Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 116 (season 2)


__ADS_3

"Bagaimana Di bisa seperti ini?!" Denis menyuntikkan cairan di tubuh Divya. Rasa khawatir mulai ia rasakan saat tubuh Divya tak merespon setelah Denis menyuntikkan cairan obat tersebut.


"Waktu itu Aku sudah memperingatkan Divya untuk tidak melakukan hal yang membuatnya lelah, ataupun yang membuat emosinya tidak stabil. Dan sekarang lihatlah yang terjadi. Apa Kau tidak bisa menjaga istrimu!?" Denis berkata dengan begitu geram.


"Apakah penyakitnya begitu parah?" Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Sean. Ia seakan tak mendengar apapun yang orang lain katakan padanya.


Fokusnya tertuju pada istrinya yang terbaring lemah dan pucat. Hatinya begitu sakit melihatnya.


"Dia mengidap liver cancer. Dan itu sudah mulai menyebar ke organ lain di tubuhnya. Tapi kita bisa mencegahnya. Namun harapan berhasilnya sangat tipis," ucap Denis. ia seperti sedang menahan perasaan tidak tega melihat Divya saat ini.


Sean termangu. Rasanya otaknya tak mampu bekerja setelah mendengar penuturan dari Denis.


"Emh...." Suara itu begitu jelas terdengar dari bibir Divya.


Membuat kedua pria di sampingnya menoleh ke arahnya.


Sean segera mendekati Divya. Di kecupnya kening istrinya berkali-kali. Dan itu membuat Denis melengos ke arah lain.


"Sean," ucap Divya kala melihat Sean di depannya. Tangannya langsung memeluk tubuh suaminya.


"Aku takut sekali Sean. Di mana pria itu?" Divya masih mengingat kejadian beberapa saat lalu.


Sean dengan lembut mengusap punggung istrinya. Akhirnya Divya membuka matanya. Sungguh melihat istrinya yang begitu pucat dan menutup matanya membuat jantungnya berpacu cepat.


"Tidak akan terjadi apapun dengan mu Di. Aku ada di sini." Sean terus mengusap punggung Divya. Sesekali ia menciumi kepala istrinya itu.


Denis hanya mengelus dadanya melihat pemandangan di depannya itu. Namun Denis juga merasa lega melihat Divya yang kini sudah tersadar.


Wajahnya pun tak sepucat tadi. Itu berarti obat yang ia suntikan bekerja dengan baik.

__ADS_1


"Hei! Apa kalian melupakan ku? Aku masih berada di sini kalau kalian lupa," ucap Denis mendengus.


Menyadari suara Denis di sana, Divya menoleh. Ia tidak menyadari kehadiran Denis sejak tadi. Ia berpikir hanya ada Sean di sana.


"De... Denis?" Divya terkejut.


Sean menghadapkan wajah Divya ke arahnya. "Sudah jangan hiraukan dia."


"Ck, dasar bucin," cibir Denis.


Sean hanya menatap tajam ke arah Denis. Bila sebelumnya ia membenci para pria yang bucin. Kini dirinya sendiri yang mengalami kebucinan yang begitu akut.


Denis berjalan menghampiri Sean dan Divya. Dan itu membuat Sean begitu siap siaga. Dengan sigap ia memeluk tubuh Divya dengan erat.


"Kau mau apa? Pergi sana!" usir Sean.


Sean hanya tersenyum canggung. Ia terlalu posesif bila menyangkut Divya.


"Baiklah, Aku akan menebus obatnya. Tapi ingat! jangan dekat-dekat dengan istri ku!" Sean memperingatkan Denis.


Sementara Denis hanya geleng-geleng kepala melihat Sean yang teramat sangat bucin.


"Iya, Kau tenang saja. Kau pikir Aku pria yang suka merebut istri orang lain apa!?" tandas Denis.


"Baiklah, kalau begitu Aku akan menebus resep obat ini dulu. Di, Kau tidak boleh menatapnya bila sedang berbicara dengannya," pesan Sean.


Sementara Divya hanya menganggukkan kepalanya saja dan menuruti perintah Sean.


Sean berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ia harus menebus resep obat tersebut dengan cepat. Karena Sean tidak ingin meninggalkan Divya terlalu lama bersama dengan Denis.

__ADS_1


"Denis," panggil Divya.


"Ada apa Di?" jawab Denis.


"Kenapa sikap Sean menjadi seperti itu? Kau tidak memberitahu tentang penyakitku kan?" tanya Divya.


Denis terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi Sean memang sudah tahu tentang penyakit yang di derita Divya.


"Sebenarnya Sean sudah mengetahui tentang penyakitmu Di. Jadi Aku tidak perlu repot-repot untuk memberitahunya. Karena memang seharusnya dia tahu," jelas Denis


Divya pun terkejut. Ia jadi berpikir mungkinkah perubahan sikap Sean padanya karena merasa kasian dengannya. Mungkinkah itu?


Divya merasakan hatinya sesak. Ia sudah berpikir Sean menyukainya. Dan kini ia mengambil kesimpulan bahwa perubahan Sean karena kasihan saja dengannya.


Divya menundukkan kepalanya. Hatinya menjadi sesak memikirkan hal itu.


"Kau kenapa Di?" tanya Denis saat melihat perubahan wajah Divya.


"Aku tidak apa-apa Denis. Bisakah Kau tinggalkan Aku sebentar?"


"Tapi Aku harus menunggu suami mu kembali Di. Aku tidak ingin dia marah padaku karena sudah membiarkanmu sendirian," tandas Denis.


"Tapi Aku benar-benar ingin sendirian saat ini Denis! Tolong mengertilah!" pinta Divya.


Denis pun akhirnya pasrah. Ia pun menuruti Divya dan keluar dari ruangan itu.


***


Mohon maaf semua 🙏, othor sedang tidak fokus. Jadi berantakan semuanya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2