Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 22


__ADS_3

Bryan menggendong tubuh Aya ke dalam rumah utama. Sedangkan Lusi terkejut saat melihat Tuan muda nya menggendong tubuh Aya.


"Ada apa dengan Nona Tuan?," Tanya Lusi khawatir.


"Dia hanya kecapekan, jadi saya harus segera membawanya ke kamar untuk istirahat. Dengan hati-hati Bryan mulai menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Di letakkan nya tubuh istrinya dengan begitu hati-hati di atas kasurnya.


Sejenak Bryan menatap wajah Aya. Lalu Ia mulai menyimuti tubuh Aya.


"Tidurlah, Aku akan menemanimu gadis jelekku," ucap Bryan yang sudah naik ke atas kasurnya menyusul Aya.


Bryan membaringkan tubuhnya di samping Aya, menatapnya dengan pandangan yang begitu sulit untuk diartikan. Sesaat kemudian Bryan merengkuh tubuh istrinya itu kedalam dekapannya. Perlahan matanya mulai terpejam,kini Ia tidur dengan posisi memeluk Aya.


Aya perlahan mambuka matanya kala rasa haus menderanya. Ia merasa tubuhnya begitu lamas, namun juga terasa berat. Bahkan susah sekali untuknya menggerakkannya.


Hingga mata itu pun terbuka sempurna, hal pertama yang menjadi pemandangannya adalah wajah Bryan yang begitu dekat dengannya.


Aya terdiam sejenak menatap wajah tampan yang ada tepat di depan wajahnya.


"Apakah Aku bermimpi," ucap Aya masih menatap wajah Bryan. Aya hendak menyentuh wajah Bryan untuk memastikannya. Tapi tiba-tiba mata Bryan yang tadinya terpejam kini pun terbuka membuat Aya begitu terkejut.


Begitu juga dengan Brayn, namun mereka terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mereka hanya terdiam dan saling memandang satu sama lain.


"Aya." Panggil Bryan masih menatap wajah Aya. Ini adalah kali pertamanya Bryan memanggil Aya dengan namanya.


Dan itu sontak membuat Aya berfikir bahwa dirinya bermimpi. Sebuah senyuman pun terlihat begitu jelas dari pandangan Bryan.


"Ternyata ini hanya mimpi," ucap Aya terkekeh sendiri. Ia berfikir kalau ini nyata, Bryan tidak akan pernah memanggil dirinya dengan namanya.


Tapi Aya begitu terkejut saat tiba-tiba saja Bryan menarik tubuhnya dan memeluknya.


Aya hanya mengerjapkan matanya tidak percaya apakah ini nyata atau tidak.


"Syukurlah kau baik-baik saja, Aku sangat menghawatirkan mu gadis jelek," ucap Bryan membuat Aya tersadar bahwa ini bukanlah mimpi.


Aya segera berusaha untuk melepaskan pelukan Bryan, namun Ia merasa tenaganya begitu lemah.

__ADS_1


"Lain kali kalau tidak bisa berenang tidak usah berenang. Kau membuatku panik saja." Ucap Bryan masih memeluk Aya.


Aya berusaha mengingat-ingat kembali setelah mendengar ucapan suaminya itu. Aya teringat dirinya yang tercebur ke dalam kolam renang saat acara reuni di kampusnya.


"Bryan lepaskan Aku," ucap Aya lirih.


Tersadar dirinya memeluk Aya pun akhirnya Bryan melepaskan pelukannya dan terlihat begitu canggung saat ini.


"Apa Kau yang menyelamatkan ku Bryan?," Tanya Aya ingin tahu.


Dengan cepat Bryan menyanggahnya.


"Tidak, mana mungkin Aku menyelamatkan mu gadis jelek," ucap Bryan.


Entah mengapa ada rasa kecewa saat Bryan berkata bukan dirinya yang menyelamatkan dirinya. Mana mungkin Bryan akan seperduli itu terhadapnya, pikir Aya.


"Oh," ucapnya kecewa. "Kalau begitu apakah Adrian yang menyelamatkan ku?. Kalau iya besok Aku akan menemuinya dan berterimakasih padanya," ucap Aya kemudian.


"Tidak, Kau tidak boleh menemui Adrian, Kau masih lemah dan Aku tidak mengizinkannya," cegah Bryan. Mendengar Aya mengucapkan nama Adrian membuatnya mengingat Adrian yang mengatakan bahwa dia telah menyukai Aya, dan Bryan juga dapat melihat tatapan cinta Adrian saat dirubah sakit waktu itu. Dan itu sontak membuat Bryan merasa begitu kesal.


Aya mengerutkan keningnya heran. "Kenapa Aku harus meminta izinmu?. Sebelumnya bukankah kita selalu melakukan hal tanpa izin satu sama lain. Kenapa tiba-tiba sekarang Aku harus meminta izin padamu Bryan?. Kita bukan pasangan suami istri seperti yang lainnya," ucap Aya.


Entah mengapa Aya begitu kecewa dengan penuturan Bryan itu. Aya menyimpulkan bahwa Bryan melakukan semua itu karena takut dengan Papa mertuanya.


"Iya-iya Aku tahu Kau begitu mencintai kekasih mu itu. Mana mungkin Kau akan begitu khawatir dengan ku?!, Baiklah kalau begitu, Aku akan melakukan ucapan mu itu, Kau puas?!," Ketus Aya. Lalu Ia berusaha untuk duduk.


"Kau mau Apa?!."


"Aku haus Bryan, Aku mau mengambil air putih," ucap Aya tanpa menoleh ke arah Bryan.


"Berhenti disitu!, Biar Aku yang mengambilnya," ucap Bryan. Kembali membuat Aya terkejut.


"Kau jangan berpikir macam-macam, tubuh mu masih lemah. Nanti kalau ada apa-apa dengan mu Kau tahu sendiri kan Papa pasti akan memarahiku nanti," ucap Bryan yang sudah beranjak. Kini Ia berjalan mengambil air putih yang ada di atas nakas.


Sedangkan Aya merasa kesal dengan ucapan Bryan. Namun Ia juga merasakan tubuhnya yang begitu lemas saat ini. Jadi Ia pun menuruti perintah dari Bryan.


"Minumlah!," ucap Bryan menyodorkan satu gelas air putih kepada Aya.

__ADS_1


Aya pun segera meminum air putih tersebut untuk menuntaskan rasa dahaganya yang membasahi tenggorokannya.


"Terimakasih," ucap Aya setelah memberikan kembali gelas yang Ia pegang kepada Bryan.


"Sekarang tidurlah agar Kau segera pulih. Aku tidak mau saat Papa pulang besok Kau terlihat kemah. Dia pasti akan menyalahkan ku nanti," ucap Bryan kemudian berjalan mengembalikan gelas ke tempatnya.


Lalu Ia pun kembali membaringkan tubuhnya di samping Aya.


"Cepatlah tidur!," Perintah Bryan.


"Iya-iya!." Aya pun membaringkan tubuhnya. Mereka pun tidur dengan saling membelakangi satu sama lain. Hingga malam pun semakin larut dan membawa keduanya terlelap dalam tidurnya.


***


Keesokkan harinya, Bryan tidak pergi ke kantornya, Ia beralasan kepada Aya bahwa Papanya akan pulang hari ini.


Padahal sebelum-sebelumnya Ia tidak akan perduli jika Papanya pulang dari luar negeri. Itu hanya alasannya saja kepada istrinya itu.


Setelah bangun tidur tadi pagi, Aya merasa dirinya jauh lebih baik dari pada semalam. Iapun hendak beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan dirinya menuju bathroom.


"Kau mau kemana?!" Ucap Bryan yang menyadari Aya hendak beranjak dari tempat tidur.


Sebelumnya Bryan hanya memainkan ponselnya dan sesekali menyesap kopi yang di bawakan oleh pelayan tadi pagi. Pandangannya teralihkan pada sosok gadis yang ada di kasurnya saat melihat pergerakan istrinya.


Mendengar Bryan tiba-tiba bertanya kepadanya membuat Aya memutar bola matanya jengah.


"Apa mau buang air kecil pun Aku harus meminta izin padamu?!," Kesal Aya. Bukankah dari tadi suaminya itu fokus pada ponselnya?.


"Apa Kau bisa melakukannya sendiri?," Tanya Bryan yang hendak beranjak namun di cegah oleh Aya.


"Stop!, berhenti di situ Bryan. Aku tidak selemah itu, tubuhku sudah tidak selemas semalam. Jadi Aku bisa melakukannya sendirian," ucap Aya membuat Bryan kembali duduk dan memperhatikan Aya yang mulai memasuki bathroom.


Di dalam bathroom Aya sungguh kesal dengan tingkah suaminya pagi ini. Karena tiba-tiba saja Bryan tidak memperbolehkan dirinya untuk melakukan apapun.


Aya mulai membuka satu persatu bajunya. Lalu Ia kembali melihat tanda kemerahan yang mulai samar namun masih dapat Ia lihat.


Aya teringat bahwa ternyata itu bukan karena serangga melainkan karena ulah suaminya itu.

__ADS_1


"Aku lupa menanyakan hal ini pada Bryan, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu nanti!," ucap Aya begitu kesal mengingat Bryan yang membohonginya.


***


__ADS_2