Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 110 (season 2)


__ADS_3

Divya merasa begitu kesal. Hukuman Sean membuatnya kesal sekesal-kesalnya.


Bagaimana tidak, Sean menyuruhnya untuk memeluknya saat mereka tidur. Dan itu membuatnya risih, malu dan kesal. Sean selalu berbuat seenaknya saja terhadapnya.


Sean benar-benar puas dengan hukumannya. Ia tahu bagaimana cara membuat Divya begitu kesal.


Entah mengapa ia begitu menikmati saat melihat Divya mengerucutkan bibirnya menahan kesalnya.


"Kau tahu kan sekarang, jika Kau terus membuat ku kesal maka Kau harus memeluk ku seharian. Siapa suruh Kau mengatakan Aku tidak laku. Sekarang Kau harus merasakan ketidak lakuan ku!" Sean tertawa penuh kemenangan.


Divya mengerutkan keningnya mendongak menatap Sean. "Kau mengatakan apa sih?!"


"Aku juga tidak tahu, sekarang cepatlah tidur! Atau Kau mau melakukan hal lainnya?" Sean menaik turunkan alisnya menatap Divya.


"Tidak!" Divya menjawab dengan tegas. Ia begidik ngeri membayangkan Sean dan dirinya yang melakukan hal yang tidak-tidak.


Sementara Sean tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah Divya. Ia bisa menebak apa yang Divya pikirkan saat ini.


"Kau pikir melakukan hal apa?. Aku hanya menyuruh mu untuk memijit ku. Otak liar mu pasti sudah bertraveling ya?" Sean kembali terbahak. Rasanya sungguh menyenangkan mengerjai istrinya itu.


Sementara Divya mendengus kesal. Ia pun menulikan telinganya dan segera memejamkan matanya seraya memeluk tubuh Sean, dengan catatan karena terpaksa.


"teruslah tertawa sampai nyamuk masuk kedalam mulut mu yang menyebalkan itu!" Divya merutuk suaminya dalam hati.


***


Beberapa hari berlalu.


Divya merasa was-was bila penyakitnya akan kambuh sewaktu-waktu. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk cek up.


Divya pergi ke rumah sakit di saat Sean pergi ke kantor.


Lagipula obatnya juga sudah mulai habis. Ia tidak ingin Sean melihat saat dirinya kesakitan.


***


"Perkembangan kesehatan mu sedikit meningkat Di. Sel kanker dalam usus mu mulai menghentikan penyebarannya. Semoga saja tidak menjalar ke organ lain." Denis berkata setelah memeriksa keadaan Divya.


"Sungguh?, Apakah Aku akan sembuh Denis?" Divya bertanya begitu senang.

__ADS_1


"Kau pasti akan sembuh Di, tapi Kau harus melakukan terapi yang ku sarankan. Karena itu akan mencegah penyebaran sel kanker dalam tubuhmu." Denis memberikan saran kepada Divya.


"Apa itu akan menyembuhkan ku Denis. Sementara kanker itu sudah mulai menyebar ke salah satu organ tubuh ku yang lain." Divya merasa begitu putus asa.


Melihat keputusasaan Divya, Denis pun menepuk pundak Divya. "Di, Kau harus sembuh. Pikirkan tentang keluarga mu. Pikirkan tersebut orang-orang yang menyayangi mu. Pikirkan tentang ku, Aku mencintaimu Di, Dan Aku tidak ingin Kau patah semangat. Kau harus sembuh," ucap Denis.


Denis begitu menyukai Divya. Ia tidak perduli dengan penyakit yang Divya derita. Ia ingin gadis di depannya itu sembuh. Denis juga belum mengetahui tentang pernikahan Divya dan Sean.


Bertepatan dengan itu pintu ruang pemeriksaan tersebut terbuka.


Di sana menampilkan Sean dengan raut wajah kemarahan.


"Lepaskan tanganmu dari pundak istriku!" Sean berkata begitu menggelegar. Sehingga Divya langsung menjauh kan dirinya dari Denis.


Sean menarik Divya sehingga masuk kedalam pelukannya. Membuat Denis begitu terkejut,tak terkecuali Divya.


"Apa maksudmu dengan istrimu?" Denis terkejut dengan penuturan Sean. Pria itu tiba-tiba datang dan mengatakan gadis yang ia cintai itu adalah istrinya.


"Apa Kau bermasalah dengan pendengaran mu?. Aku akan mengatakan sekali lagi. Divya adalah istri Ku! Dan Aku tidak ingin Kau dekat-dekat dengan istri ku!" Sean berbicara dengan tegasnya.


"A-apa? Benarkah yang dia katakan Di?" Denis mencoba mencerna ucapan Sean. Ia pun bertanya kembali kepada Divya untuk memastikannya.


Gadis yang ia incar selama ini telah menjadi milik pria lain.


"Sekarang Kau sudah tahu kan? Jangan pernah mendekati istri ku lagi atau Kau akan tahu akibatnya!" Sean mengancam Denis yang masih terdiam di tempatnya.


Dengan segera Sean membawa istrinya keluar dari sana dengan masih memeluknya.


Sementara Divya merasa ketakutan melihat Sean yang marah seperti itu. Ia tidak menyangka Sean bisa tahu dia ada di rumah sakit. Dan yang pasti ia merasa bingung kenapa Sean bisa semarah itu.


Sebenarnya Sean sudah memasang sebuah GPS di ponsel Divya. Jadi kemanapun Divya pergi, ia pasti mengetahuinya.


Sampai di luar, Divya masih nampak begitu ketakutan melihat kilatan kemarahan dari mata suaminya. Divya tidak pernah tahu Sean bisa semarah ini.


Lalu apa yang Sean marah kan? Divya tidak tahu. Ataukah karena pergi keluar tidak bilang-bilang dengannya?


Divya terus bermonolog dalam hatinya. Hingga suara Sean membuyarkan monolog hatinya.


"Lain kali jangan pernah menemui dokter itu lagi! Aku tidak mengizinkan mu!" ucap Sean dengan suara yang begitu dingin.

__ADS_1


"Ke-kenapa Aku tidak boleh bertemu dengan Denis? dia dokter ku, Atas dasar apa Kau tidak memperbolehkan ku untuk menemui dokter ku?" jawab Divya memberanikan diri.


Entahlah, Sean tidak mengerti kenapa dia begitu marah saat mengetahui Divya ke rumah sakit dan bertemu dengan Denis. Hatinya seolah terasa begitu panas hanya dengan melihat pria itu begitu dekat dengan Divya.


Sean menjadi kikuk menjawab pertanyaan dari Divya. Wajah yang tadinya garang seketika menghilang.


"Ya karena Aku tidak suka! Dan apapun yang membuat ku tidak suka, Kau harus menjauhinya!" jelas Sean membuat Divya jengah. Larangan suaminya tanpa alasan.


Divya merasa ruang geraknya yang terasa begitu berat. Sean memeluk pinggangnya begitu erat.


"Sean, bisakah Kau melepaskan pelukan mu? Aku tidak bisa bergerak." Divya berusaha meminta Sean melepaskannya.


Sean tersadar, saking merasa begitu nyamannya memeluk tubuh Divya. Sean melupakan segalanya.


Tapi bukannya melepaskan, Sean malah semakin mendekatkan tubuhnya kepada istrinya. Hingga Divya pun terkejut dengan apa yang Sean lakukan.


"Sean, lepaskan Aku!" perintah Divya. Kini Divya dapat melihat wajah Sean begitu dekat. Matanya yang kecoklatan, alis tebalnya, hidung mancungnya, bahkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya membuat suaminya nampak begitu tampan.


Wajah Divya memerah memikirkan tentang Sean. Rasanya ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia memikirkan suaminya yang saat ini nampak begitu tampan.


Divya menundukkan kepalanya untuk menutupi rasa malunya. Pipinya memanas seketika.


Sean yang melihat ekspresi wajah Divya pun rasanya begitu gemas. Sedari tadi pandangannya tertuju pada bibir Divya yang nampak begitu menggoda.


Ingin rasanya Sean merasakan bibir Divya yang nampak begitu lembut itu. Mungkin bibir itu akan terasa hangat. Hingga ia terus berfantasi liar untuk merasakan bibir itu.


Namun saat Sean melihat Divya menundukkan kepalanya. Tangannya meraih dagu lancip milik istrinya. Menariknya ke arahnya agar ia dapat melihat wajah Divya yang kini berubah menjadi sangat cantik dan manis.


Pandangan Sean kembali beralih pada bibir merah Divya. Sean melihat Divya yang mulai memejamkan matanya seolah memberinya izin untuk merasakan bibir hangat itu. Debaran kencang pun menyelimuti dirinya.


Sementara Divya merasa begitu malu saat ini. Jantungnya berdetak begitu kencang ingin keluar dari tempatnya.


Ia mulai memejamkan matanya saat melihat wajah Sean yang semakin dekat dengan wajahnya. Ia pun pasrah dengan apa yang akan Sean lakukan padanya. Hingga ia merasakan sapuan hangat nafas Sean yang terasa begitu dekat.


Dan...


Cklek...


"Apa yang kalian lakukan?!"

__ADS_1


***


__ADS_2