Suamiku Arogan

Suamiku Arogan
Bab 14


__ADS_3

Bryan tengah bergumam sendiri di dalam ruangannya. Ia merasa kesal saat melihat Aya dan Adrian terlihat begitu dekat.


Ya, sepasang mata yang menatap Aya dan Adrian tadi adalah Bryan. Bryan begitu kesal hingga memaki Aya tanpa sepengetahuan sang empunya.


"Kenapa dia begitu gampang sekali tersenyum kepada seorang pria?, Dia juga membiarkan pria lain merangkul pundaknya!. Adrian juga kenapa harus menyukai gadis jelek seperti dia?!. Keduanya memang sama saja!," Umpat Bryan dengan makiannya.


Bryan terus saja bergumam kesal, sehingga Ia pun melupakan pekerjaannya itu.


Hingga pintu ruangannya terbuka pun Bryan tidak menyadarinya.


"Bryan," panggil suara seorang wanita.


Bryan terpaku di tempatnya mendengar suara yang begitu sangat Ia rindukan. Kepalanya menoleh ke arah suara itu.


"Renata," ucapnya pelan. Lalu sebuah senyum pun terbit di bibirnya.


Bryan segera berdiri dan menghampiri wanita yang Ia cintai itu.


"Kau datang?, Apakah kau sudah merasa lebih baik?." Tanya Bryan menatap Rena yang menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku Rena, Aku terpaksa menikahi gadis itu karena menuruti perintah papa. Aku tidak ingin membuatnya bersedih," ucap Bryan yang mulai memegang tangan Rena.


"Aku tahu Kau sangat menyayangi papamu Bry. Tapi Aku juga mencintaimu, bukankah kau akan menepati janjimu nanti?." Tanya Rena mengingatkan Bryan akan janjinya.


Bryan kembali mengingat janji yang Ia ucapkan kepada wanita yang sangat ia cintai itu. Bahwa Ia akan menceraikan istrinya dan akan menikahinya nanti.


"Ya, Aku masih mengingatnya. Kau jangan khawatir, Aku akan segera mencari cara untuk menceraikan gadis jelek itu," ucap Bryan mengingat Aya.


Namun Rena mengerutkan keningnya saat mendengar Bryan mengatakan bahwa istrinya adalah gadis jelek. Rena masih mengingat pada saat pernikahan Bryan, bahwa istri Bryan terlihat nampak cantik. Tapi kenapa Bryan mengatakan bahwa istrinya itu jelek?.


Rena memang tidak mengetahui bahwa istri Bryan adalah Aya.


Rena tidak mau ambil pusing dengan semua itu. Yang jelas Ia harus membuat Bryan agar tidak berpaling darinya.


Rena mulai mendekati Bryan dan memeluknya, tangannya mengelus dada bidang Bryan.


"Bryan, Aku sangat merindukanmu," ucapnya begitu sensual. Rena menginginkan sebuah ciuman dari Bryan. Karena sebelumnya mereka sering melakukannya.

__ADS_1


Namun Bryan merasakan begitu canggung saat ini. Entah mengapa tiba-tiba saja bayangan dirinya saat mencium bibir Aya dengan paksa kembali terputar dalam memorinya.


Hingga perlahan Bryan mulai melepaskan pelukan Rena secara halus.


"Rena, bukankah kita sudah sepakat untuk menjaga jarak selama Aku menikah. Kita bisa melakukannya nanti setelah Aku dan dia sudah resmi berpisah." ucap Bryan membuat Rena begitu kesal.


"Tapi di sini tidak ada yang melihat kita Bry?."


"Tapi ada cctv dalam ruangan ini Ren," bohong Bryan. Ia tidak ingin berdebat dengan Rena saat ini.


"Terserah!, Tapi aku punya permintaan saat ini Bry," ucap Rena membuat Bryan mengerutkan keningnya.


"Apa yang Kau inginkan Rena?."


"Dua Minggu lagi akan ada reuni di kampus kita dulu. Dan Aku mau nanti Kau yang menjadi pasanganku untuk datang ke sana. Bagaimana?."


Bryan pun tersenyum dan merasa lega karena permintaan Rena tidak macam-macam.


"Baiklah Rena, kita akan kesana bersama. Kau jangan cemberut seperti itu, bagaimana kalau kita makan siang di tempat biasanya. Sudah lama sekali kita tidak kesana," ucap Bryan mengajak Rena.


Namun saat sampai di lobi, mereka berpapasan dengan Aya dan Adrian yang baru saja selesai dari makan siang mereka.


Aya dan Adrian berjalan seraya saling melemparkan candaannya. Hingga Aya pun tidak menyadari keberadaan Bryan dari kejauhan.


Namun Bryan dapat melihat Aya yang kini mulai berjalan semakin dekat dengan dirinya dengan diiringi tawanya.


Bryan hanya memandangnya datar, sedang Aya terkejut saat melihat Bryan yang tiba-tiba berjalan ke arahnya. Tapi tunggu, Aya melihat seorang wanita di sampingnya. Lalu Ia menatap keduanya dengan pandangan yang begitu sinis.


Keduanya pun berjalan dengan dengan membuang muka satu sama lain saat sudah mulai dekat.


Sedangkan Adrian menatap aneh saat melihat Aya dan Bryan saling membuang muka. Bukankah Bryan adalah CEO mereka?. Biasanya Aya bersikap segan terhadap atasannya.


Adrian langsung mengejar Aya yang terus saja berjalan itu.


Bryan dan Rena pun juga sudah meninggalkan kantor saat ini.


***

__ADS_1


Sore harinya, Aya sudah berada di rumah utama. Kini Ia tengah merebahkan tubuhnya di sofa. Ia merasa sangat lelah dengan pekerjaannya hari ini.


Hingga tanpa sadar matanya pun mulai terpejam. Tanpa mengganti pakaian kantornya kini Aya pun tertidur dengan pulasnya.


Beberapa saat kemudian, Bryan pun memasuki kamarnya. Siang tadi setelah makan siang bersama Rena, Bryan tidak kembali ke kantornya.


Ia menemani Rena untuk berbelanja di sebuah butik ternama untuk meredam kekesalan wanita yang sangat Ia cintai itu.


Dan kini matanya menatap sosok gadis yang tengah tertidur di sofa itu.


Dengan perlahan Bryan mulai melangkahkan kakinya mendekati dimana Aya tertidur.


Bryan menatap Aya dan kembali menggerutu saat mengingat apa yang di lihatnya tadi siang. Iapun mulai berjongkok dan menatap wajah Aya begitu dekatnya.


"Aku heran kenapa Adrian bisa menyukai gadis jelek seperti mu,"gumamnya pelan.


Bryan melihat kacamata tebal Aya masih terpakai. Dengan menggelengkan kepalanya tangannya pun mengulur melepaskan kacamata tebal itu dan menaruhnya di atas nakas.


Pandangannya kembali menatap wajah Aya yang tanpa kacamata. Seutas anak rambut menutupi wajah Aya, hingga tangan itu kembali mengulur untuk menyibakkan anak rambut tersebut.


Pandangan Bryan beralih pada bibir merah Aya. Entah apa yang Bryan pikiran sehingga iapun menempelkan bibirnya dengan bibir lembut Aya.


Melihat Aya yang masih setia dengan tidurnya, Bryan mulai memberikan sedikit ******* di bibir manis Aya.


Sungguh jantungnya berdetak kencang saat ini. Ia menjadi seorang pencuri ciuman saat sang empunya tengah tertidur.


Namun Bryan seakan tidak ingin berhenti untuk menikmati bibir manis nan lembut itu. Hingga Ia melihat Aya yang mulai terbangun dari tidurnya.


Dengan segera Bryan pun melepaskan ciuman itu dan segera pergi menuju bathroom sebelum Aya membuka matanya dan melihatnya di sana.


Bryan kembali mengumpat di dalam bathroom. "Sial, kenapa Aku kembali mencium bibir gadis jelek itu. Dan sialnya lagi junior ku kembali menegang karena gadis itu!. Sial!," Umpatnya. Lalu Ia segera merendam tubuhnya dengan air dingin untuk meredam sesuatu dalam dirinya.


Sementara itu, Aya mengerjapkan matanya. Tangannya menyentuh bibirnya yang terasa basah itu. Tadi saat dirinya tertidur, Aya bermimpi seorang pangeran tengah menciumnya. Namun wajah pangeran itu terlihat begitu samar.


"Kenapa bibir ku terasa begitu kaku dan juga terasa begitu membesar. Dan kenapa juga basah?." Ucap Aya seraya memegangi bibirnya bingung.


***

__ADS_1


__ADS_2