
Rena mendengus kesal saat Brian meninggalkannya begitu saja. Panggilnya kepada pria yang selama ini menjadi kekasihnya tak lagi di hiraukan.
"Aku tidak akan melepaskanmu Bryan, lihat saja Aku akan merebut mu dari istrimu itu," sungutnya.
***
Sementara Bryan meraih ponselnya dalam sakunya, Ia melihat postingan Rena yang tadi mengajaknya untuk berfoto bersama.
"Maafkan aku Rena, Aku tahu Aku sudah salah menduakan cintamu. Tapi saat ini Aya lah istri sah ku, dan Aku pun tidak akan sanggup bila harus menceraikannya," ucap Bryan sendu. Lalu Ia meng unfollow akun Ig Rena.
Kini Bryan sudah memutuskan bahwa dia tidak akan bercerai dengan Aya. Entah sejak kapan perasaan itu muncul, tapi Bryan berjanji pada dirinya sendiri, Ia tidak akan pernah melepaskan Aya.
Dengan langkah cepat Bryan berjalan menuju mobilnya. Ia sudah tidak sabar lagi untuk pulang dan menemui istrinya itu.
Senyumnya terus terukir kala mengingat wajah Aya yang menurutnya begitu manis dan cantik. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat jantungnya berdetak kencang.
"Apa yang sedang Kau lakukan saat ini?, Apa Kau masih terlelap dengan memeluk guling?. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mu." Gumamnya masih dengan senyumnya yang tak luntur.
Bryan pun menjalankan mobilnya melesat menyusuri jalanan kota untuk satu tujuan, yaitu istrinya.
Sementara itu, Aya tengah menangis sesenggukan di dalam taksi. Aya melihat sesuatu yang membuat hatinya ter cubit begitu ngilu.
Bahkan ngilu nya melebihi sakit kepala. Apabila sakit kepala obatnya Paracetamol, lalu bagaimana dengan ngilu di hatinya?. Dan obatnya adalah suaminya.
Namun apa jadinya bila suaminya malah mencintai gadis lain. Aya terus bermonolog dalam hatinya yang begitu sesak itu.
Sedangkan supir taksi di depannya menatap bingung dari arah spion dalam. Ia bingung harus bertanya apa. Ingin bertanya masalah apa yang membuat penumpangnya itu terus menangis, takut bila di kira mau ikut campur. Ingin bertanya kemana tujuan penumpangnya, tapi rasanya begitu canggung. Karena memang sedari tadi taksi itu hanya berputar-putar saja.
Hingga akhirnya supir taksi tersebut pun memberanikan dirinya untuk bertanya ke mana arah tujuan Aya saat ini.
"Nona maafkan saya, saya tahu Nona sedang bersedih. Tapi apakah kita akan terus berputar-putar tanpa tujuan Nona?," Tanya supir taksi itu.
Mendengar ucapan supir taksi tersebut, Aya pun menghentikan tangisnya. Lalu Aya malah terkikik geli saat ini sehingga membuat supir taksi itu pun menjadi ketakutan.
Supir taksi itu mengira bahwa Aya mungkin sudah menjadi gila karena permasalahan hidup yang sudah dihadapi oleh penumpangnya itu.
Namun berbeda dengan Aya, ia justru memikirkan supir taksi itu mungkin ingin menanyakan hal itu sejak tadi kepadanya. Karena tangisannya, justru malah membuat supir taksi itu menghambat pertanyaan yang akan di lontarkannya seperti halnya barusan.
"Iya pak, maafkan saya, tolong antar saya jalan K," ucap Aya akhirnya.
"Baiklah Nona"
Aya sampai di depan pintu rumah ayahnya. Sebelumnya Aya mengurungkan niatnya untuk datang. Namun daripada Ia harus kembali ke rumah utama dan bertemu dengan Bryan. Rumah ayahnya lah pilihan yang menurutnya sangat tepat.
Tangannya mengetuk pintu rumah ayahnya. Dan tidak menunggu lama, ayahnya pun datang membuka pintu tersebut.
__ADS_1
Hendra terkejut melihat sang putri datang ke sana tanpa mengabarinya. Ia begitu senang Aya kembali berkunjung.
"Kau datang nak, kenapa tidak mengabari ayah?." Ujarnya seraya membawa masuk putrinya.
Hendra kembali menengok ke belakang putrinya, Ia tidak melihat ada menantunya di sana.
"Kau sendirian nak, dimana suamimu?," Tanya Hendra.
"Ya ayah, Aku sendiri. Suamiku tengah berada di kantor saat ini," sahut Aya dengan begitu malasnya.
Mengetahui raut wajah putrinya yang nampak berbeda saat menyebut nama menantunya, Hendra mengerutkan keningnya.
"Apa kalian bertengkar nak?." Tanya Hendra penuh selidik.
"Tidak ayah, Aya sedang tidak ingin membicarakan tentang dirinya saja. Apakah ayah sudah masak untuk makan siang?. Biarkan Aya saja yang memasaknya kalau ayah belum memasak." Ucap Aya berusaha mengalihkan pertanyaan sang ayah.
Namun itu malah semakin membuat Hendra yakin bahwa kini sedang ada masalah antara putrinya dan menantunya.
"Baiklah nak, Ayah juga sudah merindukan masakan mu." Hendra tidak ingin mencampuri permasalahan rumah tangga putrinya. Hendra yakin bahwa Putrinya itu sudah dewasa dan dapat menyelesaikan makalah rumah tangganya sendiri.
Mereka pun menuju dapur. Aya mendudukkan dirinya di meja makan, sedangkan Hendra membuatkan putrinya itu teh manis.
"Minumlah nak." Hendra memberikan secangkir teh hangat untuk Aya.
Mereka pun berbincang-bincang untuk melepas rindu karena beberapa hari tidak bertemu.
***
Bryan tergesa-gesa menuju kamarnya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat sang istri yang terus saja memenuhi otaknya.
"Aya, Aku pulang." Ucapnya seraya membuka pintu kamarnya.
Pandangannya tertuju pada tempat tidur yang sudah biasa Ia dan istrinya gunakan untuk tidur bersama.
Dahinya mengernyit saat tak mendapati Aya di sana.
"Aya!." Panggilnya kembali.
Namun tetap saja tidak ada sahutan, langkahnya mengarah pada bathroom. Bryan segera membukanya, namun masih tidak menemukan istrinya.
"Mungkin Lusi tahu dimana istriku," gumamnya. Bryan pun kembali menuruni anak tangga dan segera memanggil Lusi.
Kebetulan Bryan melihat Lusi yang sedang melintas di sana.
"Lusi," panggil Bryan.
__ADS_1
Lusi menoleh, mengetahui yang memanggilnya adalah Bryan, Ia pun menundukkan kepalanya.
"Iya Tuan." Lusi pun segera mendekat.
"Apa Kau tahu di mana istriku?, Aku tidak menemukannya di kamar."
"Nona Aya tadi berpesan, katanya Nona ingin berkunjung ke rumah ayahnya Tuan."
"Baiklah kalau begitu, terimakasih." Ucap Bryan dan langsung kembali ke mobilnya. Bryan ingin menyusul istrinya di rumah mertuanya.
"Kenapa Aya ke rumah Ayah tidak memberitahuku?, Dia ini benar-benar. Apa dia tidak menganggap ku sebagai suaminya?." Gerutu Bryan.
Hingga tak berapa lama pun, Bryan sampai di rumah mertuanya.
Bryan dengan cepat keluar dari mobilnya, Ia sudah tidak sabar lagi untuk menemui istrinya itu.
Sementara di dalam Aya tengah mempersiapkan bahan masakan bersama ayahnya. Mereka berencana untuk memasak bersama.
Dan mereka pun mendengar suara pintu yang sedang di ketuk. Hendra hendak membukanya tapi Aya menghentikan sang Ayah.
"Ayah, biarkan Aya saja yang membukanya," ucapnya.
Hendra pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah nak."
"Siapa yang berkunjung?." Gumamnya. Aya pun segera membuka pintu depan. Matanya terbelalak saat melihat siapa yang mengetuk pintu rumah ayahnya.
"Kau mau Apa kemari?," Tanya Aya begitu ketus.
Bryan terkejut mendengar ucapan Aya yang begitu ketus itu. "Kau kenapa?."
"Apanya yang kenapa?!, Aku bertanya kenapa Kau datang kemari, bukankah Kau sedang bersama dengan kekasih mu di taman?." Ucap Aya dan langsung masuk kedalam tanpa mempersilahkan suaminya.
Bryan terdiam berusaha mencerna ucapan Aya, lalu dengan cepat Ia pun segera menyusul istrinya kedalam. Tidak lupa Bryan menutup kembali pintu depan.
"Aya, tunggu!." Ucapnya seraya mengejar istrinya. Namun Aya sudah jauh melangkah menuju dapur.
"Aya, Aku..." Ucapan Bryan terhenti karena melihat ayah mertuanya yang juga berada di sana.
"Nak Bryan Kau datang menyusul istrimu?."
Bryan langsung melangkah mendekati Hendra, lalu Ia menjabat tangan ayah mertuanya itu. "Iya ayah, putri ayah tidak memberitahu ku kalau mau kemari." Adunya kepada ayah mertuanya. Matanya melirik Aya yang menatapnya tajam.
Bryan menyunggingkan senyumnya menatap Aya. Entah kenapa Ia selalu gemas saat melihat ekspresi istrinya itu. "Apa mungkin Aku sudah gila." Ucap Bryan dalam hati.
***
__ADS_1