
Kini Lisa telah menyandang status sebagai istri dari Adrian. Walaupun mereka baru menikah siri, tapi Adrian berjanji akan secepatnya mendaftarkan pernikahan mereka di KUA dan segera di resmikan.
Adrian juga memboyong istri dan putri kecilnya ke rumah miliknya sendiri. Namun sebelumnya Ia membawa Lisa dan baby-nya untuk menemui sang Papa.
Walau hubungannya dengan sang Papa tidak begitu baik, tapi Adrian masih menghormati Pratama sebagai Papanya. Makanya Ia mengenalkan Lisa dan putrinya pada Papanya.
"Papa tidak menyangka Kau sudah menikah Adrian. Dan lihatlah cucu Papa ini, dia cantik sekali. Boleh Papa menggendong cucu Papa?," ucap Pratama kepada Lisa.
"Tentu saja Pa." Lisa pun menyerahkan baby-nya kepada Papa mertuanya.
Sementara Adrian sedari tadi tak banyak berbicara, Ia hanya menatap Papanya yang terlihat senang menggendong putrinya.
"Siapa nama cucu Papa ini?," tanya Pratama.
Sontak Adrian dan Lisa saling menatap, karena mereka belum memberikan nama untuk putri mereka itu.
"Sebenarnya kami belum memberikan nama pada bayi kita Pa," Jawab Lisa.
"Boleh Papa memberikan nama untuk cucu Papa ini?," tanya Pratama.
Lisa pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh Pa."
"Bagaimana kalau namanya Divya Aurora?."
Lisa mengembangkan senyumnya dan menatap wajah suaminya yang saat ini terlihat begitu datar. Lalu Ia pun menganggukkan kepalanya setuju.
"Nama yang cantik sekali Pa, Lisa menyukainya," ucap Lisa senang.
Pratama terlihat begitu bahagia saat ini. Dapat Adrian lihat Papanya begitu senang menimang putrinya itu.
Adrian berdiri, Ia masih terlihat begitu datar.
"Ayo kita pulang sekarang Lisa!," ajak Adrian.
"Tapi kalian baru sampai belum lama, dan sekarang sudah mau meninggalkan Papa sendirian lagi?," ucap Pratama seolah ingin protes.
"Bukankah selama ini Papa juga hanya sendiri?."
Pratama terdiam, Ia tahu bahwa kini putranya sedang marah dengannya. Pratama hanya tersenyum menanggapi ucapan Adrian.
Lisa merasa tidak asing dengan sikap antara suaminya dan Papa mertuanya itu.
"Baiklah kalau kalian ingin pulang. Tapi bolehkah nanti Papa berkunjung ke rumah kalian?."
"Tentu saja Pa," ucap Lisa.
Sementara Adrian sudah berjalan lebih dulu keluar ruangan tersebut.
__ADS_1
Sampai di mobil, Adrian masih terlihat begitu datar. Hingga Lisa merasakan kecanggungan karena sepanjang perjalanan Adrian terus saja terdiam.
"Adrian, kita mau kemana?," tanya Lisa berusaha memecah keheningan.
"Kita akan pulang ke rumah milikku," ucap Adrian masih datar.
Lisa pun berhenti bertanya, hingga sepanjang perjalanan hanya keheningan saja yang menyelimuti keduanya.
Dan sampailah mereka di sebuah rumah yang sangat besar dan megah.
Adrian membukakan pintu mobil untuk Lisa dan bayinya. "Ayo kita masuk, Aku akan memperkenalkan mu dengan beberapa pelayan di rumah," ajaknya. Lisa pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah suaminya itu.
Setelah Adrian memperkenalkan beberapa pelayan di rumah ini. Adrian juga sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi untuk merawat putri kecilnya.
Adrian sudah menyiapkan semuanya, bahkan kamar baby Divya pun sudah Ia siapkan.
"Ayo Lisa, Aku akan menunjukkan kamar kita," ajaknya kepada istrinya.
Lisa merasa sedikit malu saat mendengar kamar kita di telinganya. Rasanya Ia belum bisa membayangkan bagaimana nantinya bila harus tidur satu kamar bahkan satu tempat tidur dengan pria yang baru saja menjadi suaminya itu.
Lisa memberikan baby Divya kepada pengasuhnya dan mengikuti Adrian di belakangnya.
Dan sampailah mereka di sebuah kamar yang nampak begitu luas itu.
"Kita akan tidur di sini. Apa Kau suka dengan kamarnya?," tanya Adrian. Lisa pun menganggukkan kepalanya.
Adrian tersenyum "kalau Kau tidak ingin kita satu tempat tidur, Aku bisa tidur di sofa itu Lisa," ucap Adrian, membuat Lisa menatapnya.
"Aku tahu kita masih begitu asing, dan tidak ada cinta di antara kita. Jadi Aku berjanji tidak akan pernah menyentuh mu selama cinta itu belum hadir di antara kita." Ujar Adrian.
Lisa merasa lega mendengar penuturan Adrian. "Terimakasih," ucap Lisa tersenyum.
Lisa memang belum siap untuk menyerahkan dirinya kepada suaminya. Karena jauh di lubuk hatinya, Lisa masih memiliki perasaan untuk seseorang.
"Kalau begitu, bisakah kita berteman Adrian?," ucapnya.
"Baiklah, mulai sekarang kita berteman," jawab Adrian.
"Apa Kau memiliki seorang kekasih Adrian?," tanya Lisa.
"Tidak, Aku tidak memiliki kekasih. Tapi Aku pernah menyukai seorang gadis. Dan sayangnya dia malah menikah dengan kakak sepupuku," ucap Adrian terkekeh.
Lisa mengerutkan keningnya. "Apa yang Kau maksud adalah Aya?," tanya Lisa kembali.
"Ya, tapi itu dulu, karena sekarang dia sudah sangat bahagia bersama dengan Bryan. Dan Aku juga ikut bahagia melihatnya," ucap Adrian tulus.
"Lalu, Kau sendiri apakah kau memiliki seorang kekasih Lisa?," tanya Adrian kembali.
__ADS_1
Sejenak Lisa terdiam. "Entah dia masih mengingat ku atau tidak, semenjak lulus kuliah dan dia pergi ke luar negeri, sampai saat ini Aku tidak mendapat kabar darinya lagi. Bahkan ponselnya sudah tidak aktif," ucap Lisa menundukkan kepalanya.
Adrian sejenak terdiam dan memikirkan sesuatu. Lalu Ia pun berjalan hendak mengambil sesuatu. "Tunggulah sebentar," ucapnya.
Lalu Ia segera kembali dengan membawa sebuah kertas kosong dan bolpoin di tangannya.
"Lisa, mari kita membuat sebuah perjanjian," ucap Adrian membuat Lisa mengerutkan keningnya.
"Perjanjian?."
"Ya, Aku tahu Kau tidak mencintaiku, begitu sebaliknya dengan ku. Aku akan membebaskan mu dari pernikahan ini apabila kekasih mu sudah datang dan di antara kita belum memiliki perasaan cinta. Dan begitu juga dengan ku. Walaupun Aku tidak memiliki seorang kekasih, tapi Aku juga tidak ingin membuat mu merasa terbebani dengan pernikahan ini. Dan untuk baby Divya, kita tetap akan membesarkannya bersama," ucap Adrian.
Lisa terdiam sejenak memikirkan tentang perjanjian yang di buat oleh suaminya itu. Jujur saja Lisa masih sangat mencintai kekasihnya. Namun apakah nanti kekasihnya itu masih mau menerimanya?, entahlah.
"Baiklah Adrian, mari kita tulis poin-poin penting yang boleh dan tidak boleh kita lakukan," ucap Lisa tersenyum.
Mereka pun menulis beberapa poin penting bersama dengan begitu asiknya.
"Selesai," ucap keduanya bersamaan.
"Mana sini, Aku mau melihatnya," ucap Adrian.
Mereka pun bertukar kertas perjanjian dan membaca Apa yang keduanya tulis barusan.
Keduanya tersenyum, bahkan terkikik geli membaca perjanjian yang mereka tuliskan itu.
"Baiklah, kalau begitu Aku akan memberikan surat perjanjian ini pada asisten ku besok. Semoga kita bisa menjadi partner yang tepat untuk merawat baby Divya," ucap Adrian mengulurkan tangannya.
Lisa pun menjabat tangan suaminya dan menyetujui perjanjian tersebut. Kini mereka sudah terlihat begitu akrab.
Hingga ponsel Adrian pun berbunyi. Ada nama Mamanya disana. Adrian terlupa belum memberitahu Mamanya bahwa Ia sudah menikah. Lalu ia segera mengangkat panggilan tersebut dan menyuruh Mamanya untuk datang. Adrian akan memberi tahu Mamanya bila sudah sampai di rumah ini.
"Lisa, sebentar lagi Mama akan datang kemari. Aku akan memperkenalkan mu dengannya."
Lisa tersenyum menganggukkan kepalanya. "Baiklah."
***
"Sayang, Apa Kau sudah siap untuk bertemu dengan putra Tante?," tanyanya pada gadis cantik di sampingnya.
"Tentu saja Tante, Aku sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengannya. Leta masih ingat waktu kecil kak Adrian dan Bryan selalu memperebutkan ku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka, Apa lagi kak Adrian," ucap seorang gadis cantik bernama Aleta.
"Aku datang kak Adrian," ucapnya dalam hati.
***
Author semakin blank, flu melanda tak kunjung sembuh ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤§ðŸ˜·, maaf bila banyak typo dan gak nyambung 🤧🤧.
__ADS_1