Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 61


__ADS_3

Adrian dan Lisa kini mulai keluar dari ruangan Adrian. Keduanya masih terlihat nampak malu-malu setelah kejadian siang itu.


"Aku akan mengantarmu sampai ke mobil. Sekalian Aku ingin mengumumkan sesuatu pada seluruh karyawan kantor ini," ucap Adrian. Dan di anggukki oleh Lisa.


Mereka pun berjalan bersama hingga menuju lift. Perlahan tangan Adrian menyentuh tangan Lisa.


Melihat Lisa yang tersenyum menundukkan kepalanya, Adrian pun mulai berani untuk menggenggam tangan tersebut.


Saat lift menutup, Adrian kembali menghimpit tubuh istrinya dan mendekatkan wajahnya.


"Adrian, apa yang akan kau lakukan?."


"Aku ingin ini," ucapnya dan langsung me..lu..mat bibir Lisa yang sedari tadi terus menjadi perhatiannya.


Lisa tidak menolaknya, keduanya kembali terbuai oleh nikmatnya berciuman di dalam lift. Adrian rasanya tidak ingin berhenti, Ia ingin terus me..lu..mat bibir Lisa.


Hingga lift pun terbuka, dan mau tidak mau, Adrian pun harus melepaskan bibir istrinya itu. Mengusap sudut bibir Lisa yang basah karena ulahnya.


Adrian tersenyum,lalu Ia kembali menggandeng tangan Lisa dan berjalan melewati karyawan.


Adrian pun segera memanggil seluruh karyawannya. Ia ingin mengumumkan bahwa dirinya telah menikah. Dan Lisa lah sebagai istrinya.


Ia tidak ingin karyawannya salah paham dengan Lisa, seperti karyawan yang bertugas sebagai resepsionis. Ia tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi.


"Perhatian semuanya!." Adrian mengumpulkan seluruh karyawannya.


"Saya ingin menyampaikan berita penting kepada kalian semua. Saya ingin memperkenalkan kepada kalian semua. Ini Kalisa, istri saya!," ucap Adrian begitu tegas.


Sementara karyawan yang bertugas sebagai resepsionis tersebut terkejut. Ia tidak menyangka bahwa bosnya itu sudah menikah, dan wanita yang Ia suruh untuk menunggu di bawah adalah istri dari bosnya itu.


Kini Via, karyawan yang bertugas sebagai resepsionis itu pun begitu ketakutan.


"Kalian harus ingat baik-baik, bila istri saya datang ke kantor, kalian harus menghormatinya!. Dan saya tidak ingin kejadian istri saya yang harus menunggu saya di luar ruangan saya terjadi lagi. Kalian semua mengerti?!."


"Iya bos," ucap mereka bersamaan.


"Bagus. Sekarang kalian bisa kembali lagi bekerja," ucap Adrian.


Sementara Aleta yang melihat hal itu pun mengepalkan tangannya. Ia begitu tidak suka melihat Adrian yang mengakui Lisa sebagai istrinya.


"Aku tidak akan memberikan kalian bersama. Karena kak Adrian hanya milikku!," ucap Leta dalam hati. Iapun segera pergi dari sana.


"Adrian, Apa Kau tidak terlalu berlebihan." ucap Lisa.


"Tidak, mereka semua harus tahu bahwa Kau istri ku. Dan Aku tidak ingin mereka bersikap tidak baik dengan mu. Aku yakin setelah mereka tahu bahwa Kau istri ku, mereka akan menghormati mu," tegas Adrian.


"Terimakasih Adrian," ucap Lisa tersenyum.


Adrian pun mengusap pipi Lisa dan tersenyum membalasnya..

__ADS_1


"Kalau begitu ayo, Aku akan mengantarmu sampai mobil." ajak Adrian.


***


Sampai di rumah, Lisa berlari cepat masuk kedalam. Ia memegangi dadanya, rasanya Ia begitu bahagia mendengar semua penuturan suaminya tadi. Wajahnya kembali bersemu merah kala mengingat apa yang Ia dan suaminya lakukan di kantor siang ini.


Lalu Ia teringat akan putrinya. Lisa segera membersihkan badannya, setelahnya Ia pun menghampiri putri kecilnya Divya.


"Hai sayangnya Mama, apa kamu merindukan Mama hum?," tanya Lisa pada putrinya yang kini tengah menatapnya dan tersenyum.


Namun saat hendak menggendong baby Divya, ponselnya berdering. Iapun segera mengangkat panggilan tersebut. Dan ternyata dari Papanya.


"Halo Pa, ada Apa?," ucap Lisa begitu malas.


Namun saat mendengar suara seseorang yang menjawabnya bukan Papanya, Lisa pun mengerutkan keningnya.


"Kemana Papa?," tanya Lisa heran.


"Papa sakit sayang, dan dia ingin kau datang saat ini juga," ucap seorang wanita dari sebrang telepon, dan Ia terdengar seperti sedang terisak.


Lisa bukanlah anak yang durhaka, walaupun Ia begitu tidak menyukai papanya yang menikah lagi. Tapi jauh dalam hatinya Ia begitu menyayangi Papanya. Hingga Ia pun segera menutup telponnya dan hendak pergi menuju ke rumahnya.


"Bibi, cepat siapkan baju Divya dan keperluannya. Kita akan ke rumah Papa saat ini!," perintah Lisa.


"Baiklah Nona," ucap bibi.


Namun Adrian belum membalasnya, mungkin karena saat ini Ia tengah meeting, jadi belum membaca pesan Lisa.


***


Sampai di kediaman Agra, Lisa segera berjalan cepat memasuki rumah yang begitu banyak kenangan masa kecilnya di sana.


Lisa langsung menuju kamar papanya.


"Papa," ucapnya saat melihat tubuh Agra yang tidak berdaya.


"Li-sa," ucapnya.


Lisa segera mendekati papanya. Ia pun menangis melihat tubuh papanya yang terbaring lemah di sana.


Sementara Santi kini juga tengah menangis di sana.


"Sebenarnya Papa sakit apa?, Kenapa tiba-tiba Papa seperti ini?," Lisa mulai memeluk tubuh papanya.


"Papamu sakit sejak lama Lisa. Dia sakit kanker paru-paru dan sudah sangat parah." Ucap Santi membuat Lisa begitu terkejut.


"A-apa maksudmu, kenapa selama ini Kau tidak mengatakannya kepada ku?!," tanya Lisa dengan terkejutnya.


"I-itu karena Papa yang meminta Mama Santi untuk tidak menceritakannya kepada mu nak. Papa tidak ingin Kau mengkhawatirkan Papa. Sebelum Papa pergi, Papa ingin memberikan sesuatu untuk mu," ucap Agra begitu lemah.

__ADS_1


"Santi, ambilkan kotak itu di dalam lemari," pinta Agra.


Santi menganggukkan kepalanya dan mengambil sebuah kotak dan memberikannya kepada Lisa.


"Itu adalah surat dari Mama Wina untuk mu nak, Papa harap Kau bisa mengerti kenapa Papa dan Santi bisa menikah," ucap Agra.


Namun tiba-tiba Agra menjadi kejang, dan itu membuat Lisa berteriak memanggil nama Papanya.


"Papa....!," teriaknya.


Hingga hembusan nafas terakhir Agra pun membuat Lisa dan Santi menangis dan terus berulang kali memanggil namanya.


"Pa, bangun pa, jangan tinggalkan Lisa!, bangun pa..."


"Mas Agra, bangun mas, kenapa mas meninggalkan kami." Santi terus saja terisak melihat suaminya yang kini telah meninggalkannya untuk selamanya.


Kini Agra sudah berpulang ke Rahmatullah. Dan mau tidak mau Lisa dan Santi harus menerima apa yang sudah Tuhan gariskan.


***


Dua hari berlalu, suasana berkabung masih menyelimuti seisi rumah kediaman Agra.


Lisa masih berada di sana bersama dengan keluarga kecilnya. Adrian dengan sabarnya terus menemani sang istri.


Sebelumnya Aya dan Bryan juga datang ke kediaman Agra untuk terus menghibur Lisa. Pratama dan Bagaskara turut datang ke kediaman Agra. Mereka turut merasakan duka kesedihan yang Lisa rasakan.


Dan kini, Lisa harus tabah menjalani kehidupannya.


Adrian terus membujuk istrinya agar mau makan. Karena sejak kemarin Lisa tidak mau makan sama sekali. Dengan sabar Ia menyuapi istrinya, walaupun hanya masuk beberapa suap saja.


"Lisa, kumohon kau jangan seperti ini terus, Kau masih memiliki ku, juga Divya Putri kita," ucap Adrian.


Lisa terdiam. Ya, saat ini Ia memiliki keluarga baru nya. Terlebih kini Ia juga memiliki seorang putri yang sangat membutuhkan dirinya.


Lisa mulai bangkit, lalu Ia pun mulai memakan makanan yang di bawakan oleh suaminya.


Melihat hal itu, Adrian tersenyum. Kini Ia bertekad untuk membuat Lisa bahagia.


Setelah makanan itu tandas, pandangan mata Lisa teralihkan pada sebuah kotak yang belum sempat Ia buka waktu itu.


"Aku akan mengembalikan piring ini dulu ya sayang," ucap Adrian dan dianggukki oleh Lisa.


Lalu Lisa pun beranjak, mengambil kotak tersebut dan membukanya.


Disana ada sebuah surat. Lisa mulai membaca surat tersebut dan mulai membacanya.


Air matanya luruh saat kata demi kata Ia membacanya. Sebuah kenyataan membuat air matanya kembali luruh.


***

__ADS_1


__ADS_2