Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 49


__ADS_3

Sebenarnya selama berada di luar negeri, Bagaskara sudah mengutus seseorang untuk mengawasi putra dan menantunya itu.


Namun sayangnya saat sang putra dan menantunya pergi ke villa milik keluarga Adam, Ia tidak menyuruh orang suruhannya itu untuk mengikutinya.


Bagaskara berpikir putranya sudah benar-benar mencintai menantunya, dan mampu melindunginya. Tapi ternyata dugaannya salah.


Putra Adam sangatlah licik, apalagi Ia dan Rena sudah merencanakan kelicikan mereka. Dan berakhirlah dengan kejadian yang seperti sekarang ini.


Namun Bagaskara tidak marah kepada putranya, justru Ia merasa bangga karena putranya itu sudah berhasil melindungi menantunya.


Berbeda sebelumnya saat Bryan selalu membela Rena dulu. Karena Bagaskara sudah mengetahui bahwa Rena adalah gadis yang licik. Makanya Ia tidak pernah menyetujui putranya bersama dengan Rena.


Kini Bagaskara sudah mengutus seorang kepercayaannya untuk menemui Adam.


Orang suruhannya yang itu adalah Zaki, sekertaris Bryan. Ya, Zaki lah yang menjadi mata-mata untuk mengawasi putra dan menantunya.


Kini Zaki memberikan sebuah bukti bahwa Deyo, putranya lah yang bersalah dan menjebak Bryan.


Entah Zaki mendapatkan banyak bukti dari mana, yang jelas, semua bukti yang ia bawa begitu akurat. Sehingga membuat Adam diam seketika.


Ingin maju, dia pasti akan kalah. Mundur pun Ia akan rugi besar karena Bagaskara menuntut Adam untuk memberikan separuh sahamnya di perusahaan.


"Bagaimana Tuan, apakah Anda akan menuntut Tuan Bryan, ataukah Anda akan mundur?," tanya Zaki penuh seringai kemenangan.


"Sial!," umpat Adam dalam hati. Ia tidak menyangka bahwa Bagaskara akan lebih licik darinya.


Dengan terpaksa Adam harus mundur, dengan syarat mengakui kesalahan putranya di depan media dan meminta maaf langsung kepada Aya. Walaupun Ia harus kehilangan separuh sahamnya, tapi itu lebih baik dari pada Ia harus kehilangan seluruh sahamnya dan hidup Luntang-lantung di jalanan.


Namun apakah Deyo mau meminta maaf?, Jawabannya adalah tidak. Deyo tidak mau merendahkan dirinya sendiri di depan awak media. Ia pun juga tidak mengakui kesalahannya.


"Sekarang kita harus melakukan jumpa pers untuk kasus yang terjadi dengan mu Deyo!. Kita harus minta maaf kepada teman mu itu sebelum keluarganya menghancurkan keluarga kita!," perintah Adam kepada Deyo.


"Tidak Papa, Aku tidak akan pernah memaafkan mereka. Apa Papa tidak lihat dengan yang di lakukan Bryan kepada putramu ini?!,' ucap Deyo menunjukkan wajahnya yang sudah tak berbentuk lagi.


"Papa tahu, tapi mau bagaimana lagi, apa kau mau kalau keluarga kita akan hancur dalam sekejap?!." ucap Adam.


Deyo pun berdecak,mau tidak mau Ia harus mengikuti ucapan sang Papa.

__ADS_1


"Ini belum berakhir, kalian semua sudah mempermalukan keluarga Adam. Suatu saat Aku akan membalas kalian semua!," ucap Deyo dalam hati.


Keesokan harinya


Setelah melakukan jumpa pers dan meminta maaf di depan media. Adam dan putranya mendatangi rumah utama milik Bagaskara. Sesuai kesepakatan, mau tidak mau Deyo harus meminta maaf kepada Aya.


"Permisi Tuan, Tuan Adam dan Tuan muda Deyo ingin bertemu dengan Anda dan juga Nona Aya," ucap pelayan yang menghampiri di ruang makan.


Bagaskara pun menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah, kami akan segera keluar."


Mendengar nama Deyo, Aya menjadi ketakutan. Iapun menggelengkan kepalanya.


"Tidak!, Aku tidak mau bertemu lagi dengannya. Aku tidak mau!," ucap Aya begitu histeris dan ketakutan.


Melihat hal itu, Bryan segera menghampiri istrinya dan memeluknya.


"Tidak sayang, kau jangan takut, ada Aku di sini yang akan melindungi mu," ucap Bryan berusaha menenangkan istrinya.


Dengan lembut, Bryan terus memeluk tubuh istrinya dan mengusap kepala istrinya, membuat Aya merasa sedikit tenang.


Bagaskara yang melihat menantunya begitu ketakutan pun merasa begitu menyesal kenapa waktu itu dia tidak menyuruh mata-matanya mengikuti ke puncak.


Aya berjalan dengan menggandeng tangan Bryan begitu eratnya. Rasanya Ia sungguh tidak ingin melihat wajah Deyo. Bayangan saat Deyo melecehkannya terus terngiang di benaknya.


"Ternyata kau sungguh menepati janjimu Adam." Bagaskara berbicara seolah meremehkan Adam.


"Kami ingin meminta maaf untuk kejadian Putraku yang hampir melecehkan menantimu," ucap Adam kepada Bagaskara.


"Kau bilang hampir melecehkan?!, Putramu sudah melecehkan istri ku dan hampir membunuh calon anak ku!, Kau tahu itu huh!." Bryan merasa begitu marah mendengar ucapan Adam.


Bagaskara terkejut mendengar bahwa menantunya tengah mengandung. Pasalnya Bryan dan Aya belum mengatakannya kepada dirinya


Perlahan Deyo mendekat ke arah Bryan dan Aya, sontak saja membuat Aya semakin ketakutan karenanya.


"Pergi!, Jangan mendekat!." Aya kembali histeris.


"Ayolah, Aku hanya ingin meminta maaf padamu," ucap Deyo begitu santainya.

__ADS_1


"Tidak!, Aku tidak ingin melihat mu lagi!."


"Berhenti di sana atau Aku akan membunuhmu!." Bryan menghentikan langkah Deyo.


"Aku mau kalian pergi jauh-jauh dan jangan pernah memperlihatkan batang hidung kalian lagi di hadapan kami!," Teriak Bryan.


Deyo mengepalkan tangannya, tapi Ia tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Papanya sudah menyuruhnya untuk tidak melakukan hal konyol yang nanti akan menghancurkannya.


"Baiklah, kami akan pergi sejauhnya dari kehidupan kalian. Sekali lagi maafkan putra saya." Adam membungkukkan badannya.


"Ayo Deyo, kita harus pergi!."


Lalu mereka pun keluar meninggalkan rumah itu. Mereka begitu kesal, tapi mereka tidak akan bisa berbuat apapun. Adam sudah kehilangan banyak kerugian karena hal ini. Jadi Ia lebih memilih untuk mundur dan tidak melawan.


"Mereka sudah pergi sayang, Kau jangan menangis lagi," ucap Bryan menenangkan Aya yang kini terisak.


"Kenapa kalian tidak mengatakan kepada Papa kalau Papa akan memiliki seorang cucu?." Bagaskara menatap tajam putra dan menantunya itu.


"Maafkan kami Pa, kami lupa memberi tahu Papa." Bryan berucap tanpa dosa.


"Kalian ini sungguh keterlaluan!, Kalau begitu Papa akan membelikan banyak perlengkapan bayi untuk cucu Papa." Bagaskara begitu girang mendengar berita kehamilan menantunya.


"Pa, calon cucu Papa belum lahir, jangan lebay deh Pa," ucap Bryan menatap jengah sang Papa.


"Kalau begitu Kau mau Apa nak?, Biarkan Papa yang membelikan makanan yang Kau inginkan," ucap Bagaskara kembali.


"Tidak perlu, Bryan suaminya, jadi biarkan Bryan yang akan melakukannya," sahut Bryan.


"Papa juga kakek dari calon cucu Papa, jadi Papa juga berhak." Bagaskara tak mau kalah. Hingga membuat Aya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah mertua dan suaminya itu.


***


Sementara Adrian masih mencari siapa gadis yang berada di belakang villa beberapa hari yang lalu.


Ia mencoba mencari tahu dengan bertanya kepada penjaga villa tersebut. Menurut penjaga villa, Ia memang sering minta tolong kepada gadis bernama Kalisa untuk membantu dirinya membersihkan villa tersebut.


Namun saat ditanya perihal di mana gadis itu tinggal, penjaga villa tersebut tidak mengetahuinya. Karena gadis bernama Kalisa itu tidak tinggal di sekitar villa tersebut.

__ADS_1


"Aku akan mencari mu Kalisa. Sekarang Aku sudah mengetahui siapa namamu," ucap Adrian penuh keyakinan.


***


__ADS_2