Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 74


__ADS_3

Aya menatap sendu tubuh suaminya yang tak berdaya terbaring lemah di ruang ICU. Matanya mengeluarkan likuid bening, menandakan betapa sakitnya melihat keadaan suaminya saat ini.


Tangannya mengulur mengusap lembut punggung tangan suaminya. Perlahan, ayah pun menggenggam tangan suaminya.


"Sayang, bangunlah!. Apa kau tidak ingin melihatku?, Apa kau tidak ingin melihat kedua putra kita?. Bangunlah sayang, Aku ingin kau bangun." Aya kembali terisak air matanya luruh dengan begitu derasnya.


Hatinya seakan tak tega untuk melihat tubuh suami yang tak berdaya terbaring lemah di sana. Aya terus saja mengucap nama suaminya, memanggil nama suaminya, berharap suaminya itu akan terbangun.


Ayah terus saja memegang tangan suaminya ia ingin sekali menunggu suaminya di sana. Namun, perawat datang dan menegurnya.


"Nona Anda harus kembali ke ruang rawat anda. Kondisi Anda belum terlalu pulih, Anda masih membutuhkan perawatan nona," ucap perawat pada Aya.


Rasanya ayah tak ingin beranjak dari sana, ia ingin terus menemani suaminya di sana. Tapi papa mertuanya dan ayahnya datang. Mereka pun ikut menegur Aya untuk kembali ke ruang rawatnya.


"Nak, Kau harus kembali, kondisi mu juga masih lemah. Papa yakin suamimu pasti tidak ingin melihatmu terpuruk seperti ini. Kau harus memulihkan kondisi mu dulu nak." Bagaskara berucap selembut mungkin agar menantunya itu tidak keras kepala.


"Tapi pa, Aya ingin menemani suami ku disini, lihatlah pa, suamiku tengah terbaring lemah. Kenapa semua kebahagiaan ku terenggut begitu cepat. Kami baru saja merasakan kebahagiaan dalam hidup kami. Tapi Tuhan begitu cepat merenggutnya dari kami." Aya kembali menangis.


Dan membuat Bagaskara dan Hendra pun ikut menitihkan air mata. Mereka segera menenangkan Aya dan membujuknya untuk kembali ke ruang rawatnya.


***


Sembilan bulan kemudian


Dua anak kembar sedang menangis memperebutkan mainan yang dimilikinya. Sehingga keduanya saling berteriak dan membuat seisi rumah begitu gaduh untuk memisahkan keduanya yang saling berteriak.


Sementara Aya yang baru pulang dari kantornya pun ikut melerai kedua putranya yang sering sekali berebut mainan.


Ya, kini Aya telah sembuh. Kakinya sudah dapat berjalan seperti semula. Sebelumnya Aya menjalani terapi secara rutin agar ia cepat bisa berjalan kembali. Dan itu membutuhkan waktu hampir 7 bulan lamanya.


"Bintang, Galaxy, kalian ini selalu saja berebut mainan. Bukankah Mama sudah membelikan kalian mainan yang sama. Kenapa saling berebut mainan hum?!." Aya mencoba untuk bersikap lembut.


Bintang dan Galaxy menatap Aya lalu mereka berdua berjalan dengan tertatih menuju Mama mereka.


"Ma-ma, ma-ma...," ucap dua bocah kembar yang berumur satu tahun lebih itu. Mereka memang belum fasih untuk berbicara.


Aya segera memeluk kedua putranya mengecup keningnya satu persatu. Ia tersenyum menatap kedua putranya itu.


"Mama, Aci atan ma, inan Itang di ambin ma Aci ma," rengek Bintang. Bocah kecil itu mulai mengadu kepada Mamanya dengan yang di lakukan saudara kembarnya.(🙄😂)


Sedangkan Aya begitu gemas dengan celotehan Bintang yang menurutnya begitu lucu. Karena bicaranya yang belum begitu fasih dan masih cadel.


Di pelukannya kedua putranya dengan erat, lalu Aya menatap Galaxy tersenyum. "Kenapa Ax merebut mainan Bintang hum?," tanyanya begitu lembut.


Sementara Ax hanya mengedipkan matanya lalu tertawa. Membuat Aya menggelengkan kepalanya dengan putranya itu. Pasalnya Ax memang sering sekali jahil kepada Bintang.


"Yasudah, kalau begitu Mama mau mengajak kalian untuk bertemu dengan Papa, siapa yang mau ikut?."


"Itang ma," ucap Bintang


"Aci uga ma," sahut Galaxy.


"Baiklah, kalau begitu Mama mandi dulu ya, Bintang dan Galaxy juga harus mandi. Nanti kita berangkat bersama," ucap Aya menggendong kedua putranya menuju kamar mereka.


"Lusi, Sari tolong mandikan Bintang dan Galaxy ya?."


"Siap Nona," ucap keduanya.


Aya menyerahkan Bintang dan Galaxy kepada kedua Nany mereka. Kemudian iapun berjalan menuju kamarnya.


"Aya," panggil Bagaskara.


Aya membalikkan badannya mendengar namanya di panggil.

__ADS_1


"Papa, iya ada apa Pa?," tanya Aya.


Bagaskara menatap sendu ke arah menantunya itu. Lalu iapun berjalan mendekat ke arah menantunya.


"Papa membebaskan mu untuk mencari kebahagiaan mu sendiri nak. Apa Kau tidak ingin mencari seseorang yang bisa melindungi mu?." Bagaskara merasa begitu kasihan kepada menantunya itu.


"Maksud Papa apa?, Aya sungguh merasa bahagia dengan kehidupan Aya saat ini."


"Tapi apa Kau tidak lelah nak, Kau harus mengurus perusahaan dan kedua cucuku, sementara Papa tahu Kau begitu membutuhkan sandaran. Apa Kau tidak lelah dengan semua itu?, Apa Kau tidak lelah menunggu putra Papa yang masih terbaring di rumah sakit. Dokter sudah mengatakan mungkin putra Papa tidak akan bangun lagi," ucap Bagaskara menitihkan air matanya.


Aya berusaha untuk menolak apa kata Papa mertuanya itu. Sampai kapanpun Aya tidak akan pernah meninggalkan suaminya. Berapa kali pun Papa mertuanya menyuruhnya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Namun Aya tetap bersikukuh untuk menunggu suaminya terbangun dari komanya.


Ya, sampai saat ini Bryan belum membuka kedua matanya. Waktu itu kondisi Bryan sempat menurun dan kritis. Dokter sudah mengatakan bahwa mungkin Bryan tidak akan bisa hidup tanpa alat medis yang terpasang pada tubuhnya.


Aya begitu terpuruk waktu itu, namun ia yakin bahwa suaminya akan terbangun dan kembali bersamanya dan keluarga kecilnya.


"Aya tidak akan pernah meninggalkan suami Aya pa, karena Aya sangat mencintai putra Papa. Berapa kali pun Papa menyuruh Aya untuk mencari kebahagiaan Aya, Aya tidak akan pernah meninggalkan putra Papa. Karena putra Papa adalah kebahagiaan Aya," tandas Aya.


Bagaskara merasa beruntung karena memiliki menantu seperti Aya. Padahal Bagaskara sudah melimpahkan seluruh harta warisannya kepada Aya. Namun Aya tetap setia menunggu putranya tersadar.


"Terimakasih karena sudah mencintai putra Papa dengan begitu tulus nak." ucap Bagaskara mengusap kepala Aya.


"Iya pa. Kalau begitu Aya mau bersiap dulu karena Aya mau menemui suami Aya," ucap Aya tersenyum dan di balas senyuman oleh Bagaskara.


Aya segera menuju kamarnya untuk bersiap menuju ke rumah sakit untuk menemui suaminya bersama kedua putranya.


***


Sampai di rumah sakit, Aya menuju ke ruangan suaminya. Ia tersenyum saat melihat kedua putranya yang berhamburan dan menaiki tangga kecil agar sampai dan mencium pipi Papanya.


Keduanya menciumi pipi Bryan dengan begitu lucunya.


"Pa-pa, apan pa-pa angun, Intang dan Aci mau ain ama pa-pa," celoteh Bintang dengan begitu lucunya.


Ia pun berjalan mendekati suaminya dan kedua putranya yang terus saja berceloteh itu. Lalu seperti biasa, ia akan menceritakan tentang segala hal kepada suaminya.


Hingga beberapa saat, pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Adrian dan Lisa di sana.


Kedua bocah kembar itu begitu antusias menatap ke arah pintu. Karena mereka melihat temannya di sana, yaitu Divya.


Mereka merengek minta di turunkan karena ingin menemui Divya yang kini masih dalam gendongan Lisa.


"Iva ayo uyun main ama Intang dan Aci," ucap Galaxy menyuruh Divya untuk turun.


Lisa segera menurunkan Divya, sehingga Divya pun langsung bergabung bersama kedua anak kembar itu. Mereka berbicara dengan cadel dan membuat ketiga orang tua itu terkikik geli mendengarnya.


"Lusi, Sari, ajak anak-anak untuk ke taman. Biarkan mereka bermain," tukas Aya kepada pengasuh kedua putranya.


Ketiga bocah itupun pergi ke taman yang ada di rumah sakit bersama dengan para pengasuhnya.


Lisa dan Adrian mulai mendekat ke arah Bryan dan Aya.


"Bagaimana kabar mu Ay?," tanya Adrian.


"Seperti yang kalian lihat, Aku baik-baik saja." Jawab Aya dengan menampilkan senyumnya.


"Aku begitu salut padamu Aya, Kau begitu mencintai suamimu." Lisa merasa salut dengan keteguhan cinta Aya kepada suaminya.


"Ya, Aku sangat mencintainya Lisa, dan Aku menunggu sebuah keajaiban yang akan menyatukan kita kembali," ucap Aya seraya menatap ke arah suaminya.


Adrian pun menatap kakak sepupunya itu.


"Lihatlah Bry, istri mu terus saja menunggumu, apa Kau tidak ingin bangun?. Apa Kau tahu kalau di kantor banyak sekali kolega dan yang menyukai istri mu?. Apa Kau mau istrimu di rebut oleh pria lain?, Ayolah bangun Bryan!," ucap Adrian dengan sedikit menggoda kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Sementara Aya menatap tajam ke arah Adrian. Namun Adrian hanya acuh tak menghiraukan tatapan tajam sahabatnya itu.


Lisa pun ikut mencubit lengan suaminya karena ucapan suaminya yang selalu saja menggoda sepupunya itu.


"Kenapa dengan kalian?!, Aku hanya mencoba untuk membuat Bryan bangun. Memangnya apa salahnya?," ucap Adrian tanpa dosa.


Namun tiba-tiba jari Bryan nampak bergerak dalam genggaman Aya. Dan itu membuat Aya begitu terkejut dan langsung menatap kearah suaminya.


"Sayang, Kau menggerakkan jarimu?, Kau merespon ucapan kami?."


Jari itu pun terus bergerak, kelopak mata Bryan mulai bergerak,dan itu sungguh sebuah keajaiban. Aya terlampau senang melihat semua itu. Air matanya kembali menetes, namun kali ini karena bahagia. Setelah sekian lama ia menunggu, akhirnya kini suaminya mulai tersadar.


Dan mata itu pun terbuka sempurna.


"A... air," ucap Bryan pertama kali setelah ia terbangun.


"Kau ingin minum sayang, baiklah Aku akan mengambilkannya.


Aya segera memberikan minum kepada suaminya. Sementara Adrian dan Lisa yang melihatnya pun begitu bahagia melihat Bryan yang tersadar.


Setelah memberikan minum untuk suaminya, Aya kembali menaruhnya di atas nakas.


"Sayang, Aku sangat merindukanmu," ucapnya seraya memeluk suaminya.


Namun Bryan nampak bingung dengan semuanya.


"Kamu siapa?," ucap Bryan dan membuat Aya begitu terkejut dan mematung. Lalu iapun melepaskan pelukannya.


Sama halnya dengan Aya, Adrian dan Lisa pun begitu terkejut.


"Sayang, Aku istri mu, apa Kau tidak mengenal ku?," tanya Aya dengan berderai air mata. Ia ingin memastikan apakah suaminya itu mengalami amnesia seperti yang dokter katakan waktu itu.


"Tapi Aku tidak mengenal mu, siapa Kau?," ucap Bryan kembali.


Aya menggelengkan kepalanya, rasanya ia begitu kalut. Setelah menunggu sekian lama, dan setelah suaminya tersadar ternyata suaminya tidak mengenali dirinya.


"Aku akan memanggil dokter," ucap Aya dan langsung pergi dari sana.


Setelah beberapa saat kemudian, Aya datang bersama dokter. Lalu dokter itu segera memeriksa kondisi Bryan saat ini.


"Kondisi Tuan Bryan sudah stabil Nona, beliau telah sembuh saat ini," ucap dokter membuat Aya begitu lega.


"Tapi kenapa suami saya tidak bisa mengingat saya dok?." tanya Aya kembali.


Dokter menghela nafasnya. "Saya sudah mengatakan sebelumnya Nona. Kemungkinan dari operasi yang di lakukan waktu itu adalah membuat Tuan Bryan mengalami amnesia. Mungkin hanya akan sementara, tapi juga mungkin bisa membuat Tuan Bryan kehilangan ingatannya untuk selamanya," tutur dokter membuat Aya kembali begitu sedih. Air matanya kembali luruh.


Sementara Bryan yang melihat Aya menangis, menatapnya begitu sendu.


Setelah menjelaskan semuanya, dokter pun pergi dari sana. Dokter juga sudah membolehkan Bryan untuk bisa pulang.


Aya kembali mendekat ke arah suaminya. "Apa Kau sungguh tidak mengenali ku?," tanya Aya.


Bryan pun hanya menggelengkan kepalanya. "Apa Kau istri ku?," tanya Bryan.


Aya pun menganggukkan kepalanya, air matanya tidak berhenti mengalir dari pipinya.


"Kalau Kau benar istri ku, peluk Aku!. Aku ingin memastikan apakah Kau benar-benar istriku. Karena pasti Aku akan bisa merasakannya," ucap Bryan.


Aya pun segera memeluk tubuh suaminya yang tak sekekar dulu. Ia menumpahkan segala kerinduannya selama ini. Bryan pun membalas pelukan Aya, sejenak ia memejamkan matanya.


Sementara Adrian dan Lisa menatap jengah ke arah Bryan. Tapi mereka juga begitu bahagia melihat Bryan yang kini sudah tersadar.


***

__ADS_1


Tebak, apakah Bryan benar-benar mengalami amnesia 🤔. Jangan lewatkan kelanjutan ceritanya ya. Mungkin di bab selanjutnya part Aya dan Bryan akan othor tamatkan 😌😌


__ADS_2