Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 115 (season 2)


__ADS_3

"Lepaskan dia sekarang! Atau Kau akan tahu akibatnya!" ancam Eve menatap tajam ketua mafia tersebut.


Namun dari arah belakang ketua mafia tersebut, muncul seorang wanita yang tersenyum menyeringai.


Ax dan Eve sama-sama terkejut. Wanita itu adalah Ayumi.


"Kau!" Eve menatap tajam ke arah Ayumi. Sebelumnya ia sudah menduga bahwa Ayumi bukankah orang yang baik.


"Kenapa Kau bisa bersama mereka Ayumi!?" tandas Ax. Ia tidak pernah menyangka Ayumi akan terlibat dengan sekelompok mafia.


"Kenapa? Kalian terkejut melihat ku bersama mereka?" Ayumi tersenyum sinis.


"Jadi Kau mengenalnya sayang?" tanya ketua kelompok mafia tersebut.


"Tentu saja. Mereka adalah orang-orang yang ku benci. Aku membenci gadis itu karena sudah merebut kekasihku dariku!" Ayumi nampak begitu marah.


"Wow, jadi pria itu yang kalian perebutkan? Bukankah waktu itu Aku sudah memintamu untuk menjadi wanita ku? Dan sekarang terbukti kan, bahwa bersamaku Kau lebih bisa bersenang-senang. Aku akan memberikan mu kesempatan untuk menghabisi mereka!" tantang ketua mafia itu yang bernama Derrek.


"Kau benar baby, bersama mu kini Aku akan bisa menghabisi gadis itu." Ayumi menodongkan pistol ke arah Eve dan berjalan mendekatinya.


"Gadis sia..lan Kau akan merasakan akibatnya sekarang karena berani melawan ku," sungutnya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan mu untuk menyakiti istri Ku Ayumi!" Ax menghadang Ayumi dengan berdiri di depan Eve untuk melindunginya.


"Oh... jadi sekarang Kau menikahinya? Luar biasa! Kalau begitu Aku juga akan membunuhmu Ax!" Ayumi menodongkan senjata api ke arah Ax.


Dorr...


Ayumi terpaku. Tubuhnya seakan ada yang salah. Ia menatap ke arah dadanya yang kini mengucurkan cairan berwarna merah.


Seketika tubuhnya tumbang.


Sean dan Karl kini telah sampai di sana. Karl menghunuskan pelurunya kedada Ayumi sehingga Ayumi tumbang seketika.


Melihat hal itu, Derrek pun begitu marah. Lalu iapun menembakkan pelurunya ke arah Karl dan Sean. Namun mereka dapat menghalaunya.


"Kalian memang sia..lan! Lihatlah apa yang akan ku lakukan pada istrimu Sean!" gertakkannya seraya berteriak marah.


"Lakukan sekarang!" teriaknya seraya memberikan sebuah kode pada anggota kelompoknya yang tengah menangkap Divya.


Anggota komplotan mafia tersebut mulai menarik pelatuk senjatanya.


Jantung Sean terpompa lebih cepat saat melihat Divya memejamkan matanya dan terlihat begitu ketakutan.


Bahkan Ax pun tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan saudaranya itu.


Sean berlari sekuat tenaga dan memanggil nama adiknya.


"Eve...!"


Eve mengerti dengan teriakan panggilan kakaknya. Iapun memejamkan matanya dan berharap waktu bisa berhenti.

__ADS_1


Dan zzzzt...


Waktu benar-benar berhenti. Bumi seakan berhenti berputar pada porosnya.


Eve membuka matanya. Kini yang harus ia lakukan adalah menyelamatkan Divya.


Dengan cepat Eve berlari ke arah Divya dan menariknya. sementara ia mengarahkan senjata pria tersebut ke arah ketua mafia tersebut.


"Aku berhasil," ucapnya sebelum Eve mengembalikan waktu kembali seperti semula.


Doorrr...


peluru tersebut tepat menembus jantung Derrek.


K-kau...." Derrek menunjuk ke arah anggotanya yang menghempaskan pelurunya. Derrek pun tumbang seketika.


"A-apa?! Bagaimana bisa seperti?!" ucap anggota kelompoknya begitu terkejut.


Sean segera menghampiri Divya dan Eve. Sementara yang lainnya termasuk Ax di buat melongo. Mereka bingung dengan apa yang sudah terjadi.


"Bagaimana Eve berada di sana? Bukankah tadi dia di belakang ku?" gumam Ax mencerna apa yang terjadi.


Karl segera menangkap kelompotan mafia tersebut, karena kini anak buahnya telah datang dan membantunya untuk menangkap musuh-musuh tersebut.


Divya masih memejamkan matanya. Ia masih belum menyadari yang terjadi.


Melihat Divya memejamkan matanya dengan tubuh bergetar. Sean langsung memeluk tubuh istrinya begitu erat. Rasa takut kehilangan Divya kini perlahan mulai terkikis. Eve berhasil menyelamatkan Divya tepat waktu.


Ax menghampiri istrinya. Ia pun ingin meminta sebuah penjelasan yang nyata dari sang istri. Matanya sudah ternodai oleh gerakan-gerakan lincah nan indah dari sang istri.


Namun baru setengah jalan menghampiri sang istri, Ax terkejut kala Divya tiba-tiba saja tak sadarkan diri.


"Divya...apa yang terjadi dengan mu?! Divya...!" Sean terkejut melihat Divya yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.


Jantungnya terpompa cepat. Rasa khawatir menghantam dirinya saat melihat Divya yang nampak begitu pucat.


Dengan cepat Sean menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju mobilnya.


Sementara Ax, Eve dan Karl pun mengikuti di belakangnya.


"Ax, kemudikan mobilnya!" perintah Sean, dan di angguki oleh Ax.


Eve dan Ax pun duduk di depan, sementara Sean berada di tengah seraya memeluk tubuh istrinya.


Sedangkan Karl mengikuti mobil mereka di belakangnya.


Sean terus saja memeluk tubuh Divya. Satu tangannya memegang erat tangan istrinya. Rasa cemas, khawatir bertumpuk menjadi satu.


"Kau tidak akan apa-apa, ya pasti tidak akan apa-apa. Aku akan selalu ada untukmu Di. Jangan pernah meninggalkan ku," gumam Sean sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit. Bibirnya terus mengecupi kepala sang istri.


"Cepatlah Ax! Aku tidak ingin terjadi apapun dengan Divya." Sean berkata dengan begitu tegasnya. Ia terlalu khawatir melihat Divya yang semakin memucat.

__ADS_1


Ax semakin menambah laju mobilnya. Hingga beberapa saat kemudian mobil tersebut sampai di rumah sakit.


Sean dengan cepat kembali menggendong Divya dan membawanya ke dalam rumah sakit.


Sementara para perawat sudah siaga dan segera membawa pasiennya ke UGD.


Sean tak ingin melepaskan tangan istrinya. Ia mengikuti Divya hingga masuk kedalam sana.


Dokter pun segera memeriksa kondisi Divya. Sang dokter menggelengkan kepalanya setelah memeriksa kondisi Divya.


Jantung Sean terus saja berdetak kencang. Melihat ekspresi wajah dokter yang memeriksa Divya membuatnya begitu ketakutan saat ini.


"Saya akan memanggil dokter Denis Tuan. Karena dia yang lebih tahu mengenai penyakit yang di derita istri Anda," ucap dokter. Ia segera keluar dari ruang UGD untuk memanggil dokter Denis.


Sementara Sean mematung. Ia benar-benar ketakutan saat ini. Tangannya semakin menggenggam erat tangan Divya.


"Katakan Kau tidak apa-apa kan Di? Kau hanya sedang terkejut saja tadi. Dan sekarang Kau hanya tertidur saja kan?" Tanpa terasa Sean menitihkan air matanya.


Rasa takutnya semakin besar. Ia tidak ingin kehilangan Divya.


Flash back on


Beberapa hari Lalu Sean melihat Divya tengah meminum obat yang pernah Divya katakan bahwa itu adalah obat mag.


Sean melihat obat tersebut hampir habis. Jadi ia pun mengambil obat tersebut untuk di bawa ke apotek dan membelikannya untuk Divya.


Namun saat pegawai apoteker tersebut menyarankan kepada Sean, untuk melakukan pengobatan ke rumah sakit yang ada di Singapore. Sean merasa terkejut.


Bukankah itu hanyalah obat mag? Lalu kenapa harus sampai berobat ke luar negeri?. Sean pun bertanya kepada pegawai apoteker tersebut sebenarnya obat apakah yang ia beli.


Dan dengan lugasnya, pegawai apoteker tersebut menjelaskan tentang kegunaan obat tersebut.


Sean tercengang. Tubuhnya membatu. Desiran rasa ketakutan menghampirinya. Sean kembali bertanya. Dan jawaban dari pegawai apoteker tersebut tetap sama.


Sean rasanya tak ingin mempercayainya. Ia segera membayar obat tersebut dan memasuki mobilnya.


Di dalam mobil, Sean memukul-mukul setirnya. Benarkah Divya sakit? Benarkah penyakitnya begitu parah? Tiba-tiba saja Ia menjadi takut. Takut bila Divya benar-benar sakit.


Ia pun kembali mengingat pertemuan pertamanya hingga saat ini.


Saat ini adalah saat dimana ia mengakui kekalahannya pada dirinya yang berjanji tidak akan pernah mencintai seorang wanita.


Sean telah kalah telak. Ia mengakui hatinya bahwa Divya mampu memporak-porandakan perasaannya.


Dan kenyataan tentang penyakit yang di derita Divya membuatnya frustasi.


Dan saat itu juga Sean berjanji akan membawa Divya untuk melakukan pengobatan hingga sembuh.


Dan di saat dia sedang merencanakan pengobatan Divya. Ternyata ada kabar buruk dari Karl yang mengharuskannya untuk pergi sejenak meninggalkan sang istri.


Flash back off

__ADS_1


***


__ADS_2