
Semenjak kejadian waktu itu, Eve jarang keluar dari apartemen Ax. Ia juga menjadi lebih pendiam dan sering mengunci diri di kamar.
Semua itu membuat Ax begitu khawatir pada adiknya itu. Bahkan Ax jarang menghubungi Ayumi hanya untuk terus bisa memantau bagaimana keadaan adiknya itu.
Sementara Ayumi begitu marah terhadap Ax karena sudah meninggalkannya di dalam bioskop waktu itu. Ia merasa Eve adalah pengganggu hubungannya bersama Ax.
Eve terus saja terbayang akan ucapan yang Karl katakan waktu itu. Otak dan batinnya terus saja bergelut, apakah benar yang Karl katakan waktu itu. Kalau pun benar begitu, berarti dirinya dan Galaxy bukanlah saudara kandung. Dan sebuah rasa yang muncul saat bersama Ax adalah murni sebagai perasaan seorang wanita kepada lawan jenisnya.
Ada perasaan senang saat mengetahui bahwa dirinya bukanlah adik kandung dari Ax, tapi ada rasa sedih pula karena dirinya bukanlah putri dari Bryan dan Aya.
Eve akhirnya memutuskan untuk mencari tahu siapa dirinya sebenarnya. Dia akan bertanya kepada Mamanya tentang semua kebenaran ucapan dari pria bernama Karl itu.
***
"Hai kak Ax," sapa Eve memasuki kamar Ax.
Ax terkejut, namun ia juga senang mendengar sebuah suara yang sudah beberapa hari ini tak terdengar lagi di telinganya.
"Eve," panggil Ax, lalu iapun memeluk gadis kecilnya itu. "Kakak merindukanmu Eve, beberapa hari ini Kau selalu menyendiri dan menjadi lebih pendiam. Itu sungguh membuat kakak begitu khawatir padamu. Sekarang katakan, sebenarnya apa yang terjadi padamu!," tanya Ax begitu ingin tahu.
"Tidak ada apa-apa kak, Eve hanya takut saja dengan kejadian waktu itu," kilah Eve, ia tidak ingin Ax tahu tentang semua yang ia tahu.
"Maafkan kakak Eve, karena kakak tidak bisa melindungi mu saat itu," ucap Ax tulus.
Eve merasa nyaman ketika Ax memeluk dirinya. Namun ia ingin memastikan tentang ucapan Karl waktu itu.
"Kak, Eve sangat haus, apakah kak Ax mau membuatkan adikmu ini jus?," ucap Eve.
Ax mengusap lembut rambut Eve. "Dasar Kau ini gadis manja," ucap Ax tersenyum, tapi ia senang adiknya itu kembali seperti sedia kala.
"Manja sama kakak sendiri apa salahnya," sahut Eve dan mendapat usapan lembut di kepalanya.
"Baiklah Tuan Putri," ucap Ax dan langsung menuruti kemauan Eve.
Eve tersenyum menatap punggung Ax yang mulai menghilang dari bilik pintu. Lalu iapun segera melakukan pencariannya.
ia menuju ke sisir milik Ax untuk mencari sehelai rambut milik kakaknya itu. Namun tidak ada sehelai rambut pun disana. Eve pun kembali berpikir, di mana lagi ia bisa menemukan rambut milik kakaknya tanpa menarik rambut kakaknya.
Dia langsung berjalan menuju tempat tidur Ax dan mendudukkan dirinya di sana sembari berpikir. Lalu ia menoleh ke arah bantal milik Ax. Eve berpikir mungkin disana ada rambut kakaknya yang terjatuh.
Dan benar saja, Eve menemukan beberapa helai rambut yang terdapat di bantal Ax yang ia yakini adalah rambut Ax.
Eve segera mengambilnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang sudah ia persiapkan sebelumnya dan memasukkannya ke dalam sana.
"Akhirnya Aku mendapatkannya," gumam Eve tersenyum. Ia pun segera keluar dari kamar Ax dan menaruh kotak kecil tersebut di kamarnya.
Setelahnya ia menuju dapur dan menyusul kakaknya itu.
"Kak Ax," panggil Eve.
Ax menoleh saat mendengar suara Eve memanggilnya.
"Iya Eve, ada apa?."
"Eve ingin jalan-jalan hari ini, maukah kakak menemani Eve?. Tapi Eve ingin berdua saja dengan kak Ax," ucap Eve.
Ax pun menyetujuinya, ia segera memberikan jus yang ia buat tadi kepada Eve.
"Baiklah, tapi Kau habiskan dulu jus ini, kakak mau mengganti baju kakak sebentar," ucap Ax dan di angguki oleh Eve.
***
"Kau ingin ke mana Eve?," tanya Ax saat ia mulai menjalankan mobilnya.
Eve ingin ke rumah sakit kak," ucap Eve yang sontak saja membuat Ax terkejut.
"Kau sakit Eve?, apa saat kejadian waktu itu Kau terluka?, kenapa Kau tidak mengatakannya kepada kakakmu ini," ucap Ax begitu khawatir.
Eve terkekeh mendengar Ax yang begitu khawatir padanya. Seandainya mereka bukanlah saudara, apakah Ax juga akan sekhawatir itu padanya?.
"Tidak kak, Eve tidak apa-apa. Eve hanya ingin memeriksakan tentang perut Eve yang sakit tadi pagi."
"Apa!, jadi perutmu sakit Eve?. Kenapa Kau tidak memberitahu kakak tadi?," ucap Ax khawatir.
"Aku tidak apa-apa kak, mungkin saja mag ku sedang kambuh." Eve berusaha untuk mencari sebuah alasan yang pas.
Sebenarnya Eve ingin membawa helaian rambut milik Ax untuk di tes DNA dengan rambut miliknya. Namun pasti bila meminta izin untuk keluar dari apartemen, pasti Ax akan melarangnya.
Jadi iapun memutuskan untuk mencari alasan agar bisa cepat mengetahui tentang kebenarannya.
__ADS_1
"Apa saat ini perutmu masih sakit?," tanya Ax.
"Tidak kak, sudah sedikit lebih baik," ucap Eve berbohong.
Hingga akhirnya mobil Ax sampai di rumah sakit terbesar di kota tersebut.
Ax ingin Eve mendapatkan perawatan medis terbaik tentang mag nya itu. Jadi dia membawa Eve kemari.
Mereka pun memasuki rumah sakit tersebut. Di saat mereka menunggu nama Eve di panggil, Eve minta izin Ax untuk pergi ke toilet.
"Kak, Aku mau ke toilet sebentar, Kakak tunggulah di sini sampai nama Eve di panggil," pintanya kepada Ax.
"Baiklah, jangan lama-lama Eve, karena sebentar lagi mamamu akan di panggil," ucap Ax dan di angguki oleh Eve.
Eve segera melakukan apa yang seharusnya ingin ia lakukan sejak tadi.
Beberapa saat kemudian.
Eve berlari menuju kakaknya, ia tahu bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan kakaknya.
"Kak Ax, maafkan Aku karena Aku begitu lama," ucap Eve merasa was-was Ax akan marah padanya.
Dan benar saja, kini wajah Ax nampak di tekuk, karena saat perawat memanggil nama Eve, Eve belum kembali juga.
"Kau kemana saja Eve, namamu sudah lewat. Kita harus menunggu kembali namamu di panggil lagi."
"Maafkan Aku kak," ucap Eve menunduk.
Namun Ax langsung tersenyum dan mengacak rambut Eve.
***
Tiga hari berlalu, Eve menunggu bagaimana dengan hasil DNA miliknya dan Ax. Eve meminta hasil tes di kirimkan lewat pos.
Eve terus saja mondar-mandir kesana-kemari. Ia begitu was-was kalau Ax yang menerima hasil tes tersebut.
"Eve, kenapa Kau terlihat begitu gelisah seperti itu?, apa mag mu kambuh lagi?." tanya Ax.
Eve menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Tidak kak, Eve baik-baik saja."
"Kakak merasa sikapmu begitu aneh beberapa hari ini Eve, apa ada hal yang Kau sembunyikan dari kakak?."
"Apa yang ingin Kau tanyakan Eve?."
"Kak, Jika seandainya Eve bukan adik kakak, apakah kakak bisa mencintai Eve sebagai seorang wanita?," tanya Eve menatap serius wajah Ax.
Ax terdiam dan terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir adiknya tersebut. "Pertanyaan konyol macam apa yang Kau tanyakan Eve. Atau jangan-jangan Kau jatuh cinta pada kakak mu ini hum," goda Ax kepada Eve.
"Kak Eve serius," protes Eve karena Ax menganggap pertanyaan itu candaan.
"Kau adalah adikku, dan selamanya akan seperti itu Eve," ucap Ax menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan konyol adiknya itu. Karena yang Ax tahu, Eve memang adik kandungnya.
tiba-tiba suara bel apartemen tersebut berbunyi.
Ax mulai berdiri hendak menuju pintu, namun Eve mencegahnya. Ia yakin itu adalah tukang pos yang mengirimkan hasil tes DNA Eve waktu itu.
"Kak, biarkan Eve yang membuka pintunya, kakak lanjutkan sarapan kakak saja," ucap Eve. Lalu ia segera berjalan pintu dan membukanya.
Dan benar saja, ternyata memang benar yang datang adalah tukang pos yang mengirimkan beberapa surat untuk Ax dan salah satu surat tersebut untuk dirinya.
Eve menyembunyikan surat untuknya kedalam bajunya. Ia berjalan kembali menuju Ax.
"Kak, ada surat untuk mu. Eve ke dalam kamar duluan," ucapnya dan langsung meninggalkan Ax.
Eve segera membuka surat tersebut yang ia yakini adalah hasil tes DNA dari dokter.
Dengan hati berdebar, Eve mulai membuka dan membacanya. surat tersebut terjatuh saat Eve mengetahui sebuah kenyataan yang sebenarnya.
"Sebenarnya siapa diriku?, jadi semua yang di katakan oleh pria waktu itu semuanya benar?. Aku memang bukan Putri Mama dan papa?." Eve menitihkan air matanya.
"Aku harus mencari tahu semuanya, Aku harus bertemu dengan pria itu lagi," ucapnya pada dirinya sendiri. Lalu ia segera menghapus air matanya.
Ia terus memikirkan tentang semua hal yang terjadi padanya belakangan ini.
Sementara Ax menatap heran dengan sikap Eve, bahkan tentang pertanyaan Eve barusan.
Ponsel Ax berdering, menampilkan nama Ayumi di sana. Ax segera mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, Ayumi ada apa?," tanya Ax dalam panggilan telepon.
__ADS_1
"Ax, kenapa Kau akhir-akhir ini tidak pernah menemui ku?, apa semua itu karena adikmu itu?!," ucap Ayumi.
"Ayumi, dia adikku, tolong Kau mengertilah. Kau jangan sering marah-marah, atau nanti akan tumbuh uban di kepalamu itu," ucap Ax berusaha mencairkan kemarahan kekasihnya.
Ax telah melupakan kekasihnya beberapa hari ini, karena Ax khawatir dengan Eve yang menjadi lebih pendiam dari sebelumnya.
"Kalau begitu datanglah Ax, Aku sangat merindukanmu," pinta Ayumi.
Ax berpikir ulang, ia tidak ingin meninggalkan adiknya sendirian, namun ia juga tidak mungkin mengajak Eve untuk bertemu dengan Ayumi. Karena sudah bisa di pastikan bahwa Ayumi pasti akan semakin marah kepadanya.
"Ax, kenapa Kau tidak menjawab ku?, apa Kau tidak mau menemui ku?. Ck, Kau pasti lebih mementingkan adikmu itu dari pada diriku. Sudahlah Ax, urus saja adikmu itu, jangan pernah menghubungi ku lagi!," ucap Ayumi begitu marah dan langsung mematikan ponselnya sepihak.
Sementara Ax merasa bersalah kepada kekasihnya itu. Karena memang beberapa hari ini ia tidak pernah menghubungi Ayumi.
Ax segera beranjak dan berjalan menuju kamar Eve.
"Eve, kakak ingin bicara dengan mu," ucap Ax seraya mengetuk pintu kamar Eve.
Eve yang mendengarnya pun segera menyembunyikan surat hasil tes DNA itu ke dalam kopernya.
"Ya kak, masuklah!," teriaknya.
Ax segera memasuki kamar Eve, di lihatnya Eve yang kini tengah duduk di pinggir kasurnya dan menatapnya.
Ax mengerutkan keningnya saat melihat mata Eve yang terlihat sembab. Iapun segera duduk di samping Eve.
"Eve, apa yang terjadi?, kenapa Kau menangis?," tanya Ax menelisik wajah adiknya.
"Aku tidak menangis kak, Aku hanya merindukan Mama dan Papa," ucap Eve dan langsung memeluk Ax.
"Bukankah ada kakak di sini?, Kau baru beberapa hari meninggalkan Mama dan Papa saja sudah secengeng ini," ucap Ax dengan mengusap punggung Eve untuk menenangkannya.
"Kak, Eve sangat menyayangi kalian. Eve tidak tahu bagaimana hidup Eve tanpa adanya kalian di samping Eve."
"Kami keluarga mu Eve, tentu saja kami akan selalu di sampingmu," sahut Ax.
"Kak, apa suatu saat nanti kakak akan menikah dengan kak Ayumi?," tanya Eve, membuat Ax mengerutkan keningnya dengan pertanyaan adiknya itu.
Ax pun melepaskan pelukannya dan menatap Eve. "Kenapa Kau bertanya seperti itu Eve?. Ya, mungkin saja kakak akan menikah dengannya nanti," ucap Ax.
"Kalau Aku bilang kalau Aku tidak menyukai kak Ayumi,apa kakak akan tetap menikah dengannya?."
"Jadi Kau tidak menyukainya?, Kau harus belajar menerimanya Eve. Dia adalah gadis yang baik, Kau belum mengenalnya saja," ucap Ax.
Eve pun merasa sedih, mungkin Ax selamanya memang akan tetap menjadi kakaknya, mungkin Ax akan selalu menganggapnya sebagai adiknya saja.
Eve berdiri dan hendak beranjak dari sana, namun tiba-tiba Ax memegang tangannya dan menariknya hingga membuat Eve terjatuh di pangkuannya.
"Eve, kakak ingin Kau memberikan alasan kenapa Kau tidak menyukai Ayumi?," tanya Ax menatap mata Eve yang kini terduduk di pangkuannya.
Jantung Eve berdetak kencang dengan posisinya saat ini. Wajah mereka begitu dekat, dan tangan Ax melingkar di pinggangnya, membuatnya semakin berdesir.
"A-aku, tidak tahu kak, Aku hanya tidak menyukainya saja," ucap Eve begitu terbata. Ia terus menahan gejolak dalam hatinya.
Ax yang melihat Eve nampak gugup pun ingin sekali tertawa melihat ekspresi Eve saat ini.
"Kenapa Kau gugup Eve?, bukankah waktu kecil Kau suka sekali saat duduk di pangkuan kakak mu ini hum?."
"Kak Ax," panggil Eve menatap ke dalam manik mata Ax.
Ax, yang tadinya tertawa kecil terdiam melihat ekspresi wajah serius Eve.
"Kak Ax, Aku mencintaimu," ucap Eve membuat Ax begitu terkejut, lalu ia kembali tertawa.
"Aku juga mencintaimu Eve, Kau adalah adikku yang sangat ku cintai," ucap Ax masih dengan tawanya.
Namun tiba-tiba Eve mengalungkan tangannya ke leher Ax, hingga membuat Ax terdiam. Ax terkejut dengan yang Eve lakukan. Ia menatap lekat wajah Eve yang kini terlihat semakin cantik dari sebelumnya.
"Eve tidak bercanda kak, Eve serius dengan yang Eve katakan. Eve sangat mencintai kakak," ucap Eve yang semakin mendekatkan wajahnya, hingga kini hidung mereka pun saling bersentuhan.
Ax menelan kasar salivanya, ini sungguh gila, sesuatu di bawah sana seakan bereaksi saat menatap bibir merah Eve yang terlihat begitu menggodanya. Ax menahannya sebisa mungkin, ia tahu Eve adalah adiknya. Ia tidak ingin terjebak dalam perasaan terlarang antara adik dan kakak.
Eve yang melihat Ax hanya diam saja dan tidak tertarik padanya pun perlahan melepaskan tangannya dari leher Ax dan berniat untuk beranjak dari pangkuan Ax.
"Maafkan Eve kak," ucap Eve sebelum hendak beranjak dari pangkuan Ax.
Rasanya Ax begitu tidak rela Eve beranjak dari pangkuannya. Ini memang sungguh gila, Ax merasa begitu menginginkan bibir merah adiknya itu. Hingga tangannya kembali menarik Eve kedalam pangkuannya dan membenamkan bibirnya pada bibir Eve. Sehingga membuat Eve membelalakkan matanya terkejut, rasanya ia begitu tidak percaya, iapun mulai memejamkan matanya menikmati setiap lu..ma..tan dari bibir Ax.
***
__ADS_1