
Sean kembali ke kamarnya dengan wajah yang nampak serius. Di tatapnya istrinya yang kini terlelap di atas kasurnya. Ia pun mendekatinya.
"Kenapa cepat sekali tidur? Kau belum makan siang Di," ucap Sean seraya mengusap kepala Divya.
Lalu tatapnya berubah menjadi sendu. Telepon tadi dari Karl yang sedang membutuhkan bantuannya karena markas telah di serang dan membawa salah satu anak buahnya.
Sean harus pergi. Ia harus membantu Karl dan meninggalkan Divya. Sungguh Sean merasa berat. Namun tanggung jawabnya sebagai pemimpin kelompoknya, mengharuskan dirinya kembali ke markasnya yang begitu jauh.
"Aku pergi sebentar Di, ku harap Kau akan baik-baik saja. Cup...." Sean mengecup kepala Divya.
Ia pun segera keluar dari kamarnya dengan terburu-buru.
Sebelumnya Sean menelpon Eve dan mengabarkan bahwa markas telah di serang. Eve pun bersikeras untuk ikut. Tapi Sean mencegahnya.
Sean ingin Eve mengawasi Divya selama dirinya pergi. Eve tadinya menolak karena begitu khawatir dengan Sean yang akan menghadapi para musuh. Tapi Sean tetap melarangnya. Dan akhirnya Eve menuruti kakaknya.
Divya membuka matanya saat Sean meninggalkan kamar. Sedari tadi memang dirinya tidak tidur. Divya tidak ingin menatap Sean setelah apa yang mereka lakukan barusan. Rasanya Divya begitu malu.
"Jadi Sean akan pergi? syukurlah. Aku tidak harus merasa malu. Aku harus mencari cara agar Sean tidak jatuh cinta pada ku. Aku tidak pantas untuknya, dia harus mencari gadis yang tidak sakit-sakitan sepertiku," ucap Divya sendu.
Ia harus menahan perasaannya agar tidak terlalu terluka nantinya.
***
Malam harinya.
Divya merasa seperti ada yang kurang dalam hatinya. Bila sebelumnya Sean selalu mengganggunya, kini ia merasa begitu sendirian.
"Apa Aku mulai merindukannya? Ah tidak, Aku harus membuang jauh-jauh perasaan ini," gumam Divya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kak Di kenapa?" tanya Eve membuat Divya terlonjak kaget.
"Eve? bagaimana Kau bisa berada di sini?" tanya Divya terkejut.
"Hehehe, Aku kemari karena ingin menjaga kak Di atas perintah dari kak Sean," ucap Eve cengengesan.
"Menjagaku? dari apa Eve? Dan mana Ax?" tanya Divya.
"Kak Ax kan sedang ada kerjaan di luar kota kak. Jadi Aku bisa menemani kak Di selama kak Sean pergi," jawab Eve seraya menaik turunkan alisnya.
"Ax kerja?" Divya mengerutkan keningnya.
"Ya, dia kan sudah menjadi seorang suami saat ini. Dan kuliahnya kan juga hampir selesai. Jadi Papa mengajaknya untuk membantu mengelola perusahaan miliknya," tutur Eve.
"Eve, Aku jadi tidak bisa membayangkan bagaimana Ax bisa jauh darimu," ucap Divya.
__ADS_1
Belum sempat Eve menjawab ucapan Divya, ponselnya berdering. Nama suamiku terpampang jelas di sana. Sungguh panjang umur Ax, baru saja di bicarakan dan sekarang sudah muncul dalam bentuk suara.
Eve segera mengangkat panggilan dari Ax. Ia pun menjauh dari Divya. Karena pasti suaminya itu akan berbicara tentang ke omesannya.
Divya hanya menggelengkan kepalanya dengan pasangan satu itu.
Ia pun memeriksa ponselnya kalau-kalau Sean menghubunginya. Namun tak ada apapun di sana. Divya pun sedikit kecewa.
"Kenapa Aku jadi menunggu kabar darinya? Stop Divya! Kau tidak boleh terlalu sering memikirkan dia," gumamnya.
Baru satu hari Sean pergi, tapi bayangan Sean selalu menari indah dalam pelupuk matanya. Divya merasa begitu frustasi. Perasaan itu terus tumbuh di hatinya, apakah Sean juga merasakannya?.
Pertanyaan itu terus timbul di hatinya. Namun ia tidak ingin terlarut. Sebisa mungkin Divya harus membunuh perasaan itu.
"Kak Di, kenapa melamun?" Suara Eve membuat Divya kembali terkejut.
"Tumben sebentar," cibir Divya.
"Mau di teruskan nanti aja. Nanti malah membuat kak Di kepengen lagi," ucap Eve tertawa cekikikan.
"Aku? Kepengen apa memangnya Eve?" tanya Divya.
"Ya seperti yang kak Di dan kak Sean lakukan setiap malam," ucap Eve membuat Divya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maksudnya apa sih Eve!? Aku sungguh tidak mengerti."
Eve hanya menepuk keningnya sendiri melihat tingkah polos Divya.
"Memangnya kak Di dan kak Sean belum melakukan hal itu apa?" tanya Eve. Dan itu benar-benar membuat Divya semakin tidak mengerti.
"Hal apa?"
"Yang enak-enak. Buat baby kak Di...." Eve berkata dengan jelas.
Sontak saja Divya pun teringat akan yang terjadi antara dirinya dan Sean yang hampir melakukan hal tersebut.
Rona merah membuat pipi Divya nampak bersemu.
Eve menyadari hal itu. Ia pun terus bertanya kepada Divya. Hingga Eve terus saja menggoda Divya karena tidak ingin bercerita namun pipinya terus bersemu.
Di saat Eve mulai diam dan tidak berisik lagi. Divya mengeluarkan suaranya.
"Eve"
"Apa kak"
__ADS_1
"Aku pasti akan sangat merindukanmu nanti. Kau adalah sahabat ku dan adikku. Aku pasti akan merindukan kecerewetanmu nanti." Divya berkata dengan nada sendu.
Eve mengerutkan keningnya.
"Kalau rindu ya tinggal samperin lah kak. Eve akan selalu ada untuk kakak. Kenapa kak Di berkata seperti itu? Kak Di memangnya mau kemana?. Apa kak Di mau melakukan bulan madu dengan kak Sean?" Bermacam-macam pertanyaan terus terlontar dari mulut Eve.
"Sudahlah Eve, sekarang Kau istirahatlah! Ini sudah terlalu malam," sergah Divya. Rasanya ia ingin menceritakan tentang penyakitnya kepada Eve. Namun ia takut akan membuat sedih Eve.
"Kak Di, tapi Eve masih ingin ngobrol nih," tolak Eve.
Ponsel Eve kembali berdering. Sudah bisa di tebak siapa yang memanggilnya.
"Dah sana, suamimu sudah sangat merindukanmu," goda Divya.
"Oke, kalau begitu Aku ke kamar duluan ya kak." Eve segera berjalan menuju kamar tamu di sana.
Sementara Divya menatap punggung Eve yang kini mulai menjauh.
Divya mulai berjalan memasuki kamarnya. Ia lupa belum meminum obatnya.
Divya menatap obat-obat miliknya. Rasanya ia begitu muak setiap hari harus meminum obat sebanyak itu.
Tapi bila ia tidak meminumnya, kondisi tubuhnya akan melemah. Dan itu pasti akan membuat keluarganya tahu.
Ia mulai membaringkan tubuhnya setelah meminum obatnya. Bayangan Sean kembali berkelebat. Dan itu membuat hatinya menjadi resah.
Sebelumnya setiap sebelum tidur, Sean pasti akan memeluknya erat. Sean selalu saja memiliki banyak alasan untuk memeluknya.
Sebuah senyum terukir di bibir Divya. Hatinya bergetar mengingat kebersamaannya bersama Sean akhir-akhir ini.
Salahkah Divya merindukan Sean? Ia tak dapat lagi membendung hatinya untuk menutupi perasaannya kepada pria menyebalkan itu.
Hingga ponselnya pun berdering.
Divya meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Jantungnya berdegup kencang saat melihat nama yang tertera di sana.
Divya menggeser tombol hijau tersebut dan menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.
"Halo Di, apa Kau merindukan ku?" tanya Sean dari sebrang telpon. Suara pertama yang Divya dengar pertama kali saat mengangkat panggilan tersebut.
Jantungnya berdetak kencang, tubuhnya berdesir hanya dengan mendengar suara suaminya.
Divya terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Sean. Hingga beberapa kali Sean memanggilnya, Divya masih tak menjawab ucapan suaminya.
Rasanya bibirnya kelu untuk berbicara. Suara Sean mampu membuat otaknya tak dapat bekerja dengan baik. Hingga bibir itu terus terkatup.
__ADS_1
"Ya, Aku merindukan mu." Kata itu keluar. Tapi tidak dari mulutnya, melainkan dari hatinya.
***