
"Iya, Kau baik. Sekarang turunkan Aku. Lihatlah, banyak pelayan yang menatap kita, Aku malu." Divya terus menyembunyikan wajahnya.
Namun Sean tidak bergeming. Ia tetap melangkah menuju kamarnya, tak menghiraukan perkataan Divya yang menyuruhnya untuk menurunkannya.
Sean menurunkan Divya setelah memasuki kamarnya.
"Aku baik kan. Sudah menggendong mu sampai ke kamar?"
"Aku tidak menyuruh mu, menyingkirlah! Aku mau mandi," perintah Divya. Ia sedikit mendorong tubuh Sean.
"Jadi ini balasan mu untuk kebaikan ku yang sudah menggendong mu?"
"Bukankah Aku sudah mengatakan bahwa Aku tidak menyuruh mu. Kau sendiri yang menggendong ku." Divya tidak mau kalah dengan Sean.
Divya segera melangkah berjalan menuju bathroom. Namun ia seakan masih berada di tempat. Karena Sean menarik ujung atas baju milik istrinya.
Menyadari hal itu, Divya berteriak.
"Seaaaan...! Jangan jahil! lepaskan Aku!" pekiknya.
Namun Sean menariknya kembali dan memeluk tubuh Divya dari belakang.
"Sean,apa yang Kau lakukan, lepaskan Aku!" perintah Divya.
Bukannya melepaskan, Sean malah menciumi rambut Divya. Wangi rambut Divya membuat Sean tidak ingin melepaskan Divya.
Secepat kilat Sean membalik tubuh Divya.
Divya terlonjak terkejut. Mata mereka kembali bertemu. Debaran jantung di antara keduanya kembali saling bersahutan.
Entah mengapa Sean ingin sekali terus menerus dekat dengan Divya. Ia begitu bingung dengan yang ia rasakan saat ini. Belum pernah Sean merasakannya selama ini.
"Di"
"Hum"
"Aku..." Wajah Sean kembali mendekati wajah Divya. Ia ingin mengulang kejadian tadi yang belum sempat terselesaikan.
Matanya kembali menatap bibir Divya. Rasanya ia menemukan sebuah oase di sana. ia ingin meraupnya, merasakannya. Pasti manis, lembut dan hangat. Ia sudah tidak sabar lagi. Kali ini tidak akan ada lagi yang akan mengganggunya.
Melihat bibir Sean semakin mendekat, membuatnya memejamkan matanya. Divya tersihir oleh kenyamanan yang Sean berikan saat ini.
Perlahan hidung mereka saling bersentuhan, bahkan bibir mereka tinggal setengah centi lagi. Sebentar lagi Sean benar-benar akan mencicipi bibir manis itu.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Tuan, Nyonya, makan siang sudah siap," ucap salah seorang pelayan dari luar.
Dan hal itu kembali membuyarkan fokus keduanya. Mereka kembali melepaskan diri dan terlihat begitu canggung.
Sean langsung menuju pintu dan membukanya.
"Jangan mengganggu kami!" Sean menatap tajam pelayan tersebut hingga ketakutan.
"Ba-baik Tuan, maafkan saya," ucap pelayan tersebut ketakutan dan merasa bersalah.
Sean segera menutup pintu tersebut dan ingin kembali menghampiri istrinya meneruskan kegiatannya yang kembali tertunda.
Namun ia sudah tidak melihat sosok Divya di tempat Sean meninggalkan tadi. Hingga berbagai macam umpatan keluar dari mulutnya. Selalu saja ada yang menggenggunya.
Sean mendudukkan tubuhnya di atas sofa di kamarnya untuk meredam kekesalannya.
"Kenapa Aku sampai marah-marah seperti ini. Dan kenapa bibirnya selalu menggodaku. Ada apa sebenarnya dengan ku?" Sean terus saja bergumam seraya berpikir keras.
Di tatapnya pintu bathroom secara berkala. Rasanya ia tidak sadar menunggu istrinya keluar dari sana. Sungguh Sean bingung dengan yang ia rasakan saat ini. Ia tidak pernah merasakan hal yang seperti ini.
Hingga pintu bathroom pun akhirnya terbuka dan menampilkan sosok yang ia tunggu sedari tadi.
"Kenapa Kau meninggalkanku masuk ke bathroom tadi?" tanya Sean.
"Aku hanya menuntaskan panggilan alam saja. Ada apa?" Divya pura-pura bertanya.
Sean tak menjawab pertanyaan dari Divya. Ia terdiam dan menatap Divya penuh arti. Sekuat apapun ia menahan gejolak ketika menatap istrinya.
Namun kini rasanya sudah tidak dapat menahan segala asa yang sejak tadi melingkupi hatinya.
Dengan gerakan cepat Sean menarik Divya kedalam pelukannya. Ia tidak akan membiarkan ada yang mengganggunya lagi.
Kini tak lagi memakai aba-aba. Bibirnya langsung melesat meraup bibir Divya yang sedari tadi terus menggodanya.
Dan ternyata ekspetasinya salah. Karena bibir Divya terasa begitu manis, hangat dan lebih luar biasa dari apa yang Sean bayangkan.
Sean terus me..ma..gutnya dengan begitu bersemangat. Ia tidak ingin berhenti. Rasa manis, lembut dan hangat membuatnya tak ingin melepaskannya walaupun untuk sedetik saja.
Sementara Divya jangan ditanya lagi. Gadis itu terhanyut akan ciuman suaminya. Ini adalah ciuman pertamanya. Dan rasanya begitu luar biasa.
Tanpa sadar Divya membuka mulutnya. Hingga membuat Sean semakin leluasa untuk menikmati bibir manisnya. Ini sama-sama ciuman pertama keduanya.
__ADS_1
Sean terus saja me..ma..gut, mence..cap dan menye..sap bibir Divya tanpa hentinya. Li..dahnya menari-nari indah dalam rongga mulut Divya.
Hingga sensasi aneh pun tercipta di sana. Keduanya menginginkan hal yang lebih. Hawa panas menyeruak melingkupi sepasang suami istri tersebut.
Tangan Sean mulai nakal menyentuh setiap jengkal tubuh Divya. Hingga ke area yang begitu sensitif milik Divya.
Mereka bak menemukan sebuah oase di tengah Padang pasir yang gersang. Rasa dahaga itu seakan tak berujung.
Hingga tanpa sadar mereka sudah berada di atas ran..jang dengan Sean berada di atas Divya.
Sean terus saja membuat Divya terbuai. Rasanya begitu nik..mat. Mereka belum pernah merasakan hal seperti ini.
Hingga tanpa sadar bibir Sean berpindah menuju leher jenjang istrinya. Sebuah tanda merah pun tercipta di sana.
Membuat sang empunya melenguh menahan antara sakit dan nik..mat.
Dengan gerakan cepat Sean menanggalkan pakaian atasan milik istrinya. Libidonya naik seketika melihat da..da istrinya yang kembang kempis naik turun seolah terus menggodanya.
Di lepasnya kain yang masih menutupi da..da istrinya. hingga membuat sesuatu dalam sana menyembul dan menampilkan pemandangan yang begitu indah.
Bibir itu pun kembali tergiur untuk merasakan benda kenyal yang menyembul begitu indah di depannya. Apa lagi pucuk merah muda yang terus menari-nari menggodanya.
Tanpa menunggu lama, Sean pun mulai menikmati pucuk merah muda tersebut. Dan tangan satunya yang terus mere..mas benda kenyal satunya.
Hingga lengu..han pun terdengar dari bibir Divya. Rasanya begitu aneh. Sesuatu menggelitik dalam hatinya dan berpusat menuju intinya.
Semakin lama Sean semakin bersemangat ketika mendengar suara-suara indah yang keluar dari bibir Divya seiring rasa nik..mat yang mereka rasakan.
Tangannya mulai menyusup kedalam celana milik istrinya. Entah apa ia cari.
Hingga dering ponsel pun membuat keduanya terlonjak terkejut. Kesadaran mulai membuka pikiran mereka.
Divya mendorong tubuh Sean dan meraih selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang sudah polos akibat ulah Sean.
Sementara Sean yang merasa belum ingin mengakhirinya pun merasa begitu canggung saat ini.
Sean segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut.
Raut wajahnya berubah menjadi serius. Sean segera melangkah keluar dari kamarnya dan berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
"Apa yang ku lakukan barusan? bagaimana mungkin Aku dan Sean berciuman seperti itu?. Hatiku, kenapa dengan hatiku? Dan jantungku, kenapa terus berdetak kencang saat berada di dekat Sean?" Divya mulai menyadari sesuatu.
Namun ia menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk menolak hatinya. "Aku tidak boleh jatuh cinta pada Sean. Begitu juga Sean tidak boleh mencintai ku. Aku tidak ingin dia terluka nanti. Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu." Divya segera mengambil bajunya dan memakainya.
__ADS_1
***