
Sean segera kembali setelah menebus resep obat untuk istrinya. Rasanya sedetikpun ia tidak ingin meninggalkan istrinya.
Dengan cepat ia kembali memasuki ruangan istrinya.
Sean mengerutkan keningnya saat melihat tubuh Divya yang bergetar dan membelakanginya. Perlahan iapun mendekatinya.
Tangan Sean mengulur menyentuh punggung Divya. Membuat sang empunya terkejut dan menoleh.
"Sean," ucapnya lirih.
"Di, Kau kenapa? Apakah ada yang sakit? Kemana Denis, kenapa dia tidak menjaga mu di sini? Awas dia nanti!" Sean begitu kesal karena Sean tidak memperdulikan pasiennya.
"Aku tidak apa-apa, jangan memarahi Denis. Karena Aku yang menyuruhnya pergi." Divya mengusap air matanya.
"Kalau Kau tidak apa-apa, kenapa Kau menangis Di? Aku tidak ingin melihatmu menangis seperti ini," ucap Sean. Tangannya berusaha untuk meraih Divya. Sean ingin memeluk istrinya untuk menenangkannya.
Namun Divya berusaha menghindari pelukan Sean. Divya berpikir saat ini Sean begitu kasihan padanya
"Jangan menyentuh ku! Aku tidak ingin Kau mengasihani ku. Dan tolong jangan Kau beritahu Mama dan Papa kalau Aku berada di sini. Aku tidak ingin mereka khawatir," ucap Divya begitu datar.
Ia tidak ingin siapapun mengasihaninya. Termasuk Sean.
"Kau kenapa Di? Apa ada yang salah? Kenapa tiba-tiba Kau berubah seperti ini?" tanya Sean.
Namun Divya bibir Divya membisu. Ia bertekad untuk mengacaukan pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.
"Ayolah Di, katakan Kau kenapa?" Sean sungguh merasa bingung dengan sikap Divya. Rasanya ia ingin memeluk istrinya itu.
Tapi tidak apa-apa. Sean akan terus berusaha untuk melindungi Divya. Ia akan bersabar menghadapi istrinya itu.
Sean juga sudah merencanakan keberangkatan mereka untuk berobat di pulau miliknya.
Di sana ada tabib yang sangat terkenal dapat mengobati segala macam penyakit. Namun keberadaannya sulit untuk di temukan.
Walaupun begitu, Sean sudah menyebar seluruh anggota kelompoknya untuk mencari dimana keberadaan tabib tersebut.
__ADS_1
***
Kini mereka telah sampai di rumah. Divya menyuruh Sean agar Eve tidak mengatakan apapun kepada Mama dan Papanya bahwa ia tengah tak sadarkan diri hari ini. Divya juga menyuruh Sean agar tidak mengatakan tentang penyakitnya kepada siapapun.
"Sean," panggil Divya.
"Ya,ada apa Di? Apa ada yang Kau butuhkan sesuatu?" tanya Sean. Ia tidak ingin Divya kekurangan apapun.
"Tidak, Aku tidak membutuhkan apapun. Tapi bisakah Kau meninggalkanku. Aku ingin sendiri. Bisakah Kau tidur di kamar lainnya?" ucap Divya.
"Memangnya kenapa bila Aku tidur di sini? Lagipula kemarin-kemarin bukankah kita selalu tidur bersama?" Sean rasanya tak terima dengan permintaan Divya yang menurutnya aneh.
Sean merasa Divya berusaha untuk menghindarinya. Dan itu membuatnya tidak suka.
"Aku hanya tidak ingin membebani mu Sean. Aku adalah wanita yang sakit-sakitan. Dan Aku tidak ingin merepotkan mu," kilah Divya..
Sean langsung naik ke atas tempat tidur dan menyusul Divya di sana. Tangannya dengan cepat memeluk tubuh istrinya erat. Sean tidak ingin mendengar lagi apapun alasan Divya.
Rasanya begitu tidak enak saat Divya mengacanginya.
Divya terkejut. Jantungnya terpompa begitu cepat. Selalu saja seperti ini saat Sean berada di dekatnya. Pikirannya ingin menolak pelukan Sean, namun hatinya seolah menolak. Ia begitu menginginkan pelukan tersebut.
Untuk sesaat Divya terlena. Pelukan suaminya benar-benar hangat.
"Sebenarnya seharian ini Kau kenapa Di? Apa Aku melakukan kesalahan terhadap mu? Aku tidak ingin Kau mengacuhkan ku seperti ini." Sean berkata begitu lembut. Tangannya terus saja mengusap lembut punggung Divya.
Divya memejamkan matanya. Ia merasa hidupnya begitu ironis. Rasanya ia tak dapat menahan perasaannya terhadap pria yang memeluknya itu.
Tapi Divya juga tidak ingin Sean kasihan padanya. Salahkah dirinya jika ia ingin memiliki Sean sepenuhnya?. Tanpa ada embel-embel rasa kasihan karena penyakitnya?.
Divya terus saja berpikir bahwa perubahan sikap Sean karena merasa kasian padanya akan penyakit yang ia derita.
"Sean"
"Ada apa Di, katakanlah."
__ADS_1
"Bagaimana kalau Kau menceraikan ku," ucap Divya.
Sean mengepalkan tangannya mendengar ucapan Divya. Jantungnya terpompa cepat. Katakan cerai dari bibir Divya seakan bara api yang kini tengah membakar tubuhnya.
Ia tidak terima dengan permintaan Divya. Permintaan yang tidak akan pernah ia turuti.
"Sebenarnya apa mau mu Di? Kenapa tiba-tiba Kau meminta perpisahan dariku? Aku ingin mendengar alasannya saat ini juga," tegas Sean.
"Aku hanya berpikir bahwa tidak ada kecocokan di antara kita. Bukankah lebih baik mengakhiri hubungan ini dari pada meneruskannya? Kau juga bisa mencari gadis yang lebih segalanya. Lagipula kita menikah juga bukan karena cinta Sean," tutur Divya membuat Sean semakin marah.
"Aku tidak memerlukan gadis manapun untuk menjadi istri ku kecuali Kau Di. Dan Aku tidak akan pernah menuruti keinginan mu itu. Seberapa keras Kau memohon, Aku tidak akan menceraikan mu!" ucap Sean Sean dengan tegasnya.
Matanya menyiratkan kekecewaan mendengar permintaan perpisahan dari Divya. Hatinya menjadi kelu untuk mendengar ucapan Divya selanjutnya.
Sebenarnya apa isi yang ada di otak istrinya itu sehingga Divya menginginkan perceraian. Apakah karena Divya tidak mencintainya. Apa dirinya bukanlah pria yang Divya inginkan.
Semua pemikirannya bergelut indah dalam hatinya.
Sean frustasi. Perasaannya mulai menggila mengingat ucapan Divya barusan. Apakah perhatiannya selama ini tidak berarti apa-apa untuk istrinya itu?
Sean menatap Divya begitu dalam. Divya pun menatapnya. Terdapat kesedihan dari pancaran mata istrinya. Hingga membuatnya ingin sekali memeluk dan melindungi gadisnya.
Sean merengkuh tubuh Divya. Bibirnya terus mengecupi kepala istrinya. Memberikan kenyamanan yang membuat Divya kembali terhanyut..
"Sean, ku mohon jangan Kau berikan perhatian yang berlebihan seperti ini. Atau Aku akan menjadi salah paham akan sikapmu pada ku nanti. Hatiku begitu rapuh menerima semua perhatian mu. Aku tahu Kau hanya kasihan pada ku karena penyakit ku ini. Bisakah Kau menjauh saja dariku? Tapi apakah Aku akan bisa bila harus tanpamu. Semua perhatian mu ini membuat ku candu. Seandainya Tuhan memberikan ku umur panjang. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku hanya bersama mu. Kau telah membuat ku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya kepada mu. Sean suamiku." Divya hanya bisa membatin.
Bibirnya tak mampu mengatakan semua itu. Perlahan buliran bening itu pun membasahi pipinya.
Seandainya Tuhan mengizinkan. Divya ingin selamanya berada dalam pelukan suaminya. Tapi apalah daya. Divya hanyalah manusia yang hanya bisa mengikuti alur yang Tuhan berikan padanya.
"Aku mencintaimu Sean... Aku sangat mencintaimu...," ucap Divya dalam hati. Perlahan tangannya membalas pelukan suaminya.
Hingga perlahan mata indah itu mulai terlelap dalam kehangatan pelukan suaminya.
"Aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi dariku. Divya istriku, Aku mencintaimu."
__ADS_1
Samar-samar Divya mendengar ucapan yang membuat hatinya bahagia. Namun apakah itu nyata? Ataukah itu hanyalah sebuah mimpi yang perlahan mulai menyambutnya. Kalaupun iya, itu adalah mimpi yang sangat indah bagi Divya.
***