
Bryan merasa begitu terharu, Bintang dan Galaxy yang waktu itu masih begitu kecil, kini sudah bisa berlari dan berceloteh. Bryan hampir meneteskan air matanya. Namun ia segera mengusapnya sebelum di ketahui oleh istrinya.
"Nak, Papa masih belum sembuh. Bintang dan Galaxy ikut Mama saja ya," tawar Aya membujuk.
"No Mama, Intang dan Aci mau tama Papa!," tolak kedua bocah kembar tersebut.
"Biarkan saja mereka ikut dengan ku, walaupun Aku tidak mengenal mereka, tapi mereka berdua sangat menggemaskan," ucap Bryan dan membuat Aya tersenyum mengangguk.
Aya bersyukur karena Bryan tidak menolak kedua putranya. Hingga tanpa sadar air matanya kembali menetes. Namun iapun segera keluar dari ruangan itu dengan mengatakan ingin menghubungi Papa mertuanya.
"Aku permisi keluar, Aku ingin menelpon Papa," ucap Aya yang kini tengah berbalik membelakangi suaminya dan kedua putranya.
Adrian dan Lisa yang melihat air mata Aya pun merasa begitu bersalah karena ikut membohonginya.
Setelah Aya keluar dari sana, Adrian menatap tajam kakak sepupunya itu.
"Apakah Kau tidak kasihan pada istrimu Bryan?," tanya Adrian dari arah sofa di ruangan tersebut.
Namun Bryan menaruh jari telunjuknya mulutnya menandakan bahwa Adrian harus diam. Bryan tidak ingin kedua putranya mendengar percakapan mereka.
Adrian pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah kakak sepupunya itu.
***
Kini Bryan sudah pulang ke rumah utama. Ia masih berpura-pura melupakan segala hal, termasuk kepada Papanya.
Sementara Aya masih saja berusaha untuk membuat suaminya mengingat segalanya.
"Apa Kau masih belum mengingat semuanya sayang?," tanya Aya yang kini berada dalam kamarnya. Ia duduk tepat di samping suaminya dengan menghadap ke arahnya.
Suaminya masih menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Kau hanya bercerita saja?, apa Kau tidak ingin melakukan hal yang selalu Kita lakukan dulu untuk membuat ku kembali mengingat sesuatu?!." Bryan membuat Aya mengerutkan keningnya.
Lalu Aya teringat, dulu saat mereka hanya berdua saja, Bryan sering sekali menciumnya. Tapi apakah itu bisa membuat suaminya mengingatnya?. Aya merasa tidak yakin melakukannya, namun ia harus mencobanya.
Aya semakin mendekat ke arah Bryan, dia memegang kepala Bryan dan mengarahkannya padanya.
__ADS_1
"Kau ingin tahu kan apa saja yang sering kita lakukan?," ucap Aya dan membuat Bryan pun mengangguk.
Mereka berdua kini saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba saja Aya berdiri membuat Bryan berpikir Aya akan pergi dari sana.
Namun itu hanya dugaannya, ternyata istrinya malah mendudukkan dirinya di pangkuan suaminya itu, memegang pipi Bryan dan menatapnya lekat. Membuat Bryan begitu senang melihat keagresifan istrinya itu.
"Aku mencintaimu," ucap Aya sebelum ia menenggelamkan bibirnya menuju bibir suaminya. Aya terus saja merangsang suaminya dengan lu..ma..tannya itu.
Jangan tanya lagi Bryan, ia begitu tergoda oleh permainan bibir istrinya itu. Ia terus saja menahannya dengan tidak membalasnya.
Yang ia lakukan saat ini hanya memejamkan matanya menikmati bibir istrinya yang terus saja me..lu..mat bibirnya.
Namun Aya merasa sedih karena suaminya tidak membalas ciumannya. Itu menandakan bahwa yang ia lakukan hanyalah sia-sia saja. Ia pun segera melepaskan tautan bibirnya dari suaminya. Ia begitu kecewa dan malu, karena yang ia lakukan nyatanya tidak membuat suaminya mengingat semuanya.
Sementara Bryan rasanya begitu tidak ingin Aya menyudahi permainan bibirnya itu. Kini keduanya saling menatap.
"Maafkan Aku," ucap Aya dan hendak turun dari pangkuan suaminya.
Namun dengan gerakan cepat, Bryan kembali menarik istrinya kedalam pangkuannya. Membuat Aya begitu terkejut dengan yang suaminya itu lakukan.
Tanpa ba-bi-bu Bryan langsung me..lu...at bibir istrinya dengan lembut.
Mereka saling mencecap, dan saling bertukar Saliva satu sama lain. Rasanya begitu memabukkan, setelah sekian lamanya akhirnya mereka dapat mencurahkan segala kerinduan melalui sebuah ciuman yang begitu memabukkan.
Karena tak dapat lagi menahan has..ratnya Bryan langsung membalikkan tubuh istrinya dan mengukungnya di bawahnya dengan bibir yang masih terpaut.
Kini Aya begitu pasrah dengan yang akan suaminya lakukan padanya. Tak di pungkiri, Aya juga sangat menginginkan suaminya saat ini. Ia sudah menahan rindu berbulan-bulan lamanya. Dan kini suaminya membuat semua kerinduannya selama ini seakan runtuh.
Bryan tidak akan melewatkan kesempatan untuk kembali meneguk nikmatnya ber..cin..ta dengan istrinya. Perlahan ia mulai membuat tubuh istrinya polos, lalu iapun melepaskan pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Aya merasa begitu sedih melihat tubuh suaminya yang dulu begitu kekar, kini nampak kurus. Pipi yang tadinya sedikit berisi, kini begitu tirus. Namun ketampanan suaminya tak akan pernah luntur bagi Aya. Aya menikmati setiap sentuhan suaminya itu.
skip
skip
skip
__ADS_1
Kini tubuh keduanya terasa begitu lemas. Bryan seakan tak ingin berhenti melakukannya kepada istrinya. Hingga mereka pun melakukannya lagi dan lagi.
"Terima kasih sayang, Aku sangat mencintaimu," ucap Bryan mencium kepala istrinya yang kini tengah terlelap dalam pelukannya.
Mereka pun tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain.
***
Keesokan paginya
Aya perlahan terbangun dari tidurnya. Ingatan tentang kejadian semalam membuat tangannya mencari keberadaan suaminya di sampingnya. Namun di sebelahnya kini kosong tak ada suaminya disana.
Hingga iapun membuka matanya. Aya berpikir apakah semalam ia hanya bermimpi. Namun ia mendapati tubuh polosnya yang masih berselimut tebal. Dan terlihat di tubuhnya banyak sekali tanda merah disana, menandakan bahwa semalam yang ia lakukan bersama suaminya itu bukanlah sebuah mimpi.
Aya tersenyum, ia begitu yakin bahwa suaminya itu sudah mengingat tentang dirinya. Dengan cepat ia pun menyibak selimut tebalnya dan berjalan menuju bathroom. Aya ingin membersihkan dirinya, setelahnya ia akan mencari di mana suaminya.
Aya menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Ia sudah tidak sabar lagi untuk menemui suaminya itu dan menanyakan apakah saat ini suaminya sudah mengingat dirinya.
Namun samar-samar ia mendengar tawa suaminya dan anak-anaknya di taman belakang. Hingga membuat kakinya pun melangkah ke arah suara.
Aya tersenyum kala melihat suaminya yang tengah bermain bersama putra-putranya. Semua itu membuat Aya yakin bahwa suaminya benar-benar sudah mengingat semuanya.
"Sepertinya yang kalian lakukan sangat menyenangkan, apa Mama boleh ikut?," tanya Aya mendekat ke arah mereka.
Membuat Bryan dan putra-putranya pun menoleh ke arahnya.
"Mama cini, ain uga tama Papa, Aci dan Intang." Ucap Galaxy.
Aya sejenak menatap ke arah Bryan, namun Bryan tidak menatap ke arahnya seakan menghindari Aya.
Aya pun mendekati mereka, ia duduk di samping Bryan. Sementara Bintang dan Galaxy kini tengah berlarian kesana-kemari.
Aya menatap Bryan yang kini tengah menatap kedua putranya.
"Apa Kau sudah mengingat semuanya sayang?," tanya Aya dengan tatapan penuh harap.
***
__ADS_1
Ternyata belum tamat 😂, nunggu bab selanjutnya lagi mungkin yak 🤔🤣