Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 31


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Aya merasa Bryan begitu berubah. Bryan selalu menunggunya setiap kali sarapan ataupun makan malam.


Bryan juga lebih halus saat berbicara dengannya, dan itu membuat Aya bimbang untuk membalas semua perlakuan suaminya yang begitu kejam padanya dulu.


Aya juga suka tersenyum sendiri saat mengingat sikap Bryan padanya beberapa hari terakhir. Hingga kini Aya pun melamun saat sedang bekerja.


Adrian yang tanpa sengaja melihat Aya melamun pun dengan perlahan berjalan menuju meja Aya.


"Doorrr...." Adrian mengagetkan Aya yang tengah melamun.


"Eh ayam...kodok...eh kampret..." Ucap Aya latah saat terkejut. Tangannya mengelus dadanya, jantungnya hampir copot saat Adrian mengagetkan dirinya.


"Iyaaaaan...!," Teriak Aya. Namun Adrian malah berlari dan berakhirlah dengan aksi kejar-kejaran dalam ruangan Aya.


"Sudah Ay, Aku sangat lelah. Baiklah aku minta maaf karena sudah mengagetkan mu." Ucap Adrian dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Baiklah, tapi hari ini Kau harus membantu ku untuk menyelesaikan semua ini." Tunjuk Aya pada tumpukan pekerjaan di atas mejanya.


"Maafkan aku Ay, tapi Aku tidak bisa membantu mu lagi sekarang."


"Apa maksudmu Iyan, lalu siapa yang akan membantu ku?. Kau tahu kan Tuan Bryan sudah memecat Dewi dan Fany."


"Tenang saja Ay, karena akan ada orang lain yang akan membantu mu nanti. Karena Aku sudah merekrut karyawan sebagai pengganti Dewi dan yang lainnya." Ucap Adrian.


Aya langsung tersenyum senang mendengarnya, sebentar lagi tidak akan ada lagi banyak tumpukan pekerjaan di mejanya itu.


Aya bernafas lega. "Lalu di mana karyawan baru yang Kau rekrut Iyan?."


"Mereka sedang berada di ruangan Tuan Bryan, Kau tunggu saja Ay."


***


Aya merasa senang karena kini pekerjaannya tidak lagi terlalu banyak. Sudah ada tiga karyawan yang akan membantunya.


Mereka adalah Marina, Claudia dan Citra. Tidak seperti Fany dan Dewi, mereka begitu baik kepada Aya.


Namun yang membuat Aya begitu heran, mereka bertiga mengerjakan semua pekerjaan Aya. Hingga Aya hanya duduk terbengong bingung harus melakukan apa.


Hingga ponselnya berdering pun Aya tidak menyadarinya.


"Mbak Aya,itu ponselnya bunyi." Panggil Citra saat memasuki ruangan Aya.


"Apa?"


"Itu ponselnya."


Aya melirik ponselnya yang berada di mejanya kini tengah berdering. Tangannya mengulur dan mengambil benda pipih itu.


Nama Tuan Arogan terlihat pada layar ponselnya. Dengan segera Aya mengangkat panggilan tersebut.


"Ke ruangan ku sekarang!." Ucap pemilik nama pada layar ponsel tersebut dengan singkat, lalu panggilan itu pun langsung terputus.

__ADS_1


"Kenapa dia memanggil ku?, apa Aku melakukan kesalahan?." Ucap Aya.


"Mungkin ada hal lain yang ingin Tuan Bryan bicarakan dengan mbak Aya mungkin. Mbak Aya segera ke ruangan Tuan Bryan gih," suruh Citra. Lalu Citra menaruh beberapa berkas yang sudah Ia kerjakan di meja Aya.


"Baiklah, Aku pergi ke ruangan Tuan Bryan dulu ya Cit." Ucap Aya. Iapun segera pergi ke ruangan Bryan sebelum suaminya itu marah.


"Ada apa Tuan." Tanya Aya saat sampai di ruangan Bryan.


"Aya, bukankah sudah ku katakan, jangan memanggilku Tuan saat hanya ada kita berdua." Bryan mulai menghampiri Aya.


"Apa Kau sudah makan?." Tanya Bryan menatap istrinya itu.


Aya mengerutkan keningnya, apakah suaminya itu memanggilnya hanya untuk bertanya ini?.


Aya menggelengkan kepalanya karena dirinya memang belum makan siang saat ini. Tadinya Ia mau makan siang bersama dengan Adrian.


"Kalau begitu Kau ingin makan apa?."


"Apa kau memanggilku kemari hanya untuk bertanya seperti ini?."


Bryan menganggukkan kepalanya, lalu ia tersenyum menatap lembut Aya.


"Aku ingin kita makan siang bersama di sini. Aku juga sudah memesan banyak makanan untuk kita berdua."


"Tapi Bryan, Aku sudah berjanji pada Adrian untuk makan siang bersama dengannya." Ucapnya kepada suaminya.


Mendengar nama Adrian dari mulut Aya membuat senyum Bryan langsung luntur begitu saja.


"Kenapa Kau jadi marah Bry?, kami selalu makan siang bersama. Dan bukankah sebelumnya Kau juga sudah mengetahuinya?."


"Ya aku tahu, tapi mulai saat ini Kau akan makan siang bersama dengan ku!." Bryan mendengus dengan kesal.


Hatinya begitu kacau saat mendengar bibir istrinya menyebutkan nama Adrian.


"Tapi...."


"Kau istri ku dan kau harus menuruti ku!." Bryan berkata penuh penekanan.


"Sekarang duduklah, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu Aya." Ucap Bryan kemudian.


Aya pun duduk di sana, mulai mendengarkan Apa yang ingin suaminya itu bicarakan.


"Aya, Aku ingin mulai sekarang kita berdamai."


"Makanya?."


"Aku ingin kita berteman Aya. Apa kau tidak lelah bila harus selalu bertengkar dengan ku. Setidaknya selama kita menikah Aku ingin menjalin pertemanan dengan mu."


Aya menimbang ucapan Bryan, tidak ada salahnya kan bila mereka berteman. Aya pun menganggukkan kepalanya.


"Benarkah, terimakasih Aya. Kalau begitu sekarang kita berteman." Bryan mengulurkan tangannya untuk menjabat Aya.

__ADS_1


"Teman." Aya membalas jabatan tangan Bryan.


Sesaat kemudian pesanan makan siang Bryan pun tiba dan di antarkan oleh sekertaris Bryan yaitu Zaki.


Berbagai macam makanan memenuhi meja Bryan, dan itu membuat Aya heran.


"Bryan, memangnya kita makan siang dengan siapa saja," tanyanya dengan menatap banyaknya makanan itu.


"Tentu saja hanya kita berdua Aya, memang siapa lagi?. Sekarang ayo kita makan!." Ajak Bryan.


Disaat Aya ingin kembali mendudukkan dirinya, tiba-tiba suara seseorang membuat Aya dan Bryan terpaku.


"Sayang, Aku merindukan mu." Suara seorang wanita membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


Orang itu tidak lain adalah Rena. Rena pun berlari kecil dan langsung memeluk tubuh Bryan.


Aya pun langsung melengos melihat suaminya yang di peluk oleh wanita lain.


"Saya permisi Tuan!." Ucap Aya datar dan segera meninggalkan ruangan Bryan.


Bryan pun merasa kecewa karena gagal untuk makan siang bersama istrinya itu. Sekarang yang terlintas dalam benaknya, Bryan mencemaskan Aya yang mungkin kini akan kembali makan siang bersama dengan Adrian.


"Bryan, kenapa kau bengong?. Apa Kau tidak merindukan ku?."


Rena memegang kedua pipi Bryan dan menghadapkannya ke arahnya.


Dengan perlahan Bryan melepaskan tangan Rena dari wajahnya. "Aku tidak apa-apa, Aku hanya sedang lapar saat ini." Ucap Bryan tersenyum terpaksa. Ia terus saja memikirkan istrinya itu.


"Wah, banyak sekali makanan ini, Apa Kau tahu kalau aku akan berkunjung ke mari Bry, jadi kau menyiapkan semua ini?."


Seketika Bryan menatap banyaknya makanan itu,lalu Ia menatap Rena dan tersenyum dengan terpaksa. "Ya, makanlah Ren." Ucap Bryan yang kini terlihat tak bersemangat.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita makan siang bersama. Kau mau ku ambilkan Apa Bry?." Tanya Rena membuat Bryan menatapnya.


Kini bayangan saat Ia menyuruh Aya mengambilkan makanan untuknya beberapa hari lalu kembali hadir.


Bryan pun langsung mendudukkan dirinya, Ia bingung dengan perasaannya. Bukankah gadis yang sangat ia cintai ada di depannya saat ini?, Tapi mengapa Ia terus saja memikirkan Aya. Sungguh itu membuat Bryan begitu frustasi saat ini.


Iapun mau tidak mau harus duduk dan makan bersama dengan Renata.


***


Aya mendengus kesal saat mengingat begitu banyak makanan di ruangan Bryan. Air liurnya hampir menetes kala mengingat makanan yang ada di ruangan suaminya tadi.


"Perutku yang malang, seharusnya Aku bisa merasakan semua makanan enak itu tadi," ucapnya membayangkan semua makanan itu.


"Aya, Kau kemana saja?, Aku mencarimu keruangan mu, tapi Kau tidak ada." Tutur Adrian.


"Maafkan aku Iyan, tadi Aku harus ke toilet sebentar. Apa kau sudah makan siang?." Tanya Aya berusaha mengalihkan pertanyaan dari Adrian.


***

__ADS_1


__ADS_2