
"Bagaimana, Kau berhasil melakukannya?," ucap Deyo kepada seorang wanita.
"Tentu saja, Aku sudah tidak sabar untuk menjadikan dia milikku seutuhnya," ucap wanita itu penuh seringai.
"Bagus Rena, sekarang kau harus membawanya jauh-jauh, karena sekarang giliran ku untuk merencanakan bagian ku." Deyo tersenyum penuh seringai.
Ya, Rena dan Deyo telah merencanakan sesuatu untuk melancarkan aksinya.
"Kalau begitu Aku akan menemui Bryan, kau lakukanlah rencana mu itu!." Rena mulai berjalan menjauh dari Deyo.
Dengan senyuman liciknya, Rena melihat Bryan yang kini tengah memegangi kepalanya merasakan sedikit pusing dan merasa tubuhnya kepanasan.
Sebelumnya, Rena membujuk Bryan untuk membetulkan laptopnya yang sering ngehang. Tadinya Bryan sempat menolaknya. Namun Rena mempunyai berbagai macam alasan agar Bryan datang ke kamarnya.
Saat Bryan memasuki kamar Rena, Ia mencium bau wangi yang Ia yakini adalah lilin aromaterapi yang nampak terlihat di kamar Rena.
Namun tak berapa lama kemudian, setelah Ia selesai mengutak-atik laptop Rena. Tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pusing dan mulai merasakan suhu tubuhnya yang mulai memanas.
"Bryan, Kau kenapa?," tanya Rena pura-pura. Tangannya mulai menyentuh pundak dan lengan Bryan.
Entah mengapa saat tangan Rena menyentuhnya, Bryan merasa suatu getaran yang aneh. Tubuhnya merespon sentuhan itu.
Tangannya masih berusaha untuk memijat pelipisnya agar dirinya tetap tersadar. Namun tetap saja suhu tubuhnya terus saja meningkat. Membuatnya bingung dengan yang Ia rasakan saat ini.
Rena yang melihat hal itu, sontak saja tersenyum menyeringai. "Sebentar lagi Kau akan menjadi milik ku Bryan," ucapnya dalam hati.
Rena mulai mendekat dan berusaha menyentuh dada bidang Bryan. Tangannya terus saja menyentuh tubuh Bryan.
"Bryan, Aku menginginkanmu," bisiknya tepat di ceruk telinga Bryan.
Pandangan Bryan mulai berkabut, Ia seakan tak mampu untuk menahan sebuah gejolak saat kulit Rena bersentuhan dengan kulitnya.
Bryan terus berpikir, seakan ada yang salah di sini. Tubuh dan hatinya terus saja berperang, Ia terus berpikir apa yang salah.
***
Sementara itu, kini Aya sudah selesai membersihkan badannya. Ia pun menunggu suaminya, karena tadi Bryan sempat mengirimkan chat kepadanya bahwa suaminya itu akan menyusulnya.
__ADS_1
Sudah hampir satu jam Bryan tidak kunjung datang. Aya berusaha menelpon Bryan, namun ponsel suaminya tidak aktif.
"Apakah Bryan tidak jadi datang karena sibuk ya?. Tapi kenapa dia tidak mengabari ku?." Aya terus saja bertanya-tanya mengapa Bryan tidak datang juga.
Hingga suara pintu kamar tersebut terdengar ada yang mengetuk. Aya berfikir bahwa itu adalah Bryan, dengan cepat Aya pun membuka pintu kamar tersebut.
"Bryan kenapa kau lam..." Aya terbelalak melihat siapa yang ada di balik pintu saat dirinya membukanya.
"Kau!, Mau Apa Kau kemari!." ketus Aya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Deyo mendatangi kamarnya.
"Hei, tenang cantik, kenapa Kau galak sekali. Apa Kau juga akan galak saat bersama Bryan?." Deyo berusaha untuk menyentuh wajah Aya, namun segera ditepis oleh sang empunya.
Namun Aya tidak menghiraukan ucapan Deyo. Rasanya Aya begitu ketakutan saat ini. Ia terus berharap Bryan akan segera datang ke sana.
"Pergilah!, Aku tidak ingin melihatmu!." Ujar Aya begitu marah.
"Kau tidak bisa mengusir ku, karena apa?, Karena Bryan lah yang sudah memintaku ke kamar mu untuk menemanimu." Bohong Deyo.
"Apa kau bilang?!, Bryan tidak mungkin melakukan hal itu," sangkal Aya. Ia tidak akan pernah percaya dengan mulut Deyo.
"Kau ingin buktinya?, Baiklah Aku akan memberikan buktinya pada mu." Deyo nampak mengeluarkan ponselnya dari kantungnya. Jarinya mencari sebuah chat dalam pesan dari ponselnya.
"Lihatlah, Bryan sendiri yang sudah mengirimkan chat untuk menyuruh ku," ucapnya seraya memperlihatkan ponselnya kepada Aya.
Aya terbelalak melihat chat dari Bryan dari ponsel Deyo.
"Benarkah Bryan melakukan hal ini?, Kenapa dia tega sekali?," batinnya seolah tak percaya.
"Tidak!, Tidak mungkin Bryan melakukannya, Kau pasti berbohong kan?!." Aya berusaha menyangkalnya.
"Kau pikir Aku berbohong huh!, Kau itu hanya wanita simpanan Bryan, jangan berlagak Kau adalah kekasihnya. Kau itu hanyalah wanita murahan Kau tahu?!," ucap Deyo begitu merendahkan Aya.
"Benarkah Brayn melakukan hal ini padanya?, Apakah semua ucapan dan sikap manisnya itu hanya pura-pura?." Aya terus bertanya-tanya dalam hatinya, rasanya begitu perih mendengar ucapan Deyo.
Bukan karena hinaan Deyo, melainkan karena ucapan Deyo yang mengatakan bahwa Bryan lah yang menyuruh Deyo mendatanginya saat ini.
"Sudahlah culun, lebih baik kau ikut dengan ku!, Kita akan bersenang-senang malam ini." Deyo meraih tangan Aya dan berusaha menariknya.
__ADS_1
"Lepaskan!, jangan pernah menyentuh ku!," pekik Aya, suaranya begitu lantangnya sehingga terdengar dari arah luar.
Banyak yang berlari kedalam dan melihat apa yang terjadi di dalam sana. Mereka terkejut melihat Deyo yang berusaha untuk menarik tangan Aya dengan paksa. Namun mereka tidak mampu untuk berbuat apa-apa, karena Deyo adalah putra dari pemilik perusahaan terkemuka.
Dan mereka tidak ingin berurusan dengan hukum nantinya. Mereka hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat.
"Kau itu hanya gadis murahan yang menjadi simpanan orang-orang!. Jadi lebih baik kau menurut dengan ku, kita akan bersenang-senang malam ini." Deyo terus saja menarik tangan Aya tanpa perduli dengan penolakan Aya.
"Bryan!, tolong Aku...!," teriaknya dengan derai air mata.
"Kau jangan mengharapkan Bryan akan menolong mu, karena dia saat ini juga tengah bersenang-senang dengan Rena," ucap Deyo semakin membuat Aya terkejut, hatinya seakan ter..tu..suk oleh ribuan belati.
Deyo terus berusaha menarik tangan Aya, Ia akan membawa Aya ke dalam kamarnya yang tidak jauh dari sana.
Aya terus meronta, tangan satunya berusaha melepaskan tangan Deyo yang mencengkeram kuat pergelangan tangannya.
Hingga Deyo pun akhirnya berhasil menyeret Aya masuk kedalam kamarnya.
Sementara orang-orang di sana hanya melihat dan saling berbisik satu sama lain. Tak ada satupun yang membantu Aya disana. Mereka seolah menjadi patung dan menyaksikan sebuah pertunjukan di depannya.
Sedangkan saat ini Adrian dan Arkan baru saja datang dari super market terdekat untuk membeli keperluan untuk acara tengah malam nanti.
Disaat memasuki villa tersebut keduanya mengerutkan keningnya saat melihat banyak kerumunan teman-teman mereka yang ada di dalam sana.
Adrian dan Arkan pun menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi sehingga mereka berkerumun di sana.
"Ada apa?, Kenapa kalian semua berkumpul di sini?, Apa ada yang kami lewatkan?," Tanya Adrian kepada salah seorang temannya.
"Kalian melewatkan hal yang sangat penting. Deyo kembali berulah," celetuk teman Adrian.
"Apa maksudmu?."
"Deyo membawa paksa si culun kedalam kamarnya. Kasihan sekali si culun," ucap pria bernama Andi, salah satu teman Adrian.
"Apa Kau bilang?!, Lalu di mana Bryan?!!." Adrian mencengkeram kuat kerah baju Andi sehingga membuat Andi terkejut dan ketakutan.
"Di-dia sedang berada di kamar Rena," ucap Andi terbata.
__ADS_1
***