
"Sayang, Kau berjanji akan kembali kan?," tanya Aya.
"Iya Ma, Eve pasti akan kembali," jawab Eve tersenyum.
Lalu Ia melambaikan tangannya saat mobil Karl meninggalkan rumah Bryan.
Eve terlihat nampak sedih saat ini. Melihatnya pun Karl bertanya kepada Eve.
"Ashy, apa Kau sudah memakai kalung yang di berikan oleh Mama mu?," tanya Karl berusaha mengalihkan kesedihan Eve.
"Maksud kakak kalung ini," ucap Eve menunjukkan sebuah kalung dari sakunya.
"Kau belum memakainya?"
Eve menggelengkan kepalanya menatap Karl yang menepuk keningnya sendiri.
***
__ADS_1