
"Bagaimana Di, apakah ada perubahan yang terjadi?" Pria bernama Denis menatap lekat Divya yang kini berada di depannya. Mereka tengah makan siang bersama di sebuah cafe.
Divya tertunduk, rasanya ia ingin membohongi diri. Namun semua yang Denis katakan padanya beberapa hari lalu, satu persatu mulai ia rasakan.
"Ya," ucap Divya singkat, namun mengundang kesedihan dari gurat wajahnya.
"Aku menyarankan agar Kau jangan terlalu kecapekan. Kurangi aktivitas yang berat. Karena itu akan memicu perkembangan sel kanker dalam tubuhmu Di!" Denis nampak geram karena gadis di depannya itu terus saja tidak menghiraukan ucapannya.
"Aku hanya ingin melakukan hal yang membuat ku bahagia Den. Aku tidak ingin mereka tahu semua kenyataan tentang ku. Rasanya begitu sulit tersenyum di atas luka," ucap Divya sendu.
"Aku membawakan obat ini untukmu. Ini akan meredam rasa sakit yang Kau rasakan. walau begitu, obat ini tidak menyembuhkan. Kau harus tetap harus menjalani terapi yang ku sarankan secepatnya Di," tegas pria bernama Denis itu.
"Sudahlah Denis, Kau dokter yang begitu cerewet. Aku akan menikmati hidup ku. Apa terapi yang Kau katakan itu bisa menyembuhkan sakitku?, tidak kan?. Lebih baik Aku menikmati setiap detik hidup yang Tuhan berikan padaku. Aku pergi dulu, terimakasih untuk obat ini," ucap Divya dan langsung beranjak dari cafe tersebut dan melambaikan tangannya kepada Denis.
***
Sean kini berada di perusahaan Askara. Ia ingin mengajak kerjasama perusahaan tersebut.
Sean ingin hubungan antar keluarga itu tetap terjalin.
"Terimakasih nak Sean sudah mau bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap Bryan.
"Paman jangan sungkan. Setelah Aku mengenal keluarga Paman, Aku menjadi yakin bahwa adikku akan bahagia bersama kalian. Terimakasih sudah merawat adikku selama ini Paman." Sean membungkukkan sedikit badannya kepada Bryan.
Bryan menepuk pundak Sean. "Eve adalah putri kami nak. Sejak dia pertama kali datang ke keluarga kami, kami begitu menyayanginya," ucap Bryan membuat Sean bahagia karena adiknya di besarkan di antara orang-orang baik seperti keluarga Askara.
"Oh iya nak Sean. Bagaimana hubungan mu dan Divya, apakah Kau berencana untuk melamarnya?" tanya Bryan ingin tahu.
Sean membatu di tempatnya. Rasanya ia begitu geli untuk membahas hubungan antara dirinya dan Divya. Menurutnya hubungannya dan Divya begitu konyol.
Tidak ada cinta di antara mereka. Yang ada hanyalah Divya yang selalu menggodanya dengan omongannya yang selalu membuatnya kesal.
Sean hanya tersenyum canggung menanggapi pertanyaan dari Bryan. Ia harus segera menghindari pertanyaan tersebut.
"Ah paman, sepertinya Aku harus segera pergi. Aku sedang ada urusan penting paman. Kita bahas lagi percakapan ini besok. Sampai jumpa paman." Sean langsung berdiri dan beranjak dari sana.
Bryan menyipitkan matanya menatap punggung Sean yang mulai menjauh. Lalu sebuah senyum terukir di sudut bibirnya. "Dia terburu-buru pasti karena ingin bertemu dengan Divya," ucap Bryan menerka-nerka.
***
Sementara Sean bernafas lega bisa menghindari pertanyaan yang Bryan lontarkan padanya barusan.
Ia memutuskan untuk menemui Eve ke kampusnya. Tapi ia kembali mengurungkannya. Ia tidak ingin pertanyaan seperti yang Bryan ucapkan padanya kembali terulang lagi.
__ADS_1
Sean menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Halo, bisa kita bertemu?" tanya Sean kepada seseorang di seberang telepon.
"........"
"Sudah jangan memancing kemarahan ku, datanglah ke cafe J. Aku menunggumu di sana," ucap Sean jengah.
Ia pun segera mematikan ponselnya dan kembali fokus menyetir.
Beberapa saat kemudian, mobil Sean sampai di cafe yang ia sebut tadi.
Sean berjalan memasuki cafe tersebut dan duduk di sana. Menunggu kedatangan seseorang sembari memesan sebuah minuman untuk membasahi tenggorokannya.
"Hai pacar, tumben sekali mengajakku bertemu, rindu ya?. Jangan rindu dong,berat tahu," sapa Divya dengan mengeluarkan kecerewetannya.
Sean hanya menatap jengah ke arah gadis di depannya itu.
"Duduk!, Aku ingin berbicara dengan mu," perintah Sean.
Divya pun terkekeh seraya mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan Sean. Menatap Sean dengan senyum.
"Jangan menatap ku seperti itu!" larang Sean. Ia merasa begitu risih dengan tatapan Divya saat ini.
"Kenapa Kau melarang ku?. Aku hanya ingin menatap pacar ku. Apa itu salah?" protes Divya.
"Hubungan kita?, Apa ada masalah?. Sepertinya hubungan kita baik-baik saja." Divya mengerutkan keningnya.
"Aku ingin menyudahi hubungan kita," ucap Sean tegas dan menatap serius wajah Divya.
Sejenak Divya terdiam menatap Sean.
"Kenapa?. Apa Kau sudah mulai mencintai ku?"
"Mana mungkin Aku mencintaimu. Hanya pria bodoh yang mencintai gadis seperti mu," ucap Sean.
Divya terdiam. Tangannya me..re..mas ujung dress yang ia pakai saat ini. Perkataan Sean membuat hatinya mencelos.
Ya, memang seharusnya pria manapun tidak pantas mencintainya. Divya menghela nafasnya perlahan.
"Baiklah, kalau begitu kita berakhir sampai disini,"ucap Divya dengan raut wajah datar. Ia pun berdiri dan hendak beranjak dari sana.
"Kau mau kemana?" tanya Sean yang melihat Divya berdiri.
__ADS_1
"Pulang!. Aku takut Kau akan jatuh cinta pada ku dan menjadi bodoh bila Aku terus berada di dekat mu," ucap Divya dingin.
Sean terkejut melihat ekspresi wajah Divya yang tidak seperti biasanya. Wajah yang selalu menggodanya, mengejeknya kini berubah menjadi begitu dingin.
Divya pun segera melangkah keluar dari cafe tersebut dan meninggalkan Sean.
Ia memasuki mobilnya dan menutupnya. Divya menyenderkan kepalanya di atas setirnya. Air matanya mulai berjatuhan mengingat keadaannya saat ini.
"Aku memang pantas untuk tidak di cintai siapapun. Benar apa yang Sean katakan." ucapnya dengan terus meneteskan air matanya.
Selama ini Divya terus membodohi dirinya sendiri dengan berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang.
Tidak pernah ada yang tahu bahwa sebenarnya dirinya sangat rapuh dalam menghadapi cobaan yang Tuhan berikan padanya.
"Apakah Aku memang tidak pantas untuk di cintai?, Kenapa Kau memberikan penyakit ini padaku Tuhan. Mama, Papa..." Divya mengeluhkan dirinya sendiri pada sang pencipta.
Rasanya ia sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani kehidupan. Ia sebenarnya merasa begitu ketakutan. Ia takut sendirian, apalagi membayangkan bila berpisah dengan Mama dan Papanya.
***
Sean merasa sangat bersalah mengatakan ucapannya tadi kepada Divya. Dapat ia lihat bagaimana raut wajah Divya.
Apa gadis itu marah?, apa gadis itu menangis?. Begitulah kira-kira yang Sean pikirkan saat ini.
Namun egonya menutupi hatinya. "Mana mungkin gadis seperti dia bersedih mendengar ucapan ku?, Dia itu kan gadis aneh," ucap Sean. Ia pun segera meninggalkan cafe tersebut menuju mobilnya.
Namun Sean mengerutkan keningnya ketika melihat mobil Divya yang masih terparkir di depan cafe tersebut.
"Kenapa gadis itu masih ada di sini?, Apa yang dia lakukan?."
Sean berusaha untuk mendekati mobil tersebut. Diketuknya kaca jendela mobil milik Divya. Namun tidak ada respon. Hingga Sean pun mendekatkan wajahnya dan melihat apakah di dalam mobil tersebut ada sang pemiliknya.
Sean membola melihat sesuatu di dalam sana. Ia melihat Divya nampak begitu kesakitan memegangi perutnya.
"Divya... Buka pintu mobilnya... Divya...!" Sean berteriak tak memperdulikan orang-orang yang menatapnya.
Sementara Divya pun rasanya sudah tak dapat mendengar lagi. Rasa sakit itu kembali menderanya dan membuatnya sangat kesakitan. Tangannya berusaha meraih tas yang ada di kursi sampingnya.
Namun seakan letak tas itu begitu jauh. "Ah... sakit sekali Tuhan...!"
Keringat dingin mulai mengucur seiring rasa sakit itu terus menderanya.
Rasanya Divya sudah tidak kuat lagi. Hingga perlahan ia merasa matanya mulai menggelap. Namun samar-samar ia melihat seorang telah membuka pintu mobil miliknya dengan suara yang terus memanggil namanya.
__ADS_1
Wajah Sean terlihat begitu samar sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
***