
Bryan terkejut melihat kedatangan istrinya. Tangannya refleks langsung mendorong tubuh wanita itu.
"Sayang, ini bukan seperti yang Kau pikirkan." Bryan mencoba untuk menjelaskan.
Aya menatap tajam suaminya,lalu beralih pada wanita yang berdiri di sana dengan menyunggingkan senyumnya.
"Apa yang akan Kau jelaskan?!, Sudah jelas mataku melihat dengan jelas kalian sedang berpelukan. Lalu apa lagi yang akan Kau jelaskan?!." Aya terlihat begitu marah. Dengan cepat Aya pun langsung berlari pergi dari sana.
"Sayang... tunggu, Aku akan menjelaskan semuanya," teriak Bryan, namun Aya sudah menjauh dari sana.
Bryan langsung menatap tajam ke arah koleganya yang ada di belakangnya.
"Sebenarnya apa motif Anda melakukan ini!," bentak Bryan. Membuat wanita itu merasa ketakutan, iapun menelan ludahnya secara kasar.
"Misiku berhasil, tapi sekarang bagaimana dengan nasibku?," ucap Tasya dalam hati.
"Maaf Tuan Bryan, tapi tadi saya merasa pusing, jadi refleks saya berpegangan pada Anda. Maafkan saya karena sudah membuat istri Anda salah paham," ucap Tasya berusaha mencari alasan.
"Tapi Anda sudah terlanjur membuat istri saya salah paham. Saya tidak akan melepaskan mu!," ucap Bryan begitu dingin. Lalu ia segera pergi meninggalkan ruangannya dan mengejar istrinya.
Sementara Tasya bernafas lega Bryan segera pergi dari sana. Lalu ia pun mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo Nona, saya sudah menjalankan perintah Anda," ucapnya kepada seseorang di seberang telepon.
"Bagus Tasya, tapi Aku tidak membenarkan Kau yang sudah memeluk suamiku!" protes Aya.
Ya, Aya sendiri lah yang sedang membuat permainan itu. Sebenarnya hari ini adalah ulang tahun suaminya, Aya ingin memberikan sebuah kejutan yang membuat suaminya itu benar-benar terkejut.
Kini ia telah menyiapkan sebuah kejutan di sebuah restoran untuk suaminya. Aya juga sudah memberi tahu Papa mertuanya tentang kejutan tersebut.
Kini Aya pulang ke rumah utama untuk membawa anak-anaknya bersamanya.
Aya membawa mobilnya sendiri, karena sebelumnya tanpa sepengetahuan suaminya, Aya telah belajar menyetir.
Hingga mobilnya kini telah sampai di restoran yang ia pesan.
"Lusi, Sari, ayo cepat kita masuk, Aku yakin suami ku sebentar lagi akan sampai ke sini," ucap Aya kepada kedua pengasuh putranya.
"Baiklah Nona," ucap keduanya.
Mereka pun memasuki restoran tersebut. Disana sudah ada ayah Hendra dan yang lainnya termasuk Lisa dan juga Adrian.
Sementara Bryan sungguh merasa panik karena setelah sampai di rumah, ia sudah tidak mendapati istri dan kedua putranya.
"Sayang, Aku sungguh tidak melakukan apapun bersama Nona Tasya. Sekarang kemana Aku harus mencari mu?," ucap Bryan begitu frustasi.
Bagaskara yang melihat putranya begitu kalut pun sebenarnya hendak tertawa. Dulu putranya begitu membenci menantunya, tapi lihatlah kini putranya sama sekali tidak bisa hidup tanpa menantunya itu.
Ia segera menghampiri putranya yang nampak begitu kebingungan mencari menantu dan cucu-cucunya.
"Kau kenapa Bryan?," tanya Bagaskara pura-pura tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Pa, apa Papa tahu kemana istri ku pergi?, Aya membawa Bintang dan Galaxy Pa," tanya Bryan.
"Apa!, Istrimu pergi membawa kedua cucuku?!. Kenapa istri mu bisa pergi Bryan, apa Kau kembali menyakitinya?!," ucap Bagaskara menyentak putranya, namun dalam hatinya ia begitu geli dengan sandiwaranya itu.
"Aya salah paham Pa," ucap Bryan menghela nafas panjangnya.
"Maksudmu?."
"Tadi ada kolega di kantor yang tiba-tiba saja memelukku Pa." Lalu Bryan segera menceritakan kejadian siang tadi kepada papanya.
Bagaskara hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Baiklah Papa akan membantumu untuk mencari di mana istri dan cucu Papa," ucap Bagaskara.
Bryan menganggukkan kepalanya, lalu Bagaskara berpura-pura sedang menelpon seseorang untuk mencari menantunya.
"Papa tahu istri mu dan kedua putramu kemana Bryan," ucap Bagaskara membuat Bryan begitu bersemangat untuk mengetahuinya.
"Benarkah Pa??" Ucap Bryan. Kalau begitu di mana istri dan anak-anak ku Pa?," tanya Bryan yang begitu tak sabar.
"Sekarang cepatlah,ayo kita susul menantu dan kedua cucuku," ajak Bagaskara.
Mereka pun segera menuju mobil dan pergi ke restoran tempat Aya dan putranya berada.
"Papa yakin Aya berada di sana?," tanya Bryan saat dalam perjalanan menuju restoran. Bryan begitu heran kenapa istri dan putranya berada di sebuah restoran.
Bukankah jika ingin kabur, paling tidak seharusnya pergi ke rumah mertuanya?. Tapi ini malah ke sebuah restoran.
Kini mobil Bagaskara telah sampai di depan restoran. Bryan hendak membuka pintu mobil untuk keluar dan mencari istrinya di dalam restoran.
"Bryan."
"Ya Pa."
"Bawalah bunga ini, mungkin saja Kau akan membutuhkannya nanti," ucap Bagaskara seraya menyerahkan satu ikat mawar merah kepada putranya.
Bryan semakin heran, lalu ia segera mengambil bunga tersebut dan membawanya masuk ke dalam restoran. Bryan tidak ingin memikirkan hal lain lagi selain menemui istri dan putra-putranya.
Namun setelah memasuki restoran tersebut, Bryan kembali di buat heran. Didalam sana tak ada satu pengunjung pun.
Bryan mulai melangkahkan kakinya semakin masuk kedalam restoran.
"Tuan," panggil karyawan restoran tersebut. Karyawan restoran tersebut memberikan sebuah surat untuk Bryan lalu kembali pergi dari sana.
Bryan mengerutkan keningnya, lalu ia pun segera membuka dan membaca sebuah surat dalam amplop tersebut.
'Aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini. Mencintaimu adalah hal terindah yang pernah kurasakan' isi dari surat tersebut.
Semburat senyum terukir di sudut bibir Bryan. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya. Namun tetap saja tak ada seorangpun di dalam sana.
Bryan pun semakin heran dengan semua ini. Dan tiba-tiba saja ada sebuah mobil remote yang berjalan ke arahnya dengan terdapat sebuah surat di atasnya.
__ADS_1
Bryan kembali mengambil surat tersebut.
'Kini duniamu bertambah dengan kehadiran dua malaikat kecil yang akan selalu menemani langkahmu. We love you Papa'
Bryan semakin mengembangkan senyumnya. Lalu di sana ada sebuah tanda yang tiba-tiba saja menyala dan menunjuk ke arah tangga.
Bryan pun kembali melangkah mengikuti arah tanda tersebut. Ia melangkah naik menuju tangga yang ada di sana.
Dan sampailah Bryan di sebuah atap restoran yang kini terlihat begitu cantik dengan dekorasi yang mengagumkan.
Hingga ia begitu terkejut kala mendengar suara begitu banyak orang dengan riuhnya berkata.
"Kejutan...!!."
Bryan mematung kala melihat istri dan kedua putranya berada di antara orang-orang yang di kenalnya.
Aya menggendong Bintang dan mendorong kereta bayi yang terdapat Galaxy di sana dan membawanya menuju ke arah Bryan yang masih mematung.
Aya tersenyum, lalu ia membisikkan sesuatu di telinga suaminya.
"Happy birthday sayang, maaf karena Aku sudah membuat mu begitu khawatir," bisiknya lembut. Lalu Aya mencium pipi suaminya dengan begitu mesranya.
Bryan segera menekan belakang kepala Aya dan mencium bibir Aya dengan begitu lembutnya. Membuat orang-orang yang menatap mereka pun bersorak ikut baper melihat kedua pasangan tersebut.
"Jangan pernah lagi mengulanginya, Aku benar-benar takut kehilangan kalian dalam hidup ku," ucap Bryan seraya mengelap bibir istrinya yang basah akibat ulahnya. Lalu Bryan segera menciumi kedua putranya.
Sementara Aya menundukkan kepalanya merasa malu dengan semua orang yang ada di sana. Pipinya memerah akibat ulah suaminya.
Bryan tersenyum melihat semu merah istrinya , lalu ia segera mengambil alih Bintang kedalam gendongannya. Sementara Aya mendorong kereta bayi menuju ke semua orang di sana.
Mereka berjalan bersama, sementara orang-orang di sana terus saja mengejek kedua pasangan yang nampak begitu bahagia itu.
"Cieee... kalian ini seperti pengantin baru saja." Adrian terus saja mengejek kedua pasangan tersebut.
Dan semua itu semakin membuat Aya begitu malu dan menyembunyikan dirinya ke belakang suaminya.
"Selamat ulang tahun nak, semoga kalian selalu berbahagia. Dan semoga selalu bisa mengatasi batu kerikil yang menerpa pernikahan kalian. Papa selalu mendoakan yang terbaik untuk mu," ucap Bagaskara memeluk putranya.
"Jadi Papa mengetahui semua kejutan ini?. Dan kolega bisnis di kantor tadi, juga semua drama ini?."
Bagaskara menganggukkan kepalanya, dan itu membuat Bryan seakan tak percaya dengan semua yang terjadi. Ternyata istrinya sudah bekerjasama dengan Papanya sendiri.
"Bryan,mana mawar yang ku berikan tadi?, Apa sudah Kau berikan kepada istri mu?" tanya Bagaskara berbisik kepada putranya.
Bryan teringat tadi meninggalkan mawar tersebut di meja bawah saat dirinya membaca sebuah surat yang di tulis oleh istrinya.
"Ada di bawah Pa," ucap Bryan.
Bagaskara menepuk keningnya.
"Kenapa Kau meninggalkannya di bawah?, Di dalam mawar tersebut ada kunci mobil baru untuk istri mu," bisik Bagaskara kembali. Dan membuat putranya begitu terkejut.
__ADS_1
"Kenapa Papa tidak mengatakannya?!," ucap Bryan dan langsung menyerahkan baby Bintang kepada papanya. Ia pun kembali ke bawah untuk mengambil satu ikatan bunga mawar yang sempat terlupa tadi.
***